Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
ADA HANTU


__ADS_3

POV CALLISTA


Aku bersenandung sambil memotong wortel tipis tipis. Pagi ini aku belajar membuat cap cay melalui internet. Kasihan juga kalau tiap hari suamiku makan ikan goreng dan telur ceplok mulu. Entah hasilnya nanti seperti apa, yang penting eksekusi dulu.


Biru sedang mencuci baju dikamar mandi. Sungguh suami idaman, dia sering kali mengambil alih tugasku mencuci baju.


Tok tok tok


Suarak ketukan pintu membuat aku menghentikan aktifitasku sejenak. Siapa pagi pagi udah bertamu, ganggu orang aja. Karena suara ketukan dan salam terus menerus, aku terpaksa bangkit dan berjalan menuju ruang tamu.


"Assalamualaikum."


"Wa_" Suaraku tertahan saat mendengar suara berisik dari balik pintu. Seperti suara Kania? Kak Ken sudah pamit pulang dini hari tadi. Jadi, mungkinkah Kania masih disini?


Sebelum membuka pintu, kuintip sedikit dari celah korden yang pagi ini memang lupa belum aku buka.


Oh my God, jadi benar ada Kania diluar. Untuk apa dia kesini? Kak Ken gak ngomong macem macemkan sama dia?


Gegas aku berlari kekamar mandi untuk memanggil Biru. Kusuruh dia yang membukakan pintu.


"Waalaikumsalam." Sahut Biru dari dalam. Sedangkan aku hanya bisa berada diruang tengah sambil mengintip sedikit dan mencuri dengar.


Saat pintu dibuka, kulihat Safa, Kania dan tiga orang lainnya masuk.


Kulihat Kania memakai tas branded milikku. Saat kuperhatikan lagi, sepatu yang dia pakai juga milikku. Sebegitu inginnya dia menjadi seperti aku dengan memakai barang barang milikku.


"Silakan duduk." Biru mempersilakan.


"Maaf pagi pagi ganggu. Mereka mau pamit, mau kembali ke kota." Ujar Safa dan diangguki teman temannya.


"Makasih karena udah bantuin kita bikin konten kemarin." Ujar salah pria yang ada disana.


"Cal mana?"


Mataku mendelik mendengar Safa menyebut namaku. Jangan sampai Kania curiga mendengar nama Cal.


"Cal?" Kania tampak mengerutkan kening sambil menatap Safa.


"Istrinya_"


"Dia lagi keluar." Potong Biru cepat. Sepertinya dia takut Safa makin banyak bicara dan bisa bikin Kania makin ingin tahu banyak.


Kemudian mereka mengobrol tentang konten dan keseruan kemarin. Lagi lagi Safa menawari Biru melanjutkan kuliah dengan beasisiwa bantuan dari Kania. Muak sekali aku mendengarnya. Apalagi saat kulihat ekspresi pongah Kania saat dia disebut sebagai anak pemilik CALS.


Disaat mereka tengah asik mengobrol, kulihat Santi tiba tiba nongol dari dapur. Segera kuletakkan telunjuk dibibir saat dia hendak buka suara. Aku tak mau mereka tahu jika aku ada dirumah.


Kutarik Santi menuju pintu belakang.


"Ada apa sih Cal? Tuh dirumah kamu rame ada siapa?"


"Jangan kenceng kenceng." Desisku sambil memelototinya. Tiba tiba terlintas sebuah ide dikepalaku.


"Bikinin teh buat mereka."


"Dih, ngapain aku. Kan kamu nyonya rumahnya."


"Aku kasih seratus ribu."


"Cal, kamu beneran orang kaya ya?" Tanyanya dengan wajah penasaran tingkat dewa. Sepertinya kemarin dia memang mendengar percakapanku dengan Kak Ken.


"Banyak nanya aku potong 50 ribu."


"Ok, aku buatin sekarang."


Eh busyet, denger mau dipotong, langsung tancap gas menuju dapur dan ngerebus air. Dasar otak duit.


Sementara Santi sibuk bikin teh, aku kekamar untuk mengambil kertas dan menulis sesuatu disana menggunakan lipstik merah.

__ADS_1


"Apaan tuh?" Tanya Santi saat aku menyodorkan secarik kertas yang dilipat kecil padanya.


"Mau uang seratus ribu lagi gak?"


"Mau mau." Dia mengangguk semangat. Dua ratus ribu jelas jumlah yang lumayan buat dia.


"Tumpahin teh ke cewek yang pakek baju pink. Dan masukin ini diam diam kedalam tasnya, lalu ajak dia ketoilet."


"Waduh, susah itu Cal. Aku takut dia marah. Apalagi kalau bajunya mahal, bisa bisa aku tekor karena disuruh gantiin."


"500 ribu." tawarku.


"Ok." Langsung dia tarik kertas ditanganku. Mengambil nampan dan gegas kedepan. Dasar otak duit. Tak mau ketinggalan momen penting, aku kembali mengintip mereka.


"Ini istri kamu?" Tanya seorang cowok yang melihat Santi muncul dari dalam.


"Bukan, saya sepupunya." Sahut Santi sebelum Biru sempat menjawab. Setelah itu dia meletakkan teh dihadapan masing masing tamu. Dia yang melakukan, kenapa aku yang deg degan. Tepat saat dia hendak meletakkan teh didepan Kania, dengan pandainya dia pura pura kesandung hingga teh itu tumpah mengenai kaos dan tas Kania yang saat itu dia pangku.


"Maaf maaf." Santi menyaut tisu dimeja lalu mengelap tas Kania.


"Gimana sih, baju saya jadi kotorkan." Kania berdiri sambil mengibas ngibas kaosnya yang terkena tumpahan teh. Dia terlihat sangat jengkel.


