
Ternyata benar kata Santi, makin sore pantai makin ramai. Mungkin mereka sengaja datang sore untuk melihat sunset. Ahh....jadi kangen Biru kalau ngomongin sunset. Bener bener bikin ngangenin suamiku itu. Bentar aja gak ketemu udah kangen.
Suit suit
Segerombol cowok menyiuli kami. Merasa ada mangsa, aku dan Santi gercep mendekat. Segera kami tawarkan dagangan pada mereka.
"Kalau orangnya, dijual gak?" Tanya salah satu dari mereka yang seketika membuat darahku mendidih. Itu bukan pertanyaan, sudah masuk ranah pelecehan verbal menurutku.
"Pergi yuk." Santi menarik tanganku agar segera meninggalkan mereka. Sepertinya dia juga kesal.
"Eits, tunggu dulu cantik." Salah satu dari mereka menahan tanganku. Tak terima disentuh, segera aku hempaskan tangannya.
"Hei, jangan berani sentuh sentuh." Salakku sambil memelototinya.
"Wow galak juga rupanya. Tapi gue suka modelan kayak gini." Ujarnya yang langsung disambut tawa oleh teman temannya.
"Sumpah gak kuat gue. Nih cewek mandi susu kali ya tiap hari? Kulitnya putih dan mulus banget cuyy." Ujar lainnya sambil menatapku dengan jakun naik turun.
Sepertinya situasi sudah mulai tidak kondusif. Kayaknya kami salah nyari konsumen. Daripada buang waktu, mending segera pergi.
Aku dan Santi saling kode dengan mata dan hendak melangkah pergi. Sayangnya mereka seperti tahu dan lagi lagi mencekal pergelangan tanganku.
"Lepas." Teriakku sambil berusaha berontak. Tapi tangannya terlalu besar dan kuat untuk aku lawan.
"Lepasin temanku." Ujar Santi sambil membantuku melepaskan tangan dari pria itu. Disaat kami sibuk berontak, salah satu pria dengan beraninya menyentuh pipiku.
"Gile, mulus banget pipinya cuyyy."
"Aku bilang jangan sentuh." Bentakku dengan nafas memburu karena emosi.
"Lepaskan temanku atau aku panggilin orang orang buat gebukin kalian." Ancam Santi. Bukannya takut, mereka malah tertawa ngakak.
"Heh, kalian yang datang dan menggoda kami duluan. Jadi jangan memutar balikkan fakta seakan kami yang menggoda kalian."
"Menggoda, cuih." Ujar Santi sambil meludah. "Gak level kami godain cowok kayak kalian." Lanjutnya sambil menuding mereka satu persatu.
"Heh, kami juga gak level godain lo. Yang kami mau dia, bukan lo." Sahutnya sambil menyentak tanganku kasar hingga sakit.
Mereka benar benar kurang ajar. Geram sekali hati ini dibuatnya. Aku memberi kode pada Santi melalui kedipan mata. Setelah Santi menganggguk, aku langsung menendang kemal luan pria yang memegang tangaku.
Bugg
"Aduhhh, dasar lon te sialan." Makinya sambil sambil memegangi adik kecilnya yang sakit. Bengkak kali karena tendanganku, bodo amat. Aku mengibaskan tanganku yang panas karena cekalannya lalu kabur bersama Santi.
"Jangan kabur kalian." Teriak lainnya sambil mengejar kami.
__ADS_1
Santi menunduk untuk mengambil pasir lalu melemparkan kewajah mereka.
"Kurang ajar." Teriak mereka sambil kalang kabut karena kelilipan pasir. Aku dan Santi langsung ketawa ngakak. Sebelum lanjut berlari, aku sempatkan diri untuk menampar pipi cowok yang tadi menyentuh pipiku.
Plakk
"Balasan karena udah berani nyentuh pipi aku." Makiku lalu mengejar Santi yang udah duluan lari. Kupikir mereka udah nyerah, ternyata belum juga putus asa dan masih mengejar.
Melihat ada sekumpulan ibu dan anak anak, aku dan Santi langsung mendekat. Yakin mau ngelawan emak emak segini banyak? batinku seraya tersenyum. Kulihat mereka mendadak berhenti mengejar. Aku dan Santi yang merasa menang langsung tos lalu menjulurkan lidah mengejek mereka. Mereka pikir kami wanita lemah, enak aja. Kalian salah cari lawan bro.
Kami berdua duduk selonjoran didekat gerombolan ibu ibu sambil mengatur nafas yang ngos ngosan. Serasa habis berpetualangan saja, ceile bahasanya.
"Pulang aja yuk, takut ketemu mereka lagi." Ujarku.
"Gak usah takut. Ini itu tempat umum. Lagian aku orang asli sini, banyak kenalan. Mereka tak akan berani macam macam."
Benar juga kata Santi, ditempat umum seperti ini mana ada yang berani macam macam. Pengen digebukin orang sepantai apa?
Aku menengadahkan wajah keatas dengan kedua lengan bertumpu pada pasir. Memejamkan mata sambil menikmati angin sepoi sepoi.
"Cal." Santi menyenggol bahuku.
"Paan sih." Sahutku tanpa membuka mata.
"Callll."
"Tuh." Dia menunjuk dagu kearah depan dengan raut cemas.
