
POV BIRU
Aku melihat dengan seksama foto foto wanita yang mirip Cal diakun itu. Bukan mirip, tapi lebih tepatnya itu memang Cal. Tanganku sampai gemetaran menscrol foto foto itu kebawah. Beberapa foto diambil diluar negeri. Pakaian yang dia kenakan, sepatu, dan tas, aku yakin semua itu bukanlah barang murahan yang dijual dipasar.
"Sebenarnya aku adalah pewaris tunggal CALS, perusahaan besar yang ada dikota."
Aku tercengang mendengar ucapan Cal. Tidak ini tidak mungkin. Aku pasti salah dengar. Tidak mungkin istriku adalah pemilik CALS, perusahaan besar yang ada dikota, dimana dulu aku pernah bermimpi bisa bekerja disana.
"Jangan becanda Cal." Kutatap dia tak percaya.
Cal menggeleng, dia mengambil kembali ponselnya yang ada ditanganku. Kuperhatikan, dia sedang menscrol foto di akun ig itu hingga bawah.
"Lihat."
Mataku membulat sempurna melihat foto Cal yang sedang memotong kue ulang tahun yang sangat besar. Tapi bukan kue besar itu yang jadi pusat perhatianku, melainkan tulisan dibelakang Cal. Disana tertulis aniv CALS. Jika dia bukan orang penting diperusahaan itu, tak mungkin Cal yang memotong kuenya.
"Maaf jika baru jujur sekarang."
Aku mundur beberapa langkah lalu menjauhkan bobot tubuhku diatas kursi. Lututku terasa lemas. Kejutan itu luar biasa sukses membuatku terkejut setengah mati.
"Kamu gak pantas buat Cal, kalian sangat berbeda."
Kata kata Rama tempo hari kembali terngiang ngiang dikepalaku. Inikah yang dia maksud perbedaan itu? Apakah aku memang tak pantas untuk Cal.
"Biru."
Cal mendekatiku lalu duduk disebelahku. Dia menggenggam kedua tanganku dengan mata menatap lurus kearahku.
"Saat Rama datang, apakah kamu sudah ingat tentang jati diri kamu yang sebenarnya?" Aku masih bingung, sebenarnya sejak kapan ingatannya kembali.
"Aku...aku..." Cal menunduk, membuatku merasa jika ada yang masih dia sembunyikan dariku.
"Kamu kenapa Cal?"
Cal masih diam, membuatku makin yakin ada sesuatu besar lagi yang dia sembunyikan.
"Jujur Cal, please. Jangan sembunyikan apapun dariku lagi."
__ADS_1
Cal menatapku ragu ragu. Ada apa sebenarnya ini? Rasa penasaranku makin tinggi.
"Aku..aku tak pernah amnesia."
Saking terkejutnya, aku reflek berdiri dan melepaskan tangan Cal. Ini lebih mengejutkan daripada kenyataan dia seorang konglomerat. Ternyata selama ini dia membohongiku. Demi apa coba dia melakukan ini semua? Kalau memang dia tak pernah amnesia, kenapa dia pura pura? Apa tujuannya? Kenapa dia memilih disini dibanding pulang kerumah mewahnya?
"Maaf, aku terpaksa berbohong." Cal menunduk sambil menggigit kukunya. Aku sangat hafal jika itu kebiasaannya saat sedang cemas.
"Tapi kenapa kamu melakukan ini Cal?" Tekanku sambil membuang nafas berat.
Cal mengangkat wajahnya lalu menatapku.
"Seperti yang diceritakan Rama. Keluarga Om dan Tanteku berbuat jahat sama aku. Mereka ingin aku lenyap agar bisa menguasai harta milikku. Mereka bahkan sampai membuat makam palsuku agar tak ada yang mencariku dan mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Mereka bahkan mendapatkan uang asuransi kematianku."
Jadi dibagian ini, semuanya benar? Rasanya tak bisa percaya ada keluarga tega melakukan hal seperti itu. Tapi balik lagi, demi uang. Ya, uang bisa membuat siapapun gelap mata. Jangan jangan ini juga alasana kenapa Cal menyembunyikan jati dirinya. Mungkin dia takut aku juga sebagian dari manusia yang gila harta.
"Tapi kenapa kau tak cerita semuanya dari awal, kenapa malah pura pura amnesia?"
