Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
GANTI DIGODAIN


__ADS_3

POV CALLISTA


Semilir angin laut malam, sama sekali tak membuatku kedinginan. Aku justru merasa hangat sekarang. Kudekatkan wajahku sedekat mungkin dengan wajah Biru, kukecup pipinya berkali kali tanpa bosan.


"Dingin?" Tanya Biru yang saat ini sedang menggendongku dipundaknya. Ya, kami berjalan jalan menyusuri pantai. Aku yang masih trauma pada laut, membuat Biru berinisiatif menggendongku agar kakiku tak menyentuh air laut. Malam ini cuacanya begitu cerah, membuat kami berdua tak ingin cepat cepat pulang.


"Enggak. Kamu udah capek ya?" Jangan jangan dia udah mulai lelah nih? Gara gara semenjak disini gak pernah olahraga ini, pasti berat badanku naik.


"Enggak. Cuma takut kamu kedinginan."


"Nemplok kamu gini, yang ada panas." Bisikku sedikit sensual ditelinganya. Aku memang hobi kalau urusan godain Biru.


Kudengar suara kekehan Biru. Tuh kan dia hanya tertawa aja. Padahal kalau cowok lain, pasti udah mulai ngajak ngomong yang menjurus. Semoga gak belok nih laki aku. Sayangkan kalau cekep cakep tapi belok. Ish, apa sih yang aku pikirkan. Suamiku jelas jelas pria tulen.


"Oh iya, tangan kamu yang kena pecahan kaca tadi, belum diobatin ya?" Aku tiba tiba teringat luka di punggung tangannya.


"Cal, Rama kayaknya suka deh sama kamu."


Yaelah, ditanya apa, malah bahas apa.


"Emangnya kenapa kalau dia suka? Gak semua orang yang suka sama kita, harus kita balaskan?"


"Jadi kamu udah tau?"


"Tau, kan kamu tadi yang bilangin, hehehe." Candaku.


"Ya Tuhan Cal, maksud aku tuh, sebelum aku ngomong tadi, kamu ngerasa gak kalau Rama suka sama kamu."


Aku terdiam, kembali mengingat memori bersama Rama. Biru bukan orang pertama yang menebak jika Rama menyukaiku. Dulu, teman teman dan mantan pacarku, juga bilang begitu. Tapi Rama tak pernah mengatakan apa apa padaku. Mungkin dia takut persahabatan kami rusak pada akhirnya. Dan akupun, pura pura saja tidak tahu meski sebenarnya aku tahu jika Rama menyukaiku. Kalau Rama bisa menahan cintanya demi persahabatan kami, maka akupun akan pura pura tidak tahu demi persahabatan kami.


"Kok malah diem sih?" tegur Biru.


"Kita baru jadian loh, ngapain sih bahas orang lain." gerutuku sambil memutar bola mata.


Biru terkekeh mendengar ucapanku.


"Apanya yang lucu?"


"Kamunya yang lucu. Masa iya kita baru jadian, kita itu udah nikah Cal, udah 2 minggu malahan."

__ADS_1


Tuh ingat udah 2 minggu nikah, tapi selama itu juga, diriku belum pernah disentuh. Yaelah, gini amat nasib wanita cantik.


Setelah cukup lama menyusuri bibir pantai, Biru membawaku naik lalu menurunkan tubuhku yang telah membuatnya kelelahan.


"Belum pengen pulang?" Tanyaku karena Biru malah kembali duduk diatas pasir.


"Males, ada Rama."


"Terus, mau tidur disini malem ini?"


"Sekali kali gak papa juga tidur disini. Enak loh, luas, bisa guling guling sampek puas tanpa takut jatuh." Dia malah menyahuti dengan candaan.


"Iya, guling guling sampai gak nyadar nyemplung laut, keseret ombak, lalu dimakan hiu." Sahutku sambil mendelik padanya.


"Aku sih rela dimakan hiu asalkan barengan ma kamu." Godanya sambil menoel daguku.


"Yeee...aku nya yang gak mau. Kamu aja sana sendirian. Aku masih mau ngambil duitku dari para pengkhianat itu dan hidup senang selama mungkin."


"Duit, duit apa? pengkhianat?" Biru mengernyitkan dahi.


Mampus, pakek keceplosan lagi. Aduh...kudu mikir cepet nih.


"Hehehe...becanda asal ngucap aja. Lha kamu sih, masa iya mau dimakan hiu." Jawabku sambil tertawa absurd. "Udah ah, yuk pulang, dingin." Lanjutku sambil sedikit akting menggigil.


"Dingin ya?" Tanyanya menggoda. Jarak kami yang begitu dekat membuat tubuhku merinding. Jemarinya terus bergerak menyusuri wajahku dan berhenti dibibir. Mengusap bagian itu dengan lembut hingga jantungku berdebar kencang.


