
Lindsey tidak berniat untuk bertarung dengan adiknya sendiri, namun keadaan memaksa dirinya untuk mengakhiri petualangan dan pertarungan mereka selama berada di Forestopia. Mungkin ini akan menjadi momen terakhir mereka dapat berkumpul untuk berpetualang, instingnya mengatakan bahwa selepas dari pertarungan ini mereka akan menjalani kehidupan masing-masing, di dunia masing-masing.
Tak ingin bersedih dan terlarut begitu lama, mereka pun mulai berdiskusi untuk melancarkan serangan. Tentu serangan tersebut untuk mengalahkan sihir hitam yang ada di dalam tubuh Hesley dan menyadarkan Glory untuk tidak melakukan hal semacam ini lagi.
Lindsey yang tak sanggup menyusun strategi akhirnya memberikan tugas tersebut kepada Antlers. Dia sadar bahwa Antlers lebih baik darinya saat menyusun sebuah strategi. Tugas tersebut ia lakukan sebaik mungkin demi membebaskan mereka dari jeratan dunia paralel yang bernama Forestopia. Sudah cukup berpetualang di dunia luar yang dapat mengancam nyawa seseorang.
"Antlers, kau yakin ini akan berhasil? Bukankah kita pernah melakukan strategi ini saat--"
"Itu benar, tetapi strategi ini adalah cara terbaik untuk mengalahkan sihir hitam Hesley." Potong Antlers dengan ekspresi serius.
"Aku mengerti." Sahut Yves menyetujui. "Teman-teman kita percayakan strategi ini demi keberhasilan serangan kita untuk Hesley." Sambungnya.
"Ya ya baiklah, aku juga sudah mengerti." Heyna pun ikut menyetujui rencana yang akan diluncurkan oleh mereka.
"Lindsey, apa kau sudah paham strategi ini?" Tanya Antlers pada Lindsey yang sedari tadi ia perhatikan hanya diam.
Lindsey tak menjawab pertanyaan Antlers, ia menatap Hesley yang hanya berjarak beberapa meter saja dari posisinya saat ini. Ekspresi yang ditampilkan oleh Hesley hanya datar. Melihat tatapan Lindsey kepada Hesley, Antlers menyadari ada ketakutan terbesar yang terlihat dari mata sang sahabat.
Antlers berjalan semakin dekat dengan Lindsey dan lantas langsung memeluknya secara tiba-tiba. Semua orang tersentak melihat hal tersebut terjadi di depan matanya.
"A-Antlers? Ada apa?" Lindsey yang bingung mulai bertanya-tanya pada Antlers yang masih memeluknya dengan erat.
"Aku tidak mau melihat air mata itu jatuh lagi, sudah cukup kau menderita dan menanggung semua tanggung jawab ini, Lindsey. Biarkan aku dan teman-teman membantumu, jangan meneteskan kesedihan itu di depan mataku." Ungkap Antlers tulus.
Kalimat yang diutarakan Antlers justru membuat hati Lindsey menjerit dan ingin menangis. Matanya mulai berkaca-kaca namun ia berusaha untuk tidak meneteskan air matanya di depan Antlers.
"Terima ... kasih." Lirih Lindsey.
Apa daya Lindsey tak dapat menahan bulir air matanya untuk jatuh membasahi pipinya.
Antlers melepas pelukannya dan melihat Lindsey yang sudah bercucuran air mata.
"Apa? Kenapa kau malah menangis? Aku kan sudah bilang jangan menangis lagi." Ucap Antlers sambil menghapus air mata Lindsey yang sudah tumpah ruah.
"M-maafkan aku, aku tidak bisa menahannya." Lirih Lindsey berusaha menghentikan tangisnya.
"Astaga ... kau ini ..." Antlers pun tanpa sadar juga menitikkan air matanya karena melihat bagaimana kesedihan yang begitu mendalam dari diri Lindsey.
"Hei, apa-apaan ini? Kenapa kalian menangis tidak mengajak kami?" Heyna datang menghampiri kedua temannya yang sedang menangis, disusul Laurent dan Yves dari belakang.
"Kalau ingin menangis lebih baik pulang saja sana, kita di sini untuk bertarung." Cetus Laurent asal.
Mendengar cetusan Laurent membuat Heyna melotot dan langsung memukul pundaknya. "Hei! Tutup mulutmu, bisa-bisanya kau mengatakan itu pada Antlers dan Lindsey yang sedang bersedih." Marahnya.
__ADS_1
"Laurent memang tidak memiliki perasaan." Sosor Yves dengan santainya.
"Jaga ucapanmu, Yves! Aku ini manusia yang juga punya perasaan!" Sergah Laurent yang tak terima dirinya dicap sebagai manusia tanpa perasaan. Memangnya dia sejahat itukah?
"Hei sudahlah, kenapa kau jadi marah begitu padanya?" Antlers melerai.
"Iya benar, kau kesal karena apa yang dikatakan Yves memang benar kan?" Ketus Heyna.