"Karena aku tak bisa kembali kekota Bi. Aku harus bersembunyi sembari mencari bukti kejahatan mereka. Aku juga menunggu usiaku 21 tahun untuk mengambil alih semua hartaku. Kalau aku tak pura pura amnesia, kamu gak akan kasihan padaku, kamu pasti ngusir aku, kamu pasti menyuruh aku kembali kekota."
"Sampai minta aku menikahimu? Apa kamu pikir pernikahan itu sesuatu yang main main Cal? Kamu sudah mempermainkan perasaanku hanya demi bisa bertahan disini." geramku karena merasa telah dipermainkan.
Cal menggeleng cepat sembari mendekatiku.
"Tidak Bi tidak. Aku memang berbohong tentang amnesia. Tapi tentang perasaanku padamu, aku tidak bohong, aku mencintaimu."
Dari matanya, dia terlihat sungguh sungguh. Tapi aku tak bisa percaya begitu saja. Selama ini dia sudah berhasil mengelabuhiku, sekarangpun, tak ada jaminan dia jujur.
"Percaya sama aku, please.." Mohonnya sambil menggenggam kedua tanganku. "Tentang amnesia, aku memang bohong. Tapi tentang perasaanku, aku tak pernah bohong. Aku mencintaimu Bi." Cal memelukku erat. Dia terisak didadaku. Ingin aku membalas pelukannya. Tapi jika ingat siapa dia, aku jadi kurang percaya diri. Mungkinkah kami bisa bersama disaat ada jurang perbedaan yang sangat dalam diantara kami.
Kulepaskan pelukan Cal lalu kuseka air matanya. "Aku bukan siapa siapa Cal, aku tak yakin pantas buat kamu."
Cal menggeleng cepat. "Aku tahu siapa yang pantas atau tidak untukku. Dan kamu, adalah pria yang paling pantas untukku dibanding semua pria didunia ini. Kamu adalah lelaki terbaik dari semua lelaki yang pernah aku kenal."
Aku melambung mendengar ucapannya. Rasa percaya diri yang tadinya terkikis habis, perlahan mulai kembali.
"Apa kau yakin? Aku tak mau kamu menyesal dikemudian hari."
__ADS_1
Cal kembali memelukku. Menyandarkan kepalanya didada bidangku. Dan seperti tadi, aku masih belum yakin untuk membalas pelukannya.
"Aku sangat yakin."
Aku melepaskan pelukan Cal lalu mengajaknya duduk dibangku panjang. Kuseka sisa sisa air matanya dan kurapikan rambutnya yang berantakan lalu kesisipkan kebelakang telinga. Tak bisa kusanggah jika ada rasa kecewa karena telah dibohongi. Tapi rasa cintaku lebih besar dari semua itu.
"Tanyakan kembali pada hati nuranimu Cal. Apakah seorang nelayan berpendidikan rendah dan tak punya apa apa ini layak menjadi suami kamu?" Meskipun ini berat, aku tetap ingin memastikannya.
"Sejak malam dimana kita menyatu sebagai suami istri yang seutuhnya, sejak saat itu aku menyerahkan hatiku sepenuhnya padamu."
Kuraih Cal kedalam dekapanku. Rasanya bahagia tak terkira mendengar kalimat yang baru saja dia ucapkan.
"Saat ini mungkin aku belum pantas untukmu Cal. Tapi aku akan terus berusaha untuk memantaskan diri." Kukecup keningnya lama sambil kubelai rambut indahnya. Aku merasa jadi pria paling beruntung didunia ini.
"Aku mencintaimu Cal."
"Aku juga mencintaimu, Abang."
Kulepaskan dekapanku sambil kutatap netra Cal lamat lamat. Barusan aku tidak salah dengarkan? Cal memanggilku abang? Bukankah dia bilang geli dengan panggilan itu?
"Kenapa?" Tanya Cal dengan dahi mengernyit.
"Kamu tadi..memanggilku.."
"Abang." Sahutnya cepat sambil mengulum senyum.
Aku terkekeh geli melihat ekspresi imutnya. Kuacak acak pelan puncak kepalanya lalu kekecup singkat bibirnya.
"Makasih."
"Buat?"
"Sudah mau manggil aku abang."
Cal kembali memperlihatkan deretan gigi putihnya. Cantik sekali istriku ini. Berkali kali dipandang, bukannya bosan, tapi aku makin cinta.
"Apapun buat abang." Cal mengecup singkat bibirku. Saat dia hendak menjauh, kutarik tengkuknya dan kucium dia dalam dan makin dalam.
__ADS_1