
"Cih, sial!" Decak Antlers sambil meringis kesakitan.
"Kalian baik-baik saja, kan?" Tanya Ratu Lily khawatir pada keduanya.
"Eughh ... kami tidak apa-apa, bagaimana dengan anda Yang Mulia?" Tanya Laurent seraya meringis akibat terpental cukup jauh.
"Jangan khawatirkan aku, aku tidak apa-apa." Ratu Lily menoleh ke arah Antlers yang sedang memegangi lengannya yang satu. "Antlers, sikumu terluka, biar aku obati." Ratu Lily mendekat ke arah Antlers dan tanpa menyentuh sikunya, luka itu sembuh dan hilang dengan sendirinya.
"Waahhh, lukamu sembuh." Laurent terkesima dengan apa yang baru dilihatnya.
"Itu karena sihir murni hutan ini yang memberikan kekuatan padaku untuk dapat menyembuhkan luka seseorang." Papar Ratu Lily.
"Terima kasih, Yang Mulia."
Antlers menoleh ke sembarang arah, seperti mencari sesuatu. "Lindsey ...?"
"Kau tenang saja, aku sudah menariknya ke dekat pohon apel yang ada di sana." Tunjuk Laurent yang mendapati Lindsey sedang dalam keadaan pingsan.
Antlers menghela napas lega sambil mengelus dadanya karena sedikit tenang.
"Lalu bagaimana proses penarikan sihir hitam itu, Antlers? Apa kau sudah menarik semuanya keluar?" Tanya Laurent.
"Padahal tinggal sedikit lagi, karena Cruy menyerang kita sihir hitam yang ada di dalam diri Lindsey masih tersisa sepuluh persen." Jawab Antlers.
"Itu sudah cukup, Antlers. Jika kita menyadarkan Lindsey, sisa sihir hitam akan hilang dengan sendirinya." Sahut Ratu Lily.
"Begitu ya ..."
"Cih! Kurang ajar kau, Antlers Gardy!" Erang Cruy sambil menunjukkan ekspresi marah.
"Jadi itu alasanmu menyerang kami? Untuk mencegah sihir hitam itu keluar dari dalam diri temanku, kan?" Seru Antlers dengan lantang.
"Ck! Bukan hanya itu saja, aku juga akan mengambil batu permata yang ada di dalam jiwamu itu. Dan batu permata lainnya yang ada di dalam jiwa anak laki-laki lemah itu." Balas Cruy.
"Tunggu, apa? Lemah? Siapa yang kau bilang lemah?" Laurent tersinggung.
"Laurent, jangan terpancing ucapannya." Ucap Antlers memperingati Laurent untuk tak emosi.
"Kenapa? Dia duluan yang membuatku kesal!" Erangnya.
"Itu salah satu strategi mereka untuk memasukkan sihir hitam ke dalam dirimu. Apa kau mau bernasib sama seperti Lindsey?"
"Tentu saja aku tidak mau."
"Kalau begitu tahan emosimu."
"Baiklah."
Di sisi lain Heyna dan Yves mati-matian bertarung dengan Lou dan Nut. Saat ini dia dan Yves hampir kehabisan tenaga. Bertarung dengan kedua Stone Seeker membuat energi mereka cepat terkuras.
"Heyna, Yves, kalian tidak apa-apa?" Tanya seseorang dari arah belakang mereka.
"Ruinda? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Yves.
"Aku akan membantu kalian, jika dua lawan dua tidak berhasil maka kita coba dengan tiga lawan dua." Balas Ruinda.
"Tapi, bukankah kau diperintahkan oleh Ratu Lily untuk melindungi bangsa peri yang sedang mengungsi?" Tanya Yves.
"Aku tidak punya pilihan lain, jika aku terus berdiam diri tanpa melakukan apapun maka Forbidden Pixie akan dalam bahaya. Lagipula ada Ery dan Mursy yang menjaga bangsa peri lainnya." Jawab Ruinda.
"Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya, Ruinda."
__ADS_1
"Kita butuh strategi!" Teriak Heyna yang bernapas dengan napas tersengal-sengal." Heyna memutuskan mundur sejenak untuk berbincang dengan Ruinda dan Yves.
"Aku tidak pandai menyusun strategi." Ungkap Yves.
"Aku juga, yang biasanya menyusun strategi adalah Antlers, tapi dia sedang sibuk di sana."
"Kalau begitu aku yang akan menyusun strategi. Mula-mula kita ..."
...***...
Di sungai perak tempat di mana Glory memerintahkan para Siren untuk menyerang bangsa Mermaid, Hesley sedang menatap kosong ke arah pantulan dirinya yang ada di permukaan sungai itu. Sambil melamun dia memikirkan hal-hal aneh yang membuat ingatannya bergejolak dan ingin keluar.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa ini ... Aku?" Tanya Hesley dalam hatinya yang merasa ragu-ragu dengan jati dirinya saat ini.
"Hesley, apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Glory.
"Glory ..."
Glory menghela napas kasar. "Mereka lama sekali." Gerutunya.
"Apa yang sebenarnya sedang kita tunggu di sini?" Tanya Hesley polos.
"Para Siren, kita menunggu mereka saat ini." Jawab Glory sambil mengasah kukunya.
"Siren? Untuk apa?"
"Ada yang harus aku lakukan pada mereka."
Hesley kembali terdiam.
"Aku tau kau sudah merasa bosan menunggu di sini selama berjam-jam, tapi ingatlah bahwa Siren-siren itu akan memberikan apa yang kita mau."
"Memberikan apa yang kita mau?"
"Forestopia ...?" Bingung Hesley.
