Portal Menuju Dongeng

Portal Menuju Dongeng
Kembali


__ADS_3

Heyna dan Laurent pun telah kembali dari portal yang dibuat Erobos saat itu, disusul para warga yang sudah terbangun dari tidurnya. Lindsey langsung menghampiri tubuh kedua temannya itu, memeluknya lalu menangis.


Sedangkan kedua temannya hanya menatap bingung dengan tingkah Lindsey, seakan tak ingat apapun dengan kejadian yang sudah menimpa keduanya.


"Apa yang terjadi?" Heyna bertanya-tanya.


"Aku senang kalian baik-baik saja, aku takut kalian tak akan kembali dari portal itu," ucap Lindsey kegirangan.


"Ah, aku ingat, portal sialan itu mempengaruhi pikiran kita. Aku sampai tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Menyebalkan!" Seru Laurent yang baru mengingat.


"Yang penting kita bisa kembali ke dunia nyata," sahut Lindsey.


"Ya, kau benar. Aku sudah tidak sabar!" Ucap Heyna yang ikut kegirangan.


Antlers menghampiri tubuh Neil yang terkapar di tanah dengan luka gores di sekitar wajah, tangan, dan juga kakinya. Sungguh malang nasib anak itu.


"Dia telah tiada," ucap Marine.


"Apa?!" Lindsey terlonjak kaget.


"I-itu tidak mungkin!" Heyna juga terkejut.


"Apa maksudmu, Marine?" Tanya Antlers.


"Energinya terkuras habis akibat diserap oleh Erobos. Dia tidak bisa bertahan dengan kondisi tubuh seperti itu," sahut Emerald.


"Tapi, bukankah kita juga harus pulang bersama Neil? Jika kita tidak membawanya apa yang akan terjadi?" Tanya Heyna yang kebingungan.


"Itu tidak masalah bagi pengaktifan portal antara dunia nyata dan dunia dongeng. Neil telah tiada. Inti dari masalah ini sudah selesai, kalian berhasil menaklukan Erobos." pungkas Ruby.


"Tunggu, bagaimana dengan ayahnya? Aku sudah berjanji pada Mike Scots untuk menyelamatkan Neil Scots," sela Lindsey, ia baru ingat bahwa dirinya punya janji seperti itu lada Mike Scots.


"Tidak ada harapan untuk bisa menghidupkannya, bahkan dengan menggabungkan kekuatan para kalung permata sekalipun takkan berhasil," ujar Marine.


"Tapi, apa yang harus aku katakan saat bertemu dengan Mike Scots nanti." Lindsey tertunduk gelisah.


Ting!


"Dia akan ikut bersamaku, kau tak perlu khawatir lagi padanya," ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan Lindsey.


"Mike Scots?"


"Terima kasih telah menyelamatkan dunia dongeng, dan untuk bisa membuka portal itu, berdirilah di bawah bulan biru dan ucapkan sebuah permohonan. Di sanalah portal antara dunia kalian dan dunia dongeng terbuka," ucap Mike Scots memberitahu pada Lindsey dan ketiga temannya.


"Lalu, bagaimana dengan Neil?" Tanya Lindsey yang semakin khawatir. Ia takut kalau ternyata Neil mati karena ulahnya. Padahal Lindsey tidak melakukan kesalahan apapun pada Neil.


"Dia akan ikut bersamaku, kau tidak perlu khawatir." Mike Scots tersenyum. "Sebaiknya kalian cepat, karena bulan biru akan menghilang dalam lima menit," lanjutnya. Ia pun menghilang bersama tubuh Neil.

__ADS_1


Keempat anak itu berlari menuju sinar bulan biru yang dimaksud, mereka bergandengan tangan.


Mereka mulai memejamkan mata, menarik napas dalam, dan sudut bibir mereka mulai bergerak.


"KAMI INGIN PULANG KE DUNIA NYATA!"


Wush!


Cahaya biru dari bulan mengenai tubuh mereka, keempat anak itu membuka mata dan menoleh sejenak ke arah tokoh-tokoh dalam cerita dongeng.


"Semoga kalian selamat sampai tujuan," ujar ibu peri.


"Jangan lupakan kami, ya!" Ujar Putri salju sambil tersenyum.


"Kalian adalah orang-orang yang sangat hebat! Berjuanglah menghadapi kehidupan kalian di dunia nyata," ujar Maleficent.


"T-terima kasih,"


Wush!


Keempat anak itu menghilang dari dunia dongeng. Semua telah berakhir. Petualangan, kebersamaan, kekuatan, keindahan, kekompakan, perjuangan, dan perlawanan. Kini hanya tinggal kenangan bagi keempat anak pemberani yang kini sudah kembali ke dunia mereka masing-masing. Mulai menjalani kehidupan normal, tanpa adanya unsur imajinasi.