"Mereka datang lagi?" Tanyaku masih dengan manatap Santi yang ada disebelah.
"Mereka siapa?"
Kedua tanganku yang menopang tubuh seketika ambruk mendengar suara itu. Dengan posisi tubuh yang terlentang diatas pasir, aku bisa melihat sosok jangkung yang berdiri di hadapanku.
"Biru." Gumamku lemas. Buru buru aku bangun dan membenarkan dress yang sedikit menyingkap hingga menampakkan celana pendekku.
Mampuslah aku kali ini. Kulihat sorot mata Biru seperti mau menelanku hidup hidup. Kulihat Santi buru buru memakai jaketnya.
"Pulang!" Ujar Biru tegas dengan tatapan mengintimidasi. Tubuhku mulai gemetaran, sepertinya dia akan marah besar melebihi kemarin.
Aku seketika berdiri sambil membersihkan gaun yang kotor karena pasir.
Santi cepat cepat berdiri dan menggenggam tangan Biru. "Tolong jangan bilang sama Mas Gani ataupun ibu ya." mohonnya dengan raut cemas.
Biru menghempaskan tangan Santi lalu menatap kami bergantian. Tanpa bicara sepatah katapun, dia tiba tiba menarik tanganku pergi dari sana. Aku ikut saja kemana dia membawaku. Hingga kami berhenti disamping motor Biru yang ada diparkiran.
__ADS_1
Biru kembali menatapku tajam. Membuatku menarik narik ujung minidress dengan harapan bisa mendadak jadi panjang gaun yang kupakai itu. Biru menghela nafas, kemudian melepas jaket jeansnya. Melingkarkan bagian lenganya dipinggangku lalu mengikatnya dibelakang. Tertutuplah sudah paha mulusku ini.
"Naik!" Titahnya dingin sembari naik keatas motor dan menyalakan mesin. Gegas aku naik dan melingkarkan tangan di pinggangnya. Beruntung meski marah dia tak melepaskan tanganku.
Sepanjang jalan, Biru hanya diam. Begitupun aku yang tak berani buka suara sama sekali. Sesampainya dirumah, kembali Biru mendudukanku dikursi ruang tengah. Sepertinya kursi itu sengaja diciptakan untukku sebagai kursi sidang.
"Maaf." Ujarku sambil menunduk dan meremat jari.
Biru mengambil ponselnya lalu menunjukkan sebuah vidio padaku.
Mataku membeliak dengan mulut menganga melihat vidio itu. Darimana Biru mendapatkan vidioku yang sedang berjualan dipantai. Tepatnya saat aku bersama beberapa orang cowok yang tadi memborong daganganku. Tak terdengar obrolan kami. Hanya bagian akhir saat cowok itu teriak akan meneleponku malam ini, yang terdengar jelas. Tapi jusru itulah boomerangnya.
"Siapa mereka?"
"Aku... aku gak kenal. Mereka cuma beli daganganku." Jawabku gugup.
"Yakin cuma beli dagangan kamu, bukan sekalian kenalan dan ngasih nomor ponsel?"
Sekatika aku menggeleng cepat. Siapa sebenarnya yang mengirim vidio itu? Dan apa tujuannya?
"Masih mau bohong? Padahal udah jelas dividio itu dia sedang menulis sesuatu diponsel. Setelah itu dia bilang akan meneleponmu. Masih mau ngelak kamu?" Biru tampak kesal. Tapi entah kenapa, ada sedikit perasaan senang dihatiku.
"Kamu cemburu ya?" Tanyaku sambil tersenyum.
Biru membuang nafas kasar lalu memegang kedua bahuku dan menatapku.
"Jangan kepedean."
Jleb
Rasa senangku seketika menguap begitu saja.
"Aku hanya merasa wajib menasehatimu karena kamu istriku. Tapi.."
"Tapi apa?"
Biru maju lalu melepaskan jaketnya yang masih bertengger dipinggangku.
"Sepertinya kamu memang nyaman dengan pakaian seperti ini?" Ucapnya sambil menatap pakaianku. "Mungkin sebelum amnesia, memang seperti ini dandanan kamu. Setelah ini, aku tak mau terlalu ikut campur lagi. Pakailah apapun yang kamu sukai, aku tak akan melarang lagi. Pernikahan kita hanya formalitas. Sepertinya aku memang tak ada hak buat terlalu mengatur kamu. Dan kalau memang kamu menyukai cowok tadi atau cowok manapun, bilang sama aku. Aku gak akan nahan kamu jika kamu ingin lepas dariku."
Dadaku nyeri mendengarnya. Kenapa jadi seperti ini masalahnya.
Aku memeluk Biru dari belakang saat dia hendak pergi.
"Aku janji akan nurut sama kamu. Aku janji ini terakhir kalinya aku pakai baju seperti ini. Dan untuk cowok tadi, dia hanya pembeli. Aku tak menyukainya ataupun cowok lain. Aku menyu_"
__ADS_1
"Udahlah Cal, aku capek." Biru memotong ucapanku saat bibir ini hendak mengatakan jka aku menyukainya.
"Aku mau istirahat. Tolong jangan ganggu." Dia melepaskan belitan tanganku lalu masuk kedalam kamar.