
POV BIRU
Sebenarnya aku ingin mengatakan keberatan saat Cal berniat KB. Tapi aku tak mau egois. Dia yang hamil, dia yang melahirkan, tak mungkin aku memaksa jika dia belum siap.
Baru saja Cal pergi bersama Santi ke puskesmas, aku sudah merindukannya. Aku sempat menawarkan diri mengantarnya, tapi tak tahu kenapa, dia lebih memilih pergi dengan Santi.
Untuk menghilangkan rasa bosan, aku membuka ponsel dan melihat lihat sosial media. Kemarin tanpa sengaja, aku melihat Cal membuka ig. Aku penasaran apakah dia punya akun ig dulunya sebelum amnesia.
Untuk menghilangkan rasa penasaran itu, aku membuka aplikasi ig. Ku ketik nama Callista di pencarian. Dan hasilnya, begitu banyak akun atas nama Callista. Aku buka satu persatu, tak juga kutemukan profil dengan menggunakan foto Cal. Mungkin dia punya akun dengan nama lain, lebih baik aku tanyakan saja nanti padanya.
Sebelum out, aku sempatakan mencari di tagar Cal. Ku scroll ke bawah hingga mata ini menemukan foto yang mirip Cal dengan latar pemandangan Jepang. Belum sempat aku melihat akun itu, suara pintu yang dibuka kasar mengagetkanku.
Brakkk
Kuletakkan ponsel dan berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang masuk.
"Cal." Ucapku sambil menatap bingung kearahnya. Bukankah dia baru berangkat, cepat sekali pulang? Dan kenapa wajahnya tampak kesal.
"Kok cepet banget?"
Cal tak menjawab, dia menghempaskan tubuhnya keatas kursi sambil membuang nafas kasar.
Tak lama kemudian Santi masuk untuk mengambalikan kunci motor padaku.
"Ada apa?" Tanyaku pada Santi sambil menunjuk dagu kearah Cal.
"Lagi kesel sama mantan kamu." Jawab Santi ketus.
"Maksudnya?"
"Ayo kita punya anak." Ujar Cal tiba tiba.
Aku melongo menatapnya. Bukankah barusan dia bilang mau pasang KB, kenapa sekarang tiba tiba mau punya anak?
"Aku mau punya anak, SECEPATNYA." Tekan Cal sambil menatapku tajam.
Aku makin bingung dengan kata katanya. Pulang pulang kenapa jadi aneh gini sih? Jangan jangan nih anak kesambet pas dijalan tadi.
"Ada apa sih San?" Aku bertanya pada Santi yang berdiri disebelahku.
"Gara gar_"
Santi menghentikan ucapannya melihat Cal beranjak dan langsung menyambar lenganku.
"Ayo bikin anak." Cal menarikku yang masih terbengong bengong ini menuju kamar.
"Hei...terus aku gimana? kok ditinggal begitu aja?...." Santi masih terus nyerocos sementara Cal membawaku masuk kedalam kamar lalu menguncinya. Ini beneran dia ngajak aku bikin anak? Belum sempat aku melontarkan pertanyaan itu, Cal sudah menyambar bibirku dan menciumku panas. Ciuman itu baru berakhir ketika kami sama sama kehabisan nafas.
"Ada apa sih Cal?" Tanyaku sambil menangkup kedua pipi Cal. Aku bisa melihat emosi diwajahnya.
"Sebel banget sama mantan kamu." Jawabnya dengen bibir mengerucut.
"Kenapa emang?"
"Dia bilang aku KB karena kamu gak mau punya anak dari wanita yang gak jelas dan gak kamu cintai."
Jadi itu sebabnya. Jadi gara gara omongan Safa dia uring uringan kayak gini.
"Ya terus, kamu terpengaruh sama omongannya?"
"Aku sakit hati Bi." Sahutnya sambil menunduk.
Kusentuh dagunya dan kuangkat sedikit agar menatapku.
"Emang Safa bisa tau isi hatiku? Emang Safa bisa ngerti apa yang aku rasakan?" Aku menggeleng. "Dia tak tahu apa apa tentang hatiku Cal."
Kuraih telapak tangan Cal dan kuletakkan didadaku. "Disini, hanya ada kamu. Selama jantung ini berdetak, Biru hanya akan mencintai Callista."
