Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
KELUAR DARI RUMAH


__ADS_3

Pagi pagi sekali, aku mengecek kamar tamu tempat dimana Kania tidur. Ternyata kamar itu dikunci dari dalam. Itu artinya, Kania masih ada dirumah ini. Tidak, aku tak akan membiarkannya tetap berada disini. Wanita itu mengancam rumah tanggaku, sudah sepatutnya hama seperti dia dibasmi hingga tuntas.


"Kania."


Brak brak brak


Aku menggebrak kuat pintu kamarnya berkali kali.


"Kania, bangun."


Gara gara teriakanku yang kerasanya melebihi toa masjid, dua orang art sampai datang menghampiri. Semoga saja Biru yang masih tidur tak terganggu.


"Ada apa Non?" Tanya salah satu dari mereka.


"Gedor pintunya sampai Kania keluar."


Tanpa banyak bertanya lagi, mereka langsung melaksakan perintahku.


Brak brak brak


Kedua art itu menggedor berkali kali sampai akhirnya pintu itu terbuka. Dari dalam, muncul Kania yang terlihat baru bangun tidur dengan rambut yang masih acak acakan.


"Berisik banget sih, ganggu aja." Gerutu Kania. Dasar tak tahu diri, dia bilang ganggu, padahal keberadaannya yang menggangguku.


"Kalian masuk dan kemasi barang barang wanita ini lalu lempar keluar gerbang."


Mulut Kania menganga mendengarnya. Pakai adegan sok kaget segala, padahal semalam aku sudah mengusirnya. Jangan jangan dia sudah pikun, sudah lupa kejadian semalam.


Segera Kania menghalangi kedua art yang hendak masuk kekamarnya. Tapi sayang, Kania tak mampu menahan desakan dua orang art yang memang bertubuh lumayan subur. Aku hanya bisa menahan tawa melihatnya terhuyung kebelakang hingga kepentok pintu gegara didesak Wentri, art paling gemuk dirumahku.


Kania berdecih lalu memelototiku saat kedua art itu berhasil masuk. Aku yakin kalau dibuat adegan kartun, sudah keluar asap yang mengepul dari kepalanya.


"Apa melotot." Seruku sambil balik memelototinya. Emang dia pikir cuma dia saja yang bisa melotot. Aku juga bisa kali.


Kania membuang nafas kasar lalu menghampiri art yang sedang mengosongkan isi lemari.


"Apa apaan kalian. Hati hati, barang barangku mahal. Emang kalau rusak kalian mau ganti?" Amuk Kania sambil merebut baju bajunya yang dipegang art.


"Aku yang akan ganti kalau rusak." Sahutku sambil memperhatikan mereka dari ambang pintu. "Lanjutkan pekerjaan kalian."


Mendengar perintah dariku, kedua art itu melanjutkan pekerjaan yang sempat terjeda.


"Kurang ajar kalian semua. Aku akan membalasmu Cal." Kania yang emosi tingkat dewa berjalan kearahku. Aku hanya tersenyum sinis melihat wajahnya yang mengeras dan alis mirip angry bird. Nafasnya terlihat memburu dan telapak tangannya mengepal kuat.


Saat sudah dekat, tiba tiba dia menjambak rambutku.


"Rasakan ini. Dasar wanita tak tahu diri." Makinya.

__ADS_1


Tak terima dengan perlakuannya, aku langsung balas menjambak hingga terjadi adegan jambak jambakan kayak disinetron anak SMA.


Tak hanya tangan kami yang saling menjambak. Mulut kami juga tak henti hentinya memaki satu sampai lain. Berbagai macam nama hewan dan sumpah serapah keluar dari mulut kami berdua. Dua orang art tadi hanya melihat tanpa berani melerai.


"Apa apaan ini." Kak Ken yang baru datang langsung melerai kami.


"Stop, stop." Teriak Kak Ken sambil berusaha memisahkan kami.


Nafasku dan Kania sama sama ngos ngosan. Padahal hanya tangan dan mulut kami yang bergerak, tapi nyatanya, capek juga kayak habis joging beberapa kilo.


