Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Dorothy dan Toto


__ADS_3

Ketiga kalung permata menggunakan kekuatannya secara bersamaan untuk memperkuat portal dimensi menuju cerita dongeng yang lain.


Dan ketiga anak yang saat ini tengah berdiam merenung telah mempersiapkan mental dan fisiknya untuk kembali berpetualang di dunia asing.


Akankah mereka berhasil?


"Aku sangat benci mengatakannya, tapi bisakah kita tidak masuk ke dalam hutan lagi, Marine?" ujar Lindsey.


"Apa kau trauma masuk ke dalam hutan?" Heyna menahan rasa tawanya saat melihat ekspresi Lindsey yang sedikit kesal.


"Itu bukanlah hal yang bagus, aku benci hutan sejak masuk ke dunia ini."


"Sepertinya kau datang dengan rasa penyesalan," sahut Laurent.


"Aku sudah kenyang melihat pemandangan dunia dongeng yang penuh fantasi ini. Berharap bisa pulang saja kemungkinannya sangat kecil."


"Ya, intinya kita bertiga adalah orang yang tidak beruntung karena harus melakukan hal seperti ini," kata Heyna sambil melipatkan kedua tangannya di dada.


Criing!


"Kita sudah sampai,"


Semua menoleh ke sembarang arah ketika melihat pemandangan tempat baru mereka. Jalannya dipenuhi batu bata kuning, pohon yang tumbuh sangat rindang dan berwarna-warni, langitnya juga bukan berwarna biru, melainkan ungu violet.


"The Wizard of Oz?" sahut ketiganya berbarengan.


"Ya, ini adalah tempat yang akan membawa kalian untuk menyelamatkan Antlers, gadis 15 tahun yang terjebak di cerita ini."


"Antlers? Namanya bagus,"


"Siapa kalian?!" tanya seseorang dari arah belakang mereka. Membuat ketiganya terkejut dan menoleh.


Cerita bermula dari tanah pertanian Kansas di mana Dorothy dan anjingnya Toto yang tiba-tiba terjebak beliung, kemudian berada di sebuah negeri di balik pelangi.


Dalam perjalanannya untuk menemukan arah pulang menuju rumah, mereka bertemu Scarecrow si bijak penuh keluguan yang ingin menjadi manusia, Tinman sang penebang kayu dengan impiannya untuk memiliki sebuah hati, dan Lion, singa pengecut yang mendambakan keberanian.


Bersama-sama, mereka menyusuri jalanan yang terbuat dari bata berwarna kuning, menuju Kota Zamrud dan menemui penyihir agung Oz, satu-satunya harapan bagi Dorothy untuk kembali ke Kansas. Tak sekadar menolong Dorothy, Scarecrow, TinMan, dan Lion juga berharap bertemu sang penyihir agung agar masing-masing impiannya dapat dikabulkan.


...***...


"Jadi, kalian bertiga juga tersesat?" tanya Lion. Ketiganya hanya mengangguk pelan.


"Kalau begitu, kita pergi bisa ke kota zamrud bersama. Bagaimana, kalian mau kan?" tawar Dorothy.


"Ah, tentu, dengan senang hati kami akan ikut bersamamu."


Mereka pun berjalan melanjutkan perjalanan menuju kota zamrud, tempat keberadaan penyihir agung Oz yang katanya bisa mengabulkan permintaan seseorang.


Perjalanan cukup memakan waktu yang lama dan jaraknya ternyata tidak main-main. Mereka bahkan sudah berjalan sekitar dua jam menuju kota itu. Bukannya menemukan kota itu, mereka justru tersesat karena jalan berbata kuning telah habis.


"Jalannya hanya sampai di sini saja, apa yang harus kita lakukan?" tanya Heyna.


"Scarecrow, apa kau punya ide?" tanya Dorothy.


"Hmm, biar kupikirkan dulu ...." Scarecrow memejamkan matanya untuk berpikir.


Semua terdiam menunggu ide keluar dari kepala Scarecrow. Namun, tiba-tiba seekor burung gagak terbang mengelilingi mereka dengan mengeluarkan suara bising yang sangat menganggu pendengaran.


Woak! Woak! Woak!


Begitulah sekiranya suara gagak tersebut.


