
Abyan memutar-mutar ponsel di tangannya dengan gelisah. Menunggu adalah hal yang paling dibenci oleh lelaki bermata coklat tersebut. Selain itu, sepertinya ada yang salah dengan hatinya hari ini.
Biasanya dia akan sabar menunggu tunangannya itu berbelanja atau memilih baju, tapi kali ini sebaliknya. Dia sangat gusar, seolah ada bara api yang membakar tempat duduknya hingga Abyan tak lagi tenang padahal sofa butik itu cukup nyaman.
Setelah kedatangan Alya dua hari yang lalu ke kantor, Abyan jadi sering uring-uringan dan tidak lagi berselera dalam meneruskan semua persiapan pernikahannya dengan gadis keturunan Jepang bernama lengkap Liliana Kazuo tersebut.
Walau beberapa kali calon istrinya berganti pakaian dan bertanya pendapat Abyan mengenai gaun pengantin yang dikenakannya, lelaki itu hanya mengangguk dan menggeleng tanpa berniat berkomentar lebih.
Pikiran lelaki bermata elang itu berkelana jauh ke belakang, di mana dia merasa hidupnya hampa setelah menjadi bahan bully-an gadis yang dia inginkan dengan sepenuh hati. Walau saat itu katakanlah dia masih remaja, tapi itu pertama kalinya Abyan merasakan apa itu arti dari jantung yang berdebar abnormal dan rindu yang menggebu.
Jadi, tak heran jika saat Alya menyakiti Abyan, rasa sakit itu seolah meninggalkan trauma. Tidak ada yang tahu, akibat itu Abyan menghabiskan masa remaja dengan depresi.
Siapa yang bisa menahan sakit, dari sebuah penghinaan? Dulu, Alya baginya memang bagaikan bulan di langit yang seakan sulit terjangkau, tapi sekarang Alya tak lebih seperti parasit yang kehadirannya menggerogoti benteng pertahanannya.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya sendiri lalu mendecak tak mengerti. Dia heran, kenapa takdir senang bermain-main dengan hatinya? Sampai kadang dia tidak tahu harus tertawa atau menyalahkan diri.
"Byan, ini bagus gak? Aku cantik, kan?" tanya Lili membuyarkan lamunan Abyan yang sejak tadi menatap hanya pada satu titik. Gadis bermata sipit itu merasa ada yang berbeda dengan kekasihnya tapi dia malas menelisik lebih jauh.
Siapa pun tahu, Abyan itu seperti es batu, dingin dan licin. Lili harus hati-hati menjaganya agar tak terlepas. Oleh karena itu, Lili tak ingin perjuangannya mendapatkan Abyan dan hartanya akan hancur.
"Oh, ya, bagus," jawab Byan sembari melihat sekilas.
"Kata kamu, mending yang mana? Putih apa pink buat resepsi malam?" Lili tak menyerah, dia harus membuat Abyan sedikit antusias. Begitu pesan calon mertuanya.
Diberi pilihan begitu, mau tak mau Abyan pun menolehkan kepala tapi lagi-lagi si pemilik hidung bangir itu hanya menunjukan minatnya sepersekian detik.
"Terserah kamu, yang mana saja kamu cantik," ujar Abyan memaksakan senyumnya.
"Kalau sama yang tadi cantikan yang mana?" ulang Lili masih terlihat belum puas.
Lelaki itu mendesah pelan, sudah penat dengan semua kelakuan Lili yang kadang berlebihan.
Jika saja bukan karena dijodohkan dan mempertimbangkan Ibunya, dia mungkin akan memilih single selamanya. Karena, tidak mudah baginya melepaskan trauma karena disakiti dan melepaskan bayangan Alya.
Bayangan Alya yang manis, bayangan Alya yang selalu tersenyum dan bayangan Alya yang selalu membuatnya salah paham atas perasaannya. Semua kenangan itu seperti bersekutu membuat jantungnya kembali berdenyut ngilu setiap mengingatnya.
Lalu sekarang setelah susah payah Abyan melupakan, kenapa dia harus datang? Lalu, salahkah dia pura-pura amnesia? Sebab sebagai lelaki dia hanya tak ingin perjuangannya untuk melepaskan kembali ke titik awal. Begitulah mungkin penyesalan terdalam yang mengganggu pikiran Abyan.
