Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
Part 5


__ADS_3

Aku kenal betul dengan sosok yang sedang berada di balik kemudi itu sekarang. Rambut lurus model jarhead, punggungnya yang tegap, tatapan matanya yang tajam dan luka yang aku tinggalkan di hidungnya, masih sama seperti dulu. Meski bentuk fisiknya berbeda, tapi aku tahu itu dia.


Abyan Ghifari. Lelaki yang bermetamorfosis dari seorang culun menjadi lelaki penuh pesona. Bahkan dia tampak ganteng walau hanya kulihat dari belakang seperti ini.


Hening. Suasana di dalam mobil kali ini sangatlah sepi seakan aku berada di kuburan. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang dengan situasi tanpa suara lagu yang mengalun atau pun pembicaraan yang berarti.


Sesekali mata Abyan melihatku lewat spion tengah dan aku pun tak ada pilihan selain pura-pura sibuk atau mengalihkan pandangan. Aku hanya khawatir, hatiku akan berdebar kencang jika mata kami bersitatap tanpa sengaja.


"Kamu enggak mau duduk di depan?" tanya Abyan memecah kesunyian. Pertanyaannya berhasil membuat aku menoleh ke arah lelaki itu.


Posisi kami memang layaknya penumpang dan supirnya, aku duduk di kursi tengah penumpang, sementara dia di balik kemudi.


"Eh, ke depan situ?" tunjukku kaget.


"Iya, kamu enggak serius kan menganggap saya ini supir kamu?" tanyanya dengan sekilas menatap ke spion tengah mobil yang membiaskan mataku yang sedang menatapnya.


"Hem, enggak usah Pak, lebih baik saya di belakang saja," tolakku dengan nada normal. Meski di dalam sini, detak jantungku sudah berdebar tak beraturan.


Harus diakui, aku memperlakukan lelaki itu dengan tidak adil. Dia yang bertindak sebagai pemilik mobil, dia juga yang kujadikan supir. Padahal semestinya, aku harus berterima kasih pada Abyan karena menyelamatkanku dari preman.


Sebenarnya, aku lelah bersikap arogan seperti ini. Namun, di depan Abyan kayaknya itu harus.


Dia duluan yang pura-pura amnesia tidak mengenaliku. Jadi, apa salah jika aku ingin membalasnya? Meski di balik sikap kesalku selama ini, ada rasa bersalah yang menyelinap tentang rasa maaf yang belum mendapat jawaban.


"Hem, rumahmu ke arah mana?" tanyanya ketika kami sampai ke pertigaan. Lelaki itu seperti sengaja berhenti sebentar, mentang-mentang jalanan lengang.


Aku mendongakkan kepala lalu menoleh ke arah kanan dan kiri. Entah jahil atau sengaja, aku menunjuk jalan yang berlawanan dengan rumahku.


"Ke sana Pak!" tunjukku pura-pura.


Abyan tertegun dia langsung menunjuk arah sebaliknya.


"Bukannya ... ke sana?" tanyanya lagi seraya menoleh ke arahku. Dahinya berlipat tiga karena heran.


"Kok Pak Abyan tahu?" Aku sengaja menatap kedua netranya yang menyala indah itu.


Lelaki tampan itu terkesiap sejenak, terus berdehem tanda salah tingkah.


"Hanya feeling, karena setahu saya ke sana enggak ada pemukiman," jawabnya singkat. Dia langsung melajukan mobilnya kembali dan membelokkan kemudi ke arah kiri.


"Oh, baiklah. Iya, betul ke sana Pak, maaf saya lupa karena tegang mungkin," jawabku mengulum senyum.


Terdengar helaan napas lega darinya,  tak berniat membahas lagi, begitu pun aku. Walau sejujurnya tentu saja sikapnya yang barusan sangat janggal, tapi kubiarkan dia merasa itu hal yang biasa.


Diam-diam aku merasa senang ternyata dia masih mengingat jalan pulang ke rumahku, mungkin dia merasa aku mudah ditipu padahal memang aku sengaja tak terlalu mendesaknya.


