
POV CALLISTA
Ada perasaan bersalah mendengar kalimat Biru barusan. Apalagi melihat ekspresi wajahnya yang tampak sedih. Astaga, apa aku sudah keterlaluan? Penyesalah emang selalu datang diakhir, karena kalau diawal namanya pendaftaran.
Sementara Biru keluar kamar, aku melihat ponselnya yang tergeletak diatas meja. Ponsel itu tak lagi bisa menyala, sudah bisa dipastikan mati total.
Perasaanku tak tenang, aku turun untuk mencari Biru. Ternyata dia ada dikamar Pak De. Meski pintunya gak ditutup, aku mendadak ragu mau masuk. Memilih menempel didinding dekat pintu seperti cicak sambil menguping pembicaraan mereka.
"Gimana, bisa gak?" tanya Pak De.
"Sebentar." Kuintip dari pintu, Biru terlihat mengutak atik ponsel Pak De. Sepertinya dia sedang mencoba memori card nya.
Semoga saja bisa, aku terus berdoa dalam hati. Kalau benar benar rusak. Biru pasti sangat sedih, dan aku, sudah bisa dipastikan merasa bersalah besar.
"Gak bisa Pak De, rusak kayaknya,"
Kakiku seketika lemas mendengarnya. Bodah banget karena gak kepikiran sampai sana. Main cemplung aja untuk melampiaskan kekesalanku.
"Tante Cal, ngapain disini?"
Galang tiba tiba mengagetkanku. Entah kapam datangnya, tiba tiba udah ada didepanku. Aku hanya nyengir karena tak mungkin bilang kalau aku lagi ngintip mereka yang ada didalam kamar.
"Kamu disini?" Tanya Biru yang tiba tiba sudah berdiri di pintu. Tak hanya Biru, ternyata Pak De dan Bu De ikutan keluar. Jadilah aku seperti maling yang ketangkap basah.
"A, aku hanya lewat tadi." Bingung harus gimana, aku memilih pergi darisana. Aku menuju halaman samping. Duduk di gazebo yang berada diatas kolam ikan. Kujulurkan kakiku kebawah sambil melempari ikan koi dengan makanan.
Harusnya tadi kubanting saja ponsel itu sampai rusak. Kenapa harus aku cemplungin ke kolam segala. Jadi runyamkan urusannya. Entah berapa lama aku duduk disana, tahu tahu toples berisi makanan ikan udah kosong aja. Bahkan saat kulihat kebawah, ikan koi udah gak mau makan lagi karena kekenyangan.
"Nona Cal." Panggilan Bu Nuning menginterupsiku. "Udah waktunya makan siang. Yang lain udah nungguin Nona dimeja makan."
Aku menghela nafas. Kenapa harus Bi Nuning yang manggil, kenapa bukan Biru? Apa dia sudah tak peduli lagi padaku?
"Cal gak lapar Bi. Suruh saja mereka makan duluan."
"Tapi mereka tamu Non. Pasti gak nyaman jika Non Cal gak ikutan makan, apalagi Nona lagi dirumah."
Benar juga kata Bi Nuning. Jika aku gak ikut makan, mereka pasti bertanya tanya. Disaat aku sibuk mencari alasan, kulihat Pak Sapto yang sedang mengobrol dengan satpam.
"Bilang Cal lagi gak ada dirumah Bi. Suruh mereka makan, gak usah nunggu Cal." Gegas aku menghampiri Pak Sapto dan meminta kunci mobil padanya. Keluar rumah sebentar nyari angin bukan ide yang buruk. Tak lupa aku pinjam uang pada Pak Sapto dengan janji akan kuganti 3x lipat. Alasannya aku sedang tak ingin masuk rumah untuk mengambil dompet. Berbekal uang 200 ribu, aku muter muter gak jelas ngabisin bensin.
Aku berhenti didepan mini market untuk membeli sebotol minuman isotonik dan sebuah roti sandwich. Sialnya aku juga tak membawa ponsel, jadi hanya duduk dikursi yang disediakan mini market sambil makan roti dan memperhatikan mobil yang lalu lalang.
Tanpa sadar mataku melihat sepasang muda mudi yang baru keluar dari mobil. Dengan tangan yang saling bertaut, mereka melangkah mesra kedalam minimarket. Yaelah, aku seketika teringat Biru. Kira kira, dia bakalan marah gak sama aku?
Setelah mengisi perut, aku kembali muter muter gak jelas. Setelah cukup lama, aku kembali kerumah.
__ADS_1
Aku berjalan lemas memasuki rumah. Sayup sayup kudengar suara gelak tawa dari ruang tengah. Ternyata benar, semua orang berkumpul diruang tengah sambil menonton film komedi. Ada Biru juga disana.
"Cal, kamu darimana?" Santi berdiri lalu menghampiriku.
