Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
GADUH


__ADS_3

POV BIRU


Cal menatapku tajam. Selain gurat kemarahan, ada kekecewaan juga dari sorot matanya.


Gani, awas saja kamu, aku akan bikin perhitungan.


"Yang, sumpah ini kerjaan Gani. Abang gak tahu apa apa." Kuraih raih kedua tangannya tapi dia berontak. Menarik tangannya kasar dan menjauh dariku. Mata Cal mulai berkaca kaca, membuatku makin bingung harus menjelaskan seperti apa lagi.


"Jahat kamu Bang, jahat. Padahal aku cuma datang bulan, tapi kelakuanmu sudah kayak gini."


Kuraih bahu Cal, niat hati ingin memeluknya tapi dia lagi lagi berontak.


"Gak usah sentuh sentuh aku," teriaknya.


Kubuka ponsel lalu kutunjukkan pada Cal siapa pengirimnya.


"Lihat, ini Gani yang kirim. Kamu tahu sendirikan, dia itu emang resek."


"Iya, Gani emang resek. Tapi dia gak akan kirim beginian kalau Abang gak cerita sesuatu kedia. Abang pasti cerita kalau aku gak pinter diranjang, aku gak bisa muasin abang, iya kan? Makanya dia sampai kirim video gituan dan gambar gambar cewek seksi. Abang gak puass sama aku? Aku gak seksi Bang. Ya, mungkin aku memang tak semenarik wanita wanita seksi diponsel kamu itu."


Kenapa jadi melebar gini sih urusannya. Apa mungkin ini masih karena hormon datang bulan, makanya dia meledak ledak.


"Ayo kita cari Gani. Biar dia yang jelasin."


"Gak perlu." Cal menghentakkan kakinya kasar lalu pergi keluar kamar. Segera kususul dia lalu menarik pergelangan tangannya agar berhenti.


"Lepasin." Teriaknya sambil menarik tangannya kasar. Karena ini ditangga, lebih baik aku ngalah daripada terjadi sesuatu. Kubiarkan dia sampai menuruni tangga lalu kembali kutarik tangannya.


"Stop Cal, stop. Dengerin penjelasan abang dulu."


Cal menatapku tajam. Matanya merah dan nafasnya memburu. Belum pernah Cal semarah ini padaku.


"Aku kecewa sama Abang. Aku pikir Abang beda sama laki laki lain diluaran sana. Nyatanya Abang sama saja. Masih mencari kepuasan dari orang lain meski udah punya istri."


Keributan kami mengundang perhatian orang rumah. Pak De dan Bu De yang berada dikamar langsung keluar.


"Ada apa ini?" Bu De menatap aku dan Cal bergantian.


"Biru bikin gara gara Bu De," adu Cal.

__ADS_1


"Kamu bikin ulah apalagi sih Ru?"


Lah, bikin ulah lagi katanya? Emang kapan aku pernah bikin ulah. Kalau udah berhubungan sama Cal, kenapa aku yang selalu sial, selalu disalahkan. Ya elah apa ini yang namanya wanita selalu benar.


"Dia nyimpen foto cewek cewek seksi dan video mesum Bu De." Adu Cal sambil menunjukku, membuat Bu De seketika naik darah dan memelototiku.


"Ya Allah Biru, kurang apa istri kamu ini. Udah dikasih istri cantik, baik, kaya, eh masih kurang. Masih buat dosa dengan melototin yang bukan mahram." Seperti biasa, Bu De akan maju dan memukuliku. "Dasar anak tak tahu diuntung, tak tahu bersyukur."


Belum sempat penjelasan keluar dari bibirku, kulihat Gani keluar dari kamar. Kali ini, kamu harus kena Gan.


"Ini dia Bu De. Ini biang masalahnya, Gani." Aku berusaha menyelamatkan diri dari pukulan Bu De sambil menunjuk Gani.


"Ada apa ini?" Tanya Gani yang sepertinya belum paham duduk permasalahannya.


"Eh Gani, ngaku kamu." Geramku sambil menunjuknya. "Kamu yang udah kirim foto dan video mesum itu padaku."


Wajah Gani seketika pias. Aku yakin dia takut kalau Santi dan ibunya tahu tentang hobinya yang suka koleksi video mesum dan foto cewek cewek bugiil.


"Video mesum?" Santi mengulang kata kataku.


Aku hendak menunjukkan ponselku pada Santi tapi lebih dulu direbut Gani. "Videonya Galang Dek," sangkalnya sambil garuk garuk kepala.