Sebenarnya aku hanya menguji Abyan, apakah dia masih ingat tentang rumahku atau tidak? Sebab dulu saat SMP, dia selalu bertindak seperti bayang-bayangku. Dia akan mengikutiku diam-diam untuk menyusuri trotoar di kala aku pulang kemalaman dan aku menyukai itu.


Seandainya dia tahu, aku menyesal pernah menolaknya. Tadinya, aku ingin segera melanjutkan obrolan permintaan maafku yang sempat ia buang begitu saja, tapi kuurungkan, jika memang Abyan masih butuh waktu memaafkanku, aku tak akan memaksa mari kita ikuti permainannya sampai dia sendiri yang menyampaikan kepura-puraannya padaku.


Konon katanya, tanda seseorang sudah move on adalah saat dia bisa mentertawakan masa-lalunya, sementara Abyan belum sampai di titik itu. Dan aku menghargainya.


"Alya!" panggil Abyan. Suara lelaki itu lagi-lagi terlebih dulu memecah keheningan antara kami.


"Iya, Pak?" tanyaku sambil mengalihkan pandangan dari luar jendela ke sosoknya yang dingin.


Abyan tercenung sejenak, tidak langsung menjawab. Kemudian tangan kanannya dia tumpukan di jendela kanan, sementara yang kiri memegang setir. Terlihat berpikir.

__ADS_1


"Bisa kita bicara?" tanya Abyan.


"Boleh."


"Heum, kamu serius dengan Ben?" tanya Abyan disertai hembusan napas berat.


Aku tertegun menatap Abyan, kurasakan ada ketidakrelaan dalam pertanyaannya. Perasaan apa ini?


"Kenapa memang, Pak?"


Kurasa ini bukan pertanyaan biasa, jadi aku tak ingin langsung menjawab.


Beberapa detik dia hanya diam, seolah bingung ingin mengatakan apa. Tanpa kuduga, Abyan mendadak memberhentikan mobilnya di pinggir komplek, lalu melepaskan seatbelt untuk memiringkan tubuh hingga kami dapat melihat netra satu sama lain.


Resah, rindu dan harap. Itulah yang kurasakan kala kami bertatapan dalam diam. Sadar aku terlalu lama menatap bola mata yang sejernih telaga itu, aku pun menunduk.


Tak henti hati ini mengingatkan diri, bahwa Abyan sudah menjadi milik yang lain dan aku tengah bermain bersama syetan.


"Pak, say--"


"Jagalah Ben, dia memang butuh kamu, terimalah dia," ujar Abyan serak tapi cukup membuat wajahku kembali terangkat.


Ini kali pertama aku melihat mata pria itu berkabut. Ada kaca yang membayang di sana dan aku tak suka wajahnya yang seperti ini.


Aku suka wajahnya yang menyebalkan atau memarahiku. Sebenarnya, aku ingin dia mencegah dan menyuruhku menolak sahabatnya.


Agh, perasaan ini memang sulit dimengerti.


Namun, lagi-lagi siapa aku? Aku bukan dihadirkan di dunia ini untuk merebut kebahagiaan orang lain bukan? Bayang-bayang Lili begitu saja hadir di pelupuk mata, membuat dadaku berdenyut sakit.


Ada apa dengan kami? Kenapa hati ini seolah meminta lebih? Aku meremas rokku kuat lalu berbicara dengan yakin.


"Kamu yakin?"


"Yakin, jika sahabatnya saja yakin Ben bisa menjadi imam bagi saya, kenapa saya tidak?"


Wajah Abyan berubah merah setelah kalimatku yang tendensius itu terlontar, begitu pun aku. Tampaknya kami sama-sama tak percaya akan membicarakan hal yang tak diinginkan oleh hati.


Cepat. Aku mengalihkan pandangan ke arah jendela menyembunyikan debar yang menyiksa.


"Ayo, kita jalan! Jika tidak ada yang dibicarakan lagi! Saya sudah kemalaman dan terima kasih sudah mengantar saya," jawabku kaku.


Abyan menganggukkan kepalanya tanpa suara, lalu kembali memasang seatbelt dan melajukan mobil.


Setelah pembicaraan singkat tadi, kami benar-benar diliputi hening. Sangat hening, hingga rasanya sesak.


