
POV BIRU
Kejadian tak terduga memang kerap terjadi dalam hidup ini. Seperti malam ini, baru juga aku merasakan surga dunia dan ingin mereguknya kembali untuk yang kedua kali, Rama malah muncul sambil garuk garuk badan dan bersin besin. Matanya juga terlihat bengkak, kasihan sekali. Saat kutanya, dia bilang alergi kucing. Karena tak tega, kuputuskan untuk mengantarnya menuju klinik yang ada dikota kecil tak jauh dari sini.
"Aku ikut." Cal buru buru turun dari ranjang sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Awwhh.." Kulihat dia tiba tiba meringis lalu menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa?" Tanyaku panik.
"Sakit." Ujarnya sambil memegangi area sensitifnya. Ini yang pertama baginya, pasti terasa sangat sakit. Meski aku tak bertanya, tapi bisa terlihat dari bercak darah yang mengotori sprei. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan wanita sepertinya. Selain cantik dan baik, dia juga bisa menjaga kesuciannya ditengah pergaulan yang saat ini meresahkan.
Hanya saja, dia suka sekali memakai pakaian seksi. Mungki ini PR buatku untuk sedikit demi sedikit merubahnya. Bukannya tak mau menerima apa adanya, hanya saja, sudah menjadi tugasku sebagai suami untuk membimbingnya kearah yang lebih baik.
Segera kukunci pintu dan menghampirinya.
"Udah kamu dirumah aja, biar aku yang ngater Rama." Kuangkat tubuh Cal dan kembali kubaringkan keatas ranjang. Dalam sekejab, aku merasa menjadi manusia paling egois. Aku merasakan kenikmatan luar biasa bahkan ingin kembali mengulanginya. Sedangkan Cal, dia malah kesakitakan. Kutarik selimut lalu menutupi tubuhnya hingga leher.
"Mau ikut." Rangeknya manja sambil menahan pergelangan tanganku.
"Katanya sakit, udah dirumah aja." Kukecup sekilas keningnya.
"Tetep mau ikut." Paksanya tanpa mau melepaskan tanganku.
"Ya udah ayo." Kubantu dia bangun lalu mengambilkannya pakaian dari almari. Kubantu dia mengenakan pakaian satu persatu. Jujur semua ini begitu berat rasanya. Hasratku yang tadi sedikit menurun, kembali membara melihat tubuh polos Cal yang sangat menggoda. Entah seperti apa dia merawat tubuhnya, kulitnya benar benar mulus tanpa noda sedikitpun. Ingin rasanya kudorong tubuh Cal ke pembaringan dan kembali bergelut panas disana.
"Biru, cepetan!" Teriakan Rama dari balik pintu menyadarkanku. Cepat cepat kutarik naik resleting gaun Cal agar tubuh menggoda itu segera tertutup dan tak membuatku menggila.
Dengan cepat aku memakai celana beserta kaos lalu menggandeng Cal keluar. Kulihat Cal sedikit meringis, tapi dia berusaha berjalan seperti biasa. Kami bertiga segera keluar rumah dan aku menguncinya kembali.
"Ayo." Kusambar kunci mobil yang ada ditangan Rama lalu berjalan duluan menuju mobil. Kupikir Rama tak mungkin bisa menyetir dalam kondisi seperti ini. Bukannya mengikutiku, Cal dan Rama malah diam saja sambil menatapku cengo.
"Ayo buruan."
"Kamu bisa nyetir?" Tanya Rama sambil menunjuk kearah tanganku yang memegang kuncil mobil.
Jadi itu sebab dibalik tatapan cengo mereka. Aku pernah kuliah dikota sambil kerja sampingan disalah satu bengkel mobil milik temanku. Dari sanalah aku belajar mengemudi mobil.
"Bisa. Udah ayo." Kubukakan pintu mobil bagian belakang agar lebih cepat, setelah itu aku masuk dibagian kemudi.
"Cal cepetan dong." Gerutu Rama. "Kamu itu kenapa sih, jalannya kok aneh gitu?"