"Astaga! Kenapa banyak sekali burung gagak di sini?" ujar Lindsey sambil menutupi telinganya.


"Hi hi hi hi hi!"


"Suara itu, terdengar tidak asing," ucap TinMan.


"Ya ampun, itu suara penyihir jahat." Sambungnya terkejut.


Penyihir dengan wajah yang sudah berkerut akibat termakan usia itu tertawa seram sambil dikelilingi burung-burung gagak. Suara yang dihasilkan tak kalah bising dari yang tadi.


"Dorothy, berikan sepatu Ruby itu padaku!" pinta penyihir tua itu dengan suara gelegar.


Dorothy langsung mengarahkan kepalanya ke bawah.


"Tidak! Sepatu ini satu-satunya harapan agar aku dan Toto bisa pulang ke rumah," balas Dorothy dengan lantang.


"Kenapa dia ingin sepatumu?" tanya Laurent pada Dorothy.


"Karena sepatu itu pemberian dari penyihir agung Oz, sepatu itu juga memiliki kekuatan sihir," sahut Lindsey, yang seperti biasa tau semua alur cerita.


"Kalau begitu kita tidak bisa membiarkan sepatu itu diambil oleh penyihir jahat." jelas Heyna.

__ADS_1


"Aku tau, satu-satunya cara untuk mengalahkan penyihir jahat itu hanya dengan melawannya. Kita harus bisa mengalahkannya dalam pertarungan sihir." kata Lindsey memberitahu maklumat.


Ketiga kalung permata mulai mengeluarkan cahaya ajaibnya, dan menyerang penyihir jahat itu. Namun, penyihir itu berhasil menghindar.


"Ah sial!"


"Hi hi, kalian tak akan bisa menyerangku dengan kalung aneh itu, kalung itu bahkan tak mempunyai kekuatan sihir," kata penyihir itu sambil terkekeh.


"Akan kuperlihatkan sihir yang sebenarnya."


"Tapi sebelum itu, aku akan memperkenalkan kalian pada anak buahku yang sangat hebat," ucap penyihir itu dengan sombong.


"Antlers, kemarilah!" sambungnya memanggil nama orang.


Yang dipanggil pun datang. Gadis sekitar berumur lima belas tahun itu tiba-tiba muncul dari atas langit. Raut wajahnya menunjukkan sikap dingin. Lindsey dan kawan-kawan hanya bisa terdiam dengan wajah yang sudah sedikit ketakutan.


"Cepat selamatkan anak itu dari sihirnya!" seru Emerald.


"Tidak akan kumaafkan! Marine, berikan aku kekuatan untuk mengalahkan penyihir itu, aku akan menyelamatkannya." ucap Lindsey dengan percaya diri.


"Kalian semua bersembunyilah, terutama kau Dorothy. Jangan sampai penyihir mengambil sepatu Ruby itu," ujar Lindsey.


"Baiklah, berhati-hatilah Lindsey."


Marine si kalung ajaib pun memberikan kekuatannya pada Lindsey. Dengan kekuatan itu ia bisa mengendalikan dan memindahkan benda apapun yang ada di sekitarnya, seperti kekuatan telekinesis.


Namun, di tengah-tengah pertarungan antara Lindsey dan penyihir jahat, Antlers ikut melawan dan membantu sang penyihir dengan kekuatan kalung Amethyst yang ada di lehernya. Kekuatan yang dikeluarkan pun tidak kalah hebat dibanding sihir sang penyihir.


"Lindsey, satu-satunya cara untuk menghentikan Antlers adalah dengan mengambil kalung Amethyst yang ada di lehernya itu." seru Marine.


"Apa kau yakin?"


"Iya, cepat lakukan!"


"Aih, baiklah, dasar cerewet!"


Lindsey terus mengeluarkan beberapa kekuatan yang sudah diberikan Marine padanya untuk melawan Antlers dan penyihir. Dan sepertinya ia nampak kelelahan.


Lindsey mengakui kehebatan Antlers dalam bertarung, ia sangat cepat dan tepat menembak sasaran target. Jika kalian ingin tau sihir apa yang digunakan Antlers untuk melawan Lindsey, ialah sihir Stoneshoot---kekuatan dalam menembak dengan menggunakan media batu permata, dalam sekali tembak batu-batu itu bisa terpecah dan menyerang siapapun yang ada di sekitarnya. Bisa dibilang tembakan itu tidak beraturan.


