Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Rumah Kue Nenek


__ADS_3

Ting!


Lindsey kembali lagi di cerita dongeng yang lain. Kali ini masih sama dengan beberapa cerita yang sudah pernah ia datangi.


Hutan. Tempat yang sudah tidak asing lagi bagi Lindsey untuk menyelesaikan tugasnya.


"Baiklah, aku harus menyelesaikan tugas lagi di hutan."


Dari kejauhan, Lindsey melihat dua anak kecil sedang bermain-main dengan para hewan yang ada di dalam hutan ini. Seperti burung-burung kecil, rusa, dan beberapa tupai yang naik turun dari pohon mendatangi mereka.


"Eh? Mereka kan ...?"


Lindsey pun berjalan menghampiri kedua anak itu.


"Apa kalian Hansel dan Gretel?" tanya Lindsey pada keduanya.


"Iya. Kau siapa?" tanya Hansel.


"Aku Lindsey. Aku yang akan menyelamatkan kalian berdua dari hutan ini." ucap Lindsey dengan percaya diri.


"Apa kami bisa mempercayaimu?" tanya Hansel tidak yakin.


"Kalian harus percaya padaku, karena ini demi keselamatan kalian dan juga keselamatanku."


"Dasar aneh,"


"Aish dasar anak ini."


Baiklah, kau harus sabar, Lindsey. Batinnya sambil menarik napas panjang.


"Apa kalian lapar?" Lindsey berusaha menahan emosinya.


"Lapar? Iya, aku sangat lapar, kau tahu di mana kita bisa mendapatkan makanan?" seru Gretel dengan bersemangat.


"Tentu saja, ikutlah denganku!"


Lindsey pun membawa Hansel dan Gretel ke tempat di mana mereka akan mendapatkan sebuah misi. Terdengar berlebihan bagi Lindsey, tapi mau bagaimana lagi? Dia harus cepat menyelesaikan tugasnya di cerita ini.


"Kudengar ada sebuah rumah di tengah-tengah hutan yang terbuat dari kue," ucap Lindsey memulai percakapan saat mereka tengah berjalan santai menyusuri lebatnya hutan.


"Benarkah? Wah, pasti kuenya enak!" seru Gretel masih bersemangat.


"Kuenya memang enak, tapi kalian harus berhati-hati." Lindsey mulai bicara serius.


"Hati-hati dari apa?" tanya Hansel.


"Penyihir tua yang jahat,"


"Penyihir? Kak, aku takut," ucap Gretel yang mulai ketakutan.

__ADS_1


"Jangan takut Gretel, ada kakak di sini." Hansel berusaha meyakinkan Gretel untuk tak takut dan percaya pada kakaknya.


"Aku hanya memperingatkan kalian saja. Lagipula kalian tidak perlu takut, ada aku yang akan menjaga kalian berdua."


...***...


Setelah panjang lebar berbicara, mereka pun mencium bau makanan enak dari kejauhan. Segera mereka berlari ke arah datangnya bau lezat itu.


Akhirnya mereka sampai di rumah kue sang penyihir. Atapnya terbuat dari tart, pintunya dari cokelat, dan dindingnya dari biskuit. Mata mereka membulat dan perut mereka pun mulai berbunyi nyaring, yang menandakan kalau mereka benar-benar lapar. Dengan cepat mereka mendekati rumah itu dan memakannya.


"Astaga, aku jadi ikut lapar. Apa aku boleh makan di sini?" tanya Lindsey bermonolog.


"Ah, lupakan itu dan serbu kuenya!" ucap Lindsey yang ikut memakan rumah kue itu. Padahal dia baru saja makan kue buatan ibu dari gadis berkerudung merah.


Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergetar.


"Siapa itu?! Berani sekali memakan rumah kue kesayanganku!" muncullah seorang nenek sihir tua dengan wajah menyeramkan, serta mata merah yang bersinar, lalu menangkap mereka bertiga.


...


...


"Hi hi hi ... anak-anak yang lezat, sebagai hukuman karena telah memakan rumput kue kesukaanku, aku akan memakan kalian,"


Dengan kasar nenek sihir itu menyeret Hansel masuk ke dalam penjara kayu. Setelah itu berkata pada Gretel dan Lindsey.


"Mula-mula aku akan menggemukkan anak laki-laki itu, lalu aku akan memakannya."


"Jangan nangis Gretel, aku punya rencana agar kita bisa keluar dari tempat ini," bisik Lindsey menyemangati Gretel untuk tak putus asa.


"Iya."


Lindsey dan Gretel mendekat ke arah penjara Hansel, dan memberitahu rencananya.


Setelah Hansel dan Gretel mengerti dengan rencana Lindsey. Mereka pun mulai beroperasi.


