Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
Part 3


__ADS_3

Salah satu alasan yang membuat Alya malas makan bersama kedua adik dan ibunya adalah momen di mana mereka akan membahas perihal pernikahan. Sudah dipastikan akibat pertanyaan mereka, makan pagi yang seharusnya penuh dengan semangat malah menjadi terasa aneh bagi Alya.


"Mbak, gimana jodohnya udah dapat?"


Anti membuka percakapan pagi itu secara to the point saat mereka sudah duduk berhadapan di meja makan. Anti berada di sebelah Fira, sementara Alya berada di sebelah Ibu Fatimah.


"Belum De, sabar ya? Kan Mbak udah bilang, kalau mau nikah ya, jangan nunggu Mbak, kalian boleh duluan," jawab Alya sambil mengambil telur dadar dan meletakkannya di piring.


"Kenapa sih, Mbak gak nerima lamaran Pak Rian saja? Meski Duda, dia baik kok, iya kan, Fir?" samber Anti lagi.


"Iya Mbak, Fira udah ditanya sama calon mertua, jadi gimana Mbak? Apa mungkin Mbak suka sama Pak Rian?" dukung Fira. Gadis berkaca-mata itu memang paling gencar menjodohkan Alya dibandingkan yang lainnya. Apalagi yang dia ajukan sekarang adalah Dosennya sendiri.


Alya terdiam. Tangannya yang sejak tadi sibuk mengambil lauk, seketika berhenti. Lagi-lagi mereka menanyakan tentang Rian.


Alya akui tak ada alasan bagi perempuan mana pun menolak Rian karena selain tampan dia pun mapan, tapi itu tak berlaku untuknya. Kenapa? Karena setahunya, Rian itu tidak percaya akan Tuhan.


Bagaimana mungkin Alya bersama dengan lelaki seperti itu? Pernikahannya pasti akan terasa sulit, jika visi dan misi saja sudah berbeda.


"Eh, kok, kalian maksa-maksa Mbakmu? Sabar, Mbak-mu ini juga sedang mencari, iya kan, Nduk?"


Melihat Alya yang tampak bingung menjawab apa, Ibu Fatimah mencoba menengahi.


"Iya Bu, Alya belum berniat bersama Rian. Kayaknya Mbakmu ini, masih harus berusaha De, sabar, ya? Insya Allah sebenarnya kan Mbak udah bilang  berulang kali, jika kalian mau nikah duluan, silahkan ...," ulang Alya tetap dengan nada bijak.


"Hus! Enggak. Pokoknya ibu enggak setuju, jangan ngomong gitu Alya, insyaAllah ibu yakin jodohmu sebentar lagi, sudah sekarang kita makan! Kita di Bandung ini orang rantau, siapa lagi yang mau dukung Mbakmu kalau bukan kita!" tegas Ibu Fatimah pada ketiga anaknya membuat mereka kompak mengatupkan bibir seperti takut melanjutkan pembicaraan terutama Alya.


Entah kenapa, nafsu makan Alya langsung turun drastis setelah pembicaraan tersebut. Ditambah sebenarnya sejak kemarin terlalu banyak yang Alya pikirkan hingga rasanya kepala gadis itu mau meledak.


Salah satunya dia sedang memikirkan tentang persentasi yang akan ia lakukan pagi ini. Sepertinya hari ini dia akan kembali mendapat masalah, karena dua jam lagi dia harus menemui Abyan dan Lili demi menunjukan hasil desain yang sudah ia kerjakan sampai lembur.


Sejujurnya, selama bekerja sama dengan Abyan, Alya seperti benar-benar terkena karma. Terlebih sikap Abyan yang menyebalkan seperti semakin menjadi pasca dia memaksa Abyan harus memakan seafood.


Seperti kerasukan setan ngambek, lelaki itu semakin gencar membuatnya kelimpungan dengan request job yang tidak masuk di akal. Tema undangan yang berganti dan deadline yang dipercepat.


Huft! Gadis itu merasa dirinya hampir sesak napas gara-gara ulah Abyan.


Alya sebenarnya bingung, jika memang dia bukan Abyan teman masa kecil seperti tuduhan Alya, kenapa dia harus semakin terlihat garang dan menyiksa Alya seperti ini? Kecuali, jika memang Abyan benar-benar terkena alergi dan itu berarti bisa menjadi bukti Abyan hanya pura-pura tak mengenalnya.


"Ya, dari tadi kok ibu liat kamu diam terus, kenapa?" tegur Ibu Fatimah karena melihat Alya hanya bengong. Padahal acara makan pagi sudah berakhir beberapa menit yang lalu, bahkan Anti dan Fira pun sudah pergi dari tadi.