Jumlah batu yang sangat banyak tersebut membuat Lindsey sedikit kewalahan. Sepertinya ia akan sangat membutuhkan kekuatan tambahan.


Wush!


"Kami tidak bisa membiarkan teman kami melawan musuh sendirian. Beristirahatlah sejenak, kami yang akan mengurusnya," ucap Heyna dengan percaya diri.


"T-tapi, bagaimana jika--"


"Sudah, lebih baik kau bersembunyi di dalam batu besar itu bersama Dorothy dan ketiga temannya yang aneh. Di sana aman karena Ruby telah membuat perisai pelindung untuk memperkuat batu itu." sergah Laurent


Lindsey mengangguk. "Kalian berdua hati-hati. Oh ya, kalian harus tau kalau--"


"Cara menghentikan Antlers dengan cara mengambil kalungnya. Kami sudah tau, Lindsey. Sekarang pergilah!" Heyna memotong ucapan Lindsey.


"Baiklah, aku percayakan Antlers pada kalian."


Lindsey berlari menuju batu besar yang dimaksud oleh Heyna. Di sana sudah ada Dorothy dan ketiga teman anehnya yang sedang bersembunyi.


"Kalian baik-baik saja?" Lindsey yang baru datang langsung menanyakan hal itu pada Dorothy dan teman-temannya.


Mata Dorothy langsung fokus pada luka gores yang ada di lengan kiri Lindsey. Yang memang itu semua adalah ulah Antlers.


"Kau terluka, aku akan mengobati lukamu." ucapnya.


"Caranya?"


"Dengan sepatu ini aku bisa meminta satu permintaan. Aku akan memohon untuk menyembuhkan luka di tubuhmu,"


"Jangan lakukan itu, jika kau melakukannya maka kau tidak akan bisa pulang ke Kansas. Lagipula ini hanya luka kecil." Lindsey berusaha menolak.


Sebenarnya luka Lindsey cukup parah, kulit tangannya berdarah dan mengelupas.


"Aku punya dua sepatu, aku hanya akan memakai satu untuk mengobati lukamu. Kumohon jangan menolak ya ...."


Duh, seharusnya Marine bisa mengobati lukaku, tapi sepertinya dia juga kehabisan tenaga. Gumam Lindsey.


Tanpa Lindsey sadari, Dorothy telah meminta permintaan pada salah satu sepatu itu. Alhasil luka di lengan Lindsey langsung sembuh.


"Wah, seandainya saja di duniaku ada sihir. Akan lebih mudah untuk melakukan segala hal seperti yang kulakukan saat ini." ucap Lindsey takjub.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?"


"Tentu, aku merasa sangat sehat."

__ADS_1


...***...


"Aku tidak menyangka, Antlers sangat kuat. Sulit mengambil kalung itu darinya." dengan napas tersengal, Heyna berusaha memikirkan cara untuk mengambil kalung itu dari leher Antlers.


"Kita butuh rencana, Heyna." seru Laurent memberi saran.


"Lebih baik kita ke tempat persembunyian dulu,"


Ting!


Mereka berdua menghilang dari pandangan Antlers.


Seperti teleportasi, Heyna dan Laurent sudah berada di dalam batu besar. Memang, kekuatan ini cukup memakan energi yang banyak dari kalung permata. Bahkan saat ini kedua kalung itu sudah tak sanggup mengeluarkan sihirnya, bahkan untuk berbicara saja tidak bisa.


Penyihir dan Antlers masih mencari keberadaan Lindsey dan yang lainnya dengan menaiki sapu terbang. Diikuti oleh segerombolan gagak yang sangat berisik.


"Wah wah wah ... mereka sangat pandai bersembunyi," seru penyihir.


"Aku akan menghancurkan batu-batu itu untuk menemukan mereka," kata Antlers dengan wajah penuh amarah.


"Ide yang bagus, Antlers. Tidak salah jika aku mengangkatmu sebagai anak buahku."


