
POV CALLISTA
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sepertinya pepatah itu sangatlah benar. Ternyata dari ibunya Safa mewarisi sifat suka merendahkan. Aku tak bisa membayangkan kalau mereka kaya raya, dikasih sedikit kelebihan harta saja mereka sudah sesombong ini.
"Kamu...." Bu Lurah memperhatikanku lamat lamat. Sepertinya dia sedang mengingat ingat dimana pernah melihatku. Yaelah, masa sama orang secantik ini lupa sih.
"Dia istrinya Biru Bu." Safa mengingatkan.
Bu Lurah melongo. Dia menatapku dari atas kebawah. Disaat bersamaan, seorang ibu ibu menghampiri anak yang merebut mainan Galang.
"Ada apa sayang?" Dia bertanya pada anaknya yang masih menangis. Dan anak itu seketika menunjuk kearah Galang.
"Mainan anak ibu diambil anak nakal ini." Ujar Bu Lurah sambil menunjuk Galang.
"Anak saya gak nakal. Dia juga gak ngambil mainan siapapun. Ini mainan dia sendiri." Sahut Santi yang tampak geram.
"Halah, orang miskin kayak kamu mana bisa beli mainan mahal kayak gitu."
Nih emak emak dibilangin ngeyel. Dari tadi nyerocos terus kayak habis makan pisang aja. Pengen banget ku sumpal mulutnya dengan uang receh biar gak banyak omong lagi.
"Cepat kembalikan." Bentak Bu Lurah yang langsung membuat Galang ketakutan lalu meringsek memeluk perut Santi.
"Sepertinya ada kesalah pahaman. Itu bukan mainan anak saya." Ujarnya sambil menatap Bu Lurah. "Maafkan anak saya ya Bu, kalau udah merebut maianan anak ibu." Dia meminta maaf sambil menunduk.
Wajah Bu Lurah seketika merah padam mendengar ucapan ibu anak itu. Sepertinya dia kena batunya. Malu malu aja, gak usah nunduk dan pura pura gak tau apa apa gitu. Pengen banget aku tenggelemin kelaut.
"Sudah dengar Bu? Atau perlu ibu saya tunjukkan nota pembelian mainan itu? Atau kalau masih kurang, kita langsung ketokonya. Saya rasa penjualnya masih ingat sami kami karena baru sejam kami membeli mainan itu." Sekalian saja aku cibir dia. Biar lain kali dia tak memandang rendah orang lain lagi.
Bu Lurah menatapku nyalang. Kurasa dia ingin membalas kata kataku, sayangnya dia udah kalah telak hingga kehabisan kata kata.
"Kalian ngapain disini? perawatan?" Tanya Safa.
"Mancing!" Ya iyalah perawatan." Sinisku sambil memutar kedua mata jengah. Kalau sudah berhubungan dengan Safa, darahku langsung mendidih.
"Banyak uang juga ya sekarang." Ujar Safa sambil tersenyum sinis.
"Emang kamu pikir, kamu aja yang punya uang." Ledekku sambil menyeringai.
"Uang halal gak?"
Aku langsung mengernyit. Apa nih maksudnya ngomong gitu?
"Aku udah tahu kerjaan kamu Cal. Dandan seksi dan nyari mangsa di pantaikan? Baru dapat bookingan ya, makanya banyak uang."
PLAKK
__ADS_1
Langsung kutampar dia sekencang mungkin. Tanganku sampai panas, sudah pasti pipinya lebih panas lagi. Mata Safa sampai berkaca kaca, dia memegangi pipinya yang ada bekas telapak tanganku.
"Kurang ajar." Bu Lurah hendak membalasku tapi berhasil kutahan tangannya. Postur tubuhnya jauh lebih pendek dariku. Ditambah gumpalan lemak dilengannya membuatnya susah bergerak cepat. Jadi bukan sesuatu yang sulit untuk menangkap tangannya yang hendak melayang ke pipiku.
Santi segera mengajak Galang menyingkir. Yang kami lakukan bukanlah tontonan yang baik untuk anak anak.
"Kami akan laporkan kamu atas tindak penganiayaan." Ancam Bu Lurah sambil menunjuk mukaku. Orang orang ditempat itu langsung berkerumun melihat kami bak tontonan gratis.
Safa masih diam saja. Mungkin rahangnya kesleo akibat tamparanku sehingga dia tak bisa bicara.
"Silakan, saya tidak takut." Balasku lalu pergi meninggalkan dua manusia sampah itu.
Aku masuk kedalam ruang perawatan menemui Santi dan Galang. Gegas Santi menghampiriku dengan raut cemas.
"Cal, kamu gila. Kenapa sampai melakukan kekerasan fisik? Ini akan jadi masalah besar. Gimana kalau kamu dilaporkan ke polisi?"
"Sudahlah San, ini urusanku. Kamu gak usah mikir apa apa." Aku menenangkannya.
...----------------...
Gara gara kejadian tadi, aku dan Santi membatalkan beberapa perawatan. Beruntung mereka baik dan hanya minta separo pembayaran. Mood ku sudah hancur. Ditambah Galang yang murung membuatku tak tega jika harus membiarkan dia menunggu kami.
Aku mengajak Santi dan Galang makan, setelah itu kami pulang. Lagi lagi, aku batal mencari kado untuk Biru.
