
Di tengah hutan yang lebat akibat kabut tebal, Lindsey dan Aurora berjalan melewati pohon-pohon besar, semak belukar, dan tanaman berduri yang tumbuh di sekitar hutan.
Sudah hampir setengah jam mereka berjalan menyusuri hutan menuju rumah Aurora, dan akhirnya mereka pun sampai sebelum matahari tenggelam.
Sesampainya di rumah, Aurora dan Lindsey disambut ramah oleh ketiga peri itu. Mereka menyambutnya dengan penuh perhatian. Namun, mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Lindsey.
"Siapa dia?" tanya peri biru pada Aurora.
Aurora menoleh ke arah Lindsey. "Dia temanku, namanya Lindsey." jelas Aurora. Lindsey yang tepat di sebelah Aurora hanya tersenyum kecil pada ketiga peri itu.
"Oh begitu, akhirnya kau punya teman." tutur peri hijau sambil tersenyum manis ke arah Aurora dan Lindsey.
"Bibi, apa boleh Lindsey tinggal di sini untuk sementara waktu? Dia tersesat dan tidak punya tempat tinggal." pinta Aurora pada ketiga peri itu.
"Tentu saja boleh," seru peri hijau kegirangan.
"Hei, tunggu dulu! Kalau dia tinggal di sini, dia mau tidur di mana? Kita hanya punya dua kamar, Aurora." ucap peri merah menyela pembicaraan.
"Lindsey akan tidur sekamar denganku," ucap Aurora yang teguh dengan pendiriannya. Lindsey tak menyangka kalau Aurora sangat peduli padanya.
"Baiklah, terserah kau saja. Asalkan dia tidak membuat kita kerepotan," desih peri merah lalu pergi menuju dapur.
"Aurora, jangan pikirkan perkataan Bibimu yang aneh itu, ganti pakaianmu dan setelah itu kita makan malam bersama." ucap peri hijau dengan lembut.
"Baik!"
"Hei kalian berdua, cepat bantu aku di dapur!" teriak peri merah dari dapur.
"Iya, dasar cerewet!" pekik peri biru. Peri hijau dan peri biru pun menyusul peri merah ke dapur untuk membantu memasak makan malam.
Aurora pun mengajak Lindsey untuk pergi ke kamarnya.
"Huh, maafkan bibiku yang tadi, ya? Dia memang seperti itu," ucapnya pada Lindsey sembari duduk di ranjang.
__ADS_1
"Maksudmu, wanita cerewet yang memakai pakaian merah tadi? Ya, tidak apa-apa. Aku memakluminya," pekik Lindsey, memutarkan kedua bola matanya.
"Hahaha! Kau benar, bibiku yang satu itu memang pemarah dan sedikit emosional. Tapi, sebenarnya dia baik, kok." Aurora tertawa mendengar ucapan Lindsey.
Lindsey sedikit terkejut karena Aurora di dunia ini berbeda dengan Aurora yang ada di cerita dongeng. Maksud dari beda itu adalah, Aurora yang ada dihadapannya saat ini lebih ceria dan ekspresif, sedangkan Aurora di cerita dongeng lebih pendiam dan anggun. Apa karena tempat tinggalnya yang berada di tengah hutan yang membuatnya seperti ini?
Setelah mengganti pakaian, Aurora meminjamkan pakaian miliknya pada Lindsey, dan mereka bercermin untuk melihat penampilan mereka. Aurora saat ini mengenakan gaun panjang yang dibuatkan oleh bibinya, berwarna hijau muda yang berbahan dasar kain sutera. Kecantikan Aurora tidak perlu diragukan lagi. Namun bagi Lindsey, dia terlihat aneh memakai gaun panjang seperti itu. Biasanya, ia hanya memakai pakaian seperti seorang pembantu yang kotor dan kumel.
"Kau cantik sekali memakai gaun itu," tutur Aurora sambil tersenyum.
"B-benarkah? Aku ragu soal itu, hehe!" Lindsey berusaha tertawa, namun tawanya sangat garing dan terdengar aneh.
"Aurora, makan malam sudah siap!" teriak salah satu peri dari ruang makan.