Gretel dan Lindsey terus diperintah oleh nenek sihir itu untuk membuat makanan enak yang nantinya akan diberikan pada Hansel untuk menggemukkan tubuhnya. Sudah hari kedua mereka bertiga dikurung di rumah kue itu oleh nenek sihir.


Nenek sihir itu mendekat ke penjara kayu Hansel untuk melihat apakah tubuh Hansel sudah menjadi gemuk atau belum.


"Aku lapar, sudah seberapa gemuk dirimu, cepat ulurkan tanganmu!"


Sesuai dengan rencana yang diberikan Lindsey, Hansel memberikan tulang sisa makanan pada nenek sihir itu. Alasannya karena mata sang nenek yang rabun, sehingga tidak bisa melihat apapun dengan jelas.


Saat nenek itu memegangnya dia sangat kecewa dan berniat untuk memakan Gretel. Kemudian Gretel disuruh memanggang roti. Lindsey yang peka sudah tahu niat jahat penyihir tua itu.


Dengan sigap Lindsey mendekat ke arah Gretel dan berkata, "Jangan terpedaya oleh nenek itu, aku punya ide yang bagus."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Begini ...."


Karena takut terdengar oleh sang nenek, Lindsey pun membisikkan idenya pada Gretel.


"Apa kau mengerti?" tanyanya. Gretel mengangguk pelan.


Selagi Gretel menyalakan api di tungku, si nenek mencoba mendorongnya ke nyala api. Untunglah Gretel mengetahui maksud nenek, dengan cepat ia berbalik pergi ke depan tungku.


"Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini,"


Nenek sihir tidak sadar jika telah diperdaya Gretel dan ia membuka tutup tungku itu.


"Gretel, sekarang!" teriak Lindsey yang saat itu tengah membebaskan Hansel dari penjara kayu.


Tanpa membuang kesempatan, Gretel mendorong nenek ke tungku.


"Aaakh! Panas! Tolong!" teriak nenek kesakitan. Gretel tidak mempedulikan teriakan nenek dan justru menutup pintu tungku. Dengan cepat Gretel berlari menghampiri Hansel dan Lindsey.


"Gretel, kau berhasil!"


Karena bahagia mereka bertiga pun berpelukan. Ketika akan pergi dari rumah kue tanpa sengaja mereka menemukan banyak harta karun. Setelah itu mereka keluar rumah. Mereka kembali menyusuri hutan lebat menuju rumah Hansel dan Gretel. Setelah sampai di batas hutan, muncullah ayah mereka yang sudah sangat cemas.


"Anak-anakku tersayang, maafkan ayah. Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi," ucap ayah Hansel dan Gretel sambil memeluk dengan erat. Lalu, dia menceritakan kepada mereka bahwa ibu tiri yang jahat telah meninggal karena sakit.


Ayah Hansel dan Gretel pun melihat banyaknya harta karun yang telah dibawa oleh Hansel, Gretel, dan Lindsey.


"Dari mana semua harta karun ini, sayang?" tanya ayah Hansel dan Gretel.


"Kami mendapatkannya dari rumah kue nenek sihir. Lindsey lah yang telah membantu kami." jelas Hansel.


Lindsey yang tepat berdiri di depan sang ayah kedua anak itu hanya bisa terkekeh pelan.


Kemudian sanga ayah mendekat ke arah Lindsey dan berkata. "Terima kasih, Nak, kau telah membantu dan menyelamatkan anak-anakku dari nenek sihir itu."


"Sudahlah, jangan terlalu formal begitu. Lagipula aku senang bisa membantu, hehe."


Tiba-tiba kalung Lindsey kembali bersinar, dan perasaan Lindsey mengatakan bahwa ia akan segera pergi dari cerita ini.


"Aku tidak menyangka kalau kau akan cepat menyelesaikan tugas ini dengan baik, tidak salah aku memilihmu Lindsey," kalung Lindsey berbicara.


"Ah, sudahlah, cepat bawa aku ke tempat lain supaya aku bisa cepat pulang,"


"Kau bicara dengan kami, Lindsey?" tanya Hansel.


"Eh? T-tidak, bukan kalian. Tapi kalung menyebalkan ini,"


"Wah kalung yang indah!" seru Gretel terpesona dengan keindahan biru laut kalung Aquamarine.


Ting!

__ADS_1


"Baiklah, aku harus pergi. Selamat tinggal Hansel, selamat tinggal Gretel!"


Bagaikan butiran serbuk emas, Lindsey menghilang dari pandangan Hansel dan Gretel. Mereka nampak menampakkan raut wajah kebingungan dan memandangi satu sama lain.


__ADS_2