Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
HATI YANG LUKA


__ADS_3

POV BIRU


Antara kami, aku dan Rama sama sama tak ada yang mau mengalah. Kami terus baku hantam hingga dikejutkan dengan kemunculan Cal. Kutahan kepalan tangan yang sudah berada didepan wajah Rama. Mungkin tinggal 5 cm lagi akan mengenai wajahnya yang saat ini sudah babak belur.


"Apa apaan kalian.!" Pekik Cal melihat kondisi kami berdua. Dia sampai menutup mulut dengan telapak tangan saking tak percayanya. Belum lagi ditambah kondisi dapur yang porak poranda. Kursi jungkir balik, gelas pecah, dan beberapa barang diatas meja yang sudah berpindah kelantai.


"Kalian pikir ini ring tinju hah!" Bentaknya sambil menatap aku dan Rama satu persatu.


"Oh my god Rama." Ucap Cal sambil menatap Rama. Entah aku terlalu kalap, atau karena kulit Rama yang terlalu putih, lebam diwajahnya begitu jelas. Ditambah sedikit darah yang keluar dari sudut bibir dan hidungnya, keadaannya terlihat begitu mengenaskan. Sudah mirip maling yang dikeroyok masa.


Cal menata kembali kursi yang tadinya roboh karena ulah kami.


"Ayo aku obatin luka kamu." Ucap Cal seraya menarik lengan Rama dan membawanya kesebuah kursi.


Aku tersenyum getir. Kenapa harus Rama, kenapa bukan aku yang dia tarik dan obati? Apa Rama memang lebih penting daripada aku? Ya, seharusnya aku sudah sadar sejak kehadiran Rama. Seperti kata Gani, aku bukan apa apa jika dibandingkan dengan Rama. Jauh, sangat jauh.


Segera kutinggalkan dapur menuju kamar. Aku mungkin tahan saat Rama memukulku, tapi aku tak akan tahan melihat adegan Cal yang mengobati Rama.


Aku mamatut wajah didepan cermin almari yang ada dikamar. Kondisiku memang tak separah Rama, tapi tetap saja, aku juga terluka, aku juga kena pukul. Aku menyentuh bagian wajah yang terasa nyeri akibat pukulan Rama. Kuhapus darah yang keluar dari sudut bibir. Perih, tapi tak seperih hatiku saat ini. Luka ini tak seberapa dibanding luka hatiku.


Kenapa bukan aku Cal, kenapa bukan aku yang kamu obati, kenapa harus Rama? Pertanyaan itu terus saja mengusik pikiranku. Harusnya aku tahu jawabannya. Ya, Rama lebih penting daripada aku yang bukan siapa siapa.


"Kamu harus siap siap Ru, siap siap ditinggal Cal."


Aku kembali teringat ucapan Gani. Apa saatnya sudah tiba? Apa Cal akan pergi ninggalin aku dan ikut dengan Rama?


"Dunia Cal jauh berbeda denganmu? Apa kau yakin dia akan tahan?"


Aku sadar bukan siapa siapa dan tak punya apa apa. Tapi aku punya cinta, aku punya kesetiaan, aku juga akan berjuang mencari uang demi membahagiankan Cal, apa itu belum cukup? Kenapa lagi lagi materi yang menghancurkan perasaanku. Apa aku harus kembali patah hati karena materi? Apa aku akan kembali menelan pil pahit untuk yang kedua kalinya? Dulu Safa, dan sekarang Cal.


"Kamu menyedihkan Biru. Sangat menyedihkan." Aku menatap bayanganku dicermin sambil bermonolog. Tanganku mengepal kual, sesaat kemudian.


PYAAARRR


Kulayangkan tinjuku pada cermin tak bersalah didepanku.


...****************...

__ADS_1


POV CALLISTA


Aku mengompres memar diwajah Rama dengan air es. Tak habis pikir dengan mereka berdua, entah apa yang dipermasalahkan, bisa bisanya berkelahi didapur sempit ini. Gelas sampai pecah, kursi dan barang barang lain berserakan. Dan ujung ujungnya, pasti aku yang beresin semuanya, menyebalkan.


"Pelan Cal." Keluh Rama sambil meringis menahan sakit.


"Kenapa, sakit?"


"Iyalah, udah tahu nanyak." Jawabnya sebal.


"Kamu juga, udah tahu berkelahi itu bikin bonyok, bikin sakit, masih aja dilakuin." Balasku.


"Laki kamu tuh, nyebelin." Sahutnya bersungut sungut lalu meringis karena sudut bibirnya yang pecah kembali mengeluarkan darah.


"Yakin suami aku yang nyebelin, bukan kamu?" Todongku sambil menatapnya tajam.


"Kok aku sih? suami kamulah. Kita udah kenal dari orok, masa iya kamu lebih belain pria yang baru kenal?"


Aku menghela nafas lalu menaruh handuk yang berisi es batu kedalam baskom.


