Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
ANEH


__ADS_3

POV CALLISTA


Aku menjatuhkan bobot tubuhku diatas kursi kebesaran yang sama sekali tak terasa nyaman menurutku. Diluar sana, aku yakin banyak orang yang bermimpi ada diposisiku saat ini. Bahkan ada yang sampai melakukan segala cara demi bisa menjadi ceo. Tapi yang kurasakan, ini sungguh berat. Kepalaku terasa mau pecah.


Mejaku penuh berkas yang berserakan. Pekerjaan menumpuk karena aku kerja sambil kuliah. Aku benci situasi ini. Aku masih muda, belum puas rasanya traveling, shoping dan kencan. Tapi kenapa aku harus dihadapkan dengan semua kesibukan ini.


"Aarrgghh." Teriakku sambil menendang kaki meja hingga sedikit bergeser.


"Kenapa?"


Aku dikejutkan oleh suara Kak Ken. Entah kapan masuknya, tahu tahu dia sudah ada didepanku.


Kak Ken mendekati mejaku, merapikan berkas yang berserakan sambil menertawanku.


"Apa ketawa?" Sinisku sambil memelototinya.


"Maaf, gara gara kakak terlalu sibuk, jadi gak bisa bantuin kamu seminggu ini." Sudah seminggu ini Kak Ken tidak datang ke kantor.


"Bagaimana keadaan tante Sofi?"


Kak Ken membuang nafas kasar lalu menunduk. Ekspresi wajahnya menunjukkan jika semuanya tak baik baik saja. Sudah seminggu ini tente Sofi masuk rumah sakit. Karena tertekan didalam penjara dan kenyataan jika suaminya selingkuh, kesehatannya drop. Dia sampai masuk ICU karena komplikasi.


"Sudah lebih baik, tapi masih harus dirawat."


"Aku akan menjenguknya nanti."


Kak Ken mengangguk.


"Mana Biru?"


"Dia ada kelas sampai sore." Aku menghela nafas. Rasanya rindu saat saat kami masih dikampung nelayan. Waktu kebersamaanku dan Biru lebih banyak, dan yang pasti, aku tak terlalu tertekan kesibukan seperti ini.


Sudah dua bulan aku dan Biru kembali kuliah. Rencana honeymoon 2 minggu, terpaksa dipangkas habis tinggal seminggu karena aku harus segera mengisi jabatan kosong di CALS. Sejak saat itu, hari hariku sangat sibuk, kuliah, kerja.


Biru sangat membantu. Aku sering membawa pekerjaan pulang, dan dialah yang dengan senang hati mengerjakannya. Begitupun dengan tugas kampus, Biru yang lebih sering mengerjakan tugasku. Kalau sedang tak ada kuliah, dia selalu menemaniku kekantor. Dia menjelma menjadi aspri terbaikku.


Kupikir jadi bos hanya tinggal tanda tangan dan suruh suruh aja. Ternyata banyak juga kerjaannya.


"Aku capek kak. Kerjaan kenapa gak ada habisnya." Keluhku sambil menyandarkan punggung.


"Kamu hanya masih belum terbiasa saja Cal. Dan juga, seminggu ini kakak tak menyentuh kerjaan sedikitpun, jadi kamu keteteran."


"Sepertinya aku butuh healing. Bisakah dua hari kedepan kakak handle semuanya. Aku pengen ke kampung nelayan, kangen keluarga disana."


Kak Ken tersenyum sambil mengacak puncak kepalaku pelan.


"Pergilah."

__ADS_1


"Makasih Kak." Kupeluk pinggang Kak Ken sambil menatapnya penuh rasa terimakasih. Ah...gak sabar rasanya pengen kembali lagi kekampung nelayan. Kangen seru seruan sama Santi. Juga kangen jahilin Lisa, rival terberatku.


...----------------...


Aku gegas turun setelah Biru menelepon jika dia sudah menunggu dibawah. Sambil sesekali membalas sapaan karyawan, aku berjalan cepat menuju halaman. Kulihat mobil merah kesayanganku sudah ada disana. Dan yang pasti, pengendaranya jauh lebih kusayang lagi.


Melihatku berjalan kearahnya, Biru turun untuk membukakan pintu untukku. Dia memang selalu bisa ngetreat aku kayak queen.


"Makasih Abang sayang." Kuraih tangannya lalu kucium sebelum masuk kedalam mobil. Sengaja adegan cium kening diskip agar para karyawan yang lagi jomblo gak ngenes lihat kemesraan kami.


"Capek banget kayaknya?" Biru mengecup keningku saat kami sudah berada didalam mobil.


"Hem. Pijitin ya Bang nanti malam."


