
POV CALLISTA
Aku menyuruh art untuk masak spesial dan banyak. Ingin mengajak mereka makan bersama sebagai perwujudan rasa syukurku. Tapi tentu saja, keluarga benalu tidak akan aku ajak. Mereka sudah menggerogoti aku hingga hampir membuatku mati. Makhluk benalu seperti mereka harusnya dimusnahkan dengan segera.
Sebenarnya malas sekali masih melihat mukanya dirumah ini. Tapi biarlah, biar dia menikmati dulu hari terakhirnya sebelum besok mendekam dipenjara.
Selain menyuruh membersihkan kamarku dari barang Kania. Aku juga menyuruh art membersihkan rumahku dari segala foto dan apapun yang berhubungan dengan keluarga tante Sofi. Sayangnya foto keluargaku sudah dibuang olehnya. Hingga aku harus mencetak ulang agar bisa dipasang kembali didinding.
Aku menjatuhkan tubuhku keatas ranjang setelah lelah berkeliling rumah demi melihat perubahan apasaja yang telah dilakukan tante Sofi. Semua barang barang alm mama dan papaku dibuangnya, sungguh membuat aku meradang.
Biru yang baru keluar dari kamar mandi segera menghampiriku. Dia berbaring disebelahku lalu mengangkat kepalaku agar menggunakan lengannya sebagai bantal.
"Udah lega perasaan kamu?" Tanyanya sambil membelai rambutku.
Aku menggeleng. "Sebelum mereka dipenjara, aku belum puas. Aku masih sangat ingat hari itu. Aku tak bisa bernafas, aku kedinginan, aku ketakutan, aku terombang ambing dilautan." Air mataku meleleh mengingat betapa mengerikannya kejadian itu.
"Jangan diingat lagi." Ucap Biru sembari mencium keningku.
"Bang, abang mau kan tinggal disini sama aku?" Kami memang belum membicarakan akan menetap dimana setelah ini. Tapi aku harap, Biru mau tinggal disini bersamaku.
Biru terdiam, dan diamnya itu yang membuatku resah. Mungkin bagi pria lain yang matre, mereka akan langsung bilang iya. Tapi Biru, aku tahu banyak hal yang dia pertimbangkan.
"Abang bingung Cal."
"Bingung? Bingung kenapa?"
"Abang mau kerja apa disini?"
"Ya ampun Bang." Aku langsung mengubah posisiku menjadi duduk sambil menatapnya.
"Abang gak perlu kerja dulu. Kita kuliah sama sama. Setelah kuliah beres, baru kita sama sama kerja. Kita kelola CALS, kita kembangkan. Aku yakin abang adalah orang yang kompeten dan kelak mampu jadi pemimpin."
Biru ikutan duduk lalu menggenggam kedua tanganku.
"Tapi abang kepala rumah tangga Cal. Abang tetap ingin bisa memberikan nafkah padamu."
"Nafkan batin saja sudah cukup." Godaku sambil mencubit dadanya dan mengerling nakal. Berharap sedikit mencandainya membuatnya tak merasa stress. Entah hanya perasaanku saja atau apa, wajah Biru selalu menegang saat kami mulai membicarkan rencana masa depan.
"Mana bisa seperti itu Cal." Bukannya meleleh, Biru terlihat makin frustasi. Membuatku berfikir keras mencari cara agar dia tak perlu terlalu memusingkan masalah nafkah lahir.
"Apa abang kerja sambil kuliah aja ya?"
Aku menghela nafas lalu menggeleng. Jelas aku tidak setuju. Bisa bisa dia gak ada waktu buatku kalau kerja sambil kuliah. Aku masih pengen dimanja manja ama dia, ogah banget kalau seharian ditinggalin.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Nanti kamu gak ada waktu buat aku. Lagi pula, aku takut kuliah kamu keteteran. Dulu abang berhenti saat semester 5 kan? Mending fokus kuliah aja biar cepat lulus. Biar bisa cepat kerja di CALS. Baru nanti jika udah nyaman dengan kerjaan, abang ambil S2."
Bukannya aku memaksakan pendapat. Hanya saja dikota ijasah SMA mau kerja apa? Paling kalau kerjapun gajinya dikit. Bukankah mending fokus kuliah biar cepat lulus dengan nilai yang bagus.
Kupeluk Biru dan bersandar didadanya yang senderable itu.
"Aku tahu harga diri laki laki itu adalah bekerja. Tapi aku akan tetap menghormati abang sebagai suami meski abang belum bekerja."
Biru mencium puncak kepalaku lama sambil mengeratkan rangkulannya dibahuku.
"Abang beruntung sekali mendapatkan istri seperti kamu Cal."
Aku menggeleng sambil menatapnya. "Aku yang beruntung dapat suami kayak abang." Kudaratkan bibirku kebibirnya dan langsung disambutnya dengan antusias.
Suara kecipak bibir kami memenuhi kamar. Seakan tak ada hari esok, kami terus berciuman lagi dan lagi.