Laurent POV


Akhirnya aku kembali ke dunia yang sudah lama kurindukan. Bertemu dengan ibuku yang sangat sabar menunggu kepulanganku. Walaupun aku tau, bahwa sebenarnya waktu terhenti ketika aku berada di dunia lain. Ibuku tak mengingat bahwa aku sudah pergi dari rumah selama tiga tahun.


Aku ingin sekali lagi bertemu dengan Lindsey, Heyna, dan Antlers. Walaupun kemungkinannya sangat kecil, karena kami tinggal di negara yang berbeda-beda. Aku tinggal di Amerika, dan aku tak tau di mana mereka tinggal. Seharusnya aku menanyakan hal itu sebelum mengucapkan permohonan di bawah sinar bulan.


Heyna POV


Aku sungguh tak menyangka hal ini akan terjadi. Awalnya aku sudah pasrah jika aku memang ditakdirkan untuk tinggal di dunia dongeng. Tapi, aku salah. Lindsey datang membawaku pada kepercayaan, bahwa aku dan dia akan pulang ke dunia nyata. Rasanya ini seperti mimpi, aku benar-benar bahagia karena bisa memeluk kakak dan juga adikku. Dan aku tau, kalau waktu telah diberhentikan ketika aku berada di dunia dongeng. Dunia seakan tak melahirkanku ke dunia nyata.


Jika aku punya cukup uang, aku akan pergi ke Inggris untuk menemui Lindsey.


Antlers POV


Aku sudah berada di rumah saat ini, berkumpul bersama keluarga dan merayakan hari natal bersama. Aku tersenyum bahagia melihatnya. Mereka seakan tak tau bahwa aku tak ada bersama mereka selama satu tahun.


Ini adalah keajaiban yang sesungguhnya. Aku diberi kesempatan untuk bisa berkumpul kembali bersama keluargaku. Aku sangat bersyukur. Terima kasih Lindsey, kau adalah teman pertama yang kuanggap sebagai malaikat. Kuharap aku bisa menemuimu lagi walau hanya dalam sekali seumur hidupku di dunia nyata.


Lindsey Pov


Brukk!


"Aduh!" Lindsey terjatuh seperti biasa. Ia bahkan tak bisa kembali dengan keadaan damai ketika pulang ke dunianya.


"Kenapa aku harus terjatuh dari atap sih!" Gerutunya.

__ADS_1


Cklek!


"Kenapa kau duduk di lantai?" Tanya seseorang dari balik pintu.


Lindsey menoleh ke sumber suara. "Hesley?" Ia berdiri dan memeluk anak bernama Hesley itu dengan sangat erat.


"Hei, kenapa tiba-tiba kau memelukku?!" Gadis itu berusaha melepaskan pelukan Lindsey.


"Duh, lepaskan! Aku tidak bisa bernapas, bodoh!" Sambungnya.


"M-maaf. Aku senang akhirnya bisa kembali," ucap Lindsey tersenyum sumringah.


"Apa maksudmu? Kau aneh sekali, sudahlah ... lebih baik kita ke ruang makan. Mama sudah menunggu kita."


"Makan malam?"


"Iya, ayo cepat."


Tunggu! Jam berapa sekarang?


Oh, ya ampun, ini masih hari di mana aku masuk ke dunia dongeng. Apakah waktu diberhentikan ketika aku pergi?


"Kak, cepatlah!"


"I-iya aku datang!"


Jadi, seperti inilah akhir kisahku di dunia dongeng. Petualangan pertama yang aku lakukan dalam kurun waktu yang tak sedikit. Menghadapi keanehan yang membuatku sakit kepala. Berjuang hanya untuk kembali ke dunia tempatku dilahirkan. Melawan rasa takut demi menyelamatkan orang yang bahkan tak kukenal. Dunia memang tak seindah yang kubayangkan. Kebersamaan itu ... sekarang hanya jadi kenangan.


Saat ini, apa yang sedang mereka lakukan ya? Apa mereka bahagia? Kuharap begitu.


"Huft, aku tidak mengerti. Kalung ini tidak bisa bicara setelah aku kembali ke dunia nyata."


"Aku jadi ingat bagaimana kalung ini terus menyuruhku melakukan hal yang bahkan tak pernah kulakukan sebelumnya."


"Ah, sudahlah, aku mau tidur. Besok aku harus sekolah!"


"Yeay! Akhirnya aku bisa menikmati hidupku yang sesungguhnya! Woohooo!" Ucap Lindsey bermonolog, ia berteriak kegirangan.


"Kakak, jangan berisik! Aku sedang belajar!" Teriak Hesley kesal karena Lindsey terus-terusan bermonolog tidak jelas.


"I-iya maaf! Aku akan tidur!"


"Selamat belajar adikku sayang," ucap Lindsey dengan wajah meledek.


"Eww ... jangan katakan hal itu! Aku geli mendengarnya,"


"Baiklah, selamat malam." Lindsey tersenyum manis di hadapan adiknya.

__ADS_1


"Iya, kau juga," balas Hesley yang tersenyum kecil.


__ADS_2