"Boleh, tapi gak gratis." Jawabnya sambil terkekeh pelan. Sudah hafal kalau kode kode kayak gini. Setelah dipijitin, lalu dihajar habis. Yang ada, besok pagi bukannya seger, tapi malah remuk. Tapi mana bisa nolak, aku juga menikmati sekaligus ketagihan. Suka heran sama laki, kalau habis gituan, kenapa malah kayak seger dan bersemangat. Lha aku, kok capek bin lemes.


Mobil yang kami tumpangi memecah padatnya jalan. Mendadak mataku tertuju pada penjual bunga yang ada dipinggir jalan.


"Bang, gak ada apa keinginan beliin aku bunga?"


"Bunga?" Biru malah tergelak. "Lagi pengen bunga kamu?" Dia menoleh kearahku. Emang ada yang aneh apa, jika perempuan ingin dikasih bunga?


"Hem." Sahutku sambil memasang ekspresi seunyu mungkin agar dia mengabulkan permintaanku.


"Nanti abang petikin, dibelakang rumah ada bunga kamboja."


Bukannya merayuku, Biru malah makin kenceng ketawanya.


"Lagi kerasukan Neng, pengen makan bunga?"


Bug


Langsung kupukul lengannya. Bisa gitu ya, istri minta bunga dikatain kesurupan. Dasar, kebiasaan mainnya sama ikan mulu, mentok mentok sama Lisa, gak bisa romantis dikit, gak peka.


"Becanda sayang, gitu aja ngambek. Iya, nanti abang beliin bunga." Biru mengusap rambutku tapi kutepis karena masih kesal.


"Mau mampir kesuatu tempat dulu gak?"


Aku menggeleng. Badanku terasa meriang dan pegal pegal, pengen segera nyampek rumah dan dipijetin.


Malam harinya, sesuai janji, Biru memijatku. Kuakui, suamiku itu kalau urusan pijat memijat memang lebih ahli daripada aku. Terbukti saking enaknya, aku yang berbaring tengkurap sampai hampir ketiduran. Mata yang hampir terpejam ini, kembali terbuka karena ulah isengnya yang mulai memijat area yang tak seharusnya.


"Bang, kok disitu sih, yang pegel punggung sama bahu." Aku menggeliat kegelian ketika tangannya menyusup kebagian dadaku.


Bukannya berhenti, dia malah membalikkan badanku lalu mengungkungku. Gerakannya begitu cepat, aku sampai tak sadar kapan dia pindah posisi, tiba tiba sudah ada diatasku.


"Udah enakkan habis dipijitin, sekarang giliran Abang yang dipijitin."

__ADS_1


Biru meraih tanganku dan membawanya kebagian intinya yang sudah mengeras.


"Bang, masak yang dipijit ini Bang?"


"Yang pusing kepala itu Yang."


Tak bisa lagi kutahan tawaku. Ada ada saja dia. Masa iya kepala yang ini bisa pusing? Kuturuti aja apa maunya, itung itung nyari pahala biar bisa masuk syurga.


Merasa keenakan, dia mulai mendekatkan wajahnya dan menciumku. Setelah bibir, dia makin turun menuju leher.


Mendadak perutku seperti diaduk aduk. Langsung kudorong kuat tubuh Biru lalu berlari menuju kamar mandi.


Hoek hoek hoek


Makan malamku tadi serasa sia sia karena semuanya habis keluar. Kurasakan pijatan lembut di tengkuk dan punggungku. Siapa lagi kalau bukan Biru yang melakukannya.


"Kamu masuk angin?"


"Mungkin, badanku gak enak banget rasanya."


Setelah aku membersihkan mulutku, Biru merangkulku. Mungkin niatnya mau memapahku kembali kekamar, tapi yang ada aku makin mual mencium baunya.


"Abang ih." Kudorong tubuh Biru agar menjauh dariku. "Abang pakai parfum apa sih? bau nya gak enak banget."


Aku kembali menghadap kewastafel karena rasanya ingin muntah lagi.


Hoek hoek


Tak ada yang keluar karena isi perutku sudah habis.


"Abang ganti baju sana. Aku gak tahan bau parfum Abang."


Aku pergi lebih dulu dari kamar mandi meninggalkannya yang masih bergeming.


Saat aku sudah rebahan diranjang, kulihat Biru mengganti kaosnya. Dia mengendus endus baunya sendiri lalu menghampiriku yang berada diatas ranjang.


Saat dia memelukku, kembali aku tak tahan dan pengen muntah.


Hoek hoek


"Abang, aku gak tahan bau kamu. Parfum kamu menyengat banget." Kututup hidungku dengan telapak tangan.


"Abang udah ganti baju loh."


"Mungkin parfumnya nempel dibadan kamu. Mandi sana." Aku mendorongnya dengan sebelah tangan karena tangan yang satunya masih kupakai menutupi hidung.


"Perasaan Abang pakai parfum biasanya."

__ADS_1


"Enggak, bau nya beda. Aku sampai mual, pengen muntah."


__ADS_2