"Maaf ya, aku tadi pergi sebentar. Ada urusan dikit sama teman." Sudah tahu bohong itu dosa, tapi masih aja dilakukan. Hayoo pada ngaku, siapa yang masih suka gitu?
Santi meraih pergelangan tanganku lalu menarikku kearah mereka berkumpul.
"Aku capek San, kalian lanjut saja, aku mau istirahat sebentar." Pura pura memasang wajah lelah lalu pergi menuju kamar.
Sesampainya dikamar, langsung kehempaskan tubuh keatas ranjang. Menatap langit langit kamar dengan pikiran berkecamuk. Biru bahkan tak mengajakku bergabung nonton film tadi. Tak tanya juga aku barusan darimana. Sepertinya dia memang sudah tak peduli lagi denganku.
Ahhh andai saja tadi aku gak melempar ponsel Biru kekolam. Masih hal itu yang mengganggu pikiranku.
Mendengar gagang pintu ditarik, gegas aku miring membelakangi pintu, memejamkan mata pura pura tidur. Aku yakin itu Biru, karena kalau orang lain, pasti ngetok dulu.
Bisa kurasakan kasur yang bergerak. Sepertinya dia sedang naik keatas ranjang. Biru tiba tiba memelukku dari belakang. Membuatku kaget dan hampir saja lupa jika sedang pura pura tidur.
"Makan yuk."
Aku diam saja karena lagi pura pura tidur. Tapi kalau dilihat dari caranya bicara padaku, sepertinya dia tahu aku cuma pura pura tidur.
"Aww." Aku menjerit saat daun telingaku tiba tiba digigit pelan. Biru terkekeh, caranya membongkar kedok pura pura tidurku sungguh ampuh.
"Makan yuk."
"Aku gak lapar."
"Tapi aku yang lapar."
Bukannya dia sudah makan dengan yang lain. Kenapa masih lapar?
"Masih marah ya?"
Kok nanyak gitu, bukannya dia yang marah padaku dan udah gak peduli lagi.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu. Biru segera menyahutinya dari dalam lalu bangun untuk membukakan pintu.
Tak lama kemudian, dia kembali menutup pintu. Berjalan menghampiriku dengan nampan berisi makanan ditanganya.
"Bangun, kita makan sama sama."
Ahhhh terharu juga diriku. Ternyata dia masih perhatian. Terbukti dengan menyuruh pembantu membawakan makanan ke kamar.
__ADS_1
Aku bangun, kulihat ada sepiring penuh makanan diatas nampan plus segelas jus semangka kesukaanku dan sebotol air mineral.
"Abang suapin ya, kita makan sama sama."
Biru menyendok nasi beserta lauknya lalu menyodorkan kearah mulutku. Kuterima suapannya karena aku memang lapar.
"Kamu belum makan?" Tanyaku saat kulihat Biru ikut memakan nasi itu juga.
"Belum, nungguin kamu."
Ooh so sweet banget sih. Gak kusangka dia rela gak makan dulu demi nungguin aku pulang.
"Kamu gak marah sama aku?"
Biru mengernyitkan dahi mendengar pertanyaanku. Tapi sejurus kemudian, dia tersenyum sambil mengacak puncak kepalaku pelan.
"Kenapa harus marah?"
"Aku kan udah bikin sd card kamu rusak."
Biru terkekeh pelan. Menyendok nasi lalu menyuapiku lagi.
"Jadi kamu tadi nguping diam diam saat aku dikamar Pak De."
Wajahku seketika memanas. Sudah pasti saat ini wajahku merah padam.
"Emang gak kebaca diponselnya Pak De. Tapi nanti aku coba lagi di komputer. Kalau masih gak bisa, aku bawa ke temen aku yang pandai ngurusin gituan. Gak usah dipikirin."
Yaelah, ternyata dia sesantai ini responnya. Aku lupa kalau dia pernah kuliah dikota. pasti punya banyak teman yang pandai urusan beginian. Hadeh, rugi aku galau sejak tadi. Tau gini, gak perlu aku kelayapan gak jelas kayak tadi.
"Jadi kamu gak marah sama aku?"
"Marah." Mataku seketika melotot mendengar jawabannya.
"Marah karena kamu gak mau manggil aku abang lagi. Udah gak cinta ya sama Abang?"
Cup
Seketika aku maju dan mengecup pipi Biru. Bibirnya melengkung membentuk senyum manis yang menggetarkan hatiku.
"Cal sayang sama Abang."
"Abang juga sayang sama Cal." Seperti biasanya, Biru mengusap lembut kepalaku lalu mengecup singkat keningku.
Rencananya, lusa keluarga Pak De akan pulang, selanjutnya, aku dan Biru terbang je Jepang untuk honeymoon dan ngurusin pindah kuliah.
__ADS_1