"Byan, kamu gak denger aku, ya?" tegur Lili. Mulut gadis bermata sipit itu memberengut tak suka karena Abyan hanya terdiam tak menjawab.
Abyan terperangah seakan tersadarkan, lalu menghela napas berat. Dia sadar sudah keterlaluan. Sekali pun dia tidak suka, tak seharusnya mengabaikan Lili.
Mengalah. Lelaki itu pun menghampiri Lili lalu merangkul pundak calon istrinya, sampai Lili merasa tenang.
"Maaf, akhir-akhir ini saya banyak pikiran Li, pokoknya pilihlah baju yang kamu suka, sebagai pasanganmu saya akan setuju."
"Termasuk untuk desain dan cetak undangan?" tanya Lili dengan semangat.
Abyan mengangguk, dia adalah tipe lelaki yang tidak mau ribet. Jadi, biarlah Lili yang mengatur semua.
"Baiklah, malam ini Byan ada waktu kan? Kita akan bertemu dengan pemilik percetakannya, dia salah satu rekan yang direkomendasikan oleh komunitas pengusaha. Namanya Alya," terang Lili membuat tangan Abyan seketika terlepasnya.
"Alya? Siapa nama panjangnya?" tanya Abyan mulai waspada.
"Alya Farhana."
Iris mata Abyan melebar, ternyata magnet masa-lalu itu ada. Bahkan sekarang dia mendengar nama yang sama dengan nama gadis yang pernah mengungkung hatinya.
"Kamu, sudah pernah bertemu dia sebelumnya?"
"Enggaklah, kan aku bilang aku direkomendasikan jadi ini pertemuan pertama. Aku baru menghubunginya seminggu yang lalu, katanya desain di dia itu unik dan berkelas, jadi aku penasaran," jelas Lili tanpa melihat ekspresi Abyan yang sedikit memucat.
Entah ini kebetulan atau memang takdir yang tak terhindarkan. Seketika otak Abyan mengirimkan sinyal berupa rasa resah ke dalam hatinya, lelaki itu sontak memundurkan kaki yang tiba-tiba terasa berat.
Lelaki itu berharap, semoga hanya nama mereka yang sama.
(***)
Mood Alya anjlok. Berulang kali gadis itu mencoba berkonsentrasi pada laptop yang sejak tadi menyala tapi lagi-lagi gagal. Dia masih tak percaya Abyan berani menyangkal jati dirinya.
Padahal Alya punya cukup bukti yang menunjukan bahwa lelaki tegap tersebut adalah Abyan Ghifari, teman SMP yang sudah dia sakiti dan kecewakan.
__ADS_1
Ingin Alya memaklumi dan menganggapnya sebagai rasa benci seorang Abyan, tapi haruskah dia bertindak sejauh itu? Atau apakah Abyan mengalami kecelakaan lalu mengalami amnesia? Cih! Film sekali bukan! Alya merasa Abyan sengaja memperlakukannya demikian.
Gamang. Dia menggeser laptopnya untuk melihat pemandangan di luar jendela tanpa terhalang, lalu menyandarkan bahunya lelah ke kursi sambil merenung.
Tanpa terasa, waktunya tinggal empat bulan lagi untuk mencari suami. Karena, dia tidak mau mengecewakan keluarganya terutama Fira. Segala ikhtiar sudah dilakukannya dari shaum daud sampai amalan lainnya, hanya satu yang belum complete. Maaf dari Abyan.
Sebenarnya, Alya pribadi tidak yakin, tapi kenyataan dia pernah menyakiti seseorang membuat rasa bersalah itu mengganggu ketenangan hidup gadis manis itu.
Alya memilin-milin ujung jilbabnya dengan resah. Seandainya Ayahnya masih ada, mungkin dia tidak akan serapuh ini.
Ayah Tito pasti mampu membujuk Ibu Fatimah merestui jika adiknya menikah lebih dulu. Ibu memang begitu, kepercayaannya kepada tradisi sangat kuat. Dia berkata, jika Alya dilangkahi oleh adiknya maka jodoh Alya akan semakin sulit.
Agh ....
Berbicara tentang Ayah Tito, Alya jadi teringat dulu Abyan-lah teman sekolah yang pertama kali datang ke pemakaman, dia memang baik.
