Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
MENAWARKAN DIRI


__ADS_3

POV CALLISTA


Sejak pulang dari pantai, belum kulihat batang hidung Rama. Bagaimanapun, dia tamu disini, sudah sepatutnya aku mengecek keadaannya. Mumpung aku lagi mau bikinin Biru mie, tak ada salahnya juga aku sekalian bikinin dia.


"Ram." Kupanggil sambil kuketuk pintu kamarnya.


"Iya." Terdengar sahutannya dari dalam. Dan tak lama kemudian, Rama membuka pintu kamarnya.


"Sudah makan?" Tanyaku.


Dia menggeleng sambil menguap. Melihat rambutnya yang acak acakan dan wajahnya yang kusut, kutebak dia baru saja bangun tidur.


"Aku bikinin mie ya?" Tawarku dan langsung dianggukin olehnya. Rama mengikutiku kedapur. Dia berdiri disamping tempat kompor sambil melihatku memasak mie instan.


"Kamu beneran udah berubah Cal." Ujarnya dengan kedua tangan di lipat didada.


"Berubah gimana?" Tanyaku.


Meski jarak dapur dan kamar mandi dekat. Aku tak takut Biru mendengar obrolan kami karena suara pompa air yang bising.


"Kamu mau ngelakuin hal remeh kayak gini." Jawabnya sambil menunjuk dagu kearah panci yang berisi mie.


"Sama Ram. Aku juga gak pernah membayangkan akan melakukan hal seperti ini. Memasak, menyapu, mencuci, semua itu tak pernah ada dalam list kehidupanku. Tapi nyatanya, aku melakukannya sekarang. Lucu memang, tapi aku sama sekali tak merasa keberatan atau terpaksa."


Rama tersenyum getir sembari mengambil alih garpu dari tanganku lalu mengaduk aduk mie didalam panci.


"Sepertinya kau benar benar mencintai Biru."


Untuk pertama kalinya, Rama mau menyebut nama Biru.


"The power of love. Mungkin kekuatan cinta yang membuatku bisa melakukan ini semua." Jawabku sambil menyiapkan bumbu mie kedalam mangkuk.


"Semoga kali ini pilihanmu tepat."


Aku yang sedang menuang bumbu mie, seketika berhenti. Rasanya masih belum bisa percaya Rama mengatakan itu. Sepanjang sejarah percintaanku, belum pernah Rama terang terangan memberi lampu hijau seperti ini. Semoga saja, otaknya gak lagi geser saat ini.


"Tadi aku bertandang kerumah sebelah, rumah pamannya Biru. Mereka sangat baik, terutama Bu De. Dari cerita mereka, aku bisa menyimpulkan jika mereka menyayangimu. Aneh ya Cal, orang orang yang baru kenal justru menyayangimu dengan tulus. Tapi keluargamu sendiri, justru mengkhianatimu."

__ADS_1


Aku tak tahu apa saja yang diceritakan Bu de dan Pak De. Tapi sepertinya, hati Rama terbuka karena mereka.


"Sekreterisku udah nelfon mulu. Dia bilang kerjaanku sudah menumpuk. Gila, padahal baru 3 hari aku gak kerja. Sepertinya besok aku mesti kembali ke kota." Ujarnya sambil terus mengaduk mie.


"Aku nitip CALS padamu Ram. Kabari aku jika terjadi sesuatu."


"Kenan memimpin perusahaan dengan sangat baik Cal. Entah saudaramu yang satu itu tulus atau sama seperti yang lain, tapi perusahaan makin maju dibawah pimpinannya. Dia lebih kompeten daripada papanya. Aku pernah sekali berpapasan dengannya saat mengunjungi makam palsumu."


Aku teringat Kak Kenan. Dia adalah anak sulung tante Sofi dan Om Kamal, kakaknya Kania. Selama ini dia baik padaku. Dulu sepertinya tulus, tapi entahlah, sekarang aku ragu. Mungkin saja dia juga satu komplotan dengan keluarganya. Bahkan difoto pemakamanku, tak kulihat batang hidungnya. Mungkin dia merasa tak perlu menghadiri pemakaman palsu itu.


"Kenan ada di US saat pemakamanmu." celetuk Rama.


Oh, jadi itu alasannya tak hadir. Pantas saja dia tak ikut saat kami semua naik kapal pesiar.


Obrolan kami terhenti saat Biru keluar dari kamar mandi.


Segera kutuang mie yang sudah matang kedalam mangkuk yang berisi bumbu. Rama membantuku memindahkan mangkuk mangkuk itu keatas meja makan.