Cal diam saja sambil berusaha berjalan biasa. Kasihan sekali aku melihatnya yang menahan rasa sakit.
Setelah kami semua berada didalam mobil, segera kulajukan dengan kecepatan sedang menuju klinik yang buka 24 jam.
Sementara Rama ditangani didalam, aku dan Cal menunggu disebuah bangku panjang.
"Dingin?" Tanyaku dambil menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Hem." Cal menganggukkan kepala.
Kusandarkan kepala Cal dibahuku sambik kuusap usap telapak tangannya dan sesekali ku tiup biar hangat. Tengah malam seperti ini, klinik sepi, hanya ada kami berdua di deretan kursi tunggu.
"Kasihan Rama." Lirihnya.
"Besok, Rama mau pulang ke kota. Yakin kamu gak mau ikut?" Kuberanikan diri bertanya. Karena sesungguhnya aku sangat penasaran dengan isi hati Cal. Rama sudah menceritakan tentang keluarganya, mungkinkah Cal teringin untuk pulang?
Cal mengangkat kepalanya dari bahuku lalu menatapku tajam.
"Kamu ngusir aku?"
Astaga, sepertinya dia salah paham.
"Bukan gitu Cal, aku cu_"
"Jahat kamu." Serunya tertahan sambil memukul lenganku kuat kuat. "Setelah kamu mengambil sesuatu yang berharga dariku, sekarang kamu ngusir aku?" Cal terlihat emosi. Matanya mulai mengembun dan segera kuraih tubuhnya dalam dekapanku.
"Lepas!" Dia berusaha berontak tapi makin kueratkan pelukanku.
"Kamu salah paham, dengarkan aku dulu."
Setelah dia tak lagi berontak, kulepas pelukanku dan kuseka air matanya. Kutatap netranya yang memerah sambil kutangkup kedua pipinya yang basah.
"Aku cuma bertanya Cal, gak ngusir kamu. Meski kamu masih amnesia, tapi Rama sudah menceritakan tentang keluargamu. Aku hanya bertanya, mungkin saja kamu ingin menemui mereka. Kita akan pergi bersama jika kau ingin bertemu keluargamu. Aku akan menemanimu."
Kembali lagi kuseka air mata yang merembes dari sudut matanya.
"Aku sudah ingat semuanya."
Deg
Aku cukup terkejut mendengar ucapan Cal. Sejak kapan dia ingat semuanya? Kenapa dia tak cerita padaku?
"Mereka jahat padaku. Mereka mamaksaku menikah dengan pria tua kaya. Mereka juga tak menolongku saat aku tercebur kelaut. Mereka jahat Bi, mereka jahat."
Hatiku ikut sakit mendengarnya. Kuciumi berkali kali puncak kepala Cal sambil kugenggam tangannya yang berada dipangkuanku.
"Aku sendiri Bi, mereka bukan keluargaku lagi. Aku tak punya keluarga."
"Jangan bicara seperti itu. Kamu punya aku, aku suamimu, keluargamu. Kamu juga punya Pak De, bu De, Santi, Gani, mereka juga keluargamu. Kamu gak sendiri Cal. Kita akan selalu bersama." Kutarik tanganya dan kuciumi punggung tanganya berkali kali. Cal terlihat lebih tenang, membuatku lega.
"Jangan pernah merasa sendiri. Ada aku yang selamanya akan mendampingimu. Dan mungkin saja, sebentar lagi akan ada anggota keluarga baru." Aku mengusap lembut perutnya.
"Maksud kamu?" Cal menegakkan badannya sambil menatapku.
"Mungkin saja sebentar lagi kamu...." Aku menggerakkan tanganku membentuk perut buncit. Cal melongo sambil menutup mulutnya.
"Tapikan baru sekali." Kulihat dia seperti tak tenang. Tak kan dia tak tahu apa akibat dari perbuatan kami tadi?
__ADS_1
"Sekalipun kalau pas subur bisa jadi Cal."
