
POV CALLISTA
Hari ini, aku dan Biru pergi kekota. Kak ken sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari mobil yang menjemput kami, hingga apartemen yang kami tinggali sementara. Aku pernah keapartemen ini. Apartemen milik Kak Ken yang aku ingat betul dia beli tahun lalu. Dia bilang ingin punya hunian dulu sebelum menikah, nyatanya meski udah setahun lebih punya apartemen, dia tak kunjung menikah. Siapa juga wanita yang mau sama pria dingin dan kaku kayak dia.
Aku yang baru selesai mandi, melihat Biru berdiri didepan jendela kaca yang menghadap jalan. Ditangannya ada sekaleng soft drink yang sesekali dia teguk. Sejak dalam perjalanan tadi, kulihat wajahnya murung.
"Liatin apa?" Tanyaku sambil memeluknya dari belakang sambil meletakkan dagu dibahunya.
"Pemandangannya bagus." Sahutnya dengan mata yang masih fokus menatap jalanan. Apartemen ini berada dilantai 9, jadi pemandangan terlihat indah dilihat dari sini. Tapi entah hanya pikiranku atau apa, aku merasa Biru tak benar benar dengan ucapannya. Dia tak terlihat seperti menikmati pemandangan, justru terlihat tak nyaman berada disini.
"Kamu kok diem aja sih dari tadi?"
"Gak papa, cuma capek aja." Aku yakin bukan itu alasannya. Kulepaskan pelukanku lalu berdiri bersandarkan kaca sambil menatapnya.
"Kamu gak nyaman ya disini?" Aku langsung kepokok utama daripada menebak nebak.
"Nyaman kok." Dia tersenyum sambil membelai rambutku. Tapi senyuman itu tak terlihat tulus, lebih kepada terpaksa.
"Besok aku akan menemui pengacara keluarga untuk membicarakan tentang pengalihan aset. Meski usiaku belum genap 21 tahun, ku harap semua warisan bisa langsung berpindah ketanganku karena sebagai wali, Tante Sofi dan Om Kamal telah melakukan tindak pidana. Aku juga akan melaporkan mereka ke polisi."
Biru menarik tubuhku dan membawaku kedalam dekapannya.
"Aku akan bantu semaksimal mungkin."
"Makasih." Sahutku sambil membenamkan wajah diceruk lehernya. Tiba tiba muncul ide untuk menggodanya. Mungkin dia butuh rilex sejenak biar gak murung terus dan lebih nyaman ditempat baru.
Kuciumi leher dan cuping telinganya. Tak lupa juga tanganku menyelinap kedalam kaosnya dan membelai dada bidang yang ditumbuhi sedikit bulu bulu halus itu.
Bisa kudengar lenguhannya, seperinya dia mulai terbawa suasana. Bahkan tin soft drink yang dia pegang jatuh kelantai. Kulihat, matanya sudah mulai berkabut. Dan sedetik kemudian, dia menciumku dengan lembut. Biru memang selalu bisa mengontrol dirinya. Meski sedang dikuasai naffsu, dia masih melakukanya dengan sangat lembut.
Dengan bibir yang masih berpagutan, dia menggiringku menuju ranjang. Biru menarik tali kimono mandiku lalu meluruhkan benda itu kelantai.
Aku yang dari awal memang niat menggodanya, gantian meloloskan apapun yang melekat pada tubuhnya. Ketika kami sudah sama sama polos, Biru merebahkanku keranjang dan kembali memberikan sentuhan sentuhan yang bisa membawaku terbang keawang awang.
Biru tak pernah mengecewakanku, selalu bisa memberikan kenikmatan tiada tara yang mampu melambungkanku hingga langit ketujuh. Sepanjang aktifitas itu, aku terus mende sah dan menyebut namanya. Kami berdua saling nenatap penuh cinta dan bergerak untuk memberikan kepuassan pada pasangan hingga kami bersama sama menuju puncak.
Peluh membasahi tubuh kami. Nafas tersengal sengal tapi bibir masih senantiasa mengulum senyum. Biru mengecup keningku lama, membuat aku merasa sangat dicintai.