"Video galang apaan, kamu kirimin suamiku foto cewek telannjang dan video mesum. Maksud kamu apa? Iseng, apa Biru yang minta?" tanya Cal sambil melirikku sinis.


"Banyak juga koleksi kamu Mas." Desis Santi sambil tersenyum menatap Gani. Gani seketika menelan ludah susah payah. Senyuman Santi jelas tak seperti biasanya, tapi senyum menakutkan. Feel nya udah kayak disenyumin mbak kunti.


"Masih mau nambah lagi? apa perlu aku bantu carikan?"


"Eng, enggak Dek. Itu juga mas gak koleksi kok. Mas baru download karena katanya Biru lagi pengen tapi Cal lagi datang bulan dan gak mau bantuin."


Loh loh, kok aku dibawa bawa lagi. Itu kesimpulan yang dia tarik sendiri, bukan aku yang bilang.


Sekarang Cal ikut ikutan menatapku tajam.


"Malu aku Pak. Punya anak sama ponakan kok sama saja." Bu De geleng geleng. "Udah punya istri tapi masih nyari kepuasan dari lainnya. Semoga saja kamu gak gitu pak." Bu De mengelus dada.


"Buah jatuh gak jauh dari pohonnya Buk."


Glek

__ADS_1


Pak De seketika menelan ludah mendengar celetukan Gani.


"Hai Gani, jangan jadi anak durhaka kamu ya." Seru Pak De sambil menunjuk kearah Gani. "Kayaknya biang rusuhnya emang kamu ini."


Merasa makin terpojok, Gani langsung kabur masuk kamar.


"Mau kemana kamu Mas, jangan kabur." Santi memberikan ponselku pada Cal lalu mengerjar Gani masuk kamar. Sudah pasti akan terjadi perang dunia ke3 disana.


Sementara Cal, dia berjalan cepat menuju halaman belakang. Tentu saja aku gegas menyusulnya.


Plung


Mataku melotot melihat ponsel tak bersalah itu melayang dan mendarat di kolam renang. Ponsel yang nyalanya udah ogah ogahan itu kupastikan langsung koit begitu nyemplung kedalam air. Diambilpun percuma, pasti udah rusak. Tapi begitu ingat banyak foto kenangan alm orang tuaku.


Byurr


Gegas aku terjun kekolam untuk menyelamatkan benda itu. Semoga saja memorinya gak rusak dan fotonya masih bisa terselamatkan.


Begitu mendapatkan ponselku, segera aku naik keatas. Kulihat Cal sedang menatapku tajam dengan kedua tangan dilipat didada.


"Lastri, tolong ambilkan handuk." Titahku pada Lastri yang sedang merawat tanaman dihalaman belakang. Art itu langsung mengangguk dan masuk kedalam.


Aku membuka kaosku yang basah kuyup. Langsung masuk kedalam rumah tak mungkin kerana air pasti menetes kemana mana.


Tak lama kemudian Lastri datang sambil membawa handuk. Dia menatapku sebentar lalu menundukkan pandangan. Cal menatap tak suka saat Lastri mendekatiku dan memberikan handuk. Dia lalu pergi entah kemana.


Setelah mengeringkan badan asal, aku gegas menuju kamar untuk mengambil alat membuka tempat sim card dan memori card. Mengelapnya hingga kering dan berdoa supaya tidak rusak.


"Segitunya ya kamu Ru. Demi foto dan video itu, kamu bela belain nyemplung kolam lalu cepet cepet nyelamarin memori card." Entah kapan datangnya, Cal tiba tiba udah ada dibelakangku.


"Aku denger, dari tadi kamu manggil nama terus." Jujur saja, aku kurang nyaman dipanggil langsung nama oleh istriku.


"Emangnya kenapa?"


"Aku gak suka."


Cal mendengus lalu membuang pandangan kearah lain.


"Jangan salah paham, aku nyematin memori ini, karena banyak foto alm orang tuaku disini." Ujarku sambil menunjukkan memori yang aku pegang.

__ADS_1


"Foto dan video itu, aku sama sekali gak peduli. Aku udah coba jelasin sama kamu. Gani juga udah ngaku kalau dia yang kirim. Kalau soal yang dia bilang tadi. Aku gak pernah ngomong kayak gitu. Aku gak pernah bilang lagi pengen banget atau kamu gak mau bantuin. Mungkin dia salah ngambil kesimpulan saja."


Cal hanya diam. Entah dia merenung karena merasa bersalah atau apa aku gak ngerti


__ADS_2