
POV BIRU
Pagi pagi, rumah sudah heboh gara gara masuk angin berjamaah. Mulai dari Pak De, Bu De, sampai Santi, sibuk kerokan. Penyebabnya sudah jelas, mereka tak tahan dengan AC.
"Kalau emang gak tahan, kenapa AC nya gak dimatiin sih Gan?" Tanyaku pada Gani yang sedang sibuk mengerokin bapaknya.
"Kamu pikir matiin AC kayak matiin nyamuk, tinggal tabok aja langsung sekarat. Lah itu AC, mana ngarti aku cara matiinnya Ru."
Hadeh, begini nih, kalau jadi orang malu bertanya. Udah tau gak bisa tapi gak mau tanya. Kalau udah masuk angin, AC yang disalahin.
"Pak Lik, kita jadi jalan jalan gak?" Rengek Galang sambil menarik narik kaosku. Kemarin kami memang sudah berencana kalau hari ini mau jalan jalan ke mall. Galang yang sejak bayi belum pernah nginjek mall, tentu sangat antusias.
"Kita tanya tante Cal dulu ya." Sahutku sambil mengusap pelan puncak kepalanya.
"Kalian pergi aja kalau mau pergi. Biar Bu De dan Pak De dirumah saja. Badan meriang gini, pengennya cuma rebahan," ujar Bu De.
Aku mengajak Galang menghampiri Cal dan Santi yang sedang ada didapur. Pemandangan disana tak jauh beda sama dikamar. Tampak Santi yang sedang dipijit oleh Lastri. Kedua sisi keningnya juga ditempeli koyo.
"Mau saya buatin kopi Den?" tanya Bi Nuning.
"Biar Cal aja yang bikinin Bi." Sahut Cal yang sedang sibuk didepan kompor. Entah sedang masak apa dia sekarang. Kupikir setelah kembali kekehidupabnya yang dulu, Cal tak lagi mau menyentuh dapur, nyatanya dia makin getol belajar masak.
"Non Cal sekarang beda banget sama yang dulu. Kalau dulu, jangankan bikin kopi, nginjek dapur aja dia gak mau," celetuk Lastri.
"Kalau kamu ngelihat Cal dikampung, bisa pingsan kamu Las. Jangankan masak dan bikin kopi, nyuci dan ngepel juga dia kerjain," Santi menimpali.
Aku mendekati Cal yang sedang menyeduh kopi. Dia tampak begitu seksi dari belakang. Entah efek nahan berhari hari karena Cal lagi datang bulan atau apa, Ingin sekali aku memeluknya dari belakang seperti di film film, sayangnya situasi tak mendukung karena banyak orang.
Cup
Aku mencuri kecupan singkat di pipi Cal. Membuatnya seketika memelototiku sambil memperhatikan sekitar, takut kalau kalau ada yang lihat.
"Abang ihh." Protesnya sambil mencubit pelan lenganku. Aku yakin, meski dia protes, sebenarnya dia juga senang kuperlakukan seperti itu, terbukti dengan kedua pipinya yang merona.
"Nih, kopinya udah siap." Cal meletakkan sendok yang baru saja dia buat mengaduk lalu membawa kopi itu keatas meja yang ada didapur.
"Tante Cal, kita jadi ke mall kan?" Rengek Galang.
"Ibu itu sakit Lang, masa iya kita mau jalan jalan," Santi menyahuti.
"Tapi Galang ingin ke mall Bu." Bocah itu sepertinya tak sabaran ingin segera melihat mall.
Cal menatapku, sepertinya dia bingung harus berbuat apa.
"Besok aja ya Lang ke mall nya," bujukku. Meski bibirnya cemberut, dia tetap mengangguk. Kasihan juga kalau Santi dan Pak De, Bu De gak diajak. Mereka pasti juga pengen.
"Gimana, kalau hari ini, Galang Pak lik ajak jalan jalan sekitar sini lalu mampir ke minimarket. Nanti Pak lik beliin jajan yang buanyak." Aku masih berusaha membujuknya. Kali aja dengan iming iming jajan, hatinya bisa luluh.
"Jalan jalannya, naik mobilkan Pak lik?"
"Boleh juga," sahutnya.
Galang langsung mengangguk setuju, lalu mengangkat telapak tangan untuk melakukan tos denganku. Aku beranjak menuju kamar untuk mengambil kunci mobil dan ganti baju, disaat bersamaan Cal juga masuk kamar.
