
POV CALLISTA
Hening, yang terdengar hanya suara detak jam dinding. Suara TV mendadak hilang, mungkin karena sudah dimatikan oleh Gani. Entah mereka berdua menguping atau tidak, aku tak lagi ambil pusing.
Aku dan Kak Ken sibuk dengan pikiran masing masing. Berusaha menerka nerka dan memahami keadaan yang masih abu abu. Dulu, canda tawa akan mewarnai saat kita bersama, tapi sekarang, sekedar ingin bicara saja lidah terasa kelu.
"Kau tahu Cal, seperti apa aku saat itu? Seperti apa saat aku di US dan diberi kabar jika kamu meninggal? Duniaku seperti mendadak berhenti berputar, duniaku runtuh seketika." Kak Ken menatap nanar kedepan.
"Aku masih ingat dua hari sebelumnya kau memberi tahuku jika kau pulang ke Indonesia. Ya, aku pikir kita akan segera bertemu untuk melepas rindu. Namun yang kudapati, hanya nisanmu. Aku bahkan sangat menyesal karena tak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya." Suaranya mulai bergetar, bisa aku rasakan jika dia sedang menahan tangis.
Pun dengan diriku, mataku memanas, air mata menetas tanpa bisa kucegah. Segera kuseka sebelum dia melihat. Aku tak mau terlihat lemah. Harusnya aku memakinya sekarang, bukan malah menangis.
Sejak Kak Ken menjadi CEO dan aku kuliah di Jepang, kami memang jarang bertemu. Tapi komunikasi tak pernah terputus, setiap hari dia selalu menghubungiku via telepon atau sekedar chat. Perhatiannya tak berkurang sedikitpun meski kami terpisah jarak.
"Dari mana kakak tahu aku ada disini?" Jika Kania ada disini karena Safa, lalu kenapa Kak Ken juga ada disini? Meski saudara kandung, tapi mereka tak dekat. Rasanya mustahil mereka janjian pergi bersama. Atau jangan jangan, Rama?
"Tahu?" Dia tertawa ringan. "Aku tak pernah tahu karena yang kutahu kau sudah tenang diatas sana."
"Lalu, bagaimana bisa kakak tiba tiba berada disini?"
"Mama."
Deg,
jantungku seperti lompat dari tempatnya. Jadi Tante Sofi tahu aku disini?
"Mama menyuruhku menemani Kania. Tak ada alasan menolak karena ini weekend. Sejak kamu meninggal karena tenggelam, mama jadi paranoid. Dia sering tiba tiba teriak malam malam, mimpi buruk atau berhalusinasi melihatmu."
Aku cukup terkejut mendengarnya. Apakah ini yang namanya dikejar dosa. Apakah tante Sofi ketakutan dengan sendirinya setelah dia merasa telah membunuhku? Meskipun tak secara langsung dia membunuhku karena aku jatuh sendiri, tapi tindakannya dengan membiarkan aku tenggelam termasuk pembunuhan. Dia membiarkan aku mati.
"Mama takut terjadi sesuatu pada Kania. Astaga Kania!" Pekik Kak Ken sambil langsung berdiri. Dia seperti baru menyadari sesuatu.
"Kania sedang naik kapal saat ini. Harusnya aku menemaninya untuk menjaganya sesuai perintah mama." Kak Ken langsung berdiri, dia terlihat cemas.
"Dia akan baik baik saja."
"Maksudmu?" Kak Ken menoleh padaku.
"Dia bersama suamiku sekarang. Aku yakin suamiku bisa melindunginya."
"Suami? Jadi benar laki laki tadi suami kamu? Kamu sudah menikah Cal?"
Aku mengangguk pelan.
Kak Ken memijit pelipisnya. Dia terlihat frustasi.
"Aku makin bingung Cal, aku bingung dengan semua ini. Kenapa kamu pergi dari keluarga kamu dan memilih tinggal disini dengan orang asing bahkan sampai menikah?" Kak Ken memengang kedua bahuku dan menatapku penuh tanya.
Kusingkirkan tangannya dengan kasar lalu menatapnya tajam. Dia terlihat kerkejut dengan perlakuanku.
"Keluarga? Siapa keluargaku? Papa dan mamaku sudah meninggal, aku tak punya keluarga lagi." Tekanku.
__ADS_1
"Stop bicara omong kosong Cal. Kami keluargamu, aku, papa, mama, Kania."
"Keluarga! Keluarga macam apa yang tega membunuh keluarganya sendiri hanya demi uang." Teriakku sambil berdiri. Aku tak peduli lagi jika Santi dan Gani mendengar. Aku tak bisa menahan lagi. Dadaku sesak jika ingat kenyataan pahit dikhianati keluarga sendiri.
"Mem, membunuh?" Kak Ken terlihat syok. Sepertinya dia memang tak tahu menahu tentang masalah ini.
Aku akhirnya menceritakan semua kejadian hari ini. Mulai dari aku yang dipanggil pulang dan dipaksa menikah, hingga aku tenggelam dan ditinggalkan begitu saja.
Kak Ken terdiam mendengar semua ceritaku. Dia terlihat begitu terpukul. Mungkin dia masih belum bisa percaya jika orang tua yang selama ini dia hormati tega melakukan perbuatan ini. Tak ada air mata yang menetes, tapi tangannya yang senantiasa memegangi dada membuatku yakin jika dia sangat sesak saat ini.
Kenapa sekarang jadi aku yang merasa tak tega. Harusnya aku melampiaskan kemarahanku padanya karena perbuatan orang tuanya, bukan malah mengulurkan tangan untuk memeluknya seperti saat ini.
