
POV BIRU
Cal terlihat bahagia sekali malam ini. Dia duduk diatas ranjang sambil membongkar barang barang belanjaannya. Pantas saja hari itu uang satu juta langsung amblas. Hari ini, entah berapa juta uang yang sudah digelontorkan oleh Rama. Apakah seperti itu masih bisa dianggap sahabat? Astaga, apa yang aku pikirkan? Rasanya aku tak bisa percaya begitu saja dengan status itu.
Cal menyambar paper bag bertuliskan nama toko ponsel. Aku sampai melotot melihat isinya. Ponsel android keluaran terbaru yang iklannya sering wara wiri di tv. Aku taksir harganya sangatlah mahal, mungkin sekitar sepuluh juta.
"Rama yang membelikan?" Tanyaku.
"Hem." Jawabnya sambil unboxing kotak dan mengeluarkan ponsel barunya.
"Sebenarnya aku pengen i phone. Tapi gak ada didaerah sini. Terpaksa deh beli ini."
Terpaksa dia bilang! Ponsel semahal itu dia bilang terpaksa hanya karena gak ada i phone? Aku memang tak tahu seberapa kaya keluarga paman dan bibi yang merawat Cal. Tapi aku yakin, mereka pasti kaya raya melihat bagaimana gaya hidup Cal.
Iseng aku melihat salah satu baju yang dia beli. Rasanya aku sampai kesulitan bernafas melihat price tag yang menggantung dibaju itu. Bagaimana tidak, harganya hampir mencapai 1 juta. Ini bukan kota besar dimana banyak mall yang menjual pakaian branded. Harga segini sudah termasuk fantastis disini.
"Cal."
"Hem." Sahutnya sambil mengotak atik ponsel barunya.
"Kamu sudah ingat tentang Rama?"
"Kenapa?"
"Apakah dia benar sahabat kamu?"
"Iya, emang kenapa?" Tanyanya tanpa melihatku. Sepertinya dia terlalu asyik dengan ponsel barunya.
"Jika hanya seorang sahabat, kenapa dia membelikanmu begitu banyak barang?"
"Emang gak boleh ya sahabat beliin barang buat sahabatnya?" Lagi lagi dia tak malihatku. Masih tetap fokus pada benda pipih ditangannya. Ingin rasanya kurebut benda itu agar dia bisa konsentrasi padaku.
"Total semua jutaan loh Cal. Mungkin bisa saja sampai 20 juta. Apa menurutmu wajar jika sahabat membelikan sebanyak ini?"
"Wajar aja sih. Gaji Rama kan gede." Jawabnya enteng. Segede apapun gajinya, masih tak wajar menurutku.
"Emang dia cerita ke kamu tentang kerjaannya?"
"Dia itu manager di perusahaan besar. Gajinya puluhan juta."
Aku tersenyum getir mendengarnya. Bukannya mau membandingkan, tapi memang sangat berbeda jauh antara penghasilanku dan Rama. Apakah aku insecure saat ini? jawabannya iya.
Rasanya aneh jika Rama mau menggelontorkan uang senanyak ini untuk Cal jika tak ada apa apa diantara mereka. Entah seperti apa hubungan mereka dulu, tapi jika aku tak salah lihat, Rama seperti menyimpan rasa untuk Cal.
"Kamu udah makan Cal?"
"Udah, tadi makan diluar sama Rama. Astaga, jangan bilang kamu belum makan gara gara nungguin aku?" Tebaknya dan seratus persen benar.
"Udah kok." Berbohong sedikit gak ada salahnya kan? Toh rasa laparku juga sudah hilang hanya dengan melihat barang belanjaan Cal yang seabrek ini.
"Yah...kirain kamu gak enak makan kalau gak ada aku. hehehe." Ujarnya sambil beranjak untuk mengisi daya ponsel barunya. Setelah itu dia menyaut satu baju lalu ditempelkan ditubuhnya.
"Bagus gak?" Tanyanya sambil menunjukkan gaun yang sangat cantik dengan harga fantastis.
"Bagus."
Loh loh loh, mau ngapain dia? Aku kaget saat Cal tiba tiba menarik turun gaun kerutnya yang tanpa resleting.
__ADS_1
"Mau ngapain?" Tanyaku sambil reflek mengalihkan pandangan kearah lain sambil menunduk.
"Nyobain gaun." Jawabnya enteng tanpa rasa bersalah. Tak tahukan dia kalau perbuatanya itu udah bikin aku jantungan dan panas dingin.
"Bukankah menundukkan pandangan itu hanya pada yang bukan muhrim ya? Lalu kenapa kamu malah nunduk dan hadap kearah lain?"
Yaelah, senjata makan tua. Pintar sekali Cal membalikkan ucapanku kemarin. Bukannya tak mau lihat, mau, mau banget bahkan. Tapi aku takut gak kuat menahan diri. Aku tak mau dikira memanfaatkan orang yang sedang amnesia.
"A, a , aku..." Duh, bingung deh mau jawab.
Aku mendengar langkah kaki Cal yang semakin dekat. Aroma parfumnya juga makin tercium. Aku menghela nafas sambil mengatur detak jantung yang kian memburu.
Cal tiba tiba menarik bahuku agar menghadapnya. Sekatika itu juga, kupejamkan mata ini sambil menunduk.
"Buka matanya!"
Seru Cal yang tak juga lakukan.
"Biru!" Serunya kesal.
"Aku....udah gak pakai apa apa loh. Daleman juga udah aku lepas. Yakin gak mau lihat?"
Deg deg deg
Aku kena serangan jantung dadakan gara gara Cal. Apa benar dia udah gak pakai sehelai benangpun saat ini?
