Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Eternal Evil – Chapter 1


__ADS_3

Suara menggelegar terdengar begitu nyaring dari kejauhan. Hesley dan Yves yang sedang dalam perjalanan menuju Forbidden Pixie teralihkan dengan suara itu. Lokasinya tak jauh dari tempat mereka saat ini, keberadaannya membuat Hesley ingin segera pergi ke sumber suara. Dia merasakan getaran yang amat besar sehingga Hesley memutuskan untuk pergi ke sana.


"Hesley, kau mau kemana? Kerajaan peri itu ke arah sana." Ucap Yves sambil menunjuk arah menuju Forbidden Pixie.


"Aku merasa harus ke sumber suara itu, Yves." Jawab Hesley sembari terus berlari menuju sumber suara itu.


"Tapi, ibuku ingin kita menemui ratu Lily untuk meminta bantuan." Yves berusaha membujuk Hesley agar mengikuti rencana yang sudah dibicarakan sebelumnya.


Hesley menghentikan langkahnya sejenak lalu berkata. "Aku tau, tapi instingku mengatakan aku harus pergi ke tempat itu."


Setelah mengatakan itu Hesley langsung berlari kembali meninggalkan Yves.


Dalam hati ia begitu merasakan kehadiran Lindsey di dekatnya. Dia tidak mau membuang waktu lagi, karena ini kesempatannya untuk bertemu sekaligus meminta maaf karena sudah menyusahkan sang kakak.


"Hesley!" Teriak Yves namun tak digubris olehnya. Dia pun terpaksa mengikuti Hesley dari belakang.


BRUKK!!


"Lindsey!" Teriak Antlers, Heyna, dan Laurent tatkala melihat Lindsey terlempar begitu keras akibat serangan brutal dari Lou.


"Eugghh ..." Erang Lindsey yang terlihat kesakitan.


Lindsey berusaha bangkit namun serangan Lou berhasil melumpuhkannya.


"Hentikan!"


Semua menoleh ke sumber suara, dan ternyata itu adalah Hesley yang sampai tepat pada waktunya sebelum Lou menghabisi nyawa Lindsey.


"Jangan coba-coba untuk menyerangnya!" Teriak Hesley tak terima sang kakak diserang dengan brutal.


"Hesley ...? Eughh ..." Lindsey yang masih dalam keadaan terkapar berusaha melihat sang adik yang sedang dicarinya selama ini.


"Lindsey, kau tidak apa-apa?" Antlers, Heyna, dan Laurent langsung berlari ke arah Lindsey yang masih tergeletak di tanah.


"Iya, aku tidak apa-apa." Jawab Lindsey dengan nada lirih.


"Siapa kau ini? Mengganggu saja," geram Lou sembari berjalan mendekat ke arah Hesley.


"Lindsey, syukurlah kau baik-baik saja."


"Kakak?" Melihat sang kakak terkapar lemas di tanah, Hesley memuncak kan amarahnya.


Tanpa sadar aura kemarahan dalam diri Hesley memancarkan cahaya dan menjulang tinggi ke langit.


Glory yang sedang menunggu para Siren untuk mengabarinya soal keberadaan Hesley langsung menatap langit karena cahayanya.


"Aura itu ... pasti milik Hesley, ternyata dia ada di sana." Glory tersenyum miring melihat fenomena tersebut. Sepertinya rencananya memancing Hesley keluar berjalan dengan sangat lancar.


Tak lama kemudian para Siren muncul ke permukaan laut untuk menemui Glory.


"Hesley sedang menuju ke Forbidden Pixie, anak ratu Yvette yang memberitahunya." Papar salah satu Siren itu.


"Aku tau, sekarang aku akan ke sana untuk mendapatkan kembali wadahku yang berharga." Balas Glory lalu menghilang tiba-tiba.

__ADS_1


"Hesley, berhenti!" Teriak Lindsey.


"Apa yang sudah terjadi?" Yves yang baru sampai langsung melihat Hesley yang sudah memancarkan aura kemarahan yang tak pernah dilihatnya sebelumnya.


Heyna menoleh ke arah Yves yang berada di sampingnya saat ini. "Siapa kau?" Tanyanya.


"Aku temannya Hesley." Jawab Yves.


Mendengar suara Yves, Antlers langsung menoleh. "Tunggu, jangan-jangan kau adalah Mermaid yang dibicarakan oleh ratu Lily." Katanya menduga.


"Ratu Lily pernah membicarakan ku?" Tanya Yves.


"Iya, tapi apa yang kau dan Hesley lakukan di sini? Kami sebenarnya sedang berusaha menuju Silver Down, tetapi dihalangi oleh para Stone Seeker itu." Ungkap Laurent.


"Mereka Stone Seeker? Astaga, aku pernah mendengar tentang mereka. Katanya mereka itu pemburu batu permata yang kejam, apa pun mereka lakukan untuk mendapatkan batu permata yang diinginkan." Jelas Yves sambil berbisik-bisik.