Setelah beberapa saat dalam dekapanku, kurasakan air matanya meleleh.
"Maaf, maaf." Hanya itu yang keluar dari bibirnya Entah berapa kali dia sampai aku tak bisa menghitungnya.
"Maaf Cal, maaf." Air mataku meleleh.
"Harusnya aku berada disana untuk melindungimu. Harusnya, harusnya." Ucapnya disela isak tangis.
"Waktu tak bisa diputar kembali. Semua sudah terjadi."
Kak Ken mengangkat wajahnya sambil menyeka air mata. Diraihnya kedua tanganku dan digenggamnya erat.
"Pulanglah bersamaku. Akan kupastikan semua hak mu akan kembali padamu. Dan untuk kedua orang tuaku, aku kembalikan semua padamu. Aku tak akan mencegah jika kau melaporkan mereka pada polisi."
Aku tahu berat sekali Kak Ken mengatakan itu. Dia sangat menyayangi kedua orang tuanya terlebih mamanya. Aku yakin ini pukulan terberat dalam hidupnya.
Disaat aku sedang nyaman dalam pelukan Kak Ken, kulihat seseorang berdiri diambang pintu dan memperhatikan kami.
"Biru!"
Segera kulepaskan pelukan Kak Ken dan gegas menghampiri Biru.
"Jangan salah paham, aku bisa jelaskan semuanya." Ujarku sambil meraih sebelah tangannya dan menggenggamnya.
Dia tersenyum, pria luar biasaku itu menyunggingkan senyumannya untukku seraya menyentuh kepalaku. Dibalik senyum yang terlihat tulus itu, matanya menyiratkan luka. Akankah dia cemburu?
"Gak seperti yang kamu pikirkan, dia kakakku."
Biru mengangguk, "aku tahu."
Kak ken menghampiri kamu lalu mengulurkan tangan kearah Biru.
"Kenan, kakak sepupunya Cal."
Biru menyambut tangan itu sambil mengucapkan namanya.
"Biru."
Mereka saling menatap untuk waktu yang lumayan lama, hingga akhirnya aku memecah kecanggungan itu.
__ADS_1
"Kamu udah makan?" Tanyaku pada Biru yang tampak lelah.
"Biru, jangan salahin aku." Ucapan Gani membuat Biru yang hendak membuka mulut kembali diam. "Aku udah ngelarang mereka berduaan dikamar, tapi Cal maksa. Malah bilang kalau kamu udah kenal sama kakaknya."
Gani kenapa jadi kompor gini sih. Bikin aku sebel aja.
"Pulang yuk." Aku melingkarkan tangan dilengan Biru sambil menoleh pada Gani dan memelototinya. Bukannya takut, dia malah terkekeh mengejekku. Sialan memang nih orang.
Aku hendak mengajak kak Ken kerumah, tapi ponselnya mendadak berdering.
"Kania nelfon, sepertinya dia nyariin aku."
"Tolong jangan cerita apapun sama Kania."
Kak Ken mengangguk sambil menyentuh puncak kepalaku.
"Pertimbangkan saranku tadi. Jangan berlama lama. Masalah ini harus segera diselesaikan. Aku takut mama atau papa menjual asetmu tanpa sepengetahuanku. Kalau seperti itu, aku gak bisa berbuat apa apa. Besok kita bicarakan lagi gimana bagusnya. Aku ada dipihakmu."
"Makasih kak."
"Nitip Cal." Pesannya pada Biru dan langsung diangguki.
Setelah Kak ken pulang, aku dan Biru juga ikut pulang. Sebenarnya Santi dan Gani ingin menahanku untuk minta penjelasan, tapi aku janjikan besok karena Biru tampak lelah.
Sesampainya dirumah, segera langsung kupeluk Biru dari belakang. Meski dia tak bicara apa apa, aku lihat dia sedang tak baik baik saja.
"Jangan cemburu, dia kakakku."
"Kakak sepupu Cal, bukan kandung. Kalian bukan mahram. Apa aku tak boleh cemburu saat melihat kalian berduaan dikamar sambil pelukan?"
Jadi dugaanku benar, dia cemburu.
"Boleh, tentu saja boleh. Tapi tak seperti yang kamu pikirkan. Dulu kami tinggal serumah, hubungan kami sudah seperti saudara kandung."
Biru melepaskan pelukanku. Berbalik lalu manatapku lekat.
"Aku kepikiran kamu terus selama dilaut. Aku bahkan tak bisa konsentrasi. Rasanya ingin segera pulang dan memastikan jika kamu baik baik saja. Tapi apa yang kulihat, orang yang kukhawatirkan malah enak enakan pelukan sama pria lain." Sindirnya sambil memutar kedua bola mata.
"Maaf." Aku menyesal telah membuatnya kecewa untuk kesekian kalinya. "Kamu marah?" Tanyaku sambil menunduk.
Biru menyentuh daguku dan membuatku menatapnya. "Aku gak marah." Jawabnya sambil tersenyum. "Hanya cemburu. Aku yang salah karena tak bisa mengendalikan perasaanku dan belum bisa memahami sedekat apa hubungan kalian. Jangan merasa bersalah."
"Makasih." Kembali kupeluk dia erat erat.
"Lepas Cal." Tolaknya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukanku.
"Paan sih." protesku sambil cemberut.
"Aku kotor, bau, baru pulang kerja."
"Tetep wangi kok." Kembali kupeluk dia sambil kuciumi wajahnya.
__ADS_1