
POV BIRU
Kedatangan Rama sungguh membuat hatiku tak tenang. Ada rasa takut, takut kehilangan Cal untuk selamanya. Dia memang belum lama hadir dihidupnya, tapi aku berharap, dia akan selamanya bersamaku.
Cal menatapku curiga setelah kubanting pintu lumayan keras. Jangan jangan dia tahu isi hatiku?
"Siapa bilang aku ngantuk?" Tanya Cal.
"Aku yang bilang. Udah ayo tidur." Segera kurebahkan tubuhku diatas ranjang. Tapi Cal, dia masih saja mematung didekat pintu.
"Cal...tidur. Gak capek apa, seharian udah jalan jalan?" Tanyaku.
Tapi dia malah menggeleng. "Gak capek. Belum ngantuk juga." Jawabnya sambil mendekat kearahku lalu duduk disisi ranjang.
"Ya udah sini tiduran. Entar juga lama lama ngantuk." Ucapku sambil menepuk ranjang sebelahku.
Dia lalu beranjak. Kupikir mau naik keatas ranjang, eh ternyata malah mengambil ponsel yang baru saja dicas.
"Cal, kenapa gak dicas dulu. Kan masih baru?"
"Udah banyak isinya. Tadi udah sempet aku cas di mobil." Jawabnya lalu naik keatas ranjang dan duduk disebalahku. Cal tampak sangat serius melihat ponselnya. Beberapa kali kulihat ekspresi kesal dan marah diwajahnya. Tapi tak jarang juga dia tiba tiba senyum bahkan cekikikan. Jempolnya sejak tadi juga sibuk mengetik. Entah sedang chat dengan siapa dia. Apa mungkin dengan Rama? Bukankah dia tak punya teman lain selain Santi dan Rama? Atau, dia sudah punya sosial media?
Boleh gak sih aku cemburu pada benda ditangan Cal? Semua perhatiannya tertuju pada benda itu. Aku seperti kehilangan Cal yang dulu. Perasaan kemarin, dia ngerocos terus kalau bersamaku, tapi sekarang, sepertinya ponsel lebih menarik daripada aku. Mungkin karena masih baru kali ya? besok besok, semoga saja dia udah mulai bosan dengan ponselnya.
Lama lama, tak tahan juga aku dicuekin kayak gini.
"Cal, udahan dong hp annya. Udah malam, tidur."
"Belum ngantuk." Sahutnya dengan mata yang tetap fokus pada layar ponsel. Yaelah, liat apa sih di hp, serius banget.
Tiba tiba Cal cekikikan, membuat aku penasaran dengan apa yang dia lihat.
"Lihat apa sih?" Karena penasaran, aku bangun dan mendekatinya.
"Bukan apa apa." Jawabnya sambil menjauhkan ponsel agar aku tak bisa melihat. Makin penasaran diri ini?
"Kalau memang bukan apa apa, kenapa aku gak boleh lihat? Coba pinjam ponsel kamu?" Kuulurkan telapak tanganku kearahnya. Aku tak masalah saat dia meminjam hp ku, jadi seharusnya tak ada masalah jika aku ganti meminjam hp nya.
"Ntar aku pinjemin. Tapi sekarang aku pakai dulu ya." Jawabnya sambil tersenyum padaku.
"Kamu lagi chat sama seseorang ya?" Tak bisa aku sembunyikan rasa penasaran ini.
"Enggak kok." Jawabnya sambil tertawa absurd.
"Ya udah kalau gitu lihat." Kembali ku ulurkan telapak tanganku kearahnya.
__ADS_1
"Cie..cie...curiga ya??? Aku mencium bau bau ke-cem-bu-ru-an." Cibirnya sambil tertawa renyah. Tapi kali ini tak seperti biasanya. Tawanya tak mampu menggoyahkan hatiku yang galau ini.
"Ya udah lanjutin aja main ponselnya. Aku keluar dulu." Ujarku sembari beranjak dari ranjang. Hanya dicuekin gara gara ponsel aja, aku seketika bad mood. Semoga saja aku masih waras saat di benar benar ninggalin aku nanti. Suasa hatiku benar benar hancur sejak kehadiran Rama.
"Bi, kamu marah ya?"
Aku terus melenggang, tak menghiraukan sama sekali teriakannya.
...****************...
POV CALLISTA
Oh my God, jangan jangan Biru bener bener marah padaku. Dia tetap saja keluar tanpa menghiraukan pertanyaanku. Bukannya aku tak mengijinkan dia melihat ponselku. Tapi aku sedang membuka sosial media. Bisa bisa Biru tahu siapa aku kalau dia lihat akun sosmedku.
Segera kuletakkan ponsel dan pergi menyusul Biru. Aku tersenyum geli melihat Biru yang rebahan diatas karpet depan tv bersama Lisa. Dibelainya bulu halus Lisa dengan penuh kasih sayang.
"Lisa mulu yang dielus, giliran istrinya kapan nih?" Godaku sambil mendekatinya lalu duduk disebelahnya.
"Ngapain kamu kesini?" Tanyanya tanpa melihatku.
"Nyusul kamulah. Males tidur sendirian."
"Bukannya kamu lagi asyik main ponsel ya?"
"Cie...cemburu sama ponsel nih ceritanya." Godaku sambil mencolek lengannya. Bukannya menanggapiku, dia malah memejamkan mata sambil memeluk Lisa.
