Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
The Down Kingdom – Chapter 1


__ADS_3

"Soal apa?"


"Ehm soal--"


"Yang Mulia Puteri Yves sudah kembali," seru pengawal yang tak sengaja memotong ucapan Hesley.


"Terima kasih, Gorgo." Yves berbalik menyapa sang pengawal yang terlihat antusias itu.


"H-hai ..." Sapa Hesley canggung. Sang pengawal pun hanya menatapnya dengan sinis.


"Kau mau mengatakan apa tadi?" Tanya Yves pada Hesley.


"Ehm nanti saja deh."


"Oh, ya sudah." Yves mengangguk singkat.


Yves membawa Hesley menuju istana kerajaan Silver Down. Para pengawal maupun bangsa mermaid memberi hormat kepada salah satu anggota kerajaan itu, namun tidak memberi hormat kepada Hesley karena melihat wujudnya yang sebagai manusia biasa. Bahkan ia harus menanggung tatapan sinis dari para mermaid. Semua tatapan itu sama persis ketika ia pertama kali bertemu dengan Yves saat di penjara Glory.


Sampai di dalam istana, Yves kembali disambut oleh pengawal inti kerajaan dan sang Ratu yang tengah duduk dengan elegan di kursi singgasananya, di sampingnya dua pengawal mermaid yang siap siaga melindungi sang ratu.


Yves menunduk memberi hormat kepada sang Ratu yang juga merupakan ibunya. Hesley pun mengikuti apa yang dilakukan Yves untuk menunduk di hadapan penguasa Silver Down itu.


"Angkat kepalamu, Yves." Ucap Ratu dengan lembut. Hesley tetap menunduk karena namanya tidak disebut.


"Maafkan aku, Ibu ... aku tidak berhasil membawa kembali tongkat kerajaan kita."


"Sudahlah, Yves ... tidak perlu kau cemaskan mengenai tongkat itu, yang terpenting kau pulang dalam keadaan baik-baik saja."


"Ibu, perkenalkan ini--"


"Hesley Emily Lane." Potong Sang Ratu.


"Ibu sudah tau?" Yves mengernyit.


"Kemarin Ibu mendapat pesan dari kerajaan Forbidden Pixie, mereka meminta kita untuk menjaga seorang gadis bernama Hesley sampai kakaknya datang menjemput." Ungkapnya.


Hesley mengangkat kepalanya karena tersentak ketika mendengar kakaknya disebut. "Benarkah? Kakakku akan datang menjemputku?" Tanyanya memastikan.


"Itu benar, dan untuk saat ini kau akan tinggal sampai kakakmu datang ya ..." Kata sang Ratu.


"Baik, Yang Mulia."


"Tapi, bagaimana jika Glory menyadari bahwa aku ada di sini? Bukankah nanti kalian yang akan dalam bahaya? Aku tidak mau membahayakan siapa pun hanya demi melindungiku." Ucap Hesley khawatir.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Hesley." Balas Yves.


"Yves?"


"Aku akan melindungimu."


"Kenapa kau ingin melindungiku?"


"Karena kau sudah meyakinkanku bahwa kita bisa bekerja sama untuk saling melindungi."


Ratu Yvette tersenyum melihat anak sulungnya mulai berpikir dewasa. Sudah saatnya dia turunkan tahta kerajaan Silver Down ini untuk Yves.


"Kakak!" Seru seseorang dari arah belakang Yves dan Hesley. Mereka menoleh dan mendapati mermaid kecil berenang dengan cepat menuju keduanya.


Mermaid kecil itu memeluk Yves sambil tersenyum sumringah, pertanda bahwa ia sangat merindukan Yves.


"Kakak baik-baik saja, kan?" Tanya mermaid itu pada Yves.


"Aku baik-baik saja, Yvia." Balas Yves.


"Syukurlah, aku benar-benar merindukanmu, Kak!" Mermaid kecil itu kembali memeluk sang kakak dengan erat. Yves pun membalas pelukan itu dengan lebih hangat.


