Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
Part 4


__ADS_3

Mereka duduk saling berhadapan, saling mengamati lalu mengalihkan pandangan. Canggung. Sesekali mata bersitatap mengalirkan debar di dalam dada, tapi nyatanya bagi mereka yang gemar menyembunyikan rasa sepertinya hal itu jadi biasa.


Biar mereka pura-pura amnesia dan tak saling mengenal, untuk apa? Entah.


Alya memilin-milin ujung jilbabnya di bawah meja dengan gugup. Mau diakui atau tidak, hari ini Abyan terlihat berbeda, lelaki berparas tampan bak perpaduan Joe Taslim dan Nick Jones itu telah sukses membuat konsentrasinya buyar.


Sejujurnya Alya masih tak habis pikir, bagaimana bisa Abyan tiba-tiba hadir di kafe lalu menjadi salah seorang yang dipercaya Ben untuk menemaninya berkenalan dengan Alya? Sungguh kebetulan yang tak diharapkan. Buruknya, posisi duduk mereka pun seolah tertukar, Alya kini harus tepat berada di depan Abyan dan meninggalkan rasa 'awkward' di hati keduanya.


Agh, seandainya Alya tahu situasinya akan sesulit ini, lebih baik dia gagalkan saja acara malam itu.


"Jadi, apa ada lagi yang harus ditanyakan Ben pada Alya? Begitu juga sebaliknya? Sebelum kita akhiri acara makan malam ini soalnyanya Alya ada deadline, gitu kan, Ya?" tanya Pipit yang langsung disambut anggukan Alya.


Pipit sengaja berniat mengakhiri percakapan mereka lebih cepat setelah membaca pesan Alya, terlebih ketika dia tahu dari Alya kalau Abyan yang sering dibicarakannya ada di hadapan mereka. Lagi pula, dia rasa Ben sudah cukup banyak bertanya-tanya tentang Alya. Jika diteruskan, mungkin Ben akan semakin happy karena terlihat Ben sangat tertarik sekali. Walau lelaki di sebelah Ben, hanya bisa menekuk wajah tanpa ekspresi.


"Heum, sebenarnya masih banyak yang harus ditanyakan oleh saya Mbak, tapi bagaimana kalau saya bertukar nomor hape dengan Alya? Maaf, saya ini masih awam untuk proses kayak begini, sebelumnya yang saya tahu hanya pacaran tapi kali ini sepertinya saya serius menikah. Bukan begitu Abyan?"


Uhuk! Lelaki tegap dan berotot itu langsung terbatuk. Air di mulutnya hampir saja muncrat, untunglah tertahan oleh tangan.


Ragu, Abyan hanya menjawab pertanyaan Ben yang tiba-tiba tersebut dengan anggukan terpaksa dan mata setengah terbelak. Lelaki itu tidak tahu harus berkata apa, karena yang dia tahu otaknya mendadak berhenti berpikir ketika Ben bilang akan menikahi Alya.


Bukankah itu terlalu mendadak? Ceroboh sekali si Ben mengambil keputusan!


"Hah, menikah? Sepertinya itu terlalu cepat, saya rasa kita butuh meyakinkan diri untuk itu, betul kan, Mbak?" Alya menolehkan kepala pada Pipit mengedipkan mata mencari dukungan.


Tanpa gadis itu tahu, di depannya seorang lelaki lebih dulu meng-iyakan bahkan mengucapkan syukur berulang kali atas jawaban gadis itu. Tentu dalam hatinya, karena dia masih gengsi.


"Ya, tentu saja itu perlu pertimbangan yang matang. Sudahlah jangan terburu-buru." Pipit menjeda ucapannya, "oh ya betewe, Mbak baru tahu kalau kamu kenal Islam dari Abyan, Ben. Kok, gak pernah cerita? Mbak kira kamu kenal Islam selama di Jepang?" lanjutnya penasaran.


Terlepas dari status persaudaraan jauh antara Pipit dan Ben. Pipit memang jarang sekali komunikasi dengan Ben yang merupakan sepupunya tersebut. Kenyataan dia seorang mualaf pun baru dia ketahui sebulan yang lalu dari Tantenya, sebab Ben memang tak pernah bercerita banyak hal.


Ben tersenyum lebar kemudian merangkul Abyan yang masih memasang wajah aneh. Sampai Alya mengira Abyan sedang kebelet PUP gara-gara raut wajahnya yang susah dijelaskan.


