
POV CALLISTA
Apakah seorang wanita sejatinya harus bisa memasak? Apakah sudah kodrat wanita untuk berada didapur? Entahlah statemen itu benar atau salah. Mungkin jaman dulu dianggap benar, tapi jaman sekarang? Jaman emansipasi manita ? Statemen itu tidaklah benar seratus persen benar. Tapi apapun itu, aku tetap bertekad untuk bisa memasak.
Demi mengirit pengeluaran, Santi mengajariku memasak gulai ikan asin. Santi memberikanku ikan asin secara gratis dan aku hanya tinggal membeli bumbu dan santan. Dia bilang, Biru juga menyukai masakan yang satu ini selain asam manis.
"Kamu itu jangan mikirin bawah perut terus, isi perut suami juga harus dipikirin." Santi memulai ceramah kenegaraannya. Sebagai wanita yang lebih dulu berumah tangga, dia jelas lebih berpengalaman daripada aku.
"Laki itu akan lebih betah dirumah jika masakan istrinya enak." Lanjutnya sambil menyiapkan bumbu. Sedangkan aku dia suruh memarut kelapa. Sungguh pekerjaan yang enggak banget menurutku, karena ribet bin syusyah. Aku sudah berniat membeli santan instan tapi dilarang oleh Santi dengan alasan kurang enak. Padahal sama sama santan, dasar Santi, senang kali melihat aku menderita.
"Susah juga ya Cal jadi orang amnesia. Masak aja lupa, jadi belajar lagi mulai dari awal."
Aku itu tidak lupa, tapi gak bisa. Hadeh....Tapi aku diam saja, karena masih mode pura pura amnesia.
"Eh Cal, ngomong ngomong kemarin Biru kok tiba tiba ada dipantai sih? Tahu darimana ya dia?"
Pertanyaan Santi mengingatkanku tentang vidio itu. Jelas ada yang sengaja merekam kami untuk tujuan menjatuhkan. Jangan jangan..Safa pelakunya. Aku jelas jelas melihat dia hari itu.
"Aduh..." Pekikku saat jariku terkena parut karena sibuk mikirin asal muasal vidio. Buru buru aku berlari kewastafel untuk mencuci tangan karena sedikit mengeluarkan darah.
"Makanya konsen, jangan bengong aja." Ucap Santi sambil memeriksa jari tengah dan telunjukku yang berdarah. Dia gegas mengambil plester dirumahnya lalu kembali lagi.
"Gara gara kamu nih. Kalau aja aku tadi beli santan instan, pasti gak gini jadinya." Gerutuku saat Santi memasang plester dijariku.
"Halah gini doang. Aku udah ribuan kali kena parutan kelapa tapi masih utuh jariku. Justru Biru akan makin cinta kalau tahu kamu belajar masak sampai berdarah darah."
Aku hanya menyebikkan bibir mendengar ucapan lebaynya.
"San, kamu inget gak, kemarin aku bilang ngelihat Safa?"
"Kamu salah lihat pasti. Safa kan kuliah di kota."
"Enggak San, aku beneran ngelihat dia. Selain itu, ada yang ngirim vidio ke Biru saat kita jualan dipantai. Feelingku mengatakan jika Safa yang melakukannya."
__ADS_1
"Apa! Ada yang ngirim vidio ke Biru?" Santi kaget setengah mati.
"Iya. Makanya Biru bisa tahu kita lagi jualan dipantai. Dan dulu aku pernah denger Safa bilang ke Biru, kalau dia akan pulang setiap weekend. Jadi kurasa Safa memang ada dikampung sekarang."
"Kalau beneran Safa yang ngelakuin, awas aja dia. Gak bakal aku apa apain." Serunya penuh ambisi didepan tapi melempem dibelakang.
"Kok gak diapaapain sih?" Protesku.
"Aku gak berani kalau sama dia. Dia anak pak lurah. Selain itu pendidikannya tinggi. Dia pinter ngomong Cal. Yang lulusan SMP kayak aku mah lewat kalau musuh dia. Selain itu, imej dia terlalu bagus dikampung sini. Kalau aku ada masalah sama dia, bisa dibulli satu kampung diriku ini."
Ya elah, kirain Santi itu gak ada takut takutnya, ternyata dia takut sama Safa. Ada benernya juga omongan Santi. Orang kecil kayak dia, melawan penguasa, plus kaya, pinter dan punya banyak koneksi, jelas dia bukan lawan sepadan. Kadang yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar jika yang kita lawan terlalu berkuasa. Tapi tidak denganku. Jangan dipikir aku akan takut padanya.
Setelah masakan kami siap, aku segera bersiap siap untuk menyusul Biru. Berdandan tipis tipis, memakai dress yang sopan dan tak ketinggalan pakai topi yang dibelikan Biru.
"Semangat mengejar maaf Cal, biar gak galau lagi karena gak dapat jatah." Teriak Santi saat aku baru saja sampai didepan rumah. Malu maluin banget tuh anak, untung gak ada orang. Mau ditaruh mana muka ini kalau orang beneran mikir aku galau karena gak dapat jatah.
Dengan langkah lebar penuh semangat dan totebag berisi makanan, aku berjalan menuju pantai tempat Biru menyandarkan kapal. Aku pernah sekali diajak kesana, jadi sudah tahu tempatnya.
