Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
KETAHUAN


__ADS_3

Aku seperti memegang petasan yang ujung sumbunya sudah dibakar. Tinggal menunggu waktu saja, petasan itu akan meledak dan mengahancurkanku. Tapi aku tak akan membiarkan itu terjadi. Mikir Cal, mikir.


Jantungku berpacu cepat seiring langkah Biru dan Pak De yang makin dekat.


Segera aku menghampiri Biru sebelum Bu De bicara sesuatu.


"Kamu kelihatan lelah banget. Ayo pulang dan langsung istirahat." Kulingkarkan tangan di lengan Biru dan hendak menariknya pulang.


"Biru, Bu De mau bicara sama kamu." Ucapan Bu De membuat Biru melepaskan tanganku.


"Ada apa Bu De?" Tanya Biru.


"Ca_"


"Kayaknya Biru capek banget Bu De. Lebih baik bicaranya nanti saja." Segera aku potong ucapan Bu De sebelum dia menceritakan semuanya pada Biru. "Ayo pulang." Kembali ku tarik lengan Biru tapi lagi lagi Bu De menggagalkannya.


"Jangan lindungi dia Cal. Perbuatanya itu tidak patut. Biar Bu De memarahinya."


"Ada apa sih Bu?" Tanya Pak De yang penasaran.


"Ada apa sih?" Tak kalah penasaran dengan Pak De, Biru ikutan bertanya.


"Ponakan kamu ini Pak." Seru Bu De sambil menatap Pak De.


"Kenapa dengan Biru?" Pak De makin penasaran.


Sementara aku hanya bisa meremat jari jariku saking cemasnya.


"Berani menikahi wanita tapi tak mau bertanggung jawab. Suami macam apa kamu ini." Seru Bu De sambil memukul lengan Biru. "Kenapa kamu tidak memberikan nafkah pada istrimu sampai sampai dia harus berhutang demi membeli beras."


Mata Biru seketika membulat sempurna. Dia menatapku, cepat cepat aku menunduk karena takut. Setelah ini, dia pasti marah besar padaku.


"Dosa Biru, dosa. Perbuatanmu sama saja dengan menelantarkan istri. Jadi suami jangan mau enaknya saja. Jangan maunya cuma ngeloninn tiap hari tapi gak mau ngasih makan. Bersyukurlah punya istri yang cantik dan baik seperti Cal." Bu De terus saja mengomeli Biru sambil memukuli lengannya. Membuatku khawatir kalau Biru akan buka mulut dan mengatakan yang sebenarnya. Nama baikku pasti akan hancur dimata Bu De dan Pak De.


"Maaf Bu De, sebenaranya..." Biru buka suara, membuatku seketika menunduk lemas. Habislah riwayatku. Bukan hanya akan dimarahi Biru, tapi aku juga akan malu pada Bu De dan Pak De.


"Sebernarnya tadi malam Biru udah mau ngasih uang sama Cal. Tapi karena terburu buru, Biru lupa."


Aku sekatika mengangkat wajah dan menatap Biru haru. Disaat dia disalah salahkan seperti ini, masih saja dia menjaga nama baikku. Tak mengatakan yang sebenarnya dan malah berbohong dan mengaku jika ini salahnya.


"Jangan minta maaf sama Bu De, minta maaf sama Cal. Kasihan dia, pagi pagi merengek pada Santi minta pinjaman uang."

__ADS_1


Biru menatapku lalu meraih tanganku. "Maafin aku ya."


Ya ampun, meleleh hati adek bang. Bukannya marah, dia malah masih bisa tenang dan melimdungiku. Terbuat dari apa sih hati kamu Biru. Kalau laki lain, udah pasti ngamuk ngamuk.


"I, iya." Jawabku gugup.


"Kami pulang dulu." Pamit Biru kemudian.


"Jangan diulangi lagi. Kasih istrimu pegangan uang. Hidup itu gak hanya butuh makan. Kadang juga pengen jajan atau beli bedak." Ternyata belum selesai juga omelah Bu De. Pamtas saja tak ada yang berani melawan emak emak, baru tahu aku seperti apa garangnya emak emak. Apalagi jika untuk membela kaumnya yang dizolimi.


Bu De lalu menatapku dan menyentuh daguku sambil tersenyum. "Kalau Biru memperlakukanmu tidak baik, bilang sama Bu De Cal. Anggap Bu De seperti ibu kamu sendiri." Sebelah tangan Bu De mengelus kepalaku.


Air mata ini hampir saja menetes. Ternyata dibalik musibah besar yang hampir merenggut nyawaku, aku dipertemukan dengan orang orang sebaik mereka. Biru, suami yang luar biasa, dan Bu De menjelama menjadi sosok ibu yang selama ini aku rindukan.


Aku dan Biru lalu pulang. Jangan dipikir aku sudah tenang. Hatiku justru makin tak karuan saat kaki ini menginjak lantai rumah. Aku yakin, Biru akan benar benar marah kali ini.


"Duduk." Ucapnya dingin sambil menunjuk dagu kearah kursi panjang yang ada diruang tengah.