Melihat fenomena kakak adik berpelukan Hesley jadi teringat terakhir kali ia memeluk sang kakak. Yaa, sepertinya saat ia berusia 7 tahun, saat itu masih polos-polosnya. Beranjak dewasa, mereka terkadang tidak memperdulikan satu sama lain apalagi berpelukan seperti itu.


"Siapa dia?" Tanya Yvia pada Yves setelah melihat kehadiran Hesley di antara mereka.


"Hai namaku, Hesley. Kau pasti Yvia, bukan? Salam kenal." Hesley memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Kau tau namaku?" Bingung Yvia.


"Tentu, kakakmu yang memberitahuku sebelum masuk ke sini."


Yvia tersenyum lalu membalas sapaan Hesley. "Senang bertemu denganmu, Hesley. Ayo kita jalan-jalan, aku akan mengajakmu ke tempat-tempat terbaik di Silver Down." Ajaknya sangat bersemangat.


"Sungguh?"


"Kita bisa saling bercerita tentang dunia masing-masing, aku sangat penasaran."


"Baiklah,"


"Ibu, Kak Yves, aku dan Hesley pergi dulu yaaa!"


"Jangan jauh-jauh, Yvia ..." Seru sang Ratu.


"Okey! Ayo, Hesley!"


"Ehm ... aku pergi dulu ya, Yves."


"Hesley, jaga Yvia ya, terkadang dia itu susah diatur." Pesan Yves pada Hesley.


"Ohh, oke ..."


Selama menyusuri sungai perak, Hesley tak henti-hentinya terkesima melihat keindahan kerajaan Silver Down yang benar benar indah. Warna airnya yang benar-benar perak ditambah dengan berbagai jenis makhluk air yang juga menambah kesan kerajaan bawah air yang luar biasa sempurna, Hesley bahkan tak bisa berkata-kata melihat semuanya dengan kedua matanya sendiri.


Selain itu Hesley juga sering bertemu dengan beberapa mermaid penghuni Silver Down. Mereka memang tidak ramah seperti Yvia dan Yves, mereka selalu menatap sinis kemanapun Hesley pergi.


"Hesley, apa kau sudah makan?" Tanya Yvia.


"Ehm, belum ..."


"Pas sekali! Aku akan mengajakmu ke tempat di mana kau bisa memakan banyak makanan di seluruh lautan."


"Lautan? Bukankah ini sungai?"


"Itu benar, tapi makanan laut juga tersedia di Silver Down. Kau mau ikut?"


Hesley yang bersemangat langsung mengikuti Yvia pergi, mereka akan makan makanan laut di sungai perak. Akan seperti apa rasa dari makanannya? Semoga bukan kotoran ikan lagi. Harap-harap cemas Hesley dalam hati kecilnya.


Ternyata makanan laut yang ada di tempat itu tidak jauh beda dengan yang ada di London, memang sangat jarang makanan laut di sajikan di London, dan biasanya mahal untuk kaum-kaum menengah ke bawah.


Ketika mereka makan dengan lahap, tiba-tiba Hesley mendengar suara nyanyian yang samar terdengar. Ia menoleh ke sembarang arah untuk mencari sumber suara yang indah itu.


"Ada apa?" Tanya Yvia melihat gelagat aneh Hesley.


"Aku ingin tau siapa yang sedang bernyanyi saat ini?"


Yvia hampir tersedak makanan saking terkejutnya. "Bernyanyi?" Cemasnya tiba-tiba.


"Iya, aku mendengarnya, tapi samar-samar. Suaranya merdu dan membuatku ingin terus mendengarkannya."


"Cepat tutup telingamu, Hesley."


Yvia yang panik tiba-tiba menyuruh Hesley untuk menutup kedua telinganya.


"K-kenapa?" Bingung Hesley yang masih belum menutup telinganya.


"Cepat, tutup saja!"


"I-iya baiklah."


Beberapa menit kemudian wajah tegang dan panik Yvia mereda, ia pun menghela napas lega.