"Maaf, maaf mbak. Saya gak sengaja. Tiba tiba kesandung kaki meja. Mungkin gugup karena lihat wanita secantik mbak."


Aku mau muntah dengernya. Pinter juga si Santi nyari muka biar gak dimarahin Kania.


"Maafin saudara saya ya." Biru ikutan angkat bicara.


"Mau ketoilet mbak, biar saya antar."


Kania terlihat enggan, tapi kemudian dia mengangguk. Segera aku berlari kedapur dan bersembunyi di WC yang ada disebelah kamar mandi.


"Itu mbak kamar mandinya. Sekali lagi saya minta maaf."


Tak kudengar sahutan Kania. Tapi sesaat kemudian, kudengar pintu kamar mandi ditutup dan mulai ada suara gemericik air.


"Tolong.....tolong....tolong aku Kania.....Aku kedinginan."


Sengaja kubuat suara semeyanyat hati mungkin agar terkesan horor.


Dan benar saja,


Brakk


Sepertinya Kania ketakutan dan langsung membuka pintu kamar mandi.


"Ada apa mbak?" Tanya Santi yang menunggu didekat kamar mandi.


"Tolong ....tolong....tolong aku Kania. Aku kedinginan."


"Su, su, suara itu. Kamu dengar suara itu?" Tanyanya terbata. Aku yakin dia ketakutan setengah mati sekarang.


"Suara apa? Saya gak dengar apa apa."


Kubekap mulutku agar tawaku tak meledak. Santi emang jago akting. Aku terus memutar rekaman itu hingga Kania berteriak histeris..


"Hantu...."


Puas sekali aku berhasil mengerjainya. Setelah dia kembali aku keluar dari WC dan tertawa terbahak bahak dengan Santi.


Aku gegas menuju depan untuk melihat drama selanjutnya.


"Ada apa sih Kan?" Tanya temannya.


"Ada hantu." Kania meraih tasnya dan hendak pergi.


"Katanya mau ngasih Biru tips." Temannya menahan lengan Kania.

__ADS_1


Kania membuka tasnya. Dahinya tiba tiba mengkerut. Pasti dia melihat kertas yang dimasukkan Santi tadi. Padahal aku pikir dia akan membukanya dirumah.Tapi jika dibuka disini, itu lebih baik lagi. Biar aku bisa lihat tampang pucat pasinya karena ketakutan.


Ternyata keberuntungan berpihak padaku. Kania mengambil lipatan kertas itu lalu membukanya.


"Hantu..!" Teriaknya sambil melempar kertas itu lalu lari terbirit birit keluar dari rumah.


"Ada apa sih dia, aneh banget." Kata temannya sambil meraih kertas yang tergeletak dilantai.


"Apaan sih?" Safa kepo dan ikutan melihat.


Tolong..tolong aku Kania..Aku kedinginan disini. Tolong aku Kania, temani aku disini.


Sengaja kutulis jelek dengan lipstik merah agar terkesan horor.


"Apaan ini maksudnya?" Tanya Safa.


"Gak tahu, udah yuk kita susul Kania." Ujar salah satu dari mereka.


"Biru, kita pamit dulu ya."


Mereka semua akhirnya pergi dari rumahku. Sementara aku dan Santi terkekeh sehabis melihat tontonan gratis tadi.


Biru menatapku sambil geleng geleng. "Kamu ngerjain Kania?"


Aku mengangguk sambil terus tertawa. Hingga akhirnya, tawaku terhenti saat Santi menengadahkan telapak tangannya dihadapanku.


"500 ribu." Ucapnya dengan wajah berbinar.


"500 ribu apaan?" Biru mengernyit.


"U_"


"Urusan wanita." Langsung kupotong ucapan Santi sambil menginjak kakinya. Aku tak mau Biru marah kalau tahu aku ngeluarin uang 500 ribu untuk hal remeh seperti ini.


Kuseret Santi menuju kamar dan kuberikan uang sesuai janjiku.


Mata Santi seketika hijau melihat lima lembar uang seratus ribuan.


"Cal, apa yang aku denger kemarin benar ya, kamu anak orang kaya dan punya banyak warisan?"


Jadi benar Santi dan Gani nguping. Tapi ya sudahlah, sepertinya aku harus jujur mengingat besok aku sama Biru mau kekota. Gimanapun, malam ini aku harus pamit sama mereka.


"Benar, tapi tolong jangan bicara apapun sama orang lain."


Santi menutup mulutnya yang menganga. Dia terlihat sangat syok.


"Besok aku dan Biru akan kekota." Hanya mengatakan itu, kenapa mataku memanas. Rasanya berat meninggalkan tempat ini dan orang orang disini yang menyayangiku.


"Ka, kamu mau pergi Cal?"


Aku mengangguk.


Mata Santi tampak berkaca kaca, kemudian dia memelukku.


"Kamu mau ninggalin aku Cal?" Santi mulai terisak. Kami hanya kenal sebulan lebih, tapi entah kenapa, hubungan ini terasa begitu dekat.


"Gak ninggalin San. Kita pasti akan bertemu lagi. Bagaimanapun, ini kampung suamiku. Kami masih akan sering kesini. Dan jika masalahku dikota selesai, aku akan ngajak kamu, Gani, Galang, Pak De dan Bu De kerumahku."


Santi melepaskan pelukannya lalu menatapku.


"Apa masalah kamu sangat berat Cal? Dari yang kudengar kemarin, ada yang ingin membunuhmu."


"Doakan saja semuanya segera teratasi San."


"Aamiin...aku akan selalu mendoakanmu."


Kami berdua kembali berpelukan dan menangis.

__ADS_1


__ADS_2