"Iya Mbak, saya juga gak paham, perkenalan saya dan Abyan terjadi begitu saja, awalnya mungkin berawal dari aler--"


"Saya meminta Ben lebih dulu jadi Dokter keluarga saya, dari sanalah kami mulai mengenal," putus Abyan langsung sebelum Ben mengatakan macam-macam.


Lelaki itu tampak tak nyaman ketika Ben membahas perkenalan mereka, mungkin karena Ben menyinggung kata alergi. Jika diteruskan bisa saja Alya akan mengetahui rahasia yang Abyan sedang jaga.


Pipit menganggukkan kepalanya berulang kali seperti memahami obrolan dua orang jantan yang katanya bersahabat itu. Namun, tak begitu dengan Alya.


Gadis itu masih saja merasa ada yang janggal, tapi kecurigaannya terputus karena mendadak perutnya merasakan panggilan alam tidak pada tempatnya.


Beginikah cara dosanya langsung berbalas? Baru saja mengira Abyan mau PUP, sekarang malah dia yang mengalaminya. Mules, Alya memegangi perutnya yang melilit.


"Aww!" Alya memekik pelan.


"Kenapa Al?" tanya Pipit langsung menolehkan kepala ke samping.


"Kamu sakit?" Untuk kali ini Ben dan Abyan bertanya kompak, lalu saling memandang kaget karena sama-sama mengkhawatirkan satu orang.


Sadar jika sudah membuat ketiganya khawatir, Alya langsung tersenyum kikuk. Tak menyangka teriakannya yang lepas kendali membuat suasana semakin aneh.


"Ehm, anu, aku sakit perut, boleh ke kamar mandi?" tanya Alya membuat semua menghela napas lega.


"Oh, kirain apa ...." seru mereka bertiga kompak.


"Oh, iya, kalau gitu Mbak duluan, ya? Dedek cuman dijaga si Mbok," pamit Pipit tiba-tiba.


"Iya, saya juga permisi, ya? Saya ada pasien dadakan, gak apa-apa kan, Ya? Atau saya mau anter pulang?" tawar Ben.


Alya langsung menggelengkan kepalanya dengan heboh, apalagi perutnya semakin berkontraksi.


"Enggak, gak usah, baik kita berpisah di sini ya? Permisi, saya harus ke toilet!"


Selepas mengatakan itu, Alya langsung setengah berlari menuju ke belakang kafe. Dia sudah tidak bisa menunggu lagi, mules. Sementara Abyan mengulum senyum.


Alya tetaplah seorang gadis yang lucu bagi Abyan, sekali pun masih tersisa rasa marah akibat masa lalu, tapi lelaki itu ternyata masih menyisakan rasa dan itulah yang membuat Abyan tak tega jika melihat wajahnya.


(***)


Alya menghela napas lega akhirnya semua beban berat di perut ratanya tertunaikan sudah. Sebelum keluar toilet, gadis itu pun mematut dirinya di depan cermin, hal yang biasa dilakukan jika Alya sedang bertemu kaca.

__ADS_1


Beberapa detik Alya tertegun. Ternyata kulitnya tak sesegar dulu, sudah mulai banyak kerutan, faktor umur memang tak bisa menipu. Itulah kenapa dia harus segera menikah secara skin care pun tak bisa menyamarkannya.


Pasrah, Alya langsung mengambil bedak touch-up sekenanya sambil memikirkan tentang pertemuan malam ini.


Akibat kejadian tadi, sepertinya Alya harus mulai waspada dia tidak boleh sembarangan berpikir aneh, karena setiap berniat durhaka pada Abyan semua seolah berbalik pada dirinya sendiri.


Menyebalkan sekali rasanya. Alya sampai bingung, suami saja bukan tapi perasaan udah banyak dosa dan karma jika ini berkenaan tentang Abyan. Sekarang, ditambah lagi, calon yang dikenalkan oleh Pipit pun temannya Abyan.


Abyan lagi, Abyan terus.


Berapa Abyan ya? Ratusan. Mumet. Gadis itu menggelengkan kepalanya sendiri.


Alya jadi penasaran, apakah ada cara agar dia terhindar dari karma Abyan? Ataukah ini kesialan tipe baru?


Di tengah pikirannya yang sibuk melamun, ponsel di saku gamisnya tiba-tiba bergetar dan berdering membuat semua mata wanita yang ada di toilet menatapnya. Mana lagunya, lagu Nissa Sabyan yang berdehem enggak berkesudahan lagi, kan malu.