Biru berbaring disebelahku sambil menatapku dan merapikan rambut yang berantakan hingga menutupi sebagian wajah.
"Mandi bareng yuk." Ajaknya.
Aku mengangguk. Kami memang belum pernah mandi bersama selama ini. Kamar mandi dirumah Biru terlalu sempit untuk bisa kami gunakan bersama.
Biru bangun terlebih dahulu lalu mengangkat tubuhku menuju kamar mandi. Kukalungkan lenganku dilehernya sambil menatapnya, menikmati keindahan ciptaan Tuhan.
Biru menurunkan tubuhku didalam bathup. Mengisinya dengan air dingin lalu ikut masuk kedalamnya.
"Kenapa gak pakai air hangat?" Tanyaku. Aku memang lebih nyaman berendam dengan air hangat.
__ADS_1
"Setahuku tidak boleh mandi dengan air panas setelah berhubungan." Jawabnya sambil merengkuh tubuhku dan memelukku dari belakang.
Aku hanya ber oh ria. Memang tak tahu apapun tentang itu. Sepertinya mulai sekarang aku harus membaca artikel tentang apapun yang berhubungan dengan itu.
"Bang, kamu mau kan kuliah lagi? Kita kuliah sama sama disini, aku akan pindah kuliah di Indonesia." Sudah sejak dulu aku kepikiran tentang ini.
Biru terdiam, entah apa yang ada didalam pikirannya.
"Bang, kenapa diam?" Aku kembali bertanya sambil menoleh padanya.
"Abang..abang.." Kulihat keraguan diwajahnya.
"Abang mikirin soal biaya? Soal itu, abang gak perlu khawatir lagi. Abang tinggal kuliah saja, lulus dengan nilai yang bagus lalu mulai belajar kerja di CALS. Abang calon pemimpin CALS nantinya."
Biru mengeratkan pelukannya lalu mencium pucuk kepalaku berkali kali.
"Abang sabunin ya. Dingin, entar masuk angin kalau kelamaan mandinya." Dia mengambil sabun dan mulai menggosok badanku. Aku tak tahu apa alasannya mengalihkan topik pembicaraan, tapi biarlah, aku tak mau terlalu menekannya. Aku takut jika terlalu memaksa malah akan melukai harga dirinya. Bagaimanapun, dia kepala rumah tangga sekarang. Mungkin akan memalukan baginya jika menumpang hidup padaku.
Sehabis mandi, dia membantuku menyisir rambut. Pekerjaan yang dulu selalu dilakukan alm mamaku. Perhatian kecil seperti ini, membuatku merasa sangat dicintai.
"Kita jalan jalan yuk Bang? Aku kangen suasana kota, pengen kulineran." Tanyaku sambil menatap pantulan wajah Biru dicermin.
"Boleh juga."
Kami berdua langsung bersiap siap. Karena tak ada mobil, kami memutuskan untuk keliling sekitar apartemen saja. Disaat kami sudah siap hendak keluar, bel apartemen tiba tiba berbunyi. Ternyata Kak Ken yang datang.
"Kangen suasana kota, pengen jalan jalan sekitar sini." Jawabku sambil menoleh pada Biru.
"Yah padahal kakak kesini mau ngajak kalian makan malam bersama. DO makanan dan makan bareng disini. Tapi kayaknya kalian lagi pengen honeymoon. Kalau gitu kakak pulang lagi aja."
Aku terkekeh mendengar ucapannya. Honeymoon, kenapa aku tak pernah kepikiran tentang itu. Sepertinya bagus juga jika aku dan Biru menghabiskan waktu berdua, honeymoon di luar negeri. Mungkin setelah urusanku disini selesai, aku akan mengajaknya ke Jepang untuk honeymoon sekalian mengurus kepindahan kuliahku.
"Ya udah kita makan bertiga aja." Sahut Biru yang tampak tak enak pada Kak Ken.
"Gak usah, kalian berdua jalan jalan aja. Kita bisa makan malem bareng kapan kapan." Jawab Kak Ken sambil tersenyum dan menepuk lengan Biru.