"Mau ikut?" tanyaku. Cal menggeleng sambil berjalan menghampiriku yang sedang ganti kaos. Belum sempat aku memakai kaos yang baru ku ambil dari almari, Cal tiba tiba memelukku.
"Cal.." Desisku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Kalau dibiarin, bisa bisa aku yang kelabakan kalau sampai di joni bangun. Cal masih datang bulan, harus aku sarangin kemana nanti di joni. Nunggu 7 hari kenapa rasanya lama banget sih.
"Gak usah gangguin abang. Kamu masih datang bulan." Cal nyengir lalu melepaskanku. Dia berjalan menuju nakas lalu mengeluarkan sesuatu dari sana.
__ADS_1
"Bawa ini aja." Cal memberikan kartu debitnya padaku. Kamarin, semua rekeningnya yang sempat dibekukan sudah kembali dipulihkan.
"Gak usah, cuma ke minimarket doang. Abang masih ada duit."
"Ini emang sengaja aku bikinin buat abang."
"Ta_"
"Udahlah Bang. Cal lagi gak pengen debat."
Aku membuang nafas berat lalu menerima kartu tersebut. Dia lagi datang bulan, bawaannya sensi, jadi mending aku turutin aja semua maunya. Daripada mendadak berubah jadi singa, malah panjang kali lebar urusannya.
Aku kebawah untuk memanggil Galang. Rencananya kami mau jalan berdua saja, tapi Gani malah maksa ikut. Semoga saja si resek itu gak bikin ulah kali ini.
Sepanjang jalan, Gani tak henti hentinya berdecak kagum. Ini memang kawasan perumahan elit, jadi semua rumahnya tak ada yang biasa saja, melainkan kayak istana.
"Nasib kamu bener bener mujur Ru. Tinggal dirumah mewah, kemana mana naik mobil. Mau beli apa apa tinggal nekan jempol. Dan gitu, punya istri cantik banget pula. Kurang apa coba hidup kamu Ru. Kalau kata salah satu pesulap, hidup kamu itu, sempurna." Ucapnya sambil menirukan gaya salah satu magician yang sering muncul ditv.
"Halah, lebay kamu."
"Bukan lebay, tapi emang kenyataan. Padahal aku pikir dulu, Cal bakal ninggalin kamu pas Rama datang. Eh, ternyata dia malah milih kamu yang kere." Ledeknya sambil cekikikan. Minta disumpal emang mulutnya nih orang. Suka seenak jidatnya sendiri kalau ngomong. Ngatain aku kere, kayak dia kaya aja.
"Kere itu apa Pak?" tanya Galang.
"Ya kayak bapakmu itu kere." Cepat cepat aku menyahuti pertanyaan Galang. Puas sekali rasanya aku bisa membalikkan keadaan.
"Kayak bapak? jelek maksudnya Pak Lik?"
"Hahaha." Tawaku seketika meledak.
"Dasar anak pinter, masak bapaknya sendiri dikatain," omel Gani.
"Tuh denger, Galang nanyain fakta? bukan ngatain." Sahutku masih dengan tawa yang tak kunjung reda.
"Kurang asem kamu Ru." Ucapnya sambil memelototiku.
Setelah berkeliling, kami mampir kesebuah minimarket. Aku menyuruh Galang mengambil apapun yang dia mau, tapi dengan tak tahu malunya, malah Gani yang memborong banyak sekali makanan dan rokok. Tak ingin berdebat dengannya, aku biarkan saja. Toh gak setiap hari seperti ini.
Saat didepan kasir menunggu belanjaan ditotal, mataku tertuju pada tisu bungkus hitam yang dulu dikasih Gani. Ngomong ngomong, aku taruh mana dulu tisu sialan itu.
"Mbak, sama tisu itu satu." Ucap Gani sambil menunjuk tisu tersebut.
"Yaelah Gan, Santi lagi sakit." Ucapku sambil geleng geleng. Masak iya orang sakit masih diajak main juga.
"Bukan buat aku, tapi buat kamu. Kulihat sejak tadi kamu pelototin mulu tuh tisu. Malu ya mau beli?" Ledeknya sambil cekikikan. "Makanya aku yang bilangin ke mbaknya, karena aku tahu kamu malu."
Mbak mbak kasir itu terlihat menahan tawa. Sialan si Gani, hobi banget bikin aku malu. Setelah semua belanjaan ditotal, segera aku bayar dan pergi darisana. Aku sudah terlanjur malu gara gara Gani.
Sesampainya dirumah Galang langsung menuju ruang tengah dimana ibu dan kakek neneknya berkumpul. Terdengar dia sedang memamerkan belanjaannya yang seabrek itu.
