
POV CALLISTA
Mataku sedikit bengkak akibat tangis tangisan sama Rama tadi pagi. Terpaksa Rama menunda sehari kepulangannya karena alergi. Meski kemarin kemarin sempat kesel dan pengen dia cepet pulang, nyatanya aku tetep nangis saat ditinggal pulang. Rama, satu satunya orang dalam masa lalu yang aku percayai, semoga saja, selamanya dia tak akan pernah berkhianat padaku.
Biru datang membawakanku sepiring bubur kecang hijau yang entah dia dapat dari mana.
"Mau gak, enak loh. Dikasih Bu De." Biru mengambil satu sendok lalu diarahkan kedepan mulutku.
"Cobain dulu." Ujarnya saat aku tak segera membuka mulut. Aku memang kurang suka jenis makanan manis yang ada kuah santannya.
Tak mau dia kecewa, kubuka mulut dan mencicipi satu sendok. Ternyata enak juga. Seleraku mulai berubah setelah tinggal disini.
Ngomongin soal Bu De, aku tiba tiba teringin membantu perekonomiannya. Sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu aku kepikiran tentang ini.
"Kamu pernah ngerasain kerupuk ikan buatan Bu De gak?" Tanyaku sambil mepet ke Biru lalu menyandarkan kepala dibahunya.
"Ya seringlah. Itu sebenarnya alm ibu aku yang punya resepnya."
"Seriusan?" Tanyaku kaget sambil mengangkat kepala dari bahu Biru dan menatapnya.
"Iya, kenapa emang?"
"Gini, aku itu pengen coba jualin kerupuk ikannya Bu De. Sumpah, enak banget rasanya. Yakin deh bakal banyak yang suka."
"Kerupuk kayak gityu, udah ada yang ngedropin di tempat wisata. Produk buatan kampung sebelah. Tapi menurutku masih enakan resep ibu aku."
"Ya itu dia. Karena enak, pasti laku dijual. Dimana mana, yang namanya bisnis pasti banyak saingan. Tapi asalkan kualitas kita lebih unggul dan harga ramah dikantong, yakin deh bisa bersaing. Kenapa gak coba produksi banyak terus didistribusikan kemana gitu."
"Susah Cal, butuh modal gede." Sahut Biru sambil kembali menyuapiku bubur.
"Yaelah, semua ya pasti butuh modal. Namanya juga usaha, kalau tidur baru deh gak butuh modal." Jawabku setelah menelan bubur didalam mulut.
"Kata siapa, tidur juga butuh modal. Butuh kasur, bantal, guling. Tapi kalau aku sih, gak penting semua itu, asalkan ada kamu buat dipeluk." Godanya sambil memelukku erat.
Aku terkekeh sambil menarik hidung Biru. Suamiku itu mulai berani terang terangan menggoda. Beda sekali dengan kemarin kemarin yang masih malu malu kucing.
Dengan kedua lengan yang masih mengunci pinggangku, Biru menciumi seputaran leher dan telingaku.
"Biru geli..." Rengekku sambil berusaha mendorong kepalanya agar menjauh. Aku tak mau dia menambah lagi totol totol merah dileherku.
Setelah cukup lama, akhirnya dia berhenti juga.
__ADS_1
"Cal, bisa gak aku minta sesuatu?"
"Apa?" Tanyaku penasaran.
Biru menarikku ke atas pangkuannya sambil mendekapku dari belakang.
"Aku kan suami kamu, bisa gak manggilnya jangan langsung nama."
Aku menoleh padanya dengan tatapan bingung.
"Emang kamu gak suka aku panggil Bi? Bi itu kependekan dari Beibi." Jelasku sambil melepaskan belitan tangannya lalu merubah posisi menghadapnya. Aku lebih suka dipangku berhadapan seperti ini daripada membelakanginya.
"Bukannya gak suka. Ntar orang pikir kamu manggil Bi karena namaku Biru."
"Jadi kamu mau dipanggil apa?" Tanyaku sambil melingkarkan kedua lenganku kelehernya.
"Terserah asal jangan Bi atau Biru. Apa gitu kek. Bisa abang atau mas kayak Santi manggil Gani."
"Mas." Aku mengucapkannya sambil terkekeh geli. "Gak mau, aneh."
Biru berdecak pelan sambil menarik hidungku.
"Aneh darimananya? Emang kamu ngedengernya aneh saat Santi manggil Gani mas?"
"Aku panggil sayang aja gimana?"
"Enggak, enggak." Biru menggelang cepat. "Aku malu kalau dipanggil sayang pas ada orang. Kalau berduaan aja sih gak papa. Tapi kalau didepan orang lain_." Biru tak melanjutkan ucapannya.
"Terus apa dong?" Rengekku manja sambil sambil mengelus elus rahangnya yang mulai kasar karena belum dicukur.
"Ya terserah kamu, pokoknya aku gak mau nama."
"Aku cukurin ya jambang kamu?"
"Emang bisa?" Tanyanya sambil merapikan rambutku lalu menyelipkan dibelakang telinga.
"Bisalah, jangankan cukur jambang, cukur yang bawahpun aku bisa." Lirihku didekat telinganya. Tawa Biru sekatika pecah mendengarnya.
