Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
PERUSAK MOMEN


__ADS_3

POV CALLISTA


Perasaan ini makin tak karuan. Antara takut, gugup dan bahagia. Semua rasa itu bercampur jadi satu membuatku merinding tak karuan.


Aku memejamkan mata meresapi sentuhan demi sentuhan Jemari Biru diarea wajah dan leherkul


"Kamu cantik sekali Cal." Pujinya didekat telingaku yang seketika membuat bulu kudu meremang. Tangannya tak lagi menyusuri wajahhku, bibirnyalah yang sekarang ganti menghujaniku dengan kecupan kecupan basah disekitar wajah. Hingga akhirnya, mendarat dibibir dan menciumku lembut.


Tanganku mulai bergerak menyingkap kaos Biru. Menyusuri dadanya yang bidang dan bermain main disana.


Rupanya Biru tak mau kalah, tangannya juga mulai bergerak menyentuh dadaku. Kecupannya turun menyusuri leher hingga dada. Aku merasakan panas diseluruh tubuh. Nafasku kian memburu, begitu juga Biru.


Kami kembali berciuman dengan mesra, tapi makin lama, makin panas dan menuntut.


Tangan kami juga makin berani untuk menyingkirkan pelindung badan hingga sama sama polos.


Aku mulai gemetaran saat hendak masuk ke inti permainan. Jantungku berdegup kencang. Aku masih ingat jelas cerita cerita temanku bagaimana sakitnya pertama kali berhubungan badan.


"Ada apa Cal? Kamu belum siap?"


Sepertinya Biru bisa membaca raut wajahku. Kalau ditanya siap apa tidak, jelas siap. Hanya saja sedikit takut akan rasa sakitnya.


"A, aku takut." Jawabku jujur.


Biru tersenyum lalu mencium keningku lama.


"Aku akan berusaha selembut mungkin agar kamu tidak kesakita."


Aku mengangguk pelan. Saat hasrat sudah diubun ubun, mana mungkin mau mundur.


Mungkin karena pertama kalinya, Biru kesulitan menerobos milikku. Berkali kali meleset tapi dia tak putus asa. Hingga aku merasakan jika benda itu mulai berhasil masuk. Kucengkeram kedua bahu Biru kuat kuat. Kupejamkan mata ini sambil menggigit bibir bawah.


"Aww...sakit.." Reflek aku berteriak saat merasakan sakit luar biasa dibagian intiku.


Biru langsung menciumku agar aku tak kembali teriak. Mungkin juga untuk mengalihkan rasa sakitku.


"Cal, ada apa Cal?"


Tiba tiba terdengar suara Rama.


tok tok tok


Aku dan Biru saling berpandangan saat pintu digedor kuat kuat oleh Rama. Sepertinya tadi aku terlalu kencang berteriak sampai terdengar Rama. Maklumlah, rumah ini kecil, kamarnya juga bersebelahan. Semoga saja Santi dan Gani tak mendengar, kalau tidak, bisa habis dibully aku besok pagi.


Tok tok tok


"Cal, kamu baik baik sajakan? Apanya yang sakit Cal? Apa Biru menyakitimu?" Suara Rama terdengar panik.


Aku tersenyum absud sambil menatap Biru, sedangkan dia juga ikutan tersenyum geli. Kejadian ini sungguh diluar bayanganku. Rama merusak momen sakralku saja.

__ADS_1


"Cal jangan diam saja, kamu kenapa?"


"Eng, enggak Ram. Aku cuma digigit semut nakal." Bohongku.


"Kamu beneran gak papa kan?" Rama masih saja belum mau pergi. Astaga, selalu saja seperti itu dari dulu. Over protektif dan over thinking kalau berhubungan denganku.


"Aku_" Ucapanku terhenti saat merasakan Biru mulai menggerakkan miliknya. Kugigit bibir bawahnya karena rasa perih yang mendera. Melihatku menahan sakit, membuat Biru kembali menciumku. Setidaknya rasa itu dan rangsangan didada bisa mengalihkan kesakitanku.


"Cal kenapa diam? Kamu baik baik saja kan?"


Gimana aku tak diam, bibir Biru menyumpal mulutku.


Tok tok tok


"Cal."


Oh my God, sepertinya Rama belum mau pergi juga.


Kudorong Biru hingga pagutan bibir kami terlepas.


"A, aku baik baik saja Ram. Jangan khawatir, pergilah." Ucapku terputus putus karena nafas yang terengah.


Tak lagi kudengar suara Rama, sepertinya dia sudah kembali kekamarnya.