Ceklek
"Siapa kalian?"
Aku dan Biru terpaksa menghentikan kegiatan menyenangkan ini. Biarpun posisiku membelakangi pintu, aku tahu itu suara Kania.
"Biru, kamu Biru kan?" Kania lebih dulu mengenali Biru karena aku memang memunggunginya.
"Apa kabar Kania?" Sapaku sambil membalikkan badan.
Saking kagetnya, Kania sampai mundur dan hampir terjatuh. Mulutnya menganga lebar dan wajahnya pucat pasi bak mayat hidup.
Aku turun dari ranjang lalu mendekatinya. Kania menggeleng sambil mundur mundur hingga terjatuh.
"Ca, Ca,Callista." Ucapnya dengan suara bergetar.
"Kenapa, kaget atau takut ngeliat aku?" Aku berjongkok didepannya sambil tersenyum sinis. Kutarik kasar tas yang talinya masih melingkar dibahunya.
"Bukankah ini milikku?" Tanyaku sambil tersenyum mengejek. Aku membuka tas tersebut lalu menumpahkan seluruh isinya. Aku tersenyum saat apa yang aku cari ketemu. Benar, kunci mobil. Aku ambil benda itu lalu aku lempar tas kosong kewajah Kania.
"Ambil, aku tak mau bekasmu. Lagian aku bisa beli selusin yang lebih bagus dari itu." Aku kembali berdiri. Menantapnya nyalang sambil berkacak pinggang.
"Keluar dari kamarku." Hardikku sambil menunjuk kearah pintu.
Kania berusaha berdiri dengan susah payah. Kakinya yang gemetar membuatnya sulit untuk melangkah. Dengan langkah terseok seok, akhirnya dia keluar dari kamarku.
__ADS_1
...----------------...
Art memberitahu jika makan siang sudah siap. Aku dan Biru langsung turun dan menuju meja makan. Kulihat begitu banyak hidangan yang tersaji dimeja. Biru sampai geleng geleng melihatnya.
"Banyak sekali." Komennya.
"Kan yang makan banyak Bang." Sahutku.
Aku memanggil seluruh art yang berjumlah 4 orang. Selain mereka juga ada seorang supir dan tukang kebun. Sengaja sekurity tak aku ajak agar gerbang masih ada yang jaga. Aku mengajak mereka semua duduk dimeja makan dan makan bersama kami.
"Kami makan didapur saja Non." Ujar Bi Nuning dan langsung diangguki oleh lainnya. Sepertinya mereka sungkan satu meja denganku.
"Sekali kali gak papa Bi. Udah kalian duduk." Mereka masih juga tak mau duduk, tapi malah menatap Biru. Jangan jangan mereka takut pada suamiku itu?
"Gak papa, kalian duduk saja, kita makan sama sama." Ucap Biru yang merasa diperhatikan.
"Baik Den." Sahut Bi Nuning.
Biru terlihat canggung dengan panggilan itu. Dia menatapku tapi aku pura pura tak tahu.
"Panggil nama saja gak papa." Ujarnya kemudia.
"Mana boleh seperti itu. Aden suaminya Non Cal, kewajiban kami untuk menghormati Aden seperti kami menghormati Non Cal." Jawab Bi Nuning. Bi Nuning adalah kepala pelayan disini, jadi dia yang lebih banyak bicara ketimbang lainnya.
Keenam pekerjaku mulai mengambil tempat duduk. Setelah aku mengambilkan makanan untuk Biru dan diriku sendiri, kupersilakan mereka makan sepuasnya.
"Apa apaan ini?" Teriak Om Kamal yang baru keluar dari kamarnya bersama tante Sofi. "Sejak kapan pembantu ikut makan dimeja makan?" Kulihat kemurkaan diwajahnya.
"Minggir, pergi dari sini." Usirnya.
Semua bergeming, melanjutkan makan seolah olah tak mendengar apapun.
"Budeg kalian, cepat pergi darisini." Teriaknya lagi.
Aku membanting sendok dan garpuku hingga semua mata menatapku.
"Harusnya kata kata itu tertuju pada anda. Pergi dari sini karena anda sudah tidak dianggap sedikitpun disini." Tekanku.
"Oh...aku lupa." Aku tersenyum miring. "Kalian tak punya rumah, makanya tak mau pergi dari sini karena tak tahu mau kemana." Para art terlihat menahan tawa, membuat Om Kamal makin geram.
"Astaga, sepertinya aku terlalu meremehkan. Anda adalah direktur di CALS, sudah pasti punya uang banyak dari gaji buta tiap bulan. Harusnya anda mampun membeli rumah atau apartemen. Ups." Aku menepuk dahiku sambil tertawa ringan.
"Sepertinya uang anda sudah habis karena baru saja membelikan apartemen untuk kekasih gelap anda."
__ADS_1
Wajah garang Om Kamal seketika berubah pias. Dan tante Sofi, wanita itu seketika menatap suaminya tajam. Rasanya tak sabar untuk melihat pertunjukan mereka berikutnya.