Gani tiba tiba menyelipkan tisu itu kesaku celanaku.
"Kalau udah kebelet, buruan main. Disini mah mau siang atau malam sama sama enak, adem karena ada AC. Jadi gak usah nunggu malem kalau udah kebelet." Ledeknya sambil cekikikan. Ya Tuhan, sebenarnya salahku apa, kenapa punya sepupu otaknya geser kayak gini. Apa ini efek dia tenggelam di laut pas kecil dulu?
"Udah buruan panggil Cal, ajak kuda kudaan." Dia mendorongku sambil cengengesan.
"Kuda kudaan pala lo peyang. Cal lagi datang bulan." Sahutku geram sambil memelototinya.
Gani langsung melongo. Tapi sesaat kemudian, tawanya meledak. Dasar kurang ajar, sepertinya dia sangat bahagia melihatku menderita.
__ADS_1
"Hahahaha....Jadi kamu ngelihatin tisu tadi karena lagi ngempet? Kasihan banget sih...hahahaha."
Sialankan, bener bener sialan nih anak.
"Cal gak mau bantuin nyervis ya?" Cibirnya sambil menyenggol bahuku. "Tenang, nanti aku kirimin link buat bantuin kamu main solo."
Belum sempat aku memakinya, Cal tiba tiba datang.
"Cal, jahat kamu," ujar Gani.
"Paan sih?" Tanya Cal sambil mengerutkan dahi.
"Udah, gak usah didengerin." Kutarik lengan Cal menjauh dari Gani. Jangan sampai Gani ngomong yang enggak enggak.
"Galang kayaknya happy banget tadi. Kamu ajak jalan jalan kemana aja?" Tanya Cal sambil bergelayut manja dilenganku. Kami berdua menaiki tangga menuju kamar.
"Sekitar sini aja. Terus aku ajak mampir minimarket."
"Ohh...Mungkin seperti ini definisi bahagia itu sederhana. Jalan ke minimarket aja, Galang udah happy."
Sesampainya dikamar, aku meletakkan dompet diatas nakas. Korogoh saku celana untuk mengekuarkan kunci mobil.
"Apaan itu Bang?"
Sial, aku lupa kalau Gani tadi memasukkan tisu lucknut kesaku celanaku. Benda itu terjatuh saat aku mengambil kunci mobil.
Buru buru aku menunduk untuk mengambil, tapi sayang keduluan Cal.
"Kamu beli ini Bang?" Tanyanya kaget sambil menunjukkan benda tersebut. "Aku kan lagi datang bulan. Kamu gak lagi mikir mau main sama yang lain kan?" Tanyanya dengan nada tinggi.
Halah, kok malah kesana sih mikirnya.
"Jawab Bang!" Teriak Cal sambil menarik lenganku kasar.
"Apaan sih Yang. Itu tadi Gani yang iseng beli di minimarket. Terus dia kasih ke Abang."
"Gak usah ngeles."
"Ngeles apanya coba." Kuambil tisu pembawa fitnah itu dari tangan Cal. Tak mau ngamuknya makin menjadi jadi, kulemparkan benda terkutuk itu ke tempat sampah.
Cal cemberut dengan kedua tangan dilipat didada. Kurangkul dia lalu kutuntun hingga duduk ditepi ranjang.
"Gak usah neting, gak baik buat kesehatan hati dan jantung." Kukecup bibirnya agar tak monyong lagi.
"Awas kalau Abang macem macem."
"Yaelah Yang, Abang gak mau macem macem. Cuma mau satu macem aja. Yaitu kamu, istri Abang yang paling cantik." Kukeluarkan jurus gombal amoh biar dia klepek klepek.
Ting ting ting
Terdengar bunyi notifikasi beruntun dari ponselku. Cal seketika menatapku curiga, membuatku menelan ludah dengan susah payah. Harus kubuka didepan dia biar gak salah paham. Entar dikiranya chat dari cewek lagi.
Kuambil ponsel diatas nakas lalu membuka pesan dari Gani.
Mampus, Gani sialan itu memang harus aku beri pelajaran.
"ABANG!" Teriak Cal sampai membuat telingaku berdengung. "Jadi gini kelakuan Abang. Aku datang bulan, Abang langsung nyari kenalan cewek cewek seksi?"
Gani mengirimiku foto cewek cewek seksi setengah telanjjang. Selain itu, juga link vidio yang aku yakin pasti vidio bokep.
__ADS_1