Entah kenapa dia menjadi semakin bingung dengan ucapan Glory barusan. Seperti ada yang aneh dalam dirinya, mengapa dia mau ikut dengan Glory, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sangat mengganggu pikirannya saat ini. Sungguh merepotkan.
Tak lama kemudian para Siren datang setelah mereka sekian lama menunggu.
"Apa yang ingin kau katakan pada kami, Glory?" Tanya Drusilla to the point.
"Akhirnya datang juga, kami menunggu sangat lama di sini."
"Ck! Cepat katakan pada kami apa yang kau inginkan? Waktu kami tidak banyak di sini." Seru salah datu Siren yang kesal.
"Ck! Sombong sekali kalian. Ingat, aku yang membebaskan kalian dari kurungan itu, dan aku juga bisa mengurung kalian kembali." Ucap Glory mulai serius.
"Ck! Lagi-lagi mengancam." Gerutu salah satu Siren.
"Baiklah, karena kau sudah di sini aku akan segera melakukannya."
"Melakukan? Melakukan apa?" Drusilla bertanya-tanya. Namun Glory hanya tersenyum miring tanpa berkata.
"Glory?"
Tiba-tiba kedua tangan Glory terangkat, tangan kanan mengarah ke Drusilla dan yang kiri mengarah ke Hesley. Keduanya terangkat dan sihir yang ada di dalam Drusilla keluar secara perlahan dan masuk dengan sendirinya ke tubuh Hesley.
"D-dia?!" Para Siren terkejut bukan main.
"H-hentikan ... Glory ..."
Tanpa memperdulikan Drusilla yang nampak kesakitan akibat sihirnya ditarik paksa oleh Glory. Anak itu hanya menyeringai dan terus menarik sihir itu dan memasukkannya ke dalam tubuh Hesley. Sedangkan Hesley tak bergerak.
__ADS_1
Ternyata itu tujuannya memanggil para Siren ke daratan, dia berniat mengambil kekuatan Siren dari dalam diri Drusilla untuk disimpan di dalam tubuh Hesley.
Beberapa saat kemudian proses perpindahan sihir itu selesai dengan cepat, Drusilla nampak kesakitan dan ekornya mulai membusuk. Hal itu disebabkan karena sihirnya diambil paksa. Sementara itu tubuh Hesley berubah sedikit demi sedikit, transformasi yang saat ini ada di dalam dirinya diakibatkan banyak sihir hitam yang disimpan ke dalam dirinya.
"Kerja bagus, Drusilla. Aku rasa hidupmu tidak akan lama lagi." Ucap Glory dengan nada meledek, diikuti suara tawanya yang kencang karena senang.
"Ayo kita pergi dari sini, Hesley." Ajak Glory. Hesley hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa dan mengikuti Glory dari bekalang.
...***...
"Antlers ... Laurent ...." Lirih seseorang.
Keduanya menoleh dan mendapati Lindsey sedang berjalan ke arah mereka dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Antlers khawatir.
Lindsey mengangguk singkat sembari tersenyum tipis. "Kita selesaikan ini sekarang juga." Ucapnya percaya diri.
"Kau yakin?"
"Yaa, kita harus melakukannya, yang perlu kita lakukan adalah menggabungkan kekuatan. Selama ini kita bertarung sendiri-sendiri, makanya sihir murni selalu kalah melawan sihir hitam."
"Baiklah, ayo kita selesaikan."
Di sisi lain setelah menyusun rencana, Ruinda, Yves dan Heyna langsung menyerang kedua Seeker itu. Tak disangka strategi yang dibuat Ruinda berhasil melumpuhkan Nut. Hanya tersisa Lou yang masih segar bugar.
Lindsey, Antlers, Laurent, dan Ratu Lily menggabungkan kekuatannya untuk mengalahkan Cruy.
Sihir hitam dan sihir murni bersinggungan membentuk gelombang dengan warna yang berbeda. Merah melawan aura biru, dan akhirnya merah berhasil dikalahkan oleh aura murni dari sihir biru.
Cruy tergeletak dengan luka yang sangat parah. Tanpa berpikir panjang lagi, Ratu Lily langsung menyegel tubuh Cruy untuk dikurung di bawah tanah kerajaan Forbidden Pixie.
Sementara itu Nut tak sempat dikurung oleh sang Ratu, namun tubuh Nut perlahan menjadi butiran debu yang berterbangan lalu menghilang.
Dan hanya tersisa Lou yang masih bertahan.
"Teman-teman, kita gabungkan kekuatan kita sekali lagi." Seru Lindsey.
Semua orang langsung mengeluarkan sihir mereka dengan menggabungkannya untuk dikerahkan kepada Lou.
Lagi dan lagi kedua gelombang aura bersinggungan. Kali ini antara hitam dan biru.
Dengan kekuatan penuh mereka berusaha melumpuhkan Lou.
DUAR!!
"AKHH!!" Erang Lou yang terpental cukup jauh.
"Yang Mulia, sekarang saatnya!" Seru Antlers.
Ratu Lily mengangguk dan langsung mengeluarkan sihir segel dalam dirinya untuk mengurung Lou di dalam bawah tanah Forbidden Pixie.
Akhirnya setelah pertarungan sengit antara sihir murni dan para Stone Seeker, mereka dapat bernapas lega dan bisa beristirahat.
"Huft ... energiku sudah habis." Keluh Laurent.
"Kita berhasil, teman-teman."
"Yeay!!" Seru Laurent dan Heyna senang.
Akhirnya mereka dapat mengalahkan Stone Seeker yang dikenal kejam dan bengis. Awalnya mereka tidak menyangka, tetapi karena kekuatan persahabatan mereka dapat mengalahkan Stone Seeker.
Kini tinggal mencari keberadaan Hesley yang dibawa pergi oleh Glory.
__ADS_1
...***...