Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Musim Panas Terakhir


__ADS_3

Pada akhirnya Lindsey dan kawan-kawan sudah kembali menjalani kehidupannya dengan normal tanpa adanya unsur keajaiban. Mereka bahkan tak pernah lagi berkomunikasi karena kalung yang dahulunya membantu mereka melawan Erobos dan sekutunya tidak bisa berbicara atau mengeluarkan kekuatan sihir. Tak ada yang tahu apa penyebabnya. Yang jelas, Lindsey dan kawan-kawan tidak mempedulikannya lagi. Mereka sibuk dengan kehidupannya masing-masing.


"Hesley Lane! Letakkan koper ini di atas lemari!" titah seorang wanita berambut cokelat keemasan itu sambil menyeret koper yang dimaksud.


"Duh ... sebentar, Mom! Aku sedang membereskan koleksi buku-buku ku," sahut Hesley yang tengah sibuk menyusun beberapa buku dan barang lainnya ke dalam tas ransel.


Mrs. Lane pun berjalan ke lantai dua untuk melihat anak-anaknya. Menjadi single parent bukanlah hal yang mudah baginya. Harus merawat dua anak yang memiliki sifat dan karakter berbeda merupakan satu tantangan tersendiri baginya.


"Apa yang kau lakukan, Lindsey Lane!" tanya Mrs. Lane pada Lindsey yang asik bersantai.


"Nanti akan ku bereskan semua buku-buku itu," cicit Lindsey yang sibuk bermain ponsel di atas ranjang. Berbeda dengan adiknya yang sibuk beres-beres.


"Kalau kamu tidak membereskannya dalam waktu satu jam, Mom akan membuangnya!" Mrs. Lane berucap dengan nada tinggi.


"Eh? Jangan, Mom! Sayang jika buku ini dibuang, aku akan menyimpannya dengan baik, kok." Lindsey dengan cepat mengambil buku-buku dongeng yang sudah lama ia kumpulkan selama bertahun-tahun, agar Mrs. Lane tidak membuangnya.


"Cepat lakukan pekerjaan kalian, liburan musim panas kita sudah berakhir dan kita akan kembali ke London." Mrs. Lane kembali memberi titah kepada kedua anaknya.


"Baik, Mom."


Mrs. Lane pun keluar dari kamar kedua anaknya dan akan bersiap untuk menyiapkan makan malam di rumah sang nenek.


Oh ya, keluarga Lane sedang berlibur di rumah nenek mereka yang ada di Liverpool. Karena saudara yang lain tinggal di negara lain, mereka pun tidak bisa berkunjung jauh-jauh. Biasanya para sepupu akan berkunjung ke rumah nenek pada saat liburan natal. Begitu pun dengan keluarga Lane yang selalu berkunjung setiap liburan.


"Kenapa kau lama sekali membereskan buku-buku itu! Lebih baik buang saja semua buku bekas itu," decak Hesley yang tak tahan melihat sang kakak hanya sibuk memainkan ponselnya. Membiarkan semua buku berserakan di mana-mana.


"Apa kau bilang? Buku bekas? Semua buku ini sangat berharga bagiku, aku tidak akan menjual atau pun membuangnya sebelum ku baca sampai tuntas," amuk Lindsey sambil memeluk beberapa bukunya dengan penuh kasih sayang.


"Terserah." Hesley memutar kedua bola matanya dan tersenyum miring, seakan tak peduli dengan ocehan Lindsey.


"Lindsey, Hesley! Cepat turun! Makan siang sudah siap!" Mrs. Lane berteriak memanggil keduanya dari arah dapur.

__ADS_1


"Iya, Mom!" sahut Lindsey yang terlihat bersemangat.


Langkah Lindsey terhenti di depan pintu dan menoleh ke belakang. "Hesley, ayo ke bawah, Mom sudah memanggil kita,"


"Aku akan menyusul, kau duluan saja."


"Hmm ... ya sudah."


Lindsey pun membuka pintu dan berjalan menuju ruang makan. Sedangkan Hesley masih sibuk membereskan barang-barangnya.


"Buku sudah, headphone sudah, charger sudah, hmm ... apalagi ya ...?" Hesley menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa semua barang pribadinya sudah masuk ke dalam ransel miliknya. Namun pandangannya teralihkan saat melihat sebuah buku tebal dari ranjang Lindsey seperti mengeluarkan cahaya yang berkedip-kedip. Hesley yang sangat penasaran pun mendekati buku tebal itu dan meraihnya.


