
POV BIRU
Aku membawakan Cal rebusan kunyit asam yang barusan dibuatin Bi Nuning. Ternyata, meskipun keluarganya tidak tulus, setidaknya Bi Nuning tulus padanya.
Saat didapur tadi, aku sempat mengobrol dengan Bi Nuning. Ternyata dia pengasuh Cal sejak kecil. Wanita paruh baya itu terlihat sangat menyayangi Cal, dia sampai tahu apapun tentang Cal.
"Minum dulu gih." Ucapku sambil menyodorkan gelas berisi rebusan kunyit pada Cal. Sejak tadi dia mengeluh sakit perut dan pinggang. Makanya Bi Nuning segera membuatkan ramuan yang katanya manjur untuk meredakan nyeri haid.
Cal meraih gelas tersebut lalu meminumnya hingga habis.
"Mau abang kompres pakai air hangat gak perutnya, atau pinggangnya dipijat?" Tawarku yang tak tahu harus berbuat apa.
"Dipijat aja Bang." Sahutnya dan langsung aku angguki.
Cal berbaring miring agar memudahkanku memikit pinggangnya.
"Bang, setelah datang bulanku selesai, kita honeymoon yuk."
Honeymoon? Tak pernah aku kepikiran hal itu sama sekali. Bukan apa, selain tak ada uang, orang kampung sepertiku memang tak familiar dengan bulan madu.
"Kemana?"
"Jepang."
Pijatanku seketika terhenti mendengar kata Jepang. Kira kira butuh biaya berapa ke Jepang. Rasanya jual motorpun gak akan cukup untuk biaya kami ke Jepang.
"Sekalian aku ngurus pindah kuliah Bang."
Aku melanjutkan pihatanku. Tapi belum merespon sama sekali ajakan Cal. Malu juga jika semuanya harus pakai uang Cal.
"Abang kok diem aja sih?"
"Terserah kamu aja." Tak mau membuatnya kecewa, rasanya kata itu yang paling tepat aku ucapkan.
Cal membalikkan badan lalu melihatku. "Abang gak mau ya?"
Aku tersenyum sambil garuk garuk tengkuk. Sebenarnya bukan gak mau, hanya malu saja. Menumpang hidup pada Cal sudah sangat memalukan, apakah masih harus ditambah dengan hal hal tidak penting yang butuh uang banyak seperti ini?
"Abang mikirin apa sih?" Cal kesel karena aku hanya diam saja.
"Emmm...harus banget gitu ya ke Jepang?"
"Ya harus, kan aku sekalian ngurusin pindah kuliah." Nada bicaranya mulai meninggi. Wajahnya juga mulai terlihat menegang. "Ya udah kalau gak mau, aku bisa kesana sendiri kok. Lagian aku udah biasa ke Jepang sendirian." Cal kembali membalikkan badan memunggungiku.
Hadeh, marahkan dia. Kata orang, wanita yang lagi datang bulan sangat sensitif, apa gara gara itu ya?
Kurebahkan badan disampingnya lalu memeluknya dari belakang.
"Gak usah peluk peluk." Sinisnya sambil menyingkirkan lenganku dari pinggangnya. Singanya udah keluar nih. Ternyata datang bulan mengerikan juga efeknya.
"Abang mau kok nemenin kamu. Jangankan ke Jepang, ke kutub pun abang temenin." Gombal dikit agar dia meleleh dan lupa ngambek.
"Gak perlu kalau terpaksa." Masih dengan nada sinis. Sepertinya gombalanku gagal.
__ADS_1
"Siapa bilang terpaksa?"
"Udah ah, aku mau tidur." Cal menarik selimut sebatas leher. Begini nih kelakuan kalau udah ngambek.
Aku mengubah posisiku menjadi duduk sambil bersandar dikepala ranjang.
"Bukannya gak mau Cal, abang hanya malu. Abang kepala rumah tangga, apa iya semua semua pakai uang kamu? Apa yang akan dipikirkan orang orang nanti. Sama art dirumah kamu aja, aku malu Cal. Mungkin saja mereka membicarakanku dibelakang."
Mendengar itu, Cal segera bangun lalu memelukku.
"Maaf."
Diluar dugaan, dia malah minta maaf. Setelah digombalin gak berhasil, ternyata mengungkapkan uneg uneg malah bisa bikin dia luluh, lupa ngambek.
"Kamu gak salah." Sahutku sambil membelai rambut Cal.
"Aku yakin art dirumah ini baik baik. Gak akan ada yang ngomongin abang dibelakang. Kalau adapun, aku jamin mereka ngomongi semua kebaikan abang. Aku yakin abang akan jadi majikan idola mereka."
Aku seketika tergelak mendengarnya. "Gak cemburu apa kalau abang jadi idola."
"Cemburu lah, awas saja kalau ada yang berani tebar pesona sama abang." Tekan Cal sambil menirukan gerakan orang yang memenggal kepala. "Habis dia sama aku." Lanjutnya sambil melotot.
Aku tak bisa berhenti tertawa melihat ekspresi Cal. Kuacak acak puncak kepalanya saking gemesnya. Udah cantik, baik, kaya, gemesin, kurang apa coba.
"Galaknya istri abang." Godaku sambil mencubit pipinya.