Saat Biru duduk bergabung denganku dan Rama, mendadak aku gelisah. Semoga saja mereka berdua tak lagi bikin ulah seperti kemarin dan tadi pagi.


"Maaf untuk yang tadi pagi." Ucap Biru sambil mengaduk mie nya. Aku menoleh padanya, begitu juga Rama yang sedang menunduk, langsung mengangkat wajahnya menatap Biru. Inilah salah satu yang membuatku kagum pada Biru. Dia begitu jantan untuk meminta maaf. Bagiku, ini perbuatan yang luar biasa. Padahal aku yakin, Rama yang duluan memancing emosinya. Tapi Biru dengan kerendahan hatinya, mau meminta maaf duluan.


"Lupakan, anggap saja tak pernah terjadi." Sahut Rama.


Aku tersenyum, senang sekali jika mereka bisa akur. Selanjutnya kami makan dengan tenang. Rama sekalian berpamitan pada Biru jika besok dia akan kembali kekota. Dia juga secara langsung menitipkanku pada Biru.


...----------------...


Biru ngobrol dengan Rama diteras, sementara aku gelisah dikamar menunggu kedatangannya.


Aku berasa bagai pengantin baru yang sedang menunggu malam pertama. Sudah jam sepuluh lebih, tapi entah kenapa mereka masih terdengar ketawa ketiwi. Kenapa gak dari kemarin aja sih kayak gini, mau pulang baru akrab, dasar aneh.


Aku mematut diri didepan cermin. Wajah sudah kupoles make up tipis tipis. Lip tint rasa strawbery aku oleh dibibir agar saat ciuman nanti, ada sensasi rasa strawberry nya. Kukenakan mini dress dengan potongan dada rendah agar terlihat menggoda. Tak lupa aku semprotkan parfum supaya wangi.


Samar samar kudengar suara pintu ditutup. Sepertinya mereka sudah mengakhiri sesi obrolan dan kembali masuk rumah.


Jangtungku berdebar kencang. Sebaiknya aku pura pura tidur atau enggak ya? Aku panik sendiri. Kurebahkan diri dan kutarik selimut. Eits, jangan jangan malah gak disentuh kalau pura pura tidur. Segera kusingkirkan selimut dan kembali duduk.

__ADS_1


Ceklek


Gegas kurapikan rambut yang berantakan gara gara pura pura tidur tadi.


"Belum tidur Cal?" tanyanya sambil mengunci pintu.


"Be, belum." Aku mendadak gagap saking tegangnya.


Biru mendekat kearahku, membuat jantung ini rasanya mau melompat keluar dari tempatnya.


"Sudah ngantuk belum?" Tanyanya sambil duduk disisi ranjang. Aku menggeleng malu malu. Tak tahukah dia kalau aku sedang menunggu kedatangannya.


"Kamu wangi banget Cal."


Aku hanya tersenyum absurd. Apakah dia juga sadar jika aku sengaja dandan untuk menyambutnya..


"Bi, Biru." panggilku.


"Ada apa Cal?"


Aku sedang berperang dengan hatiku saat ini. Antara menawarkan diri atau diam saja menunggunya bergerak. Rasanya malu untuk mengajak duluan. Tapi dari artikel yang aku baca di internet, banyak sekali keutamaan istri yang menawarkan diri duluan. Salah satunya adalah diharamkan api neraka baginya. Apa ini saat yang tepat untuk menawarkan diri duluan? Tapi lidah ini terasa kelu, antara gengsi dan malu.


"Cal, ada apa, kok malah ngelamun?"


"A, aku." Kuhirup udara lalu membung perlahan. Tak pernah aku segugup ini sebelumnya.


"Kamu kenapa Cal?"


Oh my God, dia sebenarnya sedang memancingku atau beneran gak ngerti sih?


"Apa kamu menginginkanku malam ini?" Kuucapkan kalimat itu dengan cepat sambil memejamkan mata. Sumpah, malu banget rasanya.


Cup


Kurasakan sesuatu yang lembab dan kenyal menyentuh pipiku. Biru mengecup lembut pipi kiriku. Jangtungku berdegup tak karuan dibuatnya. Pelan pelan, mulai kubuka mata ini.


"Sangat, aku sangat menginginkanmu." Jawabnya sambil menelusuri wajahku dengan punggung tangannya. Darahku seketika berdesir. Bulu kuduku mulai meremang merasakan sentuhannya.

__ADS_1


__ADS_2