
Robin Hood yang ada di hadapan mereka saat ini menyeringai setelah Antlers mengungkap jati diri makhluk yang mengaku sebagai Robin Hood.
"Kau hebat, Antlers Gardy." Senyuman yang awalnya nampak hangat itu menjadi mengerikan.
Tiba-tiba Robin Hood berubah menjadi makhluk ular berkepala naga. Tubuhnya besar dan menjulang tinggi melebihi pohon-pohon di hutan. Giginya tajam dan mengeluarkan lendir hijau yang menjijikan. Ditambah tatapan ganas yang seakan hendak menerkam Lindsey dan kawan-kawan.
"Naga?!" Laurent terbelalak melihat penampakan naga besar di hadapannya saat ini.
Apakah ini akhir dari hidupnya?
"CEPAT LARI!" Seru Marine yang sudah terbang melesat dengan cepat.
Semuanya berlari menghindari serangan naga itu.
Tak disangka naga itu merambat dengan sangat cepat, sesekali ia mengeluarkan api dari mulutnya yang besar dan meraung dengan kencang.
Hal itu menambah kesan horor yang menimbulkan rasa takut bagi siapa pun yang berhadapan dengan naga besar bernapas api.
"Astaga, kenapa jadi seperti ini?!" Erang Laurent yang terlihat frustasi. Dia berusaha lari sekuat tenaga sambil menggendong Emerald yang cukup berat.
"Astaga, Emerald, bisakah kau berubah menjadi batu permata? Kau berat sekali, walaupun seukuran anak anjing." Titah Laurent pada Emerald yang diam.
"Baiklah jika itu maumu." Emerald pun berubah menjadi batu permata.
"Kenapa tidak dari awal saja! Astaga!" Teriak Laurent semakin dan sangat frustasi.
Mereka berlari sekuat tenaga dan semakin jauh, namun naga itu melesat begitu cepat sehingga membuat mereka kewalahan.
"Kita harus mencari tempat sembunyi," saran Ruby yang berada di gendongan Heyna.
"Kau benar...jika kita berlari menghindarinya terus, kita akan mati." Sahut Heyna.
Semua berhenti sejenak sambil menoleh ke sembarang arah mencari tempat sembunyi yang aman untuk mereka. Antlers menoleh salah satu tempat dan mendapati sebuah goa yang tak jauh dari keberadaannya.
"Di sana ada goa, ayo cepat!" Antlers berlari menuju goa itu, diikuti yang lainnya dari belakang.
Masuk ke dalam goa yang gelap, pengap, dan lembab membuat Laurent bergidik ngeri. Rasa lapar juga membuatnya menjadi over thinking.
Naga itu tak ingin menyerah, seakan tidak membiarkan Lindsey dan yang lainnya lolos begitu saja. Ia mengendus untuk mencari keberadaan mereka, namun sepertinya penciuman naga itu tidak cukup bagus sehingga ia melewati goa yang ditempati mereka untuk bersembunyi tanpa curiga.
Jantung mereka berdebar cukup kencang. Tidak, sangat kencang. Setelah mengetahui naga itu sudah tidak di depan goa, mereka menghela napas lega dan duduk di antara bebatuan goa sambil mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.
"Tadi itu sangat menegangkan, aku seperti di ujung tanduk." Keluh Laurent.
"Maafkan aku semuanya, gara-gara ulahku kita semua hampir menjadi mangsa ular naga itu." Ujar Lindsey tiba-tiba.
__ADS_1
Semua menatap Lindsey dengan nanar.
"Lindsey, sudah aku katakan sebelumnya bukan? Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, kita ini tim, kau tidak ingat? Tim harus saling membantu dalam keadaan susah maupun senang." Balas Antlers menyadarkan Lindsey untuk tidak terlalu menyalahkan dirinya dalam keadaan seperti ini.
Lindsey menunduk mencerna ucapan Antlers yang selalu mendukungnya baik dalam fisik maupun mental.
Ia menarik napasnya dalam-dalam, "baiklah, aku mengerti. Terima kasih Antlers."
"Sekarang bagaimana? Apa kita lanjutkan perjalanan ke puncak gunung Yoko?" Ujar Heyna.
"Kita harus segera ke sana secepatnya untuk mengambil batu permata Amber. Aku khawatir Amber akan diambil oleh Glory." Ucap Marine.
"Kau benar, kalau begitu ayo," kata Heyna lalu mengambil langkah berani untuk keluar goa.