Aku lebih dulu mampir ketempat penjual es kelapa muda agar acara makan bersama kami kian lengkap.
Dengan totebag ditangan kanan dan plastik berisi es degan di tangan kiri, kulanjutkan langkah menuju tempat Biru.
Pantai yang luas membuatku sedikit kesulitan mencari keberadaan Biru. Ditambah lagi banyaknya perahu yang bersandar, membuatku tak tahu mana yang milik Biru. Aku terus berjalan sambil celingukan mencarinya. Hingga akhirnya, mata ini menemukan sosok yang aku cari tengah duduk dibawah pohon.
Semua khayalan indahku makan bersama pupus sudah. Kulihat Biru tengah makan dan bersenda gurau dengan seorang wanita yang tak lain tak bukan adalah Safa. Dadaku nyeri melihat Biru yang tampak bahagia. Dia tertawa lepas bersama Safa. Seperti inikah rasanya patah hati? Sakit, sakit sekali.
Kakiku terasa lemas, rasanya aku tak sanggup berjalan kearah mereka. Tapi Biru lebih dulu melihat kearahku sebelum aku sempat pergi. Kalau sudah seperti ini, tak mungkin aku pergi begitu saja. Kukuatkan kaki dan hati untuk melangkah mendekati mereka.
Biru kelihatan terkejut melihatku, tapi dia sama sekali tak bersuara.
Kupasang senyum palsu demi menyembunyikan rasa sakit ini. Dadaku bergemuruh melihat apa yang ada ditangan Biru. Nasi dengan lauk kepiting asam manis. Menurut Bu De, kepiting adalah makanan yang paling disukai Biru. Melihat isi piring yang tinggal sedikit, sepertinya mereka sudah berduaan cukup lama.
"Sepertinya aku terlambat." Ujarku sambil meletakkan totebag dan es kelapa muda disebelah Biru.
__ADS_1
"Kamu bawa_"
"Makanan." Potongku cepat sebelum Biru melanjutkan ucapannya.
"Biru udah kenyang Cal. Barusan nambah dia. Nih lihat, kepiting asam manisku sampai ludes." Safa memamerkan kotak makan bekas wadah kepiting yang udah kosong.
Aku melihat piring bekas makan disebelah Safa. Sepertinya tadi, mereka makan berdua. Aku yang berkhayal, kenapa mereka yang merealisasikan? Sungguh pahit kenyataan ini. Jangan jangan mereka udah janjian mau makan bersama, makanya Biru menolak sarapan dirumah pagi ini.
"Kamu masak apa?" Tanya Biru.
"Gulai ikan asin."
"Itu kesukaan Lisa." Sahut Safa. "Karena Biru udah kenyang, mending kamu bawa pulang dan kasih ke Lisa, daripada mubadzir."
Tanganku mengepal mendengar ucapannya. Enak sekali dia bilang kasih ke Lisa. Aku masak sampai berdarah darah dan disuruh kasih ke Lisa? Hello..gak salah ngomong.
"Bawa pulang aja. Biar nanti aku makan pas makan malam." Ucap Biru dingin. Aku tahu dia masih marah padaku, masih kecewa karena kemarin. Tapi haruskah dia menunjukkan sikap dinginnya didepan Safa? Wanita itu pasti tengah bersorak gembira saat ini.
"Aku disini saja, nemenin kamu benerin kapal." Putusku sambil langsung duduk disebelah Biru. Tak rela kalau membiarkan mereka berduaan saja dipantai yang sepi ini.
"Mesinnya udah selesai aku perbaiki. Tinggal dicoba aja. Habis ini, aku mau nyoba ngetes mesinnya. Jadi mending kamu pulang daripada disini sendirian."
Kulihat Safa menahan tawa mendegar ucapan Biru. Apa aku terlihat seperti orang bodoh dimatanya?
"Oh...jadi kalian mau nyobain perahu berduaan?" Tanyaku sambil tersenyum getir. Tak bisa lagi aku menyembunyikan kekesalanku. "Baiklah, lakukan." Geramku sambil berdiri dan menendang kotak makan kosong milik Safa. "Sorry gak sengaja." Ucapku lalu pergi. Tak ada pilihan lain selain pergi dari pada makin sakit hati melihat kebersamaan mereka.
"Kasar sekali istri kamu itu." Ujar Safa yang masih bisa terdengar olehku.
Aku kesal pada diriku sendiri. Andai saja aku tidak trauma pada laut, sudah pasti aku bisa ikut naik perahu. Kali ini aku kalah, tapi selanjutnya, aku tak akan memberikan peluang sedikitpun padamu Safa. Tertawalah sepuasnya sekarang, tapi setelah ini, jangan harap kamu masih bisa tertawa.
Seperti di adegan film, aku barharap Biru mengejar dan membujukku. Nyatanya sampai jauh kaki ini melangkah, tak kudengar derap kaki ataupun panggilan dari Biru.
Aku menoleh sebentar kebelakang. Dan disaat bersamaan, ternyata Biru juga melihatku. Untuk beberapa saat, mata kami saling beradu. Tapi dia lebih dulu menundukkan pandangan. Pupus sudah harapan Biru akan mengejarku.
__ADS_1