"Dia bicara asal dan aku tidak suka." Gerutu Laurent. Namun dia pun tidak sadar bahwa dirinya juga selalu asal bicara dan terkadang ceplas ceplos, sehingga tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Itulah yang kami tidak suka juga darimu, payah! Berhenti bicara hal tak penting dan lebih baik fokus saja dengan strategi kita." Heyna kembali memarahi Laurent yang terus menerus menggerutu.
"Sudahlah teman-teman jangan berdebat." Lindsey melerai perdebatan antara Heyna, Laurent, dan Yves yang terlihat kekanak-kanakan.
"Apa kalian sudah selesai bicara?" Ucap Hesley tiba-tiba. Langkahnya berjalan semakin dekat ke arah Lindsey dan yang lainnya.
Mendengar suara adiknya yang begitu ia rindukan membuatnya tak berpaling dari Hesley.
"Haruskah kita lakukan penyerangan sekarang juga? Aku sudah tidak sabar menggunakan kekuatan terhebatku." Ujar Heyna yang sudah tidak sabar untuk melakukan penyerangan.
"Sombong sekali." Gerutu Laurent.
"Kita tidak menyerang duluan, Heyna, kita hanya menghindari serangan-serangan dari Hesley maupun Glory."
"Kau punya alasan mengapa kita tidak boleh menyerang duluan?" Tanya Heyna.
"Apa itu?"
"Hesley adalah pengguna elemental." Ungkap Antlers.
"Elemental?"
"Air, api, tanah, dan udara. Dia menggunakan kekuatan elemental yang dikendalikan melalui emosinya. Jadi, berhati-hatilah saat kalian mendekatinya. Kekuatannya bisa dua kali lipat ketika emosionalnya tinggi." Jelas Antlers.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan agar serangan kita mengenainya?" Tanya Yves.
"Sudah kubilang berusahalah untuk tidak menyerangnya." Desak Antlers terus mengingatkan.
"Lantas, jika kami terpojok dan harus menyerang balas apa yang harus dilakukan agar tidak mati? Pasrah dan mengalah begitu saja?" Tanya Heyna.
"Tidak, jika kau mengalah dan pasrah kau akan mati. Yang perlu dilakukan adalah tetap menghindar."
"Astaga! Jika terus menghindar aku tidak bisa menunjukkan kehebatanku." Keluh Heyna.
__ADS_1
"Tujuan kita adalah menyadarkan Hesley dari sihir hitam yang masuk ke dalam tubuhnya, bukan menyombongkan kekuatan yang kita miliki. Jangan bertindak sesuka hatimu, Heyna." Antlers memperingati dengan keras.
"Ahhh, menyebalkan!"
"Tapi ada hal yang kau lupakan, Antlers." Sahut Yves.
Antlers menatap Yves. "Apa yang aku lupakan?"
"Kau lupa bahwa sihir hitam yang sudah mempengaruhi emosi secara mental tidak akan bisa dilepaskan dengan mudah." Ungkap Yves.
"Apa maksudmu?" Tanya Lindsey.
"Maksud Yves adalah ... kita tidak bisa menyelamatkan Hesley walaupun kita sudah berusaha semaksimal mungkin." Sahut seseorang yang memiliki suara familier.
Semua menoleh dan mendapati seorang peri terbang ke arah mereka.
"Ruinda?"
"A-apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Lindsey.
"Aku diberi tugas oleh Ratu Lily untuk membantumu menghentikan Glory dan Hesley. Sang Ratu menyadari bahwa Glory dan Hesley akan datang ke istana Ratu Florist untuk menghentikan proses reinkarnasi." Jawab Ruinda.
"Jadi, adikku tidak akan bisa bebas dari sihir hitam itu?" Tanya Lindsey mulai khawatir.
"Aku menyesal harus mengatakannya, tapi itu semua memang benar." Ucap Ruinda.
"Tidak ada waktu untuk berpikir sejauh itu, Lindsey." Seru Ratu Florist tiba-tiba.
"Yang Mulia?"
"Ratu Florist benar. Teman-teman, kita harus berusaha untuk menghentikan keduanya, untuk urusan bisa atau tidaknya mengeluarkan sihir hitam dari dalam tubuh Hesley kita bisa bicarakan itu nanti." Ucap Antlers.
"Sesuai dengan strategi kita di awal. Heyna di depan, Yves di tengah, aku dan Lindsey di belakang. Sedangkan Ruinda tetap berjaga selagi kami berusaha mendekati Hesley."
"Lalu, apa tugasku?" Tanya Laurent.
"Kau tetap berjaga-jaga dan jangan sampai Hesley menyerangmu. Jika itu terjadi mungkin saja kau akan mati di tangannya."
"K-keterlaluan, aku tidak selemah itu, Antlers!"
"Hei, ikuti saja apa yang sudah direncanakan olehnya ..." Kata Heyna.
Laurent hanya mampu menghela napas dan berusaha untuk melakukan tugasnya dengan baik.
__ADS_1
"Yaa, setidaknya aku berguna dalam tim." Kata Laurent pasrah. "Emerald, kenapa kau tidak memberikan kekuatan lain seperti milik Heyna, Lindsey, atau Antlers. Mengapa kau malah memberikan kekuatan linguistik yang saat ini tidak berguna sama sekali?" Keluhnya.
...***...