Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Elf Torlock – Chapter 2


__ADS_3

"Cukup Amethyst!" pekik Lindsey. Ia tidak tega melihat reka adegan terakhirnya. Amethyst dengan cepat menghentikan adegan itu.


"Tadi itu ... kejam sekali." lirih Antlers.


"Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal sekejam itu pada Caapal." sahut Marine.


"Lalu, sekarang bagaimana? Caapal sudah mati terbunuh, dan sekarang kita benar-benar tersesat," seru Laurent yang kembali mengeluh.


"Itu tidak benar." sahut Marine.


"Eh? Apa maksudmu?" tanya Laurent memasang wajah bingung.


"Kita lanjutkan perjalanan kita menuju Desa Elf." saran Ruby.


"Desa Elf? Jadi, di Lembah Elf ini ada sebuah desa?" Heyna bertanya-tanya.


"Ya, tepat di ujung Lembah ini ada sebuah desa kecil yang dihuni ratusan Elf, mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk dari para penduduk di desa tersebut." jelas Marine.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan ini sebelum matahari terbenam." ujar Antlers. Diikuti anggukan teman-temannya.


Perjalanan menuju desa Elf begitu melelahkan dan memakan banyak waktu serta tenaga. Lindsey dan ketiga temannya berjalan begitu lama dan tidak beristirahat, mengingat matahari hampir saja terbenam. Jika mereka tidak sampai ke desa Elf sebelum matahari terbenam, maka perjalanan mereka menuju Lembah Penyihir akan terhambat. Begitu pun dengan menyelamatkan Hesley yang kini entah berada di mana.


"Kenapa perjalanan kali ini lebih lama dari sebelumnya? Aku sangat lelah dan kelaparan ..." keluh Laurent yang terus merengek bak bayi berpopok putih.


"Ish, diamlah! Suaramu itu mengganggu telingaku!" murka Heyna sambil menjitak kepala Laurent karena tidak mau diam.


"Aduh!" rengek Laurent meringis kesakitan.


"Bersabarlah Laurent ... sebentar lagi kita akan sampai di desa itu," kata Emerald berusaha untuk meyakinkan Laurent.


"Huft ... Baiklah ...."


"Lindsey, kau tidak apa-apa, kan?" Tanya Antlers yang berjalan beriringan bersama Lindsey saat dalam perjalanan menuju desa Elf.


"Ehm ... aku baik-baik saja, memangnya ada apa?" balas Lindsey.


"Aku perhatikan sejak tadi kau melamun terus. Kau pasti sangat mengkhawatirkan adikmu, ya?" timpal Antlers.


"Aku rasa begitu. Walaupun Hesley sangat menyebalkan, tapi dia tetap adikku dan aku sangat menyayanginya." lirih Lindsey berusaha agar tidak kelihatan cengeng di hadapan Antlers.


"Kau tenang saja, kami di sini untuk membantumu. Kau tidak perlu terlalu risau." bujuk Antlers.


"Thanks, Antlers. Kau memang yang paling pengertian dibandingkan dengan Heyna dan si manja Laurent."


"Oh ayolah ... apa kau meragukan kemampuan mereka?"


"Entahlah, tapi akhir-akhir ini mereka menyebalkan. Terutama saat kita masuk ke dalam Lembah Elf ini."


"Mereka memang kekanak-kanakan, tapi pasti mereka akan berguna saat kita dalam keadaan mendesak."


"Baiklah aku percaya, seharusnya aku mempercayai semua teman-temanku. Maafkan aku,"


"Tidak perlu minta maaf, ayo kita selesaikan masalah ini, Lindsey Georgina Lane?"


Lindsey tersentak. "Bagaimana kau tau nama lengkap ku?" tanyanya.


"Dari foto yang ada di kamarmu," ucap Antlers sambil tersenyum kecil.


"Berarti nama lengkap adikmu ... Hesley Georgina Lane?" Duga Antlers menebak nama panjang Hesley.


"Haha, tentu saja bukan. Nama lengkapnya Hesley Emily Lane," jelas Lindsey tertawa mendengar begitu sok tahunya Antlers ketika menebak nama panjang adiknya.


Melihat Lindsey kembali tertawa, membuat hati Antlers sedikit lega. Dibandingkan yang tadi, Lindsey yang ini adalah Lindsey yang ia kenal.


"Eh? Berbeda sekali denganmu?"

__ADS_1


"Georgina adalah nama nenek buyutku, sedangkan Emily nama yang diambil dari nama awal adik ibuku."


"Eh ... sepertinya keluargamu sangat suka nama turun temurun."


"Ya, begitulah. Kalau kau?" timpal Lindsey.


"Antlers Gardy saja."


"Apa di Belgia suka nama pendek?" Lindsey terkekeh pelan.


"Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai nama Antlers,"


"Kenapa? Namamu bagus, kok."


"I know, tapi nama itu diambil dari nama tokoh yang ada di cerita dongeng."


"Jadi orang tuamu suka cerita dongeng, ya?"


"Sepertinya begitu,"


"Sama halnya denganku, aku juga menyukai dongeng."


"Aku tau itu, kau bukan hanya suka, tapi tergila-gila." Mereka kembali tertawa pelan.


"Hei, kalian sedang membicarakan apa?" Heyna datang dan merangkul keduanya dari belakang.