"Ada apa sih? Kenapa kau menyuruhku menutup telinga? Padahal nyanyian tadi sangat merdu," keluh Hesley yang kecewa karena tidak bisa mendengarkan nyanyian itu sampai selesai.


"Kau tidak boleh mendengarkan suara nyanyian itu, Hesley."


"Memangnya kenapa? Apa yang salah?"


"Itu nyanyian Siren."

__ADS_1


"Siren?"


"Sssttt ... jangan keras-keras bicaranya, nanti para mermaid akan dengar." Yvia berbisik-bisik.


"Siren katamu?"


"Akan ku ceritakan secara singkat. Jadi, di Forestopia Siren juga hidup sama seperti kita, mereka punya kerajaannya sendiri. Siren itu makhluk air yang fisiknya hampir sama seperti bangsa mermaid, tetapi mereka diberikan kelebihan dengan suara yang merdu. Tapi, dibalik suaranya yang indah itu mereka sangat benci manusia, karena manusia lah yang membuat mereka terkurung di dasar lautan paling dalam."


"Palung Mariana?" Tebak Hesley.


"Bagaimana kau bisa tau?"


"Aku pernah mendengar legenda itu."


Yvia mengangguk singkat. "Suara mereka bisa membuat manusia menjadi lupa diri dan para Siren mampu memanipulasi pikiran manusia dengan nyanyian mereka. Itu sebabnya hanya kau yang bisa mendengar nyanyian itu, kami bangsa mermaid tidak bisa mendengarnya."


"Tapi kau bilang mereka terkurung di Palung Mariana, di lautan paling terdalam. Kenapa aku bisa mendengar nyanyian mereka di Silver Down?"


"Kau mendengarnya samar-samar kan? Nah karena itulah, suara mereka masih bisa terdengar walaupun dari lautan terdalam sekalipun."


Mendengar cerita tersebut Hesley menelan salivanya kuat-kuat, jika Yvia tidak segera menyuruhnya untuk menutup telinga, mungkin aaja nyanyian mematikan itu akan merusak pikirannya.


"Mengerikan sekali bukan? Intinya jika kau mendengar nyanyian itu lagi, segera tutup telingamu supaya pikiranmu tidak di manipulasi oleh mereka. Paham?" Pesan Yvia pada Hesley.


"Baiklah, aku mengerti."


"Tapi, apa yang terjadi jika aku terus mendengarkan nyanyian itu?" Tanya Hesley penasaran.


"Kau akan dimanipulasi, bahkan kau akan mati tanpa disadari."


"Baiklah, lain kali aku akan menutup telinga saat mendengar suara mengerikan itu."


"Bagus, kalau begitu ayo kita pulang ke istana."


"Okey."


...***...


"Ada manusia di Silver Down," kata salah satu Siren kepada Siren yang lain.


"Apa dia mendengar nyanyian kita?"


"Dia mendengarnya, tapi mermaid itu memberitahu semua hal tentang kita dan nyanyian mematikan kita."


"Aku rasa manusia itu bukanlah manusia biasa, bagaimana dia bisa sampai di Forestopia? Apa ini ulah Glory?"


"Maksudmu anak nakal yang membuat kita terkurung di sini?"


"Yaa, apa dia masih hidup?"


"Cih! Anak itu ... sepertinya akan melakukan sesuatu yang di luar kemampuan kita."


"Itu benar sekali, wahai para Siren ..."


"Glory?"


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Hai, bagaimana kabar kalian? Sepertinya tidak bagus." Ledek Glory.


"Apa maumu, Glory?"


"Aku akan membebaskan kalian dari tempat ini, tapi dengan satu syarat."


"Syarat? Apa itu?"


"Aku ingin kalian membawakan Hesley padaku."


"Hesley? Siapa dia?"


"Manusia yang mendengar nyanyian mematikan kalian. Dia adalah wadah berhargaku."

__ADS_1


...***...


__ADS_2