"Aku melakukannya bukan demi kau, akan kuhancurkan siapapun yang berani melawanku."


"Eoh? Kupikir kau melakukannya demi aku, tapi ya sudahlah. Terserah kau saja."


Antlers dengan cepat menghancurkan semua batu yang telah ia lewati. Semua hancur berkeping-keping tanpa sisa.


Ketika batu paling besar di pecahkan ....


"Ketemu,"


"Sial, mereka menemukan kita."


"Kalian sudah mengerti dengan rencana tadi kan?" tanya Lindsey. Semua mengangguk cepat.


"Bagus, ayo kita lakukan."


Rencana? Apakah sebelum Antlers menghancurkan batu itu, Lindsey dan yang lainnya sedang membicarakan strategi untuk melawan Antlers? Akankah mereka berhasil?


Dengan kecepatan kilat, Heyna menyerang Antlers dengan pedang dan menebasnya, Antlers berhasil menghindar. Namun, itulah yang Heyna rencanakan, agar Antlers menghindar darinya untuk ....


Sret!


Laurent menyerang dari arah belakang tanpa sepengetahuan Antlers. Ia tersungkur ke tanah dan mengerang kesakitan. Wajahnya mulai menampilkan kepanikan.


Dan ternyata, tanpa disadari oleh Antlers bahwa kalungnya saat ini sudah berada di tangan Laurent.


Antlers berusaha berdiri namun ia nampak begitu lemah. Tanpa kalung itu ia tidak bisa melakukan apa-apa.


BRUKK!


Antlers terjatuh dan kini sudah terkapar di tanah.


"Apa kita terlalu kasar?" pekik Heyna.


"Tidak, kalian telah berhasil. Tidak lama lagi ia akan sadar," sahut Lindsey menghampiri tubuh gadis malang itu.


"Lalu, bagaimana dengan nasib penyihir itu?" tanya Laurent.


"Lepaskan aku!" Penyihir jahat mulai kepanikan, ia diikat di salah satu pohon warna-warni.


"Kau tidak layak berada di negeri ini, kita harus melakukan sesuatu padanya." kata Lion dengan ekspresi berapi-api.


"A-apa yang kalian rencanakan? Lepaskan aku! Aku ini penyihir terhebat di Oz. Jangan melawanku!" Penyihir jahat itu masih saja menggerutu tidak jelas.


"Sudahlah, kau diam saja, dasar penyihir jelek. Karena ulahmu perjalanan kita ke kota zamrud jadi terhambat. Merepotkan saja," seru Heyna.


...***...


Ketika sampai di kota zamrud, penyihir agung Oz mengembalikan Dorothy dan anjingnya---Toto, ke Kansas. Namun penyihir agung Oz hanya menggelengkan kepala ketika Scarecrow, TinMan, dan Lion meminta hal yang sama yakni agar impian masing-masing bisa terkabul. Sebab, ternyata Scarecrow, TinMan, dan Lion sudah memiliki apa yang sebenarnya mereka cari.


Scarecrow yang memiliki kepedulian untuk membantu Dorothy dan Toto telah memperlihatkan sosok manusiawi dengan jiwa penolong. TinMan yang bercita-cita memiliki hati juga sudah menunjukkan belas kasih dan berpihak pada kebaikan. Sedangkan Lion dengan berani telah menghalau anak buah penyihir jahat dari Barat untuk melindungi Dorothy dan membuktikan bahwa ia bukan makhluk pengecut.


"Dengan begini, misi kita sudah selesai," ucap Lindsey sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.


"Belum, kalian masih memiliki misi untuk menyelamatkan Neil Scots. Yang kini terjebak di salah satu cerita dongeng." sahut Marine.


"Oh iya,"


Mereka bertiga menghela napas frustasi, dan hanya bisa menuruti kemauan Marine dan ketiga kalung permata.


Bagaimana dengan Antlers? Ya, dia sudah kembali seperti semula, namun ia masih tidak sadarkan diri setelah pertarungan sengit yang sempat terjadi.

__ADS_1


Kekuatan kalung permata sudah sepenuhnya terkumpul. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju cerita lainnya, dan segera untuk menyelamatkan Neil Scots dari kutukan buku yang ditulis oleh ayahnya sendiri.


__ADS_2