"Wah, kalian tidak mengajak kami?" ucap Laurent yang juga ada di sebelah keduanya.


Antlers dan Lindsey terkekeh pelan. "Maaf, habisnya kalian juga sibuk sendiri,"


"Aku hanya memperingatkan si manja ini untuk tidak terus mengeluh selama perjalanan."


"Jangan sebut aku manja!" seru Laurent tak terima.


"Tapi nyatanya begitu," ledek Heyna.


"Eh?"


"Kita sudah sampai di desa Elf."


"Woaahhh!!"


Satu kata yang ada di pikiran mereka saat ini. Amazing!


Desa kecil yang berada di ujung lembah ini merupakan satu-satunya tempat perlindungan bagi para Elf tinggal. Penjagaannya yang ketat membuat desa itu sangat makmur dan jauh dari kata sengsara. Sama halnya dengan sebuah negara yang isinya para penduduk, di desa ini juga terdapat dipimpin oleh kepala desa yang mengatur semua sistem yang ada di desa ini.


Karena bangsa Elf bertubuh kerdil, dari kejauhan mereka sangat banyak sekali. Seperti jutaan semut yang sedang berjalan-jalan. Penduduk terlihat begitu ramai dan padat.


"Desa ini terlihat modern,"


"Kau benar, desa ini sangat damai. Bagaimana bisa mereka tidak menyadari kalau Glory telah melarikan diri dari kurungan?"


"Aku rasa mereka belum menyadarinya, atau bahkan tidak mengetahuinya."


"Kita harus menemui kepala desa Elf untuk mendapatkan informasi tentang Caapal."


"Baiklah,"


Mereka semua pun berangkat menuju rumah kepala desa. Saat mereka sedang berjalan melewati para bangsa Elf, semua Elf benar-benar memperhatikan mereka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mungkin karena Lindsey dan kawan-kawan bertubuh besar seperti Caapal, hanya saja telinga mereka tidak runcing. Mungkin itu yang membuat semuanya terheran-heran sekaligus kebingungan. Mereka ini makhluk apa? Beberapa isi kepala mereka saat melihat Lindsey dan kawan-kawan.


"Mereka menatap kita seolah kita adalah penjahat." ujar Laurent merasa risih ditatap seperti penjahat oleh para Elf.


"Bukankah kau memang penjahat, Laurent?"


"Aish, jaga ucapanmu Hyena!"

__ADS_1


"Hyena?! Hei! Namaku Heyna! Sekali lagi kau mengubah-ubah namaku, aku akan mencabik bibirmu!" marah Heyna hampir menerkam Laurent. Sama seperti Hyena.


"Marine, apa mereka mengerti bahasa kita?" tanya Antlers.


"Tidak, kalian tenang saja." Marine menggeleng pelan.


"Lalu, bagaimana caranya kita berkomunikasi dengan kepala desa nanti, jika kita tidak saling mengerti bahasa satu sama lain?" tanya Lindsey.


"Tenang saja, aku yang akan mengurusnya."


"Hah?"


"Kalian tidak usah cemas, aku adalah ahli linguistik." ucap Emerald dengan percaya diri.


"Linguistik?"


Saat mereka sudah sampai di rumah kepala desa yang lumayan mewah, mereka dihadapkan dengan dua penjaga yang berjaga di dekat gerbang. Kedua penjaga menyambut Lindsey dan kawan-kawan dengan tidak baik. Bisa dibilang mereka curiga atas kedatangan Lindsey dan kawan-kawan.


"Siapa kalian?!"


"Cepat katakan!" bentak salah satu pengawal itu menggunakan bahasa mereka.


"Aish, mereka bicara apa? Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan," bingung Heyna sambil menggaruk kepala yang tak gatal.


"Laurent, kemarilah," ujar Emerald. Laurent menghampiri.


"Ada apa?"


"Aku akan memberikan kekuatan linguistik padamu," ucap Emerald.


"What? Kenapa aku?"


"Kau mau atau tidak?"


"Ahh, baiklah aku mau."


Ketika Emerald berubah menjadi batu permata dan masuk ke dalam tubuh Laurent, Emerald mulai memasukkan kekuatan linguistik kepada Laurent.


Setelah selesai, Emerald keluar dari tubuh Laurent dan berubah kembali menjadi anak anjing.


"Anak anjing itu berubah menjadi batu permata!" teriak pengawal histeris.


"Eh?"


"Dia mengatakan apa?"


"Mereka terkejut karena melihat Emerald berubah secara magis menjadi sebuah batu permata." jawab Laurent yang baru saja menerjemahkan bahasa Elf.


"Kau mengerti apa yang mereka katakan?" tanya Heyna.


"Iya, aku mengerti. Sepertinya kekuatan linguistik itu sudah masuk ke dalam tubuhku,"


"Kalau begitu cepat beritahu mereka kalau kita membutuhkan bantuan kepala desa untuk mencari petunjuk tentang keberadaan Glory." seru Lindsey.


"Okey,"


Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan kedua penjaga yang sangat posesif, akhirnya kedua penjaga itu mengizinkan mereka untuk menemui kepala desa.


"Moribat,"


"Hah? Kau bilang apa?"


"Moribat artinya terima kasih dalam bahasa mereka."


"Oohhh,"

__ADS_1


"Ayo masuk,"


...***...


__ADS_2