Alya segera merogoh saku dan memeriksa nama yang tertera di layar.


"Fira? Gawat!" Sontak mata Alya terbelalak bingung, ketika mendapati adiknya-lah yang menelepon.


Bimbang.


Dia hanya menatap enggan ponsel yang terus menyala tanpa berniat mengangkat, karena jika Fira tahu dia sedang berada di kafe ini dalam rangka pencarian jodoh bisa heboh dia minta Alya kawin cepat-cepat.


"Mbak, hapenya angkat tuh berisik!" semprot wanita berpakaian modis dan lipstiknya berwarna orange gonjreng.


"Oh, iya maaf," balas Alya. Tak ada pilihan, Alya pun memilih menyudahi  acara patut dirinya kemudian pergi keluar toilet dengan langkah terburu-buru.


Kedua tangannya masih heboh dengan menenteng tas dan memegang ponsel yang terus berdering. Ribet.


"Hem ... hem ... hem ...." Suara Nissa Sabyan dari ponselnya terus berdendang, sementara Alya mulai gelisah.


"Aduh, Fir, sebentar ngapa!" rutuk


Alya. Akhirnya dia memilih untuk mengangkat ponsel itu. Namun, baru saja dia mau memencet tombol hijau, tanpa dia sadar, seseorang dari arah berlawanan yang sedang sibuk menelepon pun tak sengaja menabraknya, karena sama-sama tak memperhatikan jalan dan lorong menuju toilet itu memang agak sempit.


Bruk!


"Kamu!" Kedua telunjuk teracung kompak bersamaan dengan mata yang sama-sama melotot dengan jantung yang berdebar hebat. Tak menyangka, kedua orang itu akan bertabrakan di depan toilet, tidak elit rasanya.


"Makanya, kalau jalan lihat-lihat!" Abyan berdiri lalu mengambil ponselnya. Wajahnya terlihat memerah salah tingkah.


"Dih! Pak Abyan yang nabrak saya duluan!" semprot Alya tak mau kalah.


"Sudahlah!"


"Ya, sudah!"


Keduanya memutuskan untuk mengakhiri perdebatan, tapi ketika mereka mau berjalan kembali melintasi satu sama lain, lagi-lagi seolah satu hati, tubuh mereka malah saling menghalangi. Alya bergeser ke kanan dari arahnya, Abyan juga bergeser ke kiri dari sisinya menghadap sehingga tubuh mereka bertemu, begitu juga sebaliknya.


Apakah mereka jodoh?


"Sudah saya mau ke toilet! Permisi!"


"Dih, siapa juga yang larang!"


"Itu! Kamu ngikutin saya!"


"Maaf, Pak Abyan yang salah arah! Ish!"


"Oke, saya ke kiri!" putus Abyan merasa frustasi karena mereka terus  saja berpapasan.


"Saya juga," balas Alya tak kalah garang. Padahal Tuhan tahu hati keduanya sudah koprol di tempat karena kejadian itu dan mereka mencoba menutupinya dengan rasa gengsi.


(***)


Alya mengetuk-ngetukkan ponselnya gelisah. Sudah setengah jam berlalu, dia masih belum mendapat ojek online. Tidak biasanya hal ini terjadi dan nahasnya baterei ponsel Alya lowbath.


Seandainya saja, motor scoopy-nya tidak bermasalah dan dia sudah bisa membawa mobil hal yang seperti ini mungkin tidak akan terjadi.


Huft! Alya menghembuskan napasnya lelah, kembali dia mencoba mengorder via aplikasi ojol, tapi belum sempat dia tekan 'pesan', ponselnya sudah kepalang gelap lebih dulu.

__ADS_1


"Hah? Astaghfirullah Mati! Duh, ini nih gara-gara nerima telepon Fira dan dengerin curhatnya nih, kan ...," keluhnya sambil mengedarkan pandangan. Barangkali ada taksi atau kendaraan apa saja yang bisa mengangkutnya.


Mana kondisi sudah malam! Alya jadi 'ngeper' sendiri berada di pinggir jalan, selarut ini. Sudah mah perawan, belum menikah lagi.


Brr! Alya menggelengkan kepalanya yang sedang memikirkan hal-hal yang takut dan membuat parno. Namun, di antara rasa khawatir gadis itu, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam metalic berhenti di depannya.


