Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
PULANG


__ADS_3

POV CALLISTA


Aku mengendarai mobilku menuju rumah yang sudah aku tinggalkan sebulan lebih. Sengaja aku sendiri yang menyetir karena Biru tak tahu jalannya. Sebenarnya Rama ingin ikut, tapi aku melarangnya karena kadang dia suka gesrek. Jadi kuputuskan hanya aku dan Biru yang pulang.


Mobilku berhenti tepat didepan gerbang tinggi rumahku. Aku yakin sekurity sudah hafal dengan mobil ini. Benar saja, mereka langsung membukakan gerbang. Saat kubuka kaca jendela dan tersenyum pada mereka, wajah mereka seketika pias. Aku yakin mereka ketakutan setengah mati sekarang, bahkan mungkin sampai ngompol.


Dihalaman rumah ada beberapa mobil yang tak kukenal, antah mobil siapa itu, yang jelas sedang ada tamu didalam.


Aku menatap nanar rumah megah tempatku tumbuh itu. Rumah ini di design sendiri oleh alm mamaku. Dulunya tak semegah ini, tapi seiring perekonomian keluarga yang main baik, papa merenovasinya hingga semegah ini.


"Ini rumah kamu?" Biru menyadarkanku dari lamuanan. Dia tampak tak berkedip dengan mulut menganga malihat rumah mewah didepannya.


"Bukan."


"Lalu ngapain kita kesini?"


Aku tertawa ringan mendengarnya. "Bukan rumahku, tapi rumah kita." Aku mengulang kata kata yang Biru sering ucapkan padaku. Saat aku menyebut rumah dikampung nelayan sebagai rumahnya, dia selalu bilang jika itu rumah kami, bukan rumahnya.


"Ayo turun." Aku melepaskan seatbelt, begitu juga Biru. Kulihat dari spion, dua orang sekurity berjalan kearah mobilku.


Begitu aku turun, langkah kedua sekurity itu terhenti. Rasanya ingin tertawa melihat kaki dan tangan mereka yang gemetaran. Bibir mereka bergerak gerak seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar.


"Pagi Pak." Sapaku yang seketika membuat celana salah satu sekurity basah.


"Jangan takut, dia bukan hantu." Ujar Biru yang ternyata sudah berdiri disampingku.


Aku jadi teringat ide Rama tadi. Dia menyuruhku dandan seperti kuntilanak saat pulang. Aku gak dandan aja mereka ketakutan setenah mati, apalagi kalau aku dandan, bisa bisa mereka pingsan.


"No, no ,no, Non Callista." Dengan susah payah akhirnya kata itu keluar dari bibir salah satu sekurity.


"Iya, saya Callista, bukan hantu." Sahutku sambil tersenyum. "Kami masuk dulu ya pak." Pamitku. Biru menggandengku menuju teras rumah.


Langkahku terhenti saat baru menginjak lantai teras. Bisa kudengar suara tawa yang bergema dari ruang tamu. Sepertinya didalam ada Tante Sofi dan teman temannya.


"Gimana, ada yang berani menawar lebih tinggi gak?" Itu suara Tante Sofi.


"Yakin kamu mau jual rumah ini Sof?"


Telapak tanganku seketika mengepal kuat. Tante Sofi mau menjual rumahku? Siapa dia? Punya hak apa dia?


"Aku ingin membangun rumah sesuai designku sendiri, makanya aku mau jual rumah ini."


"Aku lagi bokek Sof, tapi nanti aku bantu tawarkan ke kolegaku. Tapi kalau gol, jangan lupa bagianku."


"Itu mah beres."


"Kalau begitu nanti aku minta foto fotonya, biar bi_"

__ADS_1


"Rumah ini tidak dijual." Teriakku yang sudah berdiri diambang pintu.


Empat orang yang ada diruang tamu seketika menatapku pias. Tapi aku hanya peduali dengan tante Sofi. Wanita yang pernah aku anggap sebagai mama itu wajahnya pucat pasi.


Aku dan Biru melangkah masuk. Kulihat wajah wajah tegang serta badan yang gemetar. Padahal baru beberapa detik yang lalu mereka tertawa ketiwi.


"Apa kabar tante?" Sapaku sambil tersenyum manis dan berjalan mendekatinya.


"Ka, kamu masih hidup?" tanyanya terbata dengan tubuh gemetaran.


"Gak usah sok kaget seperti itu. Tante gak mikir aku bangkit dari kuburkan?" Ledekku. "Tentu saja tidak. Karena tante tahu jika bukan aku yang dikubur waktu itu. Itu hanya makan palsu yang entah jasad siapa yang berada didalamnya."


Teman teman tante terlihat syok. Mereka menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil geleng geleng.


"Ma, makan palsu?" Gumam seseorang.


"Benar sekali." Sahutku lantang. "Wanita ini membiarkanku tenggelam dilaut lalu membuat makam palsu atas namaku. Demi apa? aku yakin kalian semua tahu alasannnya."


"Tidak, itu tidak benar," sangkalnya dengan suara bergetar.


"Lalu, seperti apa yang benar?" Teriakku.


"Aku, aku..." tante Sofi bingung harus menjelaskan seperti apa.


Kulihat beberapa art mulai keluar. Mungkin karena teriakanku yang begitu keras sehingga mereka penasaran untuk melihat. Mereka semua sama, syok melihatku masih hidup.


"Non Cal masih hidup." Ucapnya dibalik punggungku sambil terisak.


"Iya Bik, aku masih hidup."


Bik Nuning melepaskan pelukannya lalu menatapku. "Apa yang sebenarnya terjadi Non?"


Aku langsung menunjuk tante Sofi. "Dia Bi, wanita serakah itu yang telah membunuhku."