"Itu karena laki laki pilihan kamu selalu gak tepat Cal. Apalagi ini, si Biru. Apa sih yang kamu lihat dari dia? Dia itu bukan siapa siapa dan gak punya apa apa, kalian itu gak setara Cal."


Aku tersenyum getir mendengar ucapannya. Tau apa dia tentang kesetaraan? Bukankan pasangangan itu saling melengkapi, bukan harus setara? Banyak kok pasangan yang setara tapi gagal. Karena apa? karena sama sama egois, sama sama merasa paling hebat paing benar.


"Yakin kamu bisa bertahan dengan hidup pas pasan kayak gini? Aku kenal kamu Cal. Gaya hidup kamu itu hedon, tak mungkin bisa beradaptasi dengan keadaan serba kekurangan seperti ini."


"Aku punya banyak uang, hanya saja masih ditangan orang lain. Aku tak akan pernah kekurangan." Sangkalku.


"Iya bentul, tapi dia? Apa suamimu itu hanya akan luntang lantung dan numpang hidup sama kamu?"


Aku meremat rokku. Rasanya tak terima Biru direndahkan seperti itu.


"Kamu terlalu cepat menilai Biru. Dia bukan orang seperti itu. Dia hanya kurang beruntung saja. Dan aku yakin, suatu saat dia akan menjadi orang yang sukses."


"Mimpi!" Pekiknya tertahan. "Pemalas seperti dia mana bisa jadi sukses."


Aku makin tak tahan lagi. Rama sudah keterlaluan menghina suamiku.

__ADS_1


"Dia suamiku Ram. Dia tidak hanya menyelamatkanku, tapi dia juga menjagaku fan memperlakukanku dengan sangat baik selama ini. Dia laki laki bertanggung jawab, bukan pemalas seperti yang kamu bilang." Nyesel aku udah milih ngobati dia dan mengabaikan suamiku. Kirain bisa ngobatin sambil nesehatin dia agar gak nyari gara gara sama Biru. Untung untung kalau dia sadar lalu kembali kekota. Eh...tau taunya malah bikin kesel aja.


PYARRR


Suara barang pecah mengagetkanku dan Rama. Biru? Seketika pikiranku tertuju padanya. Semoga saja tak terjadi sesuatu pada suamiku itu. Gegas aku beranjak dan berlari menuju kamar.


Oh my God


Mataku terbelalak melihat apa yang terjadi dikamar. Cermin besar pecah dan berserakan dilantai sekitaran tempat Biru berdiri. Yang lebih mencengangkan, terlihat darah segar mengucur dari punggung tangan Biru. Saat netra kami bertemu, segera dia menunduk lalu berjalan kearah pintu. Dia melewatiku begitu saja tanpa sepatah katapun. Tapi aku tak tinggal diam, segera aku tahan lengannya.


"Tunggu, biar aku obati luka kamu."


"Gak perlu, cuma luka kecil. Kamu urusin aja Rama." Ujarnya sambil melepaskan lengannya dari cekalanku. Dia sama sekali tak menoleh kearahku.


Sepertinya Biru marah karena aku lebih memilih mengobati Rama. Bukan apa apa, kulihat Rama lebih parah lukanya. Karena tak tega, kuputuskan untuk mengobatinya dulu. Niatku, selesai Rama, aku ganti mengobati Biru.


"Kamu mau kemana?" Kuikuti langkahnya hingga depan pintu dapur.


"Mau keluar sebentar." Jawabnya yang lagi lagi tanpa melihatku.


"Aku ikut."


"Hanya sebentar, kamu dirumah aja."


Mengingat kekacauan didapur dan kamar, memang sebaiknya aku dirumah saja untuk membereskan semua itu. Aku masih berdiri diambang pintu sambil menatap punggung Biru yang makin lama makin jauh.


"Mau kemana dia?" Tanya Rama yang entah sejak kapan udah berdiri dibelakangku.


Karena masih kesal, tak kujawab pertanyaanya.


"Lihat kelakuannya, marah marah sampai menghancurkan cermin. Laki laki kasar seperti dia tak layak buat kamu."


"Stop menjelekkan Biru Ram." Pekikku. "Lama lama kupingku panas mendengar kamu tak henti hentinya menyudutkan Biru. Sekarang aku makin yakin, Biru sampai berantem sama kamu pasti gara gara ucapan kamu yang keterlaluan." Geramku sambil berjalan melewatinya dan mengambil sapu. Segera kubersihkan pecahan gelas didapur lalu beralih membersihkan kamar.


"Aku masih gak percaya kamu mau ngelakuin hal seperti ini demi pria itu." Ucap Rama sambil menatapku yang sedang menyapu pecahan kaca dikamar.


"Sekarang sudah percayakan?" Jawabku tanpa melihatnya. Kalau saja tak ingat jika selama ini dia yang selalu care padaku, ingin sekali aku menyuruhnya segera kembali ke kota.

__ADS_1


__ADS_2