...----------------...
Tenggorokan yang terasa kering, membuatku terjaga tengah malam. Kulihat air mineral diatas nakas sudah kosong. Tak ada pilihan, aku terpaksa harus turun kebawah.
Sepertinya pergerakannya membangunkan Cal.
"Mau kedapur ngambil air."
"Oh.."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya, kemudian dia melanjutkan tidur.
Aku bejalan menuruni tangga lalu menuju dapur. Lunyalakan lampu dapur agar tidak gelap. Baru saja aku mengambil air mineral dikulkas dan meneguknya, kurasakan sepasang lengan melingkar dipinggangku.
"Ngapain ikut turun, haus juga?" Tanyaku.
Bukannya menjawab, Cal malah memelukku makin erat dan menyandarkan kepalanya dipunggungku.
Aku melepas belitan tangannya lalu membalikkan badan.
"Kania!" Pekikku saking kagetnya malihat siapa yang baru saja memelukku.
"Iya aku." Sahutnya dengan ekspresi sangat menyedihkan. Membuatku yang ingin memarahinya karena memeluk sembarangan jadi tak tega. Mungkin dia sedih karena kedua orang tuanya ditangkap polisi.
Tiba tiba Kania menangis, membuatku jadi bingung. Tak ada orang selain kami berdua disini. Tidak, aku tak boleh terjebak di posisi ini. Bisa bisa Cal ngamuk kalau tahu berduaan dengan Kania didapur. Kalaupun bukan Cal, melainkan art yang melihat, takutnya timbul fitnah.
"Aku kembali ke kamar dulu." Pamitku sambil meraih botol air mineral diatas meja.
__ADS_1
"Tunggu."
Langkahku terhenti karena Kania tiba tiba memelukku dari belakang.
"Temani aku sebentar."
"Maaf Kania, aku gak bisa." Kulepas paksa tangannya yang melingkar dipinggangku. Tapi sialnya, dia malah memperkuat pelukannya.
"Lepas Kania." Geramku sambil menguraikan kasar tangannya. Kalau sudah seperti ini, aku gak bisa halus lagi.
"Awww..." Kania meringis kesakitan sambil menyentuh pergelangan tangannya. Apa aku terlalu kasar tadi. Ah sudahlah, salah dia sendiri.
"Tolong jangan seperti ini lagi. Aku gak mau Cal salah paham." Aku hendak pergi tapi lagi lagi Kania menghadangku lalu memelukku dari depan. Membuatku kaget setengah mati karena aksi nekatnya ini.
"Please, temenin aku bentar aja. Aku cuma mau curhat." Ujarnya sambil mengeratkan pelukan dan bersandar didadaku.
Aku membuang nafas kasar. Bebal sekali wanita ini. Disaat aku lagi lagi berusaha melepas pelukannya, Cal tiba tiba muncul.
"Apa apaan ini?" Teriak Cal yang terdengar begitu menggelegar ditengah malam yang sunyi.
Kania melepaskan pelukannya lalu menamparku
PLAKK
Sontak aku sangat terkejut.
"Kurang ajar, berani beraninya kamu memelukku. Dasar bajingan, pria tak tahu diri." Kania memakiku. Menuduhku melakukan perbuatan yang sama sekali tak aku lakukan.
Baru saja aku hendak membuka mulut untuk menejelaskan, mendadak batal gara gara,
PLAKK
Sekali lagi aku dibuat syok. Bukan, bukan aku yang titampar lagi, melainkan Kania. Cal menamparnya sangat kuat hingga telapak tangannya membekas dipipi Kania.
"Jangan berani beraninya menggoda suamiku." Tekan Cal sambil menatap Kania tajam.
Kania memegangi pipinya dengan nafas yang memburu. Aku yakin dia sangat emosi saat ini. Rencananya untuk menfitnahku malah berujung dapat tamparan.
"Suamimu yang sudah menggodaku." Seru Kania sambil menunjukku.
Aku berdecak mendengarnya. Sepertinya sifat buruk orang tuanya menurun pada Kania. Pantas saja Cal sangat membenci gadis ini.
"Kenapa diam saja?" Seru Kania padaku. Entah apa yang diapikirkan. Mungkin saja dikiranya aku tak bisa menjelaskan apa apa.
Aku hanya bisa tersenyum padanya. Licik, tapi bodoh. Mungkin itu yang paling sesuai untuknya.
Aku yang malas menjelaskan, hanya mengarahkan telunjukku pada kamera cctv yang ada didapur.
Wajah Kania seketika pias. Aneh, sudah lama tinggal disini, tapi tak menyadari keberadaan cctv didapur. Apa saking tak pernahnya dia masuk dapur?
"Aku tak perlu bicara apa apa karena benda itu yang akan membuktikan." Ujarku yakin.
Cal bersedekap sambil geleng geleng.
__ADS_1
"Sepertinya kamu salah mangsa." Ledek Cal sambil tersenyum miring.
"Segera kemasi barang barang kamu. Aku tak mau besok pagi masih melihatmu disini." Cal meraih tanganku lalu mengajakku kembali kekamar. Saat menaiki tangga, aku bisa mendengar suara Kania yang mengamuk. Tak hanya teriak, sepertinya dia juga membanting barang.