Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
TELEPON DARI KAMPUNG


__ADS_3

Setelah Pak Julian pulang, aku dan Cal kembali kekamar untuk beristirahat. Rasanya kami perlu merilekskan otot dan otak yang sempat tegang saat jumpa pers. Sampai saat ini, rasanya aku seperti mimpi. Aku yang hanya nelayan miskin dan putus kuliah, mendadak menjadi suami seorang miliuner.


Sesampainya dikamar, aku mengecek ponsel yang dari tadi memang aku tinggal disana. Kulihat puluhan panggilan tak terjawab dari nomor Gani dan Santi. Aku yakin sedang heboh saat ini dikampung. Bukan hanya mereka, tapi seluruh warga kampung karena tahu jati diri Cal yang sebenarnya dari TV. Bagaimana saat besok muncul videoku dan Cal saat jumpa pers tadi, bisa bisa Pak De dan Bu De pingsan.


Ponsel yang kupegang kembali berdering. Dan tebakan kalian benar, Gani yang menghubungi.


"Siapa?" Tanya Cal yang baru keluar dari kamar mandi.


"Gani."


Wajah Cal langsung berseri seri. Dia berjalan cepat kearahku lalu duduk disebelahku. "Angkat Bang, aku rindu Santi dan Bu De."


"Gak rindu Gani jugakan?"


"Dih, dasar pencemburu." Cibirnya sambil menarik pipiku.


"Ya gimana gak cemburu, istrinya secakep ini, kaya lagi. Kalau gak dikekepin, pasti diambil orang."


"Yey..emangnya aku Lisa dikekepin."


Lisa, seketika aku kangen Lisa. Semoga saja dia baik baik disana. Aku sudah menitipkannya pada Bu De agar diberi makan. Berharap dia gak galau karena aku tinggalin hingga berujung bunuh diri nyemplung got.


"Dih, malah mikirin Lisa, buruan angkat."


Tau banget dia kalau aku lagi mikirin Lisa.


"Assalamualaikum." Sapaku saat sambungan terhubung. Terlihat wajah Gani, Santi dan Bu De dilayar. Ya, kami sedang melakukan panggilan vidio.


"Call..kamu masuk tv."Teriak Santi dengan sangat kencang.


"Jawab salam dulu." Tegur Bu De yang seketika membuat Santi nyengir dengan tampang bersalah.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka bertiga kompak.


"Ru, aku gak nyangka nasibmu seberuntung itu. Kupikir Cal hanya kaya saja, taunya kaya banget. Kenapa waktu itu gak aku aja yang nolongin Cal, biar aku yang jadi miliuner." Ujar Gani. Santi dan Gani memang tahu Cal adalah pewaris tunggal CALS, tapi mereka yang hanya orang kampung dan perpendidikan rendah tak tahu seberapa besar perusahaan itu. Jadi mungkin baru hari ini mereka sadar seberapa kayanya Cal setelah melihat TV.


"Ngomong apa kamu Mas." Sentak Santi dengan mata melotot.


"Emang kamu gak mau jadi orang kaya. Setidaknya kalau Cal jadi madumu, kamu ikutan kaya."

__ADS_1


"Bener juga, aku mau kalau yang jadi maduku Cal." Sahut Santi dengan entengnya. Dia kira dimadu enak kali ya. Istilahnya saja yang kurang tepat, karena sesungguhnya diracun, alias dimatikan perlahan lahan.


"Nanti dalam seminggu, 6 hari jatahnya Cal, kamu cukup sehari aja biar kurus." Ujar Gani sambil terkekeh dan langsung dijewer oleh Santi.


Aku dan Cal hanya bisa geleng geleng melihat pasangan somplak itu.


"Kalian itu apa apan sih, malah ngelantur gak jelas." Tegur Bu De. "Cal, apa kabar sayang, Bu De kangen." Lanjutnya sambil tersenyum.


"Cal juga kangen Bu De, Santi, Galang, Pak De." Sahut Cal.


"Aku enggak Cal?" Protes Gani.


"Dosa kalau Cal sampai merindukamu." Sahutku dan Gani seketinya nyengir.