"Eh, iya Bu, maaf, Alya lagi banyak pikiran." Alya terkesiap kaget, bergegas gadis itu membantu ibu untuk membereskan piring bekas makan. Akibat melamunkan Abyan dia sampai lupa kewajibannya. Sempat dia berpikir untuk curhat pada ibunya mengenai teman masa kecilnya itu karena pasti ibu ingat, tapi dia tahan.


"Kamu masih mikirin omongan adik-adikmu? Sudahlah, jangan dipikirkan, ya?" tegur Ibu Fatimah lagi. Dia merasa kasian pada Alya yang seperti tertekan beberapa waktu terakhir.


Alya menggelengkan kepala lemah. "Enggak Bu, Alya cuman lagi deg-degan aja," jawab Alya beralasan. Dia lebih memilih memberitahukan hal lain pada ibunya dibandingkan tentang Abyan, sesuatu yang tak kalah penting tapi tak semenarik Abyan yang menyita hampir seluruh fokusnya.


"Deg-degan kenapa?" Ibu menolehkan kepalanya menatap Alya dengan serius.


"Sebenarnya, Alya hari ini insya Allah akan dikenalkan dengan seseorang oleh Mbak Pipit, dia pria mapan dan seorang Dokter tapi aku takut tidak jadi lagi," papar Alya pura-pura ragu. Padahal Alya sudah ikhlas untuk masalah itu.


Ibu Fatimah menganggukkan kepala tanda memahami. Wanita berdarah Jawa tulen itu tentu saja merasa kasihan pada Alya, dari semenjak suaminya meninggal kalau bukan Alya yang bekerja membanting tulang, mungkin hidup mereka tak semakmur sekarang, jadi wajar kalau Alya lebih banyak pertimbangan. Apalagi dia terlalu sering gagal menikah.


"Oh gitu, tenang saja Alya, kalau kamu ragu gampang Ya, tinggal doain aja, insyaAllah kalau jodoh gak akan pergi, yakin ya, Nduk?" Ibu Fatimah mengelus sayang puncak kepala anaknya. Binar harapan terlihat jelas di mata tua wanita itu, tapi dia tak ingin menekan Alya.


Alya hanya menganggukkan kepala sambil membalas senyum ibunya. Sungguh, jauh di dalam hatinya, Alya ingin sekali membicarakan tentang semua misinya menebus dosa dalam rangka memperlancar rezeki dan jodoh pada Ibu Fatimah paling tidak agar mereka tahu usahanya selama ini, tapi dia takut hanya akan memberikan harapan palsu.


Biarlah, dia yang berusaha sekarang. Bukankah, untuk menggenapkan agama bisa jadi tak mudah caranya, termasuk dengan meminta maaf pada Abyan.


'Sabar, Alya. Mungkin setelah hari ini kamu enggak akan bingung lagi. Fighting!' batin Alya meracau.


Begitulah cara Alya menyemangati dirinya dan tersenyum kembali. Dia hanya perlu mengembalikan moodnya sekarang, karena malam nanti bisa jadi langkah awal menemukan jodoh. Itu harapan Alya.

__ADS_1


(***)


Kata 'awkward' bahkan tidak bisa menggambarkan situasi yang terjadi antara Alya, Abyan dan Lutfan di ruang meeting saat ini, karena Lili tiba-tiba saja harus pergi ke Malaysia. Ini bahkan lebih buruk dari dugaan Alya sebelumnya, bagaimana bisa setiap persentasi Alya, setiap bagiannya dipatahkan langsung oleh Abyan.


Apakah lelaki itu benar-benar ingin membuat Alya menyerah sekarang? Lalu, melepas pekerjaan ini? Gadis itu menggenggam erat pointer di tangannya ketika Abyan lagi-lagi menginterupsi.


Rona permusuhan dan dingin jelas-jelas tergambar di wajah Abyan. Apa yang diinginkan lelaki itu, belum juga bisa Alya pahami. Dia bingung sekaligus ingin marah tapi dia coba menahan diri,  karena kali ini dia berada di kandang musuh yaitu kantor Abyan.


"Are you angry, Miss Alya?" tanya Abyan ketika sadar Alya sama sekali tak menyahuti sarannya.


Ya, gadis itu lebih sibuk membayangkan mengacak-acak rambut Abyan dan menggantungnya di pohon toge dibandingkan mendengar Abyan berceloteh mengenai saran tentang desain yang sedang ia persentasikan.


Alya menghela napas berat dan beristighfar, seakan tersadarkan oleh teguran Abyan. Dia kemudian tersenyum seraya mengelus dada. Terlatih menghadapi lelaki dingin seperti Abyan.


"Oh, bukan Pak, saya hanya sedang berpikir dan masih kurang paham, apa yang salah dengan desain saya?" kilah Alya.


Gadis itu masih berdiri di depan layar infokus memandang Abyan dengan tatapan normal.