"Ya udah, yuk buktikan." Biru tiba tiba berdiri dengan kedua tangan menahan bokongku. Aku digendongnya mirip koala yang menempel pada induknya. Aku kecikikan dengan tangan melingkar dilehernya saat dia membawaku berjalan menuju kamar. Kudekatkan wajahku ke wajahnya sambil kugesek gesekkan hidung kami.
"Ya elah mesra banget. Kapan aku ngerasain digendong kayak gitu."
__ADS_1
Suara Santi mengagetkan aku dan Biru. Kami yang hampir sampai didepan pintu kamar jadi berhenti. Karna malu pada Santi, aku minta diturunkan.
"Ada apa San?" Tanyaku.
"Ada apa?" Santi nyengir. "Bukannya kamu yang minta aku kesini buat nganter ke puskesmas."
Aku seketika menepuk jidat. Bisa bisanya aku lupa kalah janjian sama Santi mau ke puskesmaa. Rencananya aku mau konsultasi tentang alat kontrasepsi.
"Kamu jadi Cal mau pakai alat kontrasepsi?" Tanya Biru dan langsung aku angguki. Mungkin keputusanku menunda momongan membuatnya kecewa. Tapi balik lagi, aku belum siap jadi ibu. Masih banyak yang harus aku urus setelah ini. Merebut warisan, memberi pelajaran pada para pengkhianat itu dan juga aku masih harus lanjut kuliah.
"Gak papakan?" Aku kembali bertanya meski kemarin dia sudah mengiyakan permintaanku ini.
"Iya gak papa." Jawabnya sambil mengusap pelan pucuk kepalaku. "Ya udah hati hati dijalan."
"Aku pergi dulu." Kucium kening Biru sekilas lalu pergi bersama Santi.
Santi memboncengku menggunakan motor Biru menuju puskesmas. Sengaja aku tak minta antar Biru karena ingin mengajak Santi sekalian cari kado untuk Biru. Dari ktp yang sempat aku lihat didompetnya, 2 hari lagi Biru ulang tahun.
"Heran deh sama kamu Cal, belum punya anak udah mau kb. Harusnya punya anak satu dulu baru kb kayak aku. Emangnya kamu gak pengen punya anak? Padahal Cal, aku yakin kalau kamu punya anak sama Biru, behhh pasti cakep banget tuh anak. Secara kedua orang tuanya bibit unggul." Cerocos Santi sambil menatap jalanan.
Bukannya gak mau, sekali lagi, aku belum siap karena masih banyak hal yang harus aku urus. Setelah masalah warisan dan kuliah beres, aku pasti akan segera memberi anak untuk Biru. Berapapun yang dia mau, asal gak lebih dari 3, wkwkwk.
Sesampainya didepan puskesmas, Santi langsung memarkirkan motor sedangkan aku menunggunya diteras puskesmas. Jangan dipikir puskesmas disini besar, kecil, bahkan tak ada fasilitas rawat inap. Dokter juga tak tiap hari ada, hanya seminggu sekali saja ada dokter. Untuk penanganan setiap hari, hanya ada bidan dan mantri.
Setelah Santi datang, kami langsung menuju meja administrasi. Disana aku ditanya tujuan dari kedatanganku.
"Mau konsultasi KB." Jawabku pada ibu ibu penjaga meja administrasi. Beliau menyuruhku mengisi formulir lalu menyerahkan nomor antrian.
"Aku gak salah denger, mau konsultasi KB?" Aku dan Santi yang sedang berjalan menuju kursi tunggu, dikagetkan dengan kemunculan Sifa yang tiba tiba. Entah sejak kapan dia berada disini, bisa bisanya dia dengar kalau aku mau konsultasi KB.
"Gak usah kepo urusan orang," sinisku. Sumpah, muak banget lihat mukanya yang sok baik, sok alim dan sok paling pintar itu. Manusia bernama Sifa itu sungguh mirip hantu. Bisa muncul kapan saja padahal yang kutahu dia tengah kuliah di kota.
Aku hendak pergi tapi Sifa menahan pergelangan tanganku. Dia mendekatkan wajahnya kearahku sambil berbisik.
"Kamu KB karena Biru gak mau punya anak denganmu kan? Jelas saja, siapa yang mau punya anak dari wanita yang gak jelas asal usulnya apalagi tidak dia cintai."
Tanganku mengepal kuat. Kalau saja tidak ingat ini tempat umum, sudah kutonjok wajahnya. Menohok sekali ucapan wanita sok alim ini.
"Gerah banget ya San." Sengaja aku pura pura kegerahan sambil menyibakkan rambut yang sedari tadi menutupi leherku. Bukan mau pamer kissmark, hanya saja aku penasaran pengen tahu ekspresi Sifa melihat begitu banyak tanda cinta yang Biru tinggalkan dileherku. Sekarang, yakin masih bisa mengatakan Biru tak mencintaiku?
Dan seperti dugaanku, wajah Sifa seketika berubah. Dari yang tadi penuh senyum mengejek, berubah tegang karena emosi.
__ADS_1
"Karena deket setan kali ya Cal, makanya panas banget gini." Ucapan Santi membuatku menahan tawa. Berani sekali dia mengatai Sifa setan. Good job Santi, kemajuan, batinku.
"Pulang aja yuk. Kayaknya aku berubah pikiran deh. Pengen buru buru hamil biar Abang Biru makin cinta." Aku melengos kearah Sifa lalu menarik tangan Santi keluar dari puskesmas.