"Cal baik baik saja kan? Bu De sampai nangis denger cerita Cal di tv. Kenapa Cal gak pernah cerita ini sama Bu De." Mata Bu De mendadak berkaca kaca. Tentang masalah yang dihadapi Cal, lagi lagi hanya Santi dan Gani yang tahu. Dan sepertinya mereka menepati janji untuk gak cerita sama siapa siapa.


"Cal cuma gak mau Bu De kepikiran." Sahut Cal.


"Cal, semua orang kampung bicarain kamu. Semua pada iri sama Biru. Aku yakin Pak Lurah kena mental lihat berita kamu. Dulu dia matian matian nolak Biru, ehhh...Biru malah dapat yang lebih dari si Safa. Nyahok tuh orang." Ujar Santi bersemangat.


Disaat Santi sibuk menceritakan kekepoan warga kampung, seseorang tiba tiba merebut ponselnya.


"Hallo Galang." Sahut Cal sambil dada pada Galang.


"Kok tante Cal doang, Pak Lik gak disapa?" Aku pura pura ngambek.


"Pak lik, Pak lik pasti senang sekali tinggal dirumah tante Cal? orang orang bilang, tante Cal itu kaya raya, pasti rumahnya kayak istana. Pak lik, tunjukin rumah tante Cal dong, aku pengen lihat." Rengek Galang.


Aku hanya tersenyum, kirain cuma orang dewasa yang antusias dengan kabar Cal, anak anak ternyata gak mau ketinggalan.


"Ayo dong Pak lik, Galang pengen lihat seperti apa rumah orang kaya." Desak Galang.


"Kalau Galang mau lihat, harus main kerumah tante." Sahut Cal.


"Galang boleh main kesana tante?"


"Boleh dong."


"Beneran Cal?" Tanya Gani antusias. Dia bahkan merebut ponsel ditangan Galang demi melihat jawaban Cal. "Kami boleh main kesana?"

__ADS_1


Cal mengangguk, membuat Gani seketika berteriak senang. Hadeh, ternyata dia yang lebih girang daripada Galang.


"Nanti aku kirim mobil untuk jemput kalian."


"Gak, gak usah Cal. Biar kami naik bus aja kesana." Tolak Bu De. Mungkin dia merasa segan.


"Yaelah Bu, enakan naik mobil kali, daripada bus." Protes Gani.


"Gak papa Bu De, nanti Cal kirim mobil kesana buat jemput kalian."


Setelah panggilan diakhiri, langsung kedekap Cal dan kuciumi seluruh wajahnya.


"Abang ih, geli." Kuabaikan protesnya. Aku hanya ingin menunjukkan rasa sayang dan terimakasihku padanya. Orang kaya seperti Cal, mau menerima keluargaku dengan baik, benar benar wanita luar biasa. Kelutusannya membuatku makin cinta lagi dan lagi padanya.


"Makasih." Ujarku sambil meraih kedua tangannya lalu menciumnya.


"Buat?"


"Karena udah mau nerima keluarga abang."


"Keluarga Abang? Emang siapa keluarga abang?"


Kuletakkan punggung tanganku didahinya. Dia tidak demamkan, tak kan lupa dengan siapa barusan di telepon. Atau jangan jangan, dia beneran amnesia.


"Mereka bukan hanya keluarga abang, tapi keluargaku juga, keluarga kita."


Astaga, jadi ini maksudnya. Kembali kepeluk dia lalu kehujani dengan ciuman. Kali ini gak hanya diwajah, tapi turun sampai leher dan dada.


Cal berusaha mendorong kepalaku karena kegelian. Tapi aku tak menyerah semakin kuserang area yang membuatnya menyerah.


Kuturunkan gaunnya sebatas perut dan bermain main didadanya. Aku bisa mendengar lenguhannya meski dia berusaha menolak. Begitulah wanita, mau tapi malu. Sok sok an nolak tapi menikmati.


Deru nafas kami mulai menderu seiring seranganku yang makin intens. Akan kubuat kamu membuang jauh jauh gengsimu Cal. Kupastikan kamu yang akan minta duluan.


Saat tanganku hendak mendarat dibagian intinya, Cal langsung menahanku.


"Aku lagi datang bulan Bang."


What! Rasanya seperti tersambar petir disiang bolong. Kenapa disaat hasratku sudah diubun ubun, aku malah gak bisa menyalurkannya. Hadeh, bakalan sakit kepala atas bawah nih.

__ADS_1


__ADS_2