Ada apa denganku? Bukankah harusnya aku bersyukur dia memintaku menerima Ben? Kenapa malah aku sedih?


Aku mengepalkan tanganku merasakan resah, sementara kulihat lelaki itu menggerakan jakunnya berulang kali, entah menahan apa.


(***)


Mataku dikejutkan oleh penampakan tiga orang yang berdiri di depan pagar beserta dua dayangnya ketika mobil tinggal 50 meter lagi sampai ke depan rumah. Aku yakin ketiga wanita di sana melakukan itu karena ponselku lowbath dan mereka pasti khawatir.


Siapa mereka? Siapa lagi kalau bukan


Kanjeng Ratu Fatimah Sodri dan dua adikku yang bersiap akan menyambutku di depan pintu pagar.

__ADS_1


Namun, bukan itu masalahnya sekarang. Permasalahan utama adalah dia kepalang melihat aku disupiri oleh Abyan yang berpakaian jas rapi.


Astaghfirullah! Entah apa yang akan mereka pikirkan tentang kami, karena supir taksi online tidak mungkin menjadikan mobil Camry sebagai alat transportasi publik.


"Pak, tolong jangan turun!" ucapku langsung waspada ketika kami akan sampai dalam jarak beberapa meter lagi. Aku mencondongkan tubuhku ke depan dengan cemas.


"Kenapa?" tanyanya tanpa melihatku.


"Pokoknya jangan!" ancamku.


"Kan saya enggak enak, bagaimana pun mereka keluarga kamu," jawab Abyan cuek.


Aku terperangah, sejak kapan pria ini bersikap sangat sopan? Curiga.


"Kalau Pak Abyan turun, lebih baik saya turun di sini, oke?"


Entah Abyan memahami atau tidak, tapi dia tak menjawab.


Begitu sampai di depan rumah. Aku langsung membuka pintu mobil dengan gugup karena pandangan Ibuku terlalu menyelidik. Bergegas aku mendekati ketiga wanita yang tengah berdiri menghalangi pintu pagar.


"Bu, kok di luar enggak mas--"


"Alya, maaf ini tasnya," putus seseorang dari arah belakang.


"Eh?"


Aku membalikkan badan, seketika mataku membulat tak percaya Abyan turun dari mobil. Sementar sosok lelaki  di depanku dengan santainya menyerahkan tas yang tertinggal di dalam mobil.


"Pak Abyan, ngapain keluar?" bisikku  terkejut sembari memasang wajah gemas dan memberi kode untuk segera masuk.


"Kan tas kamu ket--"


Belum sempat aku menjelaskan, suara paduan suara di belakangku langsung menyerang.


"Oh, jadi ini yang kata kamu lelaki yang mau dikenalkan Pipit itu Nduk? Oh ayo masuk! Sudah lama kami menunggu!"


Nah, kan, mereka kumat! Sudah kuduga.


Seperti kegirangan, tanpa menunggu penjelasan dan tanpa bisa aku cegah tangan Ibu dan kedua adikku sudah lebih cekatan  mencengkram kedua lengan Abyan dengan heboh dan mempersilahkannya seperti Raja, bahkan mereka berani menyingkirkanku agar memberi jalan untuk lelaki itu.


"Eh, maksudnya ini apa? Saya--"


"Sudah! Jangan banyak bicara, mari kita bahas tanggal nikah secepatnya Kakak ipar!" ujar Fira.


"Iya, Ibu siap merestui kalian jika bisa minggu depan nikah!"


"Apa?"


"Nikah?"


Aku dan Abyan berteriak keras secara simultan sampai tukang nasi goreng dan beberapa orang tetangga yang sedang beli nasi goreng di sebrang rumah langsung kepo.


"Siapa yang mau nikah Bu Fatimah?"


"Anak saya, ini calonnya," seru Ibu sambil menarik Abyan yang masih memasang wajah syok.


Ya Allah! Ujianku begini banget ya? Kasian Abyan.

__ADS_1


Kan sudah kubilang jangan turun! Masih saja dia turun! Bah! Kenakan.


__ADS_2