__ADS_1
"Gombal." Cibirnya sambil menarik telapak tangannya dari dadaku.
"Kalau menurut kamu itu hanya bualan. Dengan apa aku harus membuktikan?" Kuraih kedua tangannya dan ku genggam erat.
"Jangan pernah mendengarkan kata kata orang yang iri dengan kebahagiaan kita. Cukup dengarkan kata hatimu saja? Tanyakan pada hatimu, apakah menurutmu aku benar mencintaimu atau tidak?"
Cal melepaskan genggaman tanganku lalu memelukku.
"Aku mencintaimu Cal." Ucapku sambil mengecup pucuk kepalanya beberapa kali.
"Kamu beneran mau punya anak?" Tanyaku sembari mengusap lembut rambutnya.
Cal melepaskan pelukannya lalu menatapku. Aku bisa melihat kegalauan dari sorot matanya.
"Aku tak mau kamu berubah pikiran hanya karena ucapan Safa. Kalau kamu ingin punya anak, harus dari hatimu." Kuletakkan telapak tanganku didadanya. "Bukan karena panas pada orang lain. Kembali lagi, tanyakan pada hati kamu? Sudah siap apa belum kamu punya anak?"
"Boleh aku bertanya?"
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu sudah ingin punya anak apa belum?"
Kusentuh pipi Cal lalu kurapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan. "Sebenarnya aku tak ingin menunda, tapi semua keputusan, aku serahkan pada kamu. Karena kamu yang akan mengandung dan melahirkan, bukan aku."
"Ya udah, aku mau punya anak."
Bagai ladang tandus yang tersiram hujan, begitu pula hatinya. Rasanya langsung sejuk mendengar ucapan Cal barusan.
"Yakin?"
Cal mengangguk pelan sambil memainkan jari jarinya.
"Ya udah ayo."
"Kemana?" tanyanya dengan dahi mengkerut.
...----------------...
POV CALLISTA
Hari ini aku pergi ke pusat kota kecil didekat tempat tinggal Biru untuk mencarikan kado. Tentu saja tak sendiri, melainkan bersama Santi dan Galang. Terpaksa bocah itu dibawa karena tak ada yang mengasuh dirumah. Bu De pergi dengan Pak De kerumah saudara Bu De dan menginap disana.
Niatanku ingin membelikan Biru sarung dan baju koko. Menurutku, Biru paling tampan kalau mengenakan pakaian itu. Sebenarnya aku ada uang pinjaman dari Rama lumayan banyak. Tapi kalau aku beli yang mahal, takutnya Biru malah banyak tanya. Dan kalau tahu uang itu dari Rama, yang ada bukannya senang, dia malah tersinggung.
"San nyalon dulu yuk. Kangen banget pengen perawatan." Ujarku sambil menarik Santi menuju sebuan salon n spa yang terlihat bagus.
Bukannya nurut, Santi malah menahanku. "Itu tempat mahal Cal."
"Gak papa, udah ayok. Aku yang bayarin."
Kirain seneng pas tahu aku bayarin, nyatanya aku malah dipelototin.
"Gak kapok kamu dimarahin Biru karena ngehabisin uangnya hah? Udah kita langsung nyari kado habis itu pulang."
"Udah tenang aja, ini uangku bukan uang Biru. Gak bakalan deh dia marah marah." Aku meyakinkan. Bagaimana tidak, rasanya aku sudah gatal pengen di massage dan lain lain.
"Yakin kamu?"
"Iya, ayo masuk."
Lagi lagi Santi menahanku.
"Apaan lagi sih San?" Kesalku sambil memelototinya.
"Galang gimana kalau kita perawatan? Dia pasti bosen nunggu lama dan ujung ujungnya ngerengek minta pulang."
Aku menghela nafas. Benar juga yang dikatakan Santi, bocah itu pasti boring nungguin lama.
__ADS_1
"Buk, Galang mau itu." Galang menunjuk ke sebuah toko mainan diseberang jalan.
"Galang mau mainan?" Tanyaku.
"Iya bulik."
"Heis, jangan panggil bulik dong, TANTE." Aku menekankan. Gara gara Bu De nih, selalu aja ngajarin Galang memanggilku bulik. Jadi susahkan dibiasain manggil tante.
"Iya tante, Galang mau mainan."
"Ok, tante belikan. Tapi ada syaratnya."