"Saya tak menyangka, Boss Anda lebih penyabar sekarang, Lutfan?" sindir Abyan seraya melirik Lutfan sekilas kemudian kembali ke wajah Alya.


Lutfan hanya tersenyum tipis, pemuda itu sebenarnya paham kondisi kedua makhluk di depannya. Namun, pemuda itu memilih diam karena tak mau terlibat dari jauh. Hanya, Lutfan bisa membaca ada yang lain dalam hubungan Boss dan klien mereka saat ini.


Abyan menyandarkan punggungnya pada kursi. Sejak tadi sepasang mata elang Abyan seakan ingin meneliti tiap jengkal wajah Alya, sementara yang ditatap lebih suka menghindar. Karena, entah kenapa setiap mata mereka tak sengaja bertemu, Alya selalu merasakan debar yang tak biasa. Sayang, dia terlalu gengsi untuk menyadarinya.


"Well,  sebenarnya saya suka desain nomor tiga, bagaimana jika kita fokus perombakan pada bagian itu? Saya rasa konsep seperti undangan-undangan kerajaan Majapahit membuatnya terlihat lebih vintage, bagaimana menurutmu?" tunjuk Abyan pada layar.


Lelaki itu ternyata menginginkan bagian belakang kartu undangannya saja yang dirubah. Sepertinya Abyan mulai merasa kasian pada Alya dan dia coba untuk mempermudah gadis itu dengan caranya.


"Baik, jika begitu, saya coba akan mengeditnya lagi tapi saya sekarang minta waktu lebih," pinta Alya langsung bernegosiasi.


Dia mungkin khawatir Abyan akan memberi deadline mematikan lagi, padahal dia sudah janji pada Mbak Pipit untuk mau dikenalkan dengan saudaranya yang seorang Dokter namanya Bennard Ahmad Fahrezi. Tentu jika Abyan memintanya malam ini, selesailah sudah harapannya.


"Oh, sepertinya Anda sudah waspada saja, khawatir ya, kalau saya akan meminta malam ini selesai?" tanya Abyan seakan bisa membaca pikiran gadis di hadapannya.


"Baiklah, sure," ucap Abyan melunak.


Tadinya, sesuai kata Alya, Abyan memang akan meminta Alya menyelesaikan itu malam ini sebab  Abyan tahu mengedit bagian yang dia minta tak perlu waktu banyak. Lima desain saja dia selesaikan dengan cepat, tapi kali ini hanya edit sedikit dia minta waktu dua hari. Namun, Abyan mencoba mentoleransi walau karena malam ini dia pun punya agenda bersama sahabatnya.


"Benarkah? Jadi itu berarti, apa saya boleh menutup persentasi ini?"


"Ya, oke. Silahkan," jawab Abyan singkat.


"Alhamdullilah. Terima kasih. Pak," balas Alya langsung tersenyum sumringah.


Melihat senyum manis Alya, Abyan mendadak terdiam, merasa terpesona. Entah kenapa, kecurigaannya semakin kuat, dia menangkap sinyal aneh dari Alya. Hari ini, gadis itu tampak lenih selow dari terakhir mereka bertemu.


Apa Alya mengalami hal yang menyenangkan?


Penasaran.


Selagi Alya membereskan peralataannya, lelaki itu memberikan pesan pada Lutfan. Layaknya pemburu, insting jantannya langsung berfungsi, kala melihat sasarannya bertindak tak biasa.


[Apa Bosmu ada acara lagi? Abyan.]


Send. Pesan terkirim pada Lutfan. Pemuda itu sudah beberapa hari ini diam-diam sudah jadi teman akrab Abyan tanpa sepengetahuan Alya.


[Iya, kabarnya dia mau bertemu dengan seorang lelaki Pak, di kafe yang kemarin kita makan, mungkin itu pacarnya.]


Lutfan mengirim pesan balasan itu seraya tersenyum. Pemuda itu terlalu polos, mungkin karena merasa Abyan itu lelaki yang baik walau terkadang menyebalkan.


Setelah menerima pesan dari Lutfan, mendadak Abyan merasakan hatinya seolah disetrum listrik bertenaga ribuan volt. Terasa sekali panas dan membuat kakinya mendadak lemas.

__ADS_1


Alya akan berkenalan? Dengan siapa?


"Baik Pak,  jika seperti itu saya permisi. Yuk Lutfan!" pamit Alya membuyarkan keterbekuan Abyan.


Gadis itu dengan wajah cerianya pergi dari hadapan Abyan, meninggalkan Abyan. Tanpa tahu lelaki yang ia tinggalkan telah diterpa rasa cemburu dan kesal pada satu waktu.


Sejujurnya, sampai detik ini Abyan masih merasa ragu pada pertunangannya dan semakin menguat kala Alya datang.