Saat mereka hendak melanjutkan perjalanan menuju gunung Yoko, Heyna menghentikan langkahnya karena mendengat suara gemericik air dari dalam kawasan goa. Suaranya memang samar-samar, tetapi dia sangat yakin kalau yang saat ini di dengar melalui indra pendengarannya adalah gemericik air yang mengalir.
"Kalian dengar itu?" seru Heyna, membuat teman-temannya juga ikut berhenti.
"Hm? Dengar apa?" Lindsey menoleh dan mendapati Heyna tengah fokus pada sesuatu.
"Air." Ungkap Heyna dengan mata penuh harap.
"Air? Di mana?" Laurent nampak bersemangat mendengar kata air.
"Dari arah sana." Heyna menunjuk jalan yang nampak gelap gulita karena tidak disinari cahaya matahari.
"Aku yakin sekali." Heyna berjalan terlebih dahulu untuk memastikan.
"Heyna tunggu!" Antlers memegang lengan Heyna untuk tidak masuk ke dalam kawasan itu. Ia agak khawatir.
"Kalian tunggu di sini dulu, aku akan memastikannya." Kata Heyna meyakinkan Antlers untuk mempercayai dirinya.
"Ruby, bisa bantu aku?" sambung Heyna.
"Tentu." Ruby berubah menjadi batu permata dan bersinar untuk membantu menerangi Heyna yang hendak memastikan suara gemericik air yang di dengarnya tadi.
Heyna memasuki goa itu semakin dalam, dan ia sudah tidak nampak lagi di hadapan Lindsey, Antlers, dan Laurent.
"HEYNA! KAU BAIK-BAIK SAJA KAN?!" teriak Antlers memanggil Heyna sekaligus mempertanyakan kondisinya saat ini.
"YAAA! KALIAN SEMUA CEPAT KEMARI!" balas Heyna juga berteriak.
Lindsey dan yang lainnya saling tatap lalu berjalan mengikuti jalur yang di lalui oleh Heyna dan Ruby.
Tiba di ujung goa, semua terkejut bukan main. Ada telaga air yang sangat jernih di bawah sinar matahari.
__ADS_1
Laurent berlari dan meminum air itu dengan cepat untuk menghilangkan dahaganya setelah dikejar-kejar oleh monster ular naga yang mengerikan.
"Rasanya segar..." Laurent menghela napas lega karena akhirnya ia bisa menelan setidaknya air untuk tenggorokannya yang kering, "eh? Tunggu sebentar, aku tiba-tiba merasa kenyang." lanjutnya agak terkejut.
"Apa maksudmu?" Antlers bertanya-tanya dan mendekati kolam air itu untuk mencobanya.
Glek glek glek...
Antlers juga sama terkejutnya. "Air ini benar-benar sangat menyegarkan, aku juga merasa kenyang. Kandungan apa yang ada di dalam air ini?"
"Aku akan memeriksanya." Ucap Amtehyst.
Amethyst memeriksa air itu dengan ikut meminumnya.
Setelah diperiksa...
"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Lindsey pada Amethyst.
"Ini adalah air keinginan." Ungkap Amtehyst.
"Air keinginan?" semua orang mulai bertanya-tanya.
"Air ini bisa membuat siapa pun yang meminumnya akan merasa segar dan energinya seakan terisi penuh, tapi jika si peminum memikirkan makanan maka ia juga akan merasa kenyang." Jelasnya.
"Benarkah? Pantas saja aku merasa kenyang seperti habis makan makanan enak." Laurent terkekeh.
"Apa kita perlu membawa air ini untuk bekal? Aku rasa ini akan berguna." Saran Antlers.
"Kau benar, aku ada botol minum." Ujar Heyna menyodorkan sebuah botol minum yang entah dari mana bisa ada bersama Heyna.
"Sejak kapan kau membawa botol minum?" Laurent bertanya-tanya.
"Tunggu, sepertinya aku kenal dengan botol minum itu." Lindsey mengerutkan dahinya mengingat, "Heyna, dari mana kau mendapatkannya?" tanyanya.
"Aku mengambilnya dari kamarmu sebelum kita masuk ke dunia ini." Jawabnya.
"A-apa? Jadi itu...botol minum yang ada di kamarku?" Lindsey terkejut dengan pengakuan Heyna.
Heyna terkekeh, "hehe itu benar. Aku membawanya karena aku yakin kita akan membutuhkan benda ini."
"Astaga...kau pintar juga, Heyna."
"Aku memang pintar." Heyna tersenyum bangga.
...***...
__ADS_1
Ilustrasi hutan kabut