"Apa Bu, eh tante."
"Tante sama ibu mau nyalon, kamu gak boleh rewel minta pulang ya?"
Galang langsung mengangguk. Gegas kami bertiga ke toko mainan untuk menuruti keinginan bocil itu.
Galang tampak sangat senang masuk toko mainan yang lumayan besar itu. Menurut Santi, ini pertama kalinya Galang masuk ke toko mainan sebagus ini. Galang kelihatan bingung, mungkin karena saking banyaknya mainan disana. Hingga akhirnya, pilihannya jatuh pada sebuah robot robotan bentuk transformer.
"Buk, Galang mau ini."
Santi langsung merebut mainan itu dan mengembalikan kembali ke tempat semula.
"Gak usah aneh aneh. Pilih lainnya aja." Galang tampak kecewa, tapi diam saja tak protes. Kasihan sekali aku melihat raut wajahnya yang sedih. Kuambil lagi mainan itu dan kuberikan pada Galang.
"Apa apaan sih Cal. Itu mahal banget." Santi ingin mengambilnya lagi tapi aku halangi.
"Udahlah San, orang anaknya minta itu."
"Lihat ini." Santi menunjukkan harga mainan yang tertempel dikotaknya.
"199 Cal, hampir 200 rebu." Ucapnya sampil melotot.
"Aku yang bayar, gak papa." Segera ku tuntun Galang menuju meja kasir dan membayarnya.
Urusan mainan beres, kami langsung ke tempat spa. Segera saja aku meminta paket perawatan yang paling mahal. Santi tampak tercengang. Tapi karena dia sudah sangat baik padaku selama ini, dia juga aku ambilkan paket yang sama denganku.
"Cal, yakin kamu bisa bayar?" Bisiknya saat petugas spa membawa kamu menuju sebuah ruangan.
"Paling kalau gak bisa bayar, kita suruh ngepel seminggu disini." Mulut Santi langsung menganga mendengar ucapanku.
"Becanda. Udah nikmatin aja, gak usah mikir apa apa." Kubuka tasku dan kutunjukkan segepok uang warna merah yang ada disana. Rama memang memberiku uang cash karena aku tak punya rekening.
"Cal, kamu habis ngepet semalam?"
Segera kegetok kepalanya karena omongannya yang ngawur.
"Uang halal, udah ayok. Kebanyakan nanya, aku batal bayarin kamu." Ancamku.
"Jangan dong. Hehehe...iya aku gak nanya lagi."
Kami mulai perawatan, sedangkan Galang menunggu diplay ground mini yang ada diruang tunggu sambil bermain mainan barunya. Aku dan Santi juga baru tahu ada play ground mininya saat kami masuk tadi.
Disaat enak enaknya maskeran sambil dipijit, eh...Galang malah nangis kenceng. Terdengar juga suara wanita yang marah marah padanya. Santi langsung keluar, begitu juga aku yang kepo, ikutan keluar.
"Ibuk..." Galang berlari dan langsung memeluk Santi. Ternyata anak itu tetap mengenali ibunya meski wajah Santi dimasker.
Ya elah, ini dunianya yang sempit apa aku yang sial ya. Kenapa disinipun, aku ketemu Safa dan ibunya. Apa dunia ini hanya selebar daun kelor? Kemana mana ketemunya Safa lagi Safa lagi.
"Hei Santi ajarin anak kamu biar gak nakal. Dia merebut mainan anak itu sampai dia nangis." Bu Lurah menunjuk kerarah anak kecil laki laki yang menangis. Suaranya yang bak toa masjid mengundang perhatian para pengunjung salon. Hingga kami menjadi pusat perhatian.
"Dia yang mau merebut mainanku buk." Adu Galang sambil menunjuk anak yang menangis itu. Dia mendekap erat mainan barunya seakan takut direbut bocah itu.
"Mainan kamu?" Bu Lurah tersenyum mencemooh. "Itu mainan dia." Lanjutnya sambil menunjuk anak laki laki tadi. "Cepat balikin sebelum ibunya tahu dan kamu dimarahin." Bu Lurah hendak mengambil mainan Galang tapi langsung kutepis tangannya.
"Itu mainan Galang. Saya yang membelikannya." Ujarku lantang. Dia pikir mentang mentang Santi miskin, Galang tak bisa punya mainan bagus.
__ADS_1