"Semuanya sudah terjawab tentang kekejaman mereka, lihatlah apa yang sudah mereka lakukan kepada kami." Kata Antlers dengan raut wajah marah.


"Hesley, berhenti ... kau bisa melukai dirimu." Lirih Lindsey.


Hesley menghentikan amarahnya yang membuatnya mengeluarkan aura aneh dalam dirinya. "A-aku ... maafkan aku, Kak." Hesley menunduk.


Lindsey berdiri dan langsung menghampiri Hesley. "Kau baik-baik saja, kan? Aku sangat khawatir." Ucapnya.


Lindsey memeluk Hesley dengan erat, walaupun lukanya masih terasa sakit dan ngilu.


Tiba-tiba saja saat keduanya sedang melepas rindu, Glory datang di antara mereka. Para Seeker juga mengelilingi Glory seakan gadis itu adalah orang yang sangat dihormati.


"Pertemuan yang mengharukan." Ujar Glory sambil tersenyum jahat.


Laurent, Heyna, dan Antlers memasang badan untuk melindungi Lindsey dan Hesley. Begitu pun dengan Yves.


"Jadi, dia Glory?" Ucap Heyna memasang wajah seram.


"Hesley, aku mencarimu kemana-mana. Kita harus segera kembali ke istana kegelapan, ada ritual yang harus kita lakukan malam ini." Ucap Glory.


"Ritual? Apa maksudmu?!" Teriak Lindsey.


"Aku tidak mau ikut denganmu, aku mau pulang!" Tolak Hesley.


"Jangan ganggu adikku lagi, Glory!" Lindsey semakin memeluk adiknya dengan erat.


"Astaga ... kalian mengganggu saja, aku tidak mau buang-buang waktu saat ini. Kalian bertiga cepat bawa gadis itu!" Titah Glory pada ketiga Stone Seeker.


"Tunggu? Kenapa kami?" Nut bertanya-tanya.


"Apa maksud kalian kenapa kami? Itu tugas kalian, cepat!" Teriak Glory kembali memerintah.


"Bukan seperti itu perjanjian kita, Glory. Kami hanya bertugas mencarikan para batu permata untukmu." Jelas Lou.


"Jadi, apa kalian mendapatkannya?"


"Para batu permata itu ada bersama mereka, bukan? Jadi ... sebaiknya kita lakukan tugas kita, Nut, Cruy." Lou mulai melakukan ancang-ancang untuk mengambil para batu permata.

__ADS_1


Dalam hati Lou merasa bingung karena tidak ada tanda-tanda keberadaan batu permata di antara keempat anak itu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Bingung Yves.


"Kita harus segera pergi dari tempat ini." Ucap Antlers.


"Tapi, bagaimana caranya? Kita sudah terkepung." Kata Laurent.


"Hesley, pikirkan baik-baik perkataanku." Glory kembali berucap. Dia sama sekali tidak pantang menyerah untuk mempengaruhi pikiran Hesley saat ini.


"Apa maumu?"


"Kau pikir semua ini terjadi karena ulah siapa, huh? Kau tidak ingat saat kau membuka buku itu?"


"A-aku ...."


"Jangan dengarkan dia, Hesley. Semua fokus! Jangan ada yang termakan ucapannya!" Teriak Lindsey memperingatkan kepada semua teman-temannya.


"Hesley, kau harus tau bahwa sebenarnya dua puluh persen kekuatanku ada di dalam dirimu." Ungkap Glory.


"APA?!" Mata Hesley membulat sempurna karena terkejut.


"Itu tidak mungkin!"


"Kau sangat keras kepala, sama seperti kakakmu. Buktinya aku bisa menemukanmu di sini, kan? Itu karena pancaran aura yang keluar dari dalam dirimu memanggilku kemari, Hesley."


"Jadi, maksudmu ... ada kekuatan jahat di dalam diriku?"


"Ya, bisa dibilang begitu. Ada kekuatan yang tidak terkontrol berada di dalam dirimu. Jika kau tidak bisa mengawalnya dengan baik maka orang-orang tak bersalah yang ada di sekitarmu akan terluka."


"Aku harus bagaimana?"


"Kau sudah terikat denganku dan juga kekuatan itu, kau tidak bisa melarikan diri, Hesley."


Tiba-tiba Glory tersenyum kembali. Tapi kali ini senyuman itu menandakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Eh?"


"AKHHH!!" Erang Hesley kesakitan.


"Hesley? Apa yang terjadi?" Bingung Lindsey.


"Aku akan menghabisi mu, Lindsey." Ucap Hesley tanpa sadar.


"Apa?"


"Lindsey menjauh dari sana!" Teriak Heyna merasakan aura aneh dalam diri Hesley saat ini.


"Habisi dia!"


Wushh!!


Hesley melesat begitu cepat dan hendak menyerang Lindsey. Untungnya ada Heyna yang menyelamatkannya dari serangan tiba-tiba itu.

__ADS_1


"Kenapa dia jadi seperti itu?" Lirih Lindsey tak habis pikir.


...***...


__ADS_2