Biru makin maju lalu berbisik ditelingaku. "Mau abang bikin panas?" Hangat nafasnya yang menyapu leherku membuat tubuh ini kian meremang. Jemari Biru kini turun menyusuri leher, ku remat gaunku sambil memejamkan mata merasakan sentuhannya. Rasanya aku seperti tak bisa bernafas, gugup, panas dingin, gemetaran, semua campur aduk jadi satu. Ternyata seperti ini rasanya digoda, biasanya kan aku yang selalu godain dia.


Hal yang tak pernah aku sangka, Biru tiba tiba mendorong kedua bahuku hingga tubuh ini terlentang diatas pasir.


"Ka, kamu mau apa?" Aku sangat gugup saat Biru mengungkungku dengan kedua lengannya. Wajahnya berada tepat diatas wajahku. Enggak, gak mungkinkan dia mau melakukannya disini? Ini tempat umum.


"Bi, Biru. Kamu mau apa?" Saking gugupnya aku sampai gagap.


Dia tak menghiraukan ucapanku. Terus saja menatapku sampai aku memejamkan mata saking nerveous nya. Kugigit bibir bawahku untuk mengurangi ketegangan.


"Hei...mau ngapain kalian! Jangan berbuat mesum disini!" Teriakan dari seseorang membuat Biru segera melepaskan kungkungannya. Begitu pula dengan aku, segera bangun dan merapikan rambutku.


Kulihat tiga orang berjalan kearah kami. Wajah Biru merah padam karena malu, begitu pula aku.

__ADS_1


"Astagfirullah, jadi kamu Ru." Ujar salah satu dari mereka sambil mengelus dada. Aku ingat wajah mereka, mereka warga kampung sekitar rumah Biru. Sepertinya hendak berangkat mencari ikan.


Biru tersenyum absurd sambil menggaruk garuk tengkuknya. Aku yakin dia malu sampai sampai ubun ubun saat ini.


"Kalian itu sudah menikah. Harusnya yang seperti ini didalam kamar, bukan disini? Tak malu dilihat orang?" Tegur orang lainnya.


"Sa, saya hanya becanda dengan istri saya Pak. Dia ngambek, jadi saya godain tadi. Gak ada niatan mau ngapa ngapain disini."


Hah, kok jadi aku. Bukannya dia yang tadinya ngambek.


"Ya sudah, pulang sana. Udah gak ngambek lagi kan? lanjut dirumah."


"Hehehe, iya." Biru meraih tanganku untuk berdiri. Kemudian kami pamit dan langsung pulang.


Setelah jauh dari mereka, Biru tertawa terbahak bahak.


"Masih bisa ketawa? Gak malu apa kepergok kayak tadi. Lagian kamu sih, bisa bisa mau berbuat mesum ditempat umum." Omelku sambil mencubit lenganya.


"Astaga!" Biru menepuk dahinya sambil terus tertawa. "Jadi kamu juga mikir aku mau berbuat macem macem tadi?"


"Maksud kamu?" Aku kok jadi bingung. Emang dia mau macem macem kan tadi?


"Aku tuh cuma mau godain kamu. Lagian aku masih waras, ya kali mau mesum ditempat umum. Mending dikamar aja." Ujarnya sambil menarik sebelah alisnya dan merangkulku.


Aduh aduh, aku kok jadi deg degan lagi ini. Apa jangan jangan, bakalan lanjut dikamar pas nyampek rumah nanti? Sumpah, tegang banget.


"Kenapa Cal?"


"Hah!" Aku langsung gelagapan mendengar ucapannya. Sepertinya dia menyadari ekspresi wajahku yang sedang memikirkan sesuatu.


"Eng, enggak apa apa."


Sesampainya dirumah, tak kulihat batang hidung Rama. Jangan jangan dia udah ngorok dikamar. Atau kalau enggak, mungkin lagi ngerjain kerjaan dikamar kali. Bomatlah, mending aku ngurusin suamiku.


Karena kerongkonganku terasa kering, langsung aku menuju dapur untuk mengambil air minum.


"Cal, boleh aku minta sesuatu?" Tanya Biru yang mengahampiriku didapur. Dilehernya tersampir handuk yang baru saja dia ambil dari jemuran sebelah rumah. Wajahnya tampak serius, membuatku langsung kepikiran kearah serius juga.


"A, apa?" Aku langsung gugup. Kuletakkan gelas yang aku pegang dimeja dengan tangan gemetaran. Perasaanku tak karuan. Jangan jangan dia mau minta malam pertama. Oh my God, akhirnya malam ini datang. Tapi kenapa aku malah takut gini?

__ADS_1


"Buatin aku mie instan."


"Hah!" Aku melongo mendengar permintaannya. Sepertinya aku terlalu menganggap serius.


__ADS_2