Buka matamu Biru, buka. Pemandangan indah didepan mata jangan disia siakan. Bisikan bisikan itu terus mengema ditelingaku.
"Kecoak!" Teriak Cal histeris hingga aku reflek membuka mata dan mencari keberadaan hewan kecil itu.
"Mana kecoa nya, mana?" Aku memperhatikan lantai disekitar kaki Cal. Tapi tak kulihat juga hewan hitam kecil itu. Pandanganku mulai merambat keatas. Sial...jadi Cal mengerjaiku, ternyata dia tak melepas baju yang tadi dia kenakan.
Cal tertawa ngakak karena telah berhasil mengerjaiku.
"Terus aja ketawa." Sinisku.
"Lagian, masa sama istri sendiri pakai tutup mata. Gak pengen gitu lihat tubuh istrinya? Udah ah, aku mau nyobain baju dikamar aku aja."
Mataku seketika melotot mendengarnya. Kamar Cal dipakai Rama sekarang. Mana boleh dia nyobain baju disana. Segera kutarik lengannya saat dia hendak menarik gagang pintu.
"Jangan gila, kamar itu dipakai Rama."
"La terus aku nyobain dimana? Dikamar mandi cerminnya kecil. Mana bisa aku lihat penampilanku." Ujarnya sambil cemberut.
"Ok, ok, kamu nyobain disini aja."
"Tapi kamu bantuin ya?"
"Ba ba bantuin?" Bantuin yang gimana nih? padahalkan niatku mau keluar saat dia nyobain baju.
"Sebagian ada yang resletingnya dibelakang. Selain itu, aku juga butuh orang untuk menilai penampilanku. Gimana, mau gak? Kalau enggak, biar Rama aja." Cal kembali hendak keluar tapi buru buru aku tahan.
"A, aku bantuin."
"Beneran nih?" Lirihnya didekat telingaku. Nafas hangatnya yang menyapu leher membuatku merinding.
"Iya, udah buruan." Segera kudorong Cal menuju depan cermin agar dia tak bisa melihat kegugupanku.
__ADS_1
Cal mulai bergerak menurunkan gaunnya. Gerakannya terlihat seperti adegan slow mo, membuatku makin kesulitan bernafas. Kuat Biru, kamu harus kuat menahan diri dari godaan kenikmatan. Kamu gak boleh mengambil keuntungan dari wanita yang sedang amnesia, ingat itu.
Aku menelan ludahku susah payah saat gaun itu luruh kelantai. Sumpah, belum pernah aku melihat pemandangan seindah ini. Cal benar benar luar biasa indah. Pikiranku mulai liar, membayangkan bagaimana jika Cal membuka dua penutup yang saat ini melindungi area sensitifnya.
"Biru, Biru!" Tepukan dilengan menyadarkanku dari lamunan kotorku.
"Ngelamun ya?? Jangan bilang lagi bayangin yang enggak enggak?" Godanya sambil cekikikan. Entah berapa lama aku melamun, tahu tahu sekarang Cal sudah mengenakan gaun barunya.
"Bantu resletingin ya." Pintanya sambil membalikkan badan memunggungiku.
Bisa kulihat punggung putih mulusnya dari dekat. Begitu mulus hingga tangan ini tak kuasa menahan untuk tak menyentuhnya. Rasanya bagai tersengat listrik ribuan waat saat jamari ini menyentuh permukaan kulitnya.
"Buruan!"
Seketika aku tersadar saat mendengar ucapan Cal. Aku membuang nafas berat lalu menarik resleting gaunnya hingga tertutup sempurna.
"Gimana, bagus gak?" Tanyanya setelah membalikan badan menghadapku.
"Bagus, bagus sekali." Pujiku. "Kamu cantik sekali pakai baju itu."
"Beneran?" Tanyanya dengan senyum merekah yang menambah kecantikannya.
"Bener. Kamu pakai apapun cantik. Apalagi kalau gak pakai apa apa."
"Hah!" Serunya dengan mulut menganga dan mata membulat.
Seketika aku memejamkan mata. Bisa bisa keceplosan gitu. Otakku benar benar udah terkontaminasi dengan imajinasi liarku barusan. Malu kan kalau udah gini.
"Gak pakai apa apa gimana? telan_"
"Gak pakai apa apa yang terbuka, gitu maksudnya." Potongku cepat lalu tersenyum absurd.
"Kirain." Sahutnya sambil cekikikan.
Setelah selasai baju pertama, Cal ganti baju berikutnya dan seterusnya. Benar benar siksaan luar biasa buatku. Sekuat tenaga aku menahan gejolak yang membuatku panas dingin. Bahkan adik kecilku meronta ronta didalam sana minta ikutan nengokin Cal.
Setelah selesai semua, aku membantu Cal merapikan belanjaannya dan memasukkan kedalam almari.
Tok tok tok
Suara ketukan dari luar menginterupsi kami berdua.
"Cal, udah tidur belum?" Terdengar suara Rama dari balik pintu.
"Ada apa Ram?" Sahut Cal sambil berjalan untuk membukakan pintu.
Saat pintu dibuka, wajah Rama seketika terlihat. Entah kenapa, aku begitu tak suka melihatnya.
"Ada apa?" Cal mengulang lagi pertanyaannya.
"Temenin aku ngobrol yuk. Gak bisa tidur nih."
"Cal udah ngantuk." Sahutku cepat yang membuat Cal seketika menoleh kearahku.
"Kita berdua udah mau tidur. Kalau kamu gak bisa tidur, nonton tv aja. Selamat malam." Segera kutarik Cal mundur dan langsung kututup pintu.
Brakk
__ADS_1
Bye Rama. Seharian tadi kamu sudah mengambil Cal dariku. Jangan harap kalau malam ini kamu masih bisa bersamanya.