Abyan yang selalu ada kala Alya lupa mengerjakan PR, Abyan yang hadir ketika Alya berlatih sendirian demi memenangkan kompetisi cheers dan Abyan yang tahu apa yang disuka dan tidak oleh Alya dibandingkan sahabatnya sendiri.
Gadis itu sadar sepenuhnya bahwa pantas jika Abyan mengutarakan perasaan waktu dulu, tapi egois dan rasa tak ingin dinilai jelek membuat Alya menolak Abyan. Dia menyesalkan dirinya yang hanya menilai seseorang dari fisiknya saja dan sekarang mungkin bisa jadi dia sedang dihukum.
Tok-tok-tok.
Pintu ruangan Alya tiba-tiba diketuk seseorang. Seperti biasa, walau hari beranjak malam, beberapa orang masih saja bekerja lembur karena di musim penghujan ini anehnya percetakannya semakin kebanjiran job.
"Iya, masuk." Alya membetulkan posisi duduknya, berpura-pura sedang mengerjakan sesuatu.
"Mbak, maaf tamu Mbak sudah datang," ujar Lutfan. Dia adalah seorang desain grafis di percetakan milik Alya.
"Baik, Mbak akan ke sana minta tunggu di ruang meeting, ya?" sahut Alya seraya menutup laptopnya lalu bersiap turun.
"Baik Mbak, oh, iya, Mbak mau saya siapkan makan, minum atau--"
"Enggak usah Fan, saya belum lapar, siapkan saja makanan untuk tamu kita," perintah Alya sopan.
Lutfan mengangguk memahami kemudian dia undur diri.
Alya merapikan jilbab dan bajunya yang malam itu sedikit berantakan. Kali ini klien-nya bukan orang biasa, kabar menyebutkan kalau yang akan menikah adalah anak dari keluarga terpandang dan juga donatur terbesar di komunitas maka dia harus membuat konsumennya puas agar kerja sama berjalan lancar.
(***)
Abyan. Sepersekian menit, mereka berdua tampak terkejut dan terpana antara satu sama lain sampai akhirnya terdengar suara Lili menyapa.
"Mbak ini ... Alya Farhana, kan?" sapa Lili melihat Alya hanya bisa mematung di depan pintu.
"Agh, iya. Silahkan duduk! Panggil saja saya Alya, sepertinya umur kita enggak beda jauh," kata Alya sopan mencoba menetralkan hatinya, sementara Abyan berdehem karena sama gugupnya.
"Wow, Alya, aku cukup kagum loh, tak menyangka percetakan kamu bagus banget dan lumayan besar, ya?" Lili berdecak kagum seraya mengedarkan pandangannya, menilai tempat kerja Alya.
"Alhamdullilah Li, tak sebesar usaha browniesmu tapinya, ya ... beginilah keadaannya," jawab Alya setelah mempersilahkan keduanya duduk dengan nyaman.
"Loh, kamu tahu aku usaha kue?"
"Tentu, siapa yang tak mengenal Liliana Kazuo? Saya sangat tersanjung, Lili mempercayakan undangannya pada kami," ujar Alya lagi.
Sebenarnya Alya diberi tahu oleh Rima, tapi aneh Rima sama sekali tak memberi info lebih tentang calon suami Lili. Seandainya dia tahu, pasangan Lili itu Abyan, mungkin dia akan menolak mengambil job ini.
Lili mengangguk senang, dia lega ternyata benar kata Rima rekannya di komunitas, Alya itu orang yang ramah dan enak diajak bicara.
"Oh, iya kenalkan ini calon suamiku Abyan Ghifari, kebetulan kami habis fitting baju, jadi sekalian mampir, iya kan, Byan?" Senggol Lili pada Abyan yang sejak tadi diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Iya, salam kenal saya Abyan," kata Abyan dingin. Lelaki itu mendongakkan kepalanya untuk menatap Alya, lalu tanpa sengaja mata mereka bertemu pandang.
Getar aneh menelusup keduanya, membuat mereka sibuk mengalihkan pandangan. Kedua orang itu bagai dua manusia yang dipertemukan oleh takdir, tapi sama-sama mencoba memisahkan diri. Sehingga, hasilnya hanya menyisakan gemuruh di dalam dada masing-masing.