"Iya, aku datang!" sahut Aurora. "Ayo ke ruang makan," ajak Aurora lalu menarik tangan Lindsey untuk makan bersama.
"O-okey ..."
Mereka berdua pun menuju ruang makan. Di sana, para peri sudah duduk di tempatnya masing-masing sambil menatap makanan yang sudah berjejer rapih di meja makan. Aurora dan Lindsey pun duduk di kursi mereka dan bersiap untuk makan malam.
"Kelihatannya enak," seru Aurora yang sudah tidak sabar mencicipi makanan itu.
"Tentu saja, aku yang memasaknya," jelas peri merah dengan bangga.
"Apa kau bilang? Aku juga membantu memasak sup ini, tau!" seru peri biru tak terima dengan ucapan peri merah.
"Hei! Aku yang memanggang roti ini. Sedangkan kalian hanya membuat sup saja." peri hijau pun tidak mau kalah.
Aurora dan Lindsey saling tatap dan terdiam mendengar ocehan para peri itu.
"Bibi hentikan!" Ketiga peri itu langsung diam saat Aurora menghentikan pertengkaran mereka.
"Bisakah kita makan dengan tenang?" sela Aurora.
__ADS_1
"Maaf." Ketiga peri itu memunduk.
"Ayo kita makan sebelum sup dan roti ini dingin," ujar Aurora. Sepertinya, Aurora di dunia ini kerepotan mengurus ketiga bibinya.
Ketiga peri itu mengangguk pelan dan mereka pun mulai menyantap makan malam. Namun, ketika Aurora menyeruput sup ikan buatan peri merah dan peri biru, wajahnya mengatakan bahwa sup itu ....
Benar-benar tidak enak. Ia berusaha menahannya dan menelannya, rasa sup itu sangat aneh, ia merasa mual dan hampir memuntahkannya.
Lindsey yang penasaran pun ikut mencoba sup ikan itu.
"Wuueek!" dengan cepat Lindsey langsung memuntahkan sup itu dari mulutnya, dan meminum segelas air yang ada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya peri merah kebingungan.
"M-mungkin Lindsey tersedak," ucap Aurora mengalihkan situasi. "Supnya enak, kan?" Aurora bertanya dan memandang Lindsey dengan mimik wajah yang aneh.
"Boleh aku jujur?" ucap Lindsey, ketiga peri dan Aurora menoleh ke arahnya.
"Ini sama sekali tidak enak. Rasa dari sup ini seperti air bekas cucian piring, apa yang kalian masukkan ke dalam sup ini?" lanjutnya blak-blakan.
"Apa?! Air bekas cucian piring?" ketiga peri itu pun mencoba supnya.
"Ya ampun! Kau benar, ini sama sekali tidak enak," ujar peri hijau yang langsung memuntahkan sup itu.
"Aurora, kenapa kau berbohong pada kami kalau sup ini enak?" tanya peri hijau pada Aurora.
"Maaf, aku tidak ingin menyakiti perasaan kalian. Kalian sudah berusaha membuatkan makanan ini untukku. Walaupun sebenarnya tidak enak, tapi aku akan tetap memakannya." jawab Aurora jujur.
"Apa kau sudah gila? Sup ini sama sekali tidak enak, lihat ini! Rotinya sangat keras seperti batu," seru Lindsey dengan nada kesal, ia segera mengambil roti panggang buatan peri hijau dan mengetuknya di meja untuk mendengar seberapa keras roti tersebut. Ketiga peri dan Aurora terdiam mendengar celotehan Lindsey.
"Aurora, maaf karena kami tidak bisa memasak. Kami berusaha yang terbaik untuk merawat dan membesarkanmu dengan cara kami. Tapi, sepertinya kami sudah gagal." ucap peri biru.
"Huuaa! Pasti Raja akan marah pada kita kalau Aurora tidak terawat dengan baik. Dia pasti akan menghukum kita!" keluh peri hijau, membuat semua orang yang ada di meja makan tersebut mengernyit kebingungan.
__ADS_1
"Raja?" Aurora terlihat kebingungan dengan maksud ucapan bibinya itu.