"Buku apa ini?" Dia penasaran dan membolak-balikkan buku itu, dia sempat bingung mengapa buku itu berkedip-kedip seakan terdapat lampu di dalamnya.


Akhirnya, satu tangannya mulai membuka lembaran pertama buku tersebut dengan mata berbinar.


AAAAAA!!!


"Eoh? Siapa yang barusan berteriak?" tanya Lindsey terkejut setelah mendengar suara teriakan dari kamarnya dan kamar Hesley.


"E-ehm ... aku rasa tadi Hesley berteriak. Apa kalian juga mendengarnya?" jawab Lindsey lalu bertanya kepada kedua empu yang hikmat menyantap makanan.


"Hesley? Siapa dia?" Mrs. Lane mengerutkan keningnya karena kebingungan saat mendengar nama yang seakan sangat asing baginya.


"A-apa? Kenapa Mom bicara begitu?" tanya Lindsey yang mulai bingung. Bagaimana mungkin orang tua tidak mengenali nama anaknya sendiri?


"Mom memang tidak tau siapa Hesley, apa dia teman baru kamu?" ucap Mrs. Lane yang serius dengan ucapannya.


"Mom, sedang tidak bercanda, kan?" Lindsey kembali bertanya. Ini benar-benar sangat aneh. Mengapa kedua wanita itu tidak mengingat Hesley? Apa yang sudah terjadi saat ini membuat Lindsey bertanya-tanya.


"Tidak," jawab Mrs. Lane dengan serius.

__ADS_1


Benar, Mom tidak suka bercanda ketika suasana sedang makan bersama. Tapi, kenapa Mom tidak mengenali Hesley? Anaknya sendiri. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Sepertinya aku harus melihat ke kamar untuk memastikannya. Gumam Lindsey dalam hati.


"Kalau begitu aku ke kamar duluan, ya ...." Lindsey beranjak dari kursi dan berniat untuk pergi ke kamarnya.


"Eoh? Memangnya kamu sudah selesai makannya?" tanya Mrs. Morry pada Lindsey.


Lindsey mengangguk. "Sudah. Kalau begitu aku ke atas ya ..."


"Ya sudah." Mrs. Lane dan Mrs. Morry mengiyakan keinginan Lindsey untuk pergi ke kamar.


Lindsey pun berjalan menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Hesley, satu-satunya adik yang sangat menyebalkan. Walaupun menyebalkan tapi Lindsey sangat menyayangi Hesley.


Saat sampai tepat di depan pintu ia langsung membuka pintu kamar dengan kasar. Wajahnya bingung dan panik ketika dirinya tak melihat keberadaan Hesley di dalam kamar.


"Dia tidak ada di sini." Lindsey berjalan mengelilingi kamar tersebut dan tak menemukan jejak apapun yang ditinggalkan Hesley. Namun ia melihat sesuatu. Buku terkutuk yang pernah membawanya ke dunia dongeng. Buku itu terbuka dan sedikit bercahaya.


"Jangan-jangan buku ini yang--" Lindsey mulai berprasangka.


Criing!


"Aaakhhh!" Lindsey menutupi kedua matanya karena cahaya yang dipancarkan tiba-tiba sangat menyakiti kedua mata birunya.


"Hai, Lindsey. Bagaimana kabarmu?" ucap seseorang. Suara itu sangat familiar di pendengaran Lindsey.


Lindsey mulai melepaskan tangannya dari kedua matanya ketika mendengar seseorang menanyakan kabarnya. Ia terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya saat ini. Sesosok manusia kecil bersayap nan indah yang tengah menatapnya sambil tersenyum.


"Peri?!" Lindsey menganga ketika melihat sosok terbang yang ada di depan matanya.


"Apa kau sungguh peri? I-ini tidak mungkin, a-aku pasti hanya berhalusinasi." Lindsey bertanya-tanya karena kebingungan. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menepuk pipinya agar sadar.


"Kau sedang tidak berhalusinasi, Lindsey. Ini aku, Marine." ujar sosok itu lagi.

__ADS_1


"Apa?!"


...***...


__ADS_2