Sayangnya, seakan menjadi pecundang Abyan masih bimbang. Apakah dia harus jujur pada hatinya atau menatap kepergian gadis itu jatuh pada lelaki lain? Setelah berbelas tahun lamanya, ternyata rasa itu masih ada.


Agh, Abyan mengacak rambutnya sedikit frustasi lalu menghela napas berat.


Terlambat.


Lagi-lagi dia memilih bermain dengan logika, jika memang itu yang terbaik bagi Alya, mungkin Abyan lebih memilih jadi ksatria dan membiarkan Alya dengan yang lain.


Toh, dia sendiri sekarang sedang berpura-pura amnesia.


(***)


Alya ternyata datang lebih awal dari waktu pertemuan. Meski dia sudah duduk dengan nyaman di salah satu sudut kafe bernuansa pastel yang instagrammable tersebut, hatinya tetap merasa tak tenang


Rasa khawatir menerpa gadis itu, karena ini kali pertama dia mengenal seorang lelaki lewat perantara, sebelumnya dia lebih banyak mengenal hubungan pacaran lewat pergaulan secara mandiri tidak secara resmi seperti sekarang.


Sudah setengah jam Alya menunggu, matanya tak lepas memandang pintu kaca untuk memperhatikan semua orang yang masuk lewat sana. Sampai akhirnya, wanita dan lelaki yang ditunggunya pun terlihat.


"Alya!" Pipit memberi kode dengan lambaian tangan. Sesuai dugaannya, Ben yang diceritakan Pipit memang tak kalah tampan dari Abyan, dia bermata sipit dan memiliki alis yang tebal. Perawakannya tegap dan penuh kharisma.


Seulas senyum terpancar di wajah Ben, ketika tak sengaja mereka berdua bersitatap. Namun, anehnya debaran kencang seperti Alya melihat Abyan belum terasa di dalam dada.


Alya beristighfar, menepis bayangan Abyan. Bisa jadi, karena baru pertama jadi ketertarikan itu masih batas sewajarnya. Dia kembali meluruskan niatnya untuk beribadah terlebih kabarnya Ben adalah seorang mualaf karena keluarga besar Pipit sebagian besar keturunan China dan bukan beragam islam, baik baginya untuk menjadi salah satu peneguh jika nanti pada akhirnya mereka menikah.


"Assalammu'alaikum, sudah lama, Ya?" sapa Pipit saat keduanya tiba di hadapan Alya.


"Wa'alaikumsalam, lumayan. Silahkan duduk," jawab Alya canggung.


Ekor mata Alya sejak tadi menangkap Ben memperhatikannya dengan seksama membuat gadis itu sedikit risih.


"Halo, senang bertemu dengan kamu Ya, aku Ben," ujar lelaki itu memperkenalkan diri.


"Hey, Ben, aku Alya," balas Alya menangkupkan tangan di depan dada.


"Kamu cantik," puji Ben tulus membuat pipi Alya seketika memerah.


"Eh, ehm, terima kasih." Alya bertingkah gugup,  sementara Pipit hanya mengulum senyum. Saudaranya memang selalu blak-blakkan jika tertarik pada seseorang.


Ben mengambil tempat di seberang Alya, sementara Pipit di sampingnya. Setelah duduk nyaman, Alya baru menyadari sepertinya mereka kekurangan satu orang.


"Oh, iya, Mbak Pit, katanya akan datang dengan suami Mbak Pit kok, gak datang?" tanya Alya seraya menautkan alis, heran.


"Itu, Ya, dia ada operasi bedah mendadak. Tapi, tenang untuk menemani Ben, kata Ben akan ada satu orang lagi yang akan datang hari ini untuk acara perkenalan ini," jawab Pipit seraya mengerlingkan mata.


"Baguslah, betewe siapa Mbak, ken--"


"Malam, sudah lama menunggu?" sapa seseorang dari arah belakang.


Sontak gadis itu menolehkan kepala. Tanpa terhindarkan, tubuh Alya mendadak kaku dan jantungnya berpacu cepat ketika menyadari yang akan ikut dalam acara perkenalan ini adalah Abyan.


Tampaknya, Abyan pun sama-sama terkejut, lelaki itu tak menyangka yang akan menjadi calon istri sahabatnya adalah Alya. Semakin terpuruklah hati lelaki itu sekarang, Alya dan Abyan pun bertatapan dalam diam.


"Oh iya, Alya kenalkan, ini Abyan Ghifari sahabat saya, dia juga yang mengenalkan saya pada islam," ujar Ben langsung sambil berdiri.

__ADS_1


Sementara Alya dan Abyan sama-sama merasa hatinya tengah berperang. Kelak kedua mata yang bertatapan itu akan bersaksi, bahwa jiwa itu terlalu lama menyimpan rasa hingga tak mampu lagi bersuara.


Membingungkan.


__ADS_2