Sesampainya dihalaman, aku begitu kaget melihat banyak warga yang berada dirumahku.
Sesampainya didalam, kulihat Bu Lurah, Pak Lurah, Safa serta beberapa orang disana.
"Ada apa ini?" Tanyaku sambil berjalan mendekati Biru. Aku marasakan aura aura ketegangan diwajah setiap orang.
"Ada apa kata kamu?" Seru Bu Lurah sambil berdiri dan melototiku. "Lupa dengan apa yang barusan kamu lakukan pada Safa?"
Oh....jadi itu masalahnya. Tak berani menghadapiku sendirian, dia mengajak suami dan warga untuk membantunya. Dasar licik.
Biru, pria itu langsung menggenggam tangaku begitu aku berdiri disampingnya. Dia juga tersenyum dan mengangguk, seolah mengatakan jika semuanya akan baik baik saja. Aku yang sempat sedikit cemas menjadi tenang kembali.
"Callista, benar kamu tadi menampar Safa?" Tanya Pak Lurah.
"Benar." Jawabku tenang.
"Wah..keterlaluan."
"Wanita gak tau diri. Udah diterima dikampung sini, malah bikin ulah."
Dan masih banyak lagi ungkapan kekesalan warga yang bisa aku dengar. Melihat situasi yang mulai tidak kondusif, Santi membawa Galang masuk kedalam.
__ADS_1
"Saya harap, kamu mau meminta maaf pada anak saya." Titah Pak Lurah.
"Kalau tidak, kami akan laporkan kamu ke polisi." Bu Lurah menimpali.
"Sudahlah Bu." Safa menarik lengan ibunya agar duduk kembali. "Safa tidak mau memperpanjang masalah ini. Gak usah bawa bawa polisi."
Ucapannya begitu lemah lembut. Berbeda sekali jika hanya bicara berdua denganku. Dasar licik, bermuka dua, pandai sekali dia menarik simpati warga.
"Cepat minta maaf." Seru salah satu warga.
"Saya tidak salah, buat apa minta maaf." Sahutku lantang.
"Sudah salah gak mau minta maaf." Tegur lainnya.
"Bilangin sama istri kamu itu Biru. Suruh di minta maaf. Jadi orang kok gak tahu diri." Sahut lainnya sambil menunjuk nunjuk mukaku.
"Sudahlah bapak bapak, saya tidak apa apa kalau dia tidak mau meminta maaf." Safa kembali menarik simpati warga. Benar benar membuatku muak.
"Ya gak bisa gitu dong. Dia salah, dia harus minta maaf." Sahut lainnya.
"Istri saya tak mungkin tiba tiba menampar orang jika tak ada sebabnya." Ucap Biru sambil mengeratkan genggaman tangannya. Kemudian kami saling tatap. Seketika keberanianku makin bertambah.
"Kalau begitu, katakan kenapa kamu menampar Safa?" Tanya Pak Lurah.
Haduh, ini berat. Akan panjang urusannya jika membahas alasannya. Takutnya Biru dan warga malah bertanya tanya darimana aku punya banyak uang. Secara, pekerjaan Biru hanya nelayan biasa.
"Lihat ini." Bu Lurah menunjukkan ponselnya pada warga. "Seperti ini kelakukan wanita itu. Dia pakai pakaian seksi untuk menggaet lelaki hidung belang dipantai. Makanya dia punya uang banyak sekarang." Astaga, jadi dia menunjukkan vidio ku dipantai pada warga.
"Dan coba kalian lihat itu, baju dan tas yang dia pakai." Bu Lurah menunjuk dagu kearahku dengan tatapan sinis. " Itu barang mahal semua. Dia juga membelikan anaknya Santi mainan mahal. Coba kalian pikir, darimana dia dapat uang sebanyak itu kalau bukan kerja gak bener."
"STOP Bu!" Teriak Biru. "Berhenti memfitnah istri saya. Dia bukan wanita seperti yang ibu katakan."
Seketika aku menatap Biru dengan mata berkaca kaca. Biru membelaku, dia tetap berada dipihakku meski kelakuanku sudah membuat dia malu didepan warga.
"Gak seperti itu gimana? Udah jelas dividio." Bu Lurah menunjukkan vidionya pada Biru. Itu sama persis dengan vidio yang dulu ada diponsel Biru. Ya, Safa yang sudah mengambil vidio itu.
"Apa nya yang jelas? Disini istri saya hanya berbincang dan jualan sovenir. Tak seperti yang ibu katakan. Apalagi sampai menuduh istri saya kerja yang enggak enggak. Dan masalah kenapa dia banyak uang. Istri saya sudah tidak amnesia, dia sudah ingat semuanya."
Mendengar itu para warga mulai kasak kusuk. "Beberapa hari yang lalu saudaranya datang dan memberinya uang. Saya juga sudah lapor Pak RT kalau saudara Cal datang dari kota."
"Oh...laki laki yang bawa mobil mewah itu ya?" Tanya seseorang.
"Iya benar. Dia kakaknya Cal. Dia kesini ingin menjemput istri saya tapi istri saya lebih memilih tinggal disini dengan saya. Padahal keluarganya di kota kaya raya."
Deg
__ADS_1
Aku kaget mendengar ucapan Biru. Jangan jangan dia sudah tahu siapa aku sebenarnya?