"Baiklah, senang bertemu dengan Pak Byan juga," ucap Alya mencoba bersikap ramah.
Gadis bermata bulat itu sebisa mungkin bersikap profesional, walau sebenarnya dia masih kaget karena tiba-tiba saja hatinya terasa panas ketika Abyan dikenalkan secara resmi oleh Lili, padahal secara logika semua sudah jelas.
Untuk apa mereka datang ke sini selain berniat mencetak undangan pernikahan? Alya jadi heran, jika Abyan sudah move on, kenapa dia tak bisa dengan cepat juga memaafkan masa-lalu mereka? Atau ini merupakan ujian untuknya seperti kata Mbak Pipit?
Ah! Sudah biarlah! Alya mencoba menepis prasangka dan berusaha kembali fokus.
__ADS_1
Dengan segenap sikap profesionalitas yang masih tersisa, Alya pun tanpa berbasa-basi memulai persentasinya mengenai desain undangan yang dia ajukan kepada Lili dan Abyan.
Sepanjang penjelasan Alya, Abyan terlihat tak tenang, dia lebih sering menunduk dan melemparkan pandangan ke arah lain dibanding harus melihat lurus kepada Alya.
Tak dapat Abyan hindarkan, jantung yang dulu pernah berdegup kencang, kini kembali hadir, karena hanya Alya yang dapat membuatnya begitu. Dia tidak bisa berkonsentrasi dan ingin segera pergi, itu saja.
"Gimana Byan, kamu suka yang mana?" tanya Lili setelah persentasi Alya berakhir.
Alya membuat tiga desain dengan mengusung konsep classic seperti permintaan Lili, ketiganya masih belum berisi nama kedua mempelai karena saat Alya berkomunikasi via WA dengan Lili, gadis bermata sipit yang cantik tersebut belum menyebutkan nama lengkapnya mau pun nama pasangannya, wajar jika Alya masih mengosongkan nama mempelai.
"Aku tak suka ketiganya," jawab Abyan dengan serta-merta. Lili dan Alya sontak berpandangan, jawaban Abyan sungguh tak terduga.
"Ketiganya?" Alya melebarkan mata tak percaya, baru kali ini desain yang sudah dia kerjakan selama seminggu penuh dengan lembur ditolak mentah-mentah. Semua orang di kota ini tahu, kalau Alya desain grafis ternama, dia memikirkan konsepnya tidak sembarangan.
"Iya, ketiganya, kenapa? Apa harus saya ulang? Bagi saya, semua desainnya tidak terlalu bagus untuk jadi icon di pernikahan saya, saya minta dibuatkan lagi lima desain," tandas Abyan dingin. Dia menatap Alya tajam begitu pun sebaliknya.
Lili yang merasa tak enak pada Alya langsung menengahi. "Heum, begini Byan ... bukannya kamu tadi bilang aku boleh memilih tema kartu undangan? Aku suka kok salah sat--"
"Sayang Lili, bukankah ini pernikahan kita berdua? Jika saya tak setuju, wajar kan?" putus Abyan seraya meraih tangan Lili.
Melihat sikap Abyan yang menghangat, Lili menganggukkan kepala seperti terhipnotis. Ini kali pertama Abyan terlihat berkomentar antusias dengan persiapan pernikahan mereka dan memanggilnya 'Sayang', dia kira Abyan tak akan mengucapkan itu.
Hati Lili seketika seakan mendapat sinyal, sementara Alya melirik sebal. Bukan karena cemburu, tapi karena hasil kreatifitasnya dihina begitu saja.
"Jadi, saya harus mengulang lagi? Bukannya tadi Lili bilang suka yang desain vintage dengan tulisan tursif?" nego Alya. Gadis itu sejujurnya sudah sangat penat menyusun semua desain dadakan yang diminta Lili sebelumnya. Kalau bukan karena temannya Rima, dia malas juga dituntut dalam waktu singkat.
"Ehm, maaf Alya, setelah aku pikir betul juga menurut Abyan, sepertinya memang harus diulang, bisakah kamu mendesain lagi sesuai permintaan Abyan? Kami akan membayar dua kali lipat jika perlu," ujar Lili membujuk Alya.
