
POV CALLISTA
Oh my God, jadi benar yang datang itu Kak Ken. Darimana dia tahu aku ada disini? Apa aku telepon Biru aja ya? Ah tidak tidak, aku gak mau bikin dia cemas. Aku panik sendiri karena tak tahu harus berbuat apa.
Kuputuskan mendekat kearah ruang tamu agar bisa mendengar obrolan mereka. Gimanapun, aku kepo dengan apa yang mereka bicarakan. Beruntung rumah ini kecil, jadi tak sulit untuk mencuri dengar.
"Ti, tidak ada yang namanya Calista disini." Suara Santi terdengar bergetar, mungkinkan dia sedang panik karena berbohong. Semoga saja Santi bisa berakting dengan baik.
"Bolehkah saya bertanya?"
"I, iya."
Aku mengintip sedikit, kulihat Kak Ken mengeluarkan ponsel dan menunjukkannya pada Santi.
"Kamu kenal wanita difoto ini?'
Celaka, dia pasti menunjukkan fotoku pada Santi. Semoga Santi masih ingat pesanku tadi.
"Menurut salah satu warga, dia tinggal dirumah sebelah. Saya sudah berkali kali ketuk, tapi tak ada sahutan."
Jadi Kak ken nyari informasi tentangku pada warga. Kalau sudah seperti ini, bagaimana bisa aku bersembunyi. Cepat atau lambat, aku akan ketahuan.
"Di, dia gak ada ada sini."
"Jadi dia tak ada disini? Kalau boleh tahu, dia ada dimana sekarang?"
"Sa, saya tidak tahu."
Kudengar kekehan pelan Kak Ken. Apa maksudnya ini?
"Tadi mbaknya bilang gak ada yang namanya Calista. Sekarang bilangnya dia gak ada disini. Itu artinya, ada wanita bernama Calista dan mbak mengenalnya. Apa kesimpulan saya benar?"
Matilah aku. Santi jelas tak bisa melawan Kak Ken. Kak Ken pasti bisa dengan mudah menyadari kebohongan Santi. Sudah tak perlu diragukan lagi jika Kek Ken cerdas. Bahkan menurut Rama, CALS berkembang pesat dibawah kepemimpinannya. Aku saja yang selama ini tak pernah mau tahu tentang CALS, jadi tak tahu seperti apa kinerja Kak Ken.
"Maaf, tak ada yang namanya Cal. Silakan anda pulang."
Brakk
Aku kucup terkerjut mendengar Santi membanting pintu. Gelagatnya yang sangat aneh pasti makin membuat Kak Ken curiga.
Santi masuk kedalam lalu duduk seperti orang linglung didepan TV.
"Kamu baik baik saja kan San?" Aku khawatir melihatnya. Santi menarik telapak tanganku dan meletakkan didadanya. Bisa kurasakan deguban jantungnya yang cepat.
"Jantungku terasa mau copot. Gila, kamu Cal. Kamu nyuruh aku bohong pada pria setampan tadi. Ditatap saja aku udah gemetaran."
Aku membuang nafas kasar. Aku pikir kenapa? Jadi gara gara ditatap Kak Ken dia jadi kayak orang kesurupan gini.
"Ingat Gani." Tekanku sambil memelototinya.
"Gak usah diingetin juga ingat, orang aku gak amnesia kayak kamu. Hanya saja, tuh laki terlalu tampan. Kirain Rama udah cakep banget, ternyata ada yang lebih cakep lagi."
__ADS_1
Aku hanya bisa geleng geleng mendengarnya. Kak Ken memang sangat tampan. Banyak yang bilang jika dia mirip denganku. Padahal hubungan kami hanya sepupu. Dulu aku sangat mengagumi Kak Ken. Tapi setelah apa yang dilakukan orang tuanya, rasa kagumku menguap bagitu saja. Karena tak menutup kemungkinan, Kak ken juga ikut terlibat.
"Eh tunggu tunggu." Santi tiba tiba menatapku tajam. "Kamu ada urusan apa sama dia? Jangan bilang dia selingkuhan kamu dan lagi nyariin kamu? Gila kamu Cal, tega kamu mengkhianati Biru."
Hadeh, emang suka narik kesimpulan seenaknya nih anak.
"Dia i_"
Tok tok tok
Ucapanku terpotong karena ketukan pintu. Jangan jangan Kak Ken masih belum pergi. Aku dan Santi saling menatap bingung.
"Santi buka pintu." Terdengar teriakan Gani dan gagang pintu yang ditarik terus menerus.
Aku dan Santi bernafas lega. Setidaknya yang datang kali ini jelas, yaitu Gani. Barusan dia memang keluar untuk membeli rokok. Santi beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.
"Ngapain pintu pakai dikunci segala, biasanya juga enggak." Kudengar gerutuan Gani saat pintu sudah dibuka. "Takut ada maling masuk? Emang punya barang berharga apa?"
Tak kudengar Santi membalas ucapan Gani. Padahal biasanya wanita itu nyerocos.
"Ayo mas masuk, saya antar ketoilet."
Aku yang baru saja bernafas lega jadi tegang kembali. Apa maksud ucapan Gani? Siapa mas yang dimaksud, jangan jangan Kak Ken? Cepat cepat aku masuk kedalam kamar Santi, karena kamar itu yang paling dekat denganku saat ini.
Jantungku berpacu seiring derap langkah yang terdengar semakin dekat.