"Kamu belum pulang, juga?" Alya refleks menolehkan kepala kepada seseorang yang baru saja membuka kaca mobilnya.


Abyan. Duh, dunia memang sempit, ya? Dia lagi ... dia lagi. Alya menegakkan punggungnya, mencoba bersikap senormal mungkin untuk menutupi rasa khawatirnya.


"Iya, ponsel saya mati, jadi belum bisa order ojol," jawab Alya sekenanya. Dia  menyesalkan dirinya yang harus bertemu Abyan dalam kondisi seperti ini.


"Mau bareng?" tawar Abyan. Nada lelaki itu lebih lunak dari terakhir mereka bertemu.


'Apakah dia modus?' batin Alya curiga. Gadis berjilbab itu menyipitkan matanya untuk meneliti jejak keanehan dari tawaran Abyan.


"Ya, kalau enggak mau ya gak apa-apa, tapi setahu saya di jalan ini banyak premannya, gimana kalau kamu di ... agh, saya takut meneruskannya," ujar Abyan sambil bergidik ngeri membuat Alya semakin cemas.


"Pak Abyan bohong, kan?" tanya Alya sangsi.


"Gak percaya? Ya sudah, terserah! Oh, iya, saya juga dapat info kalau malam-malam begini banyak yang suka aneh, seperti yang itu tuh!" tunjuk Abyan ke arah seberang jalan. Benar saja, Alya melihat banyak lelaki besar, berotot dan akan menyebrang ke tempatnya. Itu berarti Alya akan bertemu mereka, jika masih berdiri di sini.


Alya menelan ludah, panik. Dia melihat ke kanan dan ke kiri tapi tetap belum ada taksi atau yang lainnya.


"Bagaimana Alya? Apakah kamu mau besok di koran ada kabar gadis muda belum menikah telah menjadi kor--"


"Pergilah! Saya tidak takut!" jawab Alya jutek. Dia melipat tangan di dada, sebagai sikap mempertahankan diri.


"Bener? Gak nyesel?"


"Iya."


Sekilas mata Abyan terlihat kecewa, tapi sejurus kemudian lelaki itu menganggukkan kepala paham.


"Oke, kalau begitu saya duluan."


Tanpa disangka oleh Alya, Abyan benar-benar menstarter mobilnya kembali, lalu melirik Alya sekilas.


"Saya duluan, ya?" ulang Abyan lagi seolah ragu.


"Silahkan, pergi!" Alya melengos pura-pura tegar.


"Oke." Abyan mulai menutup jendela mobilnya.


Alya langsung gelagapan, terselip rasa menyesal di dalam hatinya. Sebenarnya Alya ingin dibujuk lagi, tadinya ia hanya bersikap gengsi saja. Biasanya kan cewek gitu, pingin diusahakan lebih. Tapi, Abyan malah menganggapnya serius.


"Abyan, kok giru?" gumamnya nelangsa.


"Apanya yang gitu, Neng?" Suara yang terdengar berat  tiba-tiba saja menyapa Alya.


Kaget. Gadis itu membalikkan badan dengan cepat. Mata Alya sontak terbelalak setelah melihat ternyata yang menyapanya adalah lelaki bertubuh besar, berotot dan bertato. Tanpa menunggu lama, otak Alya langsung merespon cepat, dia sepertinya adalah salah satu anggota dari gerombolan lelaki berotot yang tadi ia lihat di seberang.


"Lagi sendirian aja, Neng?" tanya lelaki lain yang berambut gondrong. Alya menelan ludah, ternyata yang menyapanya lebih dari satu.


"Eh, anu ...."


Alya memundurkan langkahnya dengan langkah panik.


"Anu ap--"


"Pak Abyan!" teriak Alya heboh.


Gadis itu langsung membalikkan badannya kembali lalu menuju mobil Abyan yang ternyata masih belum beranjak dari semula. Tanpa permisi, Alya membuka pintu mobil Abyan dan duduk di belakang jok supir dengan dada berdebar kencang.


"Ayo Pak! Jalan!"


"Loh, katanya enggak mau ikut? Kok masuk?"


"Saya kepaksa lagi pula Pak Abyan maksa, kan? Apa salahnya? Anggap saja saya lagi naik taksi online," jawab Alya pura-pura cuek padahal dia takut sama Preman.


Sementara Abyan hanya bisa mengelus dada. Ternyata gadis yang selama ini ia cintai, hanya menganggapnya supir taksi.

__ADS_1


__ADS_2