"Kak, aku butuh mobil. Bisa gak kalau mobil merahku dibawa kesini?"
Senyum Kak Ken seketika redup. Dia menggaruk garuk tengkuknya dengan ekspresi susah diartikan.
"Ada apa kak." Aku mencium aroma aroma sesuatu yang tidak beres.
"Sorry Cal, mobil kamu dipakai Kania."
What! Mataku langsung melotot. Itu mobil kesayanganku. Mobil limited edition yang kudapatkan dengan susah payah dengan bantuan Rama dan salah satu temanku di Jepang. Mobil itu masih baru, dan sekarang, malah Kania yang menikmatinya.
"Kamu sabar dulu. Nanti kalau semua urusan selesai, semua akan kembali menjadi milikmu."
"Baiklah, kalau begitu biar aku pakai mobiku yang hitam saja."
__ADS_1
Kembali lagi Kak Ken garuk garuk tengkuknya. Ada apa lagi ini? Tak kan Kania memakai keduanya sekaligus?
"Emmmm..."
"Kenapa?"
"Mobil hitam kamu, udah beberapa hari ini aku gak lihat digarasi. Aku belum sempat nanya ke mamah atau Kania."
Semoga saja mereka tak menjual mobil itu. Itu mobil pertamaku saat aku baru punya SIM. Banyak sekali kenanganku dengan mobil itu. Keterlaluan kalau mereka sampai menjualnya. Padahal mereka baru saja dapat uang banyak dari asuransi kematianku.
"Sudahlah, kita bisa naik taksi atau lainnya. Gak ada mobil juga gak masalah." Biru menghiburku.
"Tapi..."
"Aku udah lapar nih, jadi keluar gak?" Sepertinya dia memang ingin aku melupakan masalah mobil.
"Baiklah." Sahutku sambil mengangguk.
Tiba tiba Kak Ken mengambil dompetnya lalu mengeluarkan salah satu kartu kredit dan menyodorkannya padaku.
"Pakai ini aja dulu. Nanti masalah rekening kamu yang udah dibekukan, nanti aku urus kembali."
"Gak usah." Biru menahan tangaku yang hendak meraih kartu kredit itu. "Aku ada uang kok."
"Gak papa pakai aja." Kak Ken memaksa.
"Maaf, tapi kalau hanya untuk makan dan kebutuhan sehari hari, saya ada uang."
Aku merasakan susana yang mendadak horor. Bisa kulihat ketegangan diwajah Biru. Dia pasti tersinggung.
"Kami ada uang kok kak. Gak udah khawatirin kami." Aku menimpali biar Kak Ken tak lagi memaksa.
"Baiklah kalau begitu." Kak ken kembali menyimpan kartu kreditnya. "Kalau butuh apa apa, jangan sungkan hubungi kakak."
Aku mengangguk sambil tersenyum. Kita bertiga meninggalkan apartemen. Kak Ken pulang, sedangkan aku dan Biru berjalan jalan didekat apartemen untuk mencari makan.
Biru tak banyak bicara, dia kembali jadi pendiam seperti tadi. Pasti ini gara gara kartu kredit tadi.
"Abang pengen makan apa?" Tanyaku.
"Terserah, kamu aja yang pilih."
Aku jadi bingung. Pengen makan yang mahal, takut Biru gak ada uang. Nanti kalau aku yang bayarin, takut dia tersinggung lagi. Jadi serba salah.
"Pilih aja sesuka kamu, abang ada uang kok." Ujarnya sambil menggenggam tanganku dan tersenyum. Sepertinya dia bisa membaca pikiranku. Tapi apapun itu, melihatnya kembali tersenyum membuatku lega. Aku paling gak bisa kalau Biru dingin padaku.
Mataku tak sengaja melihat penampakan mobil hitamku didepan sebuah cafe. Kuajak Biru mendekat untuk memastikan. Ternyata benar, itu mobilku, plat nomornya sama.
Aku mengajak Biru masuk untuk mengetahui siapa yang membawanya. Benarkah mobil itu sudah dijual oleh Tante Sofi atau Om Kamal? Atau mungkin oleh Kania.
__ADS_1