Gadis berjilbab itu terdiam sebentar, berpikir. Alya curiga Abyan sengaja merepotkannya, tapi tak ayal dia pun mengganggukkan kepala. Dia merasa tidak profesional jika menolak.
"Baik, insya Allah saya usahakan, tenang saja sudah tugas kami memuaskan konsumen," jawab Alya berusaha tidak terpancing emosi.
Melihat sikap Abyan membuat Alya semakin yakin bahwa lelaki di depannya adalah orang yang sama dengan Abyan yang dia kenal. Maka, dengan gerakan cepat dia mengirimkan pesan pada Lutfan untuk menyiapkan hidangan spesial yang pasti tak akan disukai Abyan untuk mengujinya diam-diam.
"Kapan deadlinenya?"
"Dua hari dari sekarang." Abyan memutuskan tanpa berdiskusi dengan Lili. Mata Alya membulat sempurna melihat Abyan, sementara lelaki itu hanya memandang tanpa ekspresi.
Sadar jika dia sedang dipermainkan, Alya memijat pelipisnya yang terasa berat. Menghadapi Abyan, lagi-lagi bisa membuatnya terserang hipertensi mendadak.
"Kenapa bukannya ini percetakan sudah ternama? Mengecewakan sekali jika tantangan segini saja tidak dapat dipenuhi," kata Abyan sinis ketika melihat wajah Alya yang berubah masam.
Alya mengepalkan tangannya di bawah meja, ingin sekali dia berdiri dan menunjuk hidung Abyan lalu melayangkan sumpah serapah tapi dia harus ingat bahwa mereka bukan orang sembarangan. Mereka klien kelas kakap.
"Bagaimana, Anda takut? Kalau begitu saya dan Lili akan mencari percetakan la--"
"Baik, saya usahakan, tapi sebelum pulang, sebagai ucapan selamat datang sekaligus tanda kerja-sama kita, bagaimana kalau dicicipi dulu hidangan makan malam kami? Kami sebenarnya sudah menyiapkan hidangan kecil dan mungkin sebentar lagi datang," ucap Alya masih menyunggingkan senyum.
Benar saja, setelah menunggu dua puluh menit Lutfan dan Wiwin datang membawa hidangan seafood yang sengaja di pesan dari kafe yang bersebelahan dengan kantor.
Abyan tentu saja terkejut, tak menyangka Alya akan menyajikan hidangan yang mungkin kepura-puraanya terbongkar. Pintar juga Alya, memang yang tahu dia alergi hanya segelintir orang saja termasuk Alya.
"Silahkan disantap! Bukankan tidak sopan menolak makanan? Betul begitu, Pak Byan?" sindir Alya yang melihat muka Abyan mulai memucat.
Alya menyunggingkan senyum kemenangan, baiklah pertandingan menjadi seri. Dia menatap Abyan penuh selidik, dia ingin menguji apakah Abyan akan memakan seafood itu atau tidak? Jika dia memakannya, anggaplah Abyan di depannya bisa jadi memang bukan seseorang yang Alya kenal.
Lalu, di luar dugaan ternyata Abyan menyantapnya. Lelaki itu memakan seafood itu tanpa ragu. Refleks mata bulat Alya melotot, gadis itu syok.
Setahunya Abyan tak pernah mau memakan seafood karena akan menyebabkan dia mengalami sesak napas dan kulitnya memerah. Hal ini dia ketahui, saat Abyan dulu dipaksa memakan seafood oleh ketua basket yang membully-nya.
Agh! Alya mengatupkan bibirnya cemas. Seketika hatinya diliputi khawatir. Apa mungkin perkiraannya salah?
(***)
Abyan bergegas memasukki apartemennya dengan tubuh yang berkeringat hebat. Setelah memaksa Lili pulang dijemput supirnya, Abyan langsung pulang dan menelepon sahabatnya yang seorang dokter.
"Ben, cepat ke apartemen gue, alergi gue kambuh," jelas Abyan dengan singkat pada Ben di telepon.
Tanpa menunggu Ben menjawab, Abyan langsung menutupnya. Lelaki itu kemudian berjalan dengan meraba dinding dan tangan yang terus menggaruk badan.
Gatal, panas dan sesak itulah yang dia rasakan sekarang dan semua itu karena Alya.
__ADS_1
Hanya gadis itu yang mampu membuatnya bertindak sejauh ini.
(***)