Biru makin cepat, membuatku membungkam mulut dengan telapak tangan agar tak mengeluarkan suara suara aneh. Aku tak mau Rama kembali mendengar dan mengganggu kami.


Bibirku terus men desah pelan karena tak tahan dengan semua kenikmatan ini. Keringat kami saling bercucuran dan nafas tersengal sengal.


Aku merasakan ada sesuatu yang ingin meledak dibawah sana. Apakah aku akan mendapatkannya? Mendapatkan puncak kenikmatan yang dulu sering teman temanku ceritakan.


Kubekap mulutku agar tak kembali teriak. Tapi aku malah kesusahan bernafas. Tak ada cara lain, kugigit bahu Biru saat aku mencapai nirwana.


Tak lama kemudian, Biru menyusulku. Tubuhnya ambruk menimpaku kemudian berguling ke samping. Kamu berdua saling menatap dengan perasaan membuncah dan nafas terengah.


Biru meraih tubuhku kedalam dekapannya lalu mencium keningku lama sambil mengucapkan terimaksih.


Kulihat bekas gigitanku dibahunya mengeluarkan sedikit darah. Sepertinya sangat sakit.


"Maaf, pasti sakit." Ucapku sambil menatap luka itu.


Biru terlihat bingung, kemudian dia melihat bahunya dan tertawa renyah.


"Astaga, kenapa bisa kelitahan parah gini ya? Padahal aku gak kerasa sakit sama sekali loh saat kamu gigit tadi."


Aku terkesiap mendengarnya. Bisa bisanya dia gak ngerasa sakit sama sekali, padahal aku gigitnya kenceng.


"Saking keenakan kali ya." Ujarnya sambil terkekeh.


Biru meraih tanganku lalu menciumnya. "Maaf, karena telah buat kamu kesakitan tadi."

__ADS_1


Aku menggeleng sambil tersenyum. "Tak masalah."


"Tak masalah tapi jeritnya kenceng banget sampai bangunin Rama." Ledeknya sambil tertawa renyah.


Segera kucubit perutnya karena kesal. Bisa bisanya kejadian tadi malah dia buat bahan ejekan.


"Ampun sayang." Rengeknya sambil menggeliat liat karena aku tak kunjung melepas cubitanku.


"Makanya jangan ngetawain aku." Geramku sambil memelototinya.


Biru merapikan rambutku yang berantakan dan menyelipkannya dibelakang telinga. Dia juga menyeka keringat didahi dan leherku.


"Capek gak?" Tanyanya.


Aku mengangguk manja sambil memainkan jari jarinya diperut Biru.


"Masih sakit?"


"Sedikit."


"Emmm...." Bukannya bicara, dia malah garuk garuk kepala.


"Kenapa?" Tannyaku penasaran sambil mendongak menatapnya.


"Mau lagi gak?" Lirihnya didekat wajahku.


Kututup mulutku menahan tawa. Perasaan baru selesai, udah minta lagi aja. Sebenarnya aku masih merasa perih, tapi tak tega mau menolaknya. Jadi kuputuskan untuk mengangguk saja. Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang bagi kami. Efek malam pertama yang tertunda.


Biru terlihat begitu senang setelah dapat lampu hijau dariku. Segera dia sambar bibirku dan kembali menggerayangi tubuhku. Tubuh kami kembali memanas, hasrat yang baru saja padam kembali menggelora. Kami kembali ingin mereguk indahnya surga dunia.


Tok tok tok


Kembali lagi terdengar suara ketukan saat ronde kedua baru dimulai.


"Cal, buka pintunya. Biru....tolong buka pintunya."


Tok tok tok


Rama mengetuk pintu membabi buta. Entah apa yang terjadi, tapi suaranya seperti orang yang merintih kesakitan.


Aku dan Biru menghentikan aktivitas kami. Dia menarik selimut lalu menutupi tubuhku lalu meraih celana kolornya.


Biru gegas menuju pintu dan membukanya.


"Kamu kenapa Ram?" Biru terdengar panik. "Kenapa merah merah begitu."


"Aku alergi bulu kucing."


Seketika kutepuk jidatku saat mendengarnya. Aku tahu jika Rama alergi bulu kucing. Oleh sebab itu sebisa mungkin aku menghalau Lisa saat mau masuk rumah. Aku juga melarang Rama duduk dikarpet depan tv karena banyak buku kucing. Selain itu aku sudah memperingatkan Rama sudah supaya selalu menutup pintu kamar. Jadi bagaimana ceritanya dia mendadak alergi seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2