"Gak usah pura pura tidur deh." Gerutuku sambil menarik narik lengannya. Tapi dia diam saja, tak menanggapiku sama sekali. Yaelah, balas dendam nih kayaknya. Gantian nyuekin aku. Padahal aku tadi tak sengaja nyuekin dia. Aku terlalu bersemangat berselancar di sosmed. Maklum, udah lama gak pegang hp, jadi kalap saat punya hp baru.
Terus saja aku goyang goyangkan lengannya. Tapi sama sekali dia tak menghiraukanku.
"Biru!" Pekikku saking kesalnya. Tapi tetap saja, dia tak menggubris dan pura pura tidur. Mana bisa aku tidur nyenyak kalau Biru marah kayak gini. Otakku memikirkan cara gimana agar Biru kembali mau tidur dikamar. Tapi lampu diotakku mendadak padam, hingga tak ada ide yang berkelebatan dikepala.
Tiba tiba kulihat seekor nyamuk hinggap di lengan Biru. Badannya sudah tampak gemuk, entah sejak kapan nyamuk betina itu menggigitnya. Kurang ajar banget, aku aja belum pernah menggigitnya, eh udah diduluin nyamuk.
Plakkk
"Aww." Biru meringis kesakitan sambil memalingkan wajah menghadapku. Sepertinya aku terlalu bersemangat memukulnya hingga lenganya merah.
"Cal!" Desisnya sambil memelototiku.
"Hehehe..sorry. Habisnya gemes lihat nyamuk yang gendut itu. Masuk yuk, disini banyak nyamuk betina yang naksir kamu." Bujukku sambil menarik narik ujung kaosnya.
"Udah kamu masuk aja. Malam ini aku tidur disini."
Aku mendengus pelan karena Biru kembali memunggungiku dan memeluk Lisa. Masa aku kalah sama Lisa. Dia aja dikelonin, aku malah disuruh tidur dikamar sendirian.
__ADS_1
Plakkk
Kembali aku memukul nyamuk yang hinggap dilengannya.
"Cal!" Geramnya sambil kembali memelototiku dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Hehehe, ada nyamuk lagi."
Biru terlihat sangat kesal. Tapi aku justru senang karena dia tak lagi nyuekin aku. Bahkan sekarang gak pura pura tidur lagi, udah duduk malahan.
"Diam, diam, jangan gerak." Perintahku saat melihat nyamuk di dahinya. Tak kusangka Biru menurutiku. Dia terdiam dengan wajah tegang saat telapak tanganku sudah terangkat. Sepertinya dia tahu jika sasaranku adalah dahinya, reflek dia memejamkan mata.
Plak
"Yah gak kena." Ujarku kecewa. Aku memang sengaja memukul sangat pelan karena tak mau menyakitinya. Apalagi itu bagian wajahnya.
Biru bernafas lega sambil mengusap dahinya.
"Diam Cal, diam sebentar." Dia ganti menginterupsiku.
"Ada apa?" Tanyaku dengan tubuh kaku, tak bergerak sama sekali.
"Ada nyamuk dipipi kamu." Ucapnya sambil menatap lekat lekat wajahku. Aku melotot saat Biru mengangkat telapak tangan mendekati wajahku. Mati aku, kayaknya dia mau balas dendam. Melihat telapak tanganya yang lebar, pasti sakit banget kalau mendarat dipipiku. Reflek aku memejamkan mata.
Cup
Aku membuka mata saat merasakan sesuatu yang basah dan kenyal menyentuh pipiku.
"Udah kabur nyamuknya." Ujarnya sambil tersenyum. Akhirnya..dia udah gak ngambek lagi. Buktinya udah mau senyum. Aku ikutan tersenyum, lalu tanpa diaba aba kami berdua tertawa renyah bersama.
"Kamu cantik Cal." Ucap Biru sambil menyentuh rambutku dan merapikannya.
Jantungku sektika berdegup kencang. Bulu romaku berdiri saat jemarinya menyentuh leherku. Jemari itu terus saja bergerak hingga singgah dibibirku. Aku memejamkan mata saat jari jempolnya mengusap lembut bibirku. Badanku seketika panas dingin dibuatnya.
Jari itu terangkat dan berganti dengan sesuatu yang lebih lembut dan kenyal. Ya, Biru menciumku. Karena gugup, bukannya membalas, aku malah kesulitan bernafas. Hingga saat Biru melepaskan ciumannya, segera kubuka mata dan hirup udara sebanyak mungkin.
Biru tersenyum melihatku. Kupikir semuanya sudah usai, ternyata aku salah. Sebelah tangan Biru memegang tengkukku, wajahnya kembali maju dan bibirnya kembali mendarat di bibirku.
Yang kedua ini, aku tak hanya diam. Kubalas ciumannya hingga kami saling mengulumm dan membelai lidah. Kami berhenti sejenak untuk mengambil nafas lalu kembali berpagutan.
"Hem hem."
Suara deheman yang begitu keras memaksa kami melepaskan pagutan bibir. Entah sejak kapan Rama berdiri didepan pintu kamarnya. Aku bahkan tak mendengar dia membuka pintu.
Buru buru aku dan Biru membersihkan sisa saliva yang ada dipermukaan bibir.
__ADS_1
"Kalau bermesraan itu dikamar, jangan diluar." Sewot Rama sambil berjalan melewati kami menuju kamar mandi.
Aku dan Biru saling menatap, sesaat kemudian, tawa kami pecah.