Kulihat ekspresi cemas di wajah Cal. Apa maksudnya ini? Apa dia tak ingin hamil, tak ingin punya anak denganku?
"Ada apa Cal? Kamu....belum siap punya anak?" tebakku.
Cal mengangguk pelan. Seperti ada yang dia pikirkan. Apa mungkin karena usianya yang masih muda? Atau karena aku belum seutuhnya mapan? Atau....begitu banyak praduga membuatku pusing sendiri.
"Aku....aku masih belum siap, maaf." Ujarnya sambil menunduk.
Kuangkat sedikit dagunya dan kuusap lembut dengan ibu jariku. Hamil serta melahirkan memang butuh kesiapan fisik dan mental. Tak mungkin aku memaksanya jika dia belum siap.
"Kenapa kamu gak bilang tadi? Aku kan bisa keluarin diluar kalau kamu bilang."
"Sebenarnya tadi aku mau bilang. Tapi kita keluar hampir bersamaan. Aku hilang fokus karena itu." Cal mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik. "Ini yang pertama bagiku. Aku gak pernah tahu jika rasanya sedahsyat itu. Aku....aku sampai gak bisa mikir apa apa, kecuali..."
"Kecuali apa?" Godaku sambil meliriknya.
"Nikmat." Bisiknya lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Ku buka perlahan telapak tangan yang menutupi wajahnya. Kulihat pipi semerah kepiting rebus yang membuatku gemas. Ditambah bibir sedikit bengkak karena perbuatanku tadi membuat wajahnya begitu terlihat menggoda. Kalau saja tak ingat Rama sedang kesakitan didalam sana, sudah kutarik Cal pulang dan mengajaknya kembali mereguk surga dunia.
Ceklek
Suara pintu yang dibuka membuyarkan lamunan kotorku. Atensiku dan Cal langsung menuju pintu. Tamlak Rama keluar dari sana ditemani seorang perawat.
"Gimana Ram?" Tanya Cal cemas sambari berjalan menghampiri Rama.
"Udah lumayan."
Entah apa yang diberi dokter didalam, Rama sudah tampak sedikit lebih baik. Matanya masih bengkak, dan kulitnya ruam. Hanya saja sudah tak terus menggaruk seperti tadi. Dia juga sudah tak banyak bersin. Karena ini tengah malam dan klinik ini kecil, kami tak perlu antri untuk mengambil obat. Karena hanya ada kami disana. Hanya saja, kami masih harus menungggu disiapkan.
"Alergi bisa nular ya?" Tanya Rama sambil memperhatikan Cal.
"Ya enggaklah, aneh kamu." jawab Cal.
"Tapi kok leher dan dada kamu merah merah? Kirain ketularan aku."
Cal reflek memegang lehernya. Dia menoleh padaku sambil melotot. Aku mengalihkan pandangan kearah lain, pura pura saja tidak tahu.
Setelah mendapatkan obat, kami langsung pulang. Cal mengantarkan Rama sampai kamar begitupun aku yang mengintil dibelakang mereka.
"Setelah minum obat, langsung tidur." Cal terlihat sangat perhatian pada Rama. Dia mempersiapkan air minum dan obat untuknya. Apakah aku cemburu? Ada sedikit, tapi tak seperti kemarin. Aku yakin jika cinta Cal untukku. Dia perhatian pada Rama hanya karena mereka bersahabat sejak lama.
"Kayaknya kamu alergi sama Biru deh Cal." Ujar Rama setelah menelan dua butir obat dari klinik.
"Alergi gimana?" Tanya Cal dengan dahi mengkerut.
"Tuh buktinya." Rama menunjuk area leher Cal. "Kamu langsung bentol bentol kalau dekat Biru." Lanjutnya sambil menahan tawa.
__ADS_1
Aku seketika menunduk malu. Bisa saja Rama menggoda kami. Cal terlihat salting lalu tanpa pamit meninggalkan kamar Rama, begitu pula denganku.