Aku menelen ludah susah payah lalu duduk seanggun mungkin. Ya elah Cal, masih aja caper meski tahu akan dimarahi. Suasan tiba tiba berubah horor. Kata orang, marahnya orang pendiam itu sangat menakutkan.


Biru mengambil kursi plastik lalu duduk tepat dihadapanku. Matanya menatap tajam padaku hingga nyaliku benar benar menciut.


"Perutku sakit banget, aku ketoilet dulu ya?" Sengaja aku ingin mengundur waktu agar bisa memikirkan alasan yang tepat kenapa uang satu juta itu cepat sekali habis.


"Uang yang kuberikan udah habis?" Tanyanya dengan mata masih menatap kearahku. Tak berani menatapnya balik, aku hanya menganggukkan kepala sambil menunduk.


"Ada apa dilantai?"


"Hah!" Ucapku bingung sambil mengangkat wajah dan menatap Biru.


"Apa ada yang menarik di lantai sehingga kau lebih suka menatapnya daripada menatapku yang sedang bicara padamu?"


Aku menggeleng pelan. "Tidak ada yang lebih menarik daripada kamu didunia ini." Jawabku jujur tapi justru kulihat Biru salah tingkah.


"Buat apa uang itu hingga cepat sekali habis?" Belum sempat mulut ini menjawab, Biru sudah menjawab sendiri pertanyaannya. "Beli baju dan make up?"


Lagi lagi aku hanya bisa mengangguk pasrah.


"Aku hanya ingin terlihat cantik dengan make up dan baju baru. Apa itu salah?" Aku berusaha mencari pembenaran meski aku tahu tindakanku tetap salah. Ku buat ekspresi semelas mungkin agar dia tak tega memarahiku.


"Tetap saja salah karena kau tak berfikir panjang. Aku tak melarangmu membeli make up atau baju, asalkan kau masih bisa menyisihkan uang untuk makan." Geramnya. Sepertinya aku gagal membuatnya simpati. Terbukti dengan nada bicaranya yang semakin meninggi.

__ADS_1


"Maaf." Jawabku sambil kembali menunduk. Aku mulai gemertaran karena sebelum ini, tak pernah aku melihat Biru bicara dengan nada tinggi.


"Ini pertama kalinya kamu hutang, atau sebelumnya udah pernah?"


"U, udah pernah."


Biru menghela nafas lalu berdiri. Dia menyunggar rambutnya kebelakang sambil membuang nafas kasar. Terlihat jelas kalau dia begitu kecewa padaku.


"Berapa total hutang kamu?"


"Bi, biar aku saja yang bayar sendiri hutangku." Jawabku sok sok an mampu.


"Berapa?" desaknya.


"Se, seratus dua puluh ribu." Jawabku dengan suara bergetar.


Biru tiba tiba masuk kekamar. Dan tak lama kemudian, dia keluar dengan membawa uang.


"Ini ada lima ratus ribu. Bayar hutangmu pada Santi. Sisanya, buat beli beras dan kebutuhan beberapa hari kedepan. Perahuku rusak, itu sebabnya aku pulang lebih awal. Aku juga tidak membawa ikan karena semalam tak bisa melaut dan hanya sibuk membetulkan mesin."


Aku lemas mendengarnya. Disaat dia sedang kesusahan karena perahunya rusak, aku malah menambah bebannya. Kalau seperti ini, bukannya jatuh cinta padaku, yang ada Biru makin ilfeel.


Biru meraih tanganku dan meletakkan uang itu digenggamanku.


"Aku capek Cal. Aku mau mandi terus tidur." Ucapnya lalu mbalikkan badan. Tapi sebelum dia melangkah, segera kupeluk dia dari belakang.


"Maaf, aku janji gak akan mengulanginya lagi." Untuk beberapa saat, Biru hanya diam. Sampai akhirnya, dia melepaskan belitan tanganku lalu berbalik menatapku.


"Kamu sudah cantik Cal, meski tanpa make up dan baju baru." Ujarnya sambil menyelipkan rambutku yang berantakan kebalik telinga.


"Tapi tetap saja kamu tak tertarik padaku." Celetukku cepat yang seketika membuat Biru terdiam dan salting.


"A, aku mandi dulu." Biru cepat cepat berbalik lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.


"Tunggu." Teriakku sebelum dia hilang dibalik pintu kamar mandi. "Sebagai permintaan maafku, gimana kalau aku bantuin kamu mandi?" Tawarku dengan nada manja sambil mencubit pelan perutnya.


Mata Biru membulat sempurna. Wajahnya merah semerah kepiting rebus.


"A, aku gak jadi mandi." Dia ingin kabur tapi segera aku tarik lengannya.


"Hehehe becanda. Udah sana mandi. Takut banget sih sama aku? Padahal aku gak gigit loh." Segera kudorong dia sampai masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


"Jangan lupa kunci pintunya kalau gak mau aku masuk dan mandiin kamu." Teriakku sambil menahan tawa. Itulah kenapa aku suka sekali menggodanya. Karena dia pasti akan salah tingkah.


__ADS_2