Bi Nuning dan art lainnya seketika melotot dengan mulut menganga. Sepertinya mereka kaget melihat kelakuan nyonyanya.


"Tidak, tidak, aku tidak membunuhmu." Sangkal tante Sofi sambil berteriak teriak histeris. Dia ketakutan sendiri saat semua mata menatap kearahnya. Tanpa bicara, mata mata itu seperti mengadilinya. Membuatnya ketakutan sendiri karena dikejar dosa.


"Kamu bunuh diri, kamu bunuh diri, bukan, aku bukan pembunuh." Tante Sofi berdiri seperti orang bingung.


Satu persatu teman tante Sofi meninggalkan rumah. Sepertinya mereka tak mau terseret dalam masalah ini.


"Ada apa sih teriak teriak?" Seru seseorang dari dalam. Aku hafal suaranya, itu om Kamal. Dari tampilannya, dia seperti baru bangun tidur.


"Apa kabar Om?" Sapaku sambil memberikan senyuman termanis. Saking terkejutnya melihatku, Om Kamal sampai mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh.


"Ca, Ca, Callista." Ucapnya dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Aku melihat jam ditanganku, sudah jam 10 pagi. "Bukankah ini jam kerja, kenapa om ada dirumah?" Sindirku sambil tersenyum sinis. Benar kata Rama, manusia satu ini selain doyan selingkuh, dia juga malas bekerja. Bahkan bisa dianggap makan gaji buta. Mentang mentang dia sebagai waliku dan Kak Ken sebagai CEO, dia bisa seenak jidatnya sendiri.


Disaat tante Sofi dan Om Kamal masih syok, aku menggandeng lengan Biru dan memperkenalkannya.


"Oh iya Bi, kenalin dia suamiku." Ujarku sambil menoleh pada Biru. Biru tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Mulai detik ini, dia tuan dirumah ini. Jadi saya tidak perlu menjelaskan seperti apa kalian harus memperlakukannya." Semua art mengangguk paham.


"Dan satu lagi, kemasi barang barang mereka." Aku menunjuk Tante Sofi dan Om Kamal bergantian. "Mulai detik ini, mereka tak akan tinggal disini lagi."


"Tidak bisa begitu." Seru Om Kamal tak terima. "Kamu tidak bisa mengusir kami dari sini. Selama usiamu belum genap 21 tahun, kamu belum bisa memiliki semua warisan, semua masih dibawah tanggung jawab kami sebagai wali. Termasuk rumah ini, kami masih berhak tinggal disini."


Aku makin terkekeh mendengar kepercayaan dirinya yang tinggi itu. Dasar manusia sampah, tak tahu diri.


"Terlalu yakin sepertinya tidak baik juga." Ledekku masih dengan tawa yang belum reda.


"Apa maksudmu?" Om Kamar maju dan hendak menyentuhku, tapi Biru lebih dulu mendorongnya hingga terhuyung kebelakang.


"Jangan coba coba sentuh istri saya." peringatnya.


"Siapa kau? Kau hanya orang luar, tak usah ikut campur." Bentaknya.


"Astaga, ternyata selain pembunuh, pembohong, tak tahu malu, dan tukang selingkuh." Sengaja aku tekan kata itu sambil melirik tante Sofi. "Om juga tuli. Tak dengar tadi aku bilang dia suamiku." Bentakku sambil meraih tangan Biru lalu menggenggamnya. Mengangkat genggaman itu dan menunjukkan padanya.


"Anda yang orang luar disini. Ini rumahku dan suamiku, jadi silakan angkat kaki dari sini atau aku panggil satpam untuk ngusir kalian." Lanjutku sambil menatap Om Kamal dan tante Sofi bergantian.


"Tidak bisa, semua warisan kamu masih dibawah perwalian kami. Kamu tak bisa apa apa, apalagi mengusir kami."


Aku mendengkus kesal. Susah juga ngomong sama orang yang urat malunya sudah putus. Dan yang bikin aku makin gak ngerti, tak ada raut bersalah diwajah om Kamal.


"Terserah kalau kalian masih mau tinggal disini. Tapi kurasa tak akan lebih dari dua hari. Karena besok atau lusa, aku yakin polisi akan datang untuk menangkap kalian."


Tante Sofi yang berdiri langsung terduduk lemas disofa. Wajahnya pucat pasi seperti tak ada darah yang mengalir sama sekali. Aku yakin dia ketakutan sekali saat ini.


"Jangan macam macam kamu Cal." ancam om Kamal sambil menunjukku.


"Gak macam macam, hanya satu macam saja. Hari ini aku sudah buat laporan tentang pembunuhan dan penipuan dengan membuat makam palsu. Jadi tunggu saja, karena tak lama lagi, kalian tak akan tinggal disini, tapi dipenjara." Tekanku.


"Ayo Bang kita masuk." Aku menarik tangan Biru memasuki bagian dalam rumah lalu naik kelantai dua. Aku menghela nafas saat melihat kamarku yang sudah berubah total. Banyak foto Kania yang terpasang disini. Sudah pasti Kania mengambil alih kamarku.


"Bibi." Teriakku memanggil pelayan.


Aku membuka almari dan kudapati pakaian Kania didalamnya. Kuluapkan emosiku dengan mengeluarkan semuanya dari dalam almari. Biru diam saja melihatku mengacak acak kamar. Sepertinya dia paham dengan perasaanku. Dia biarkan aku melampiaskan semua kekesalanku.


"Iya Non." Dua orang art memasuki kamarku.


"Bersihkan kamarku dari barang barang Kania. Jangan sampai ada satu barangpun yang tertinggal."


Mereka mengangguk dan langsung melakukan tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2