"Jangan sungkan mas, ayo silakan. Lurus saja, terus belok kiri, disitu toiletnya." Ucap Gani.
Aku tak mendengar sahutan apapun, membuatku makin penasaran, siapa mas yang dimaksud. Santi juga tak terdengar suaranya sama sekali, bikin aku yang ada dikamar deg degan aja.
"Eng, enggak mas?" Jawab Santi terbata. Sepertinya memang ada yang tidak beres diluar sana.
Pintu kamar tiba tiba dibuka.
"Cal, ngapain kamu dikamar aku?" Seru Gani lantang.
Mampus, kenapa Gani pakai masuk kamar sih. Dah gitu teriaknya kenceng banget lagi. Sesaat kemudian Santi ikutan masuk.
"Cal."
Deg
Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak. Kak Ken berdiri diambang pintu sambil menatapku.
"Mas nya kenal sama Cal?" Tanya Gani. Bukannya menjawab, Kak Ken maju kearahku dan langsung memelukku. Aku hanya mematung karena tak tahu harus bersikap seperti apa. Sedangkan Gani dan Santi, kulihat mereka melongo.
Beberapa saat kemudian, kurasakan tubuh Kak Ken bergetar, sepertinya dia menangis.
"Heis! Apa apaan ini." Gani menarik kasar Kak Ken hingga pelukannya terlepas.
"Jangan main peluk peluk, dia ini istri orang. Istri saudara saya." Seru Gani dengan tampang sangarnya.
__ADS_1
Kulihat Kak Ken menyeka air matanya, jadi benar dugaanku, dia menangis. Semoga saja bukan air mata buaya. Dan semoga saja Kak ken masih baik seperti dulu, tak berkomplot dengan orang tuanya. Aku hanya bisa berdoa sekarang.
"Aku butuh penjelasan Cal." Ujar Kak Ken dengan suara bergetar. Bukankah harusnya aku yang berkata demikian. Aku butuh penjelasannya, penjelasan tentang keluarganya yang berusaha menyingkirkanku demi uang.
"Penjelasan apa nih?" Tanya Gani garang.
"Dia beneran selingkuhan kamu Cal?" Santi menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil geleng geleng.
"Apa, selingkuhan!" Teriak Gani. Pria itu tampak murka dan langsung menarik kerah baju Kak Ken.
Aku menggeleng cepat saat kulihat kepalan tangan Gani. Pria itu tampak bersiap siap hendak melayangkan tinjunya.
"Jangan, dia kakakku." Ucapku cepat. Entah kenapa, aku masih merasa sayang pada Kak Ken.
"Kakak?" Gumam Santi.
Gani menatap nyalang kearahku. Sepertinya dia masih belum percaya.
"Dia kakakku. Biru juga sudah tahu."
Gani melepaskan cekalannya dikerah baju Kak Ken. Kepalan tangannya juga perlahan membuka. Sepertinya dia percaya kali ini.
"Kamu sudah tidak amnesia?" Tanya Gani.
Aku menggeleng pelan. Kak Ken tampak terkejut, dia menatapku penuh tanda tanya.
"Bisakah kalian meninggalkan kami berdua. Ada banyak hal yang harus kami bicarakan."
Gani dan Santi saling menatap mendengar permintaanku. Tapi saat ini, aku memang butuh waktu berdua dengan Kak Ken. Ada banyak hal yang harus kami bicarakan.
"Aku tak akan menutup pintunya."
Mendengar itu, Gani mengangguk dan mengajak Santi keluar. Sekarang, tinggalah aku dan Kak Ken berdua. Kami duduk disisi ranjang dengan hening. Begitu banyak yang ingin dibicarakan hingga tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kami.
"Kamu amnesia?" Akhirnya keluar sebuah pertanyaan dari bibir Kak Ken.
"Tidak." Jawabku sambil menggeleng.
"Kalau tidak, kenapa kamu menghindariku tadi?"
Aku menoleh kearah Kak Ken dan menatapnya nyalang. Bisa bisanya dia bertanya seperti itu, apakah ini bagian dari aktingnya?
"Ada apa Cal? Aku benar benar tak mengerti dengan semua ini. Kamu masih hidup, tapi kenapa ada acara pemakamanmu? Dan, dan jasad siapa yang dimakamkan waktu itu?"
Aku tersenyum getir. Benarkah dia tak tahu apa apa? Atau jangan jangan dia hanya berpura pura tak tahu? Kak Ken memegang tanganku tapi langsung kehempaskan kasar.
"Berhenti bikin drama Kak. Aku sudah muak, aku muak dengan kalian semua." Seruku tertahan. Aku tak mungkin berteriak dirumah orang, meski rasanya aku ingin meledak. Emosiku berada dipuncak jika ingat apa yang orang tuanya lakukan padaku.
"Drama? Drama apa yang kamu maksud Cal?"
Kembali aku tersenyum getir mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Berhenti bikin drama Cal, berhenti menghindariku. Ka, kamu masih hidup, lalu kenapa kamu pura pura meninggal dan bersembunyi disini?"
Aku membuang nafas kasar. Hati dan logikaku saling bertentangan saat ini. Kalau melihat Kak Ken, ingin rasanya aku percaya kalau dia tak tahu menahu tentang semua itu. Tapi logikaku tak mau percaya begitu saja. Dia anak tante Sofi, sudah tentu dia berada dipihak orang tuanya. Apalagi dia adalah CEO CALS, tak menutup kemungkinan dia terobsesi untuk memilikinya.