Kondisi kami sama, rambut acak acakan dan sedikit luka dileher dan pipi. Kami saling menatap dengan sorot mata permusuhan.


"Kalian ini bukan bocah, kenapa berkelahi kayak anak kecil?" Seru Kak Ken sambil menyunggar rambutnya kebelakang. Sepertinya dia frustasi, baru pulang dari luar kota, udah disuguhi adegan adu jambak. Untuk kami gak sampai masuk babak smack down.


"Dia udah keterlaluan Kak. Dia ngusir aku tanpa perasaan. Mentang mentang ini rumahnya, dia semena mena sama aku. Lihat." Kania menunjuk kearah dua art yang sedang mengemas barangnya. "Dia sampai nyuruh art beresin barang barang aku."


Aku mendengus sebal mendengar aduannya. Nada suaranya sudah mirip orang yang didzolimi.


"Aku juga gak bakal ngusir kamu jika kamu gak keterlaluan." Aku tak mau diam saja. Dia pikir bisa gitu memojokkanku seperti ini?


"Hei Cal, kurang apa coba. Semua barang kamu udah aku balikin. Mobil, kamar, tas, sepatu, apapun itu, aku tak lagi pakai mikikmu. Kamu juga sudah memenjarakan orang tuaku. Tapi masih saja kamu belum puas dan ngusir aku tanpa perasaan. Dimana hati nurani kamu?"


Aku tersenyum miring mendengarnya. Pandai sekali dia bersilat lidah didepan Kak Ken.


"Maafkan aku Kak." Ucapku sambil menatap Kak Ken. Sejujurnya, berbuat seperti ini pada keluarganya, membuatku tak enak hati. Tapi mau gimana lagi, keluarganya udah sangat keterlaluan.


Mata Kak Ken membulat sempurna. Dia lalu menatap nyalang kearah Kania. Ditatap seperti itu, membuat Kania menunduk dalam dalam dengan tubuh gemetaran. Sekarang tinggal Kak Ken yang dia punya. Jika kakaknya itu marah, dia tak akan punya siapa siapa lagi.


"Kemasi barangmu, ikut Kakak pulang ke apartemen."


Aku sebenarnya tak ingin mengusir Kak Ken. Tapi jika Kania aku usir, sudah pasti dia akan ikut pergi dari sini demi Kania. Tak mungkin dia membiarkan adiknya tinggal sendirian.


Kania menghentakkan kaki lalu masuk kedalam kamar, tinggalah aku berdua dengan Kak Ken.


"Maafin keluargaku ya Cal."


Segera aku menggeleng. "Kakak tidak perlu minta maaf. Mereka yang salah, bukan kakak."


Sumpah demi apapun, aku tak tega melihat ekspresi wajahnya. Dia seperti menanggung beban dari semua perbuatan keluarganya. Kasihan sekali.


"Hari ini, aku akan mengirimkan surat pengunduran diriku. Sekali lagi maaf, karenaku, saham perusahaan turun drastis." Rasa bersalahnya makin membuatku sesak. Kenapa harus seperti ini, kenapa orang sebaik Kak Ken harus ada diantara mereka dan ikut dipersalahkan atas semua yang dia sendiri tidak tahu menahu.


"Aku dan Kania akan pindah dari sini."


"Kak." Tak bisa lagi aku menahan air mata. Sejak kecil, kak ken adalah sosok kakak laki laki bagiku. Aku tak sanggup jika harus kehilangannya.


"Jangan menangis." Kak Ken menyeka air mataku lalu memelukku. Sejak dulu, apapun masalahnya, dialah yang akan menawarkan bahu untukku dan menyeka air mataku.

__ADS_1


"Kakak masih akan tetap membantuku kan? Kakak tidak akan benar benar berhenti kan?"


Kak Ken mengusap lembut kepalaku. "Kakak akan tetap bantu kamu sampai kamu siap menduduki jabatan itu."


Setelah acara tangis tangisan itu, aku membantu Kak Ken mengemasi barang barangnya yang masih ada dikamar. Ternyata tidak banyak karena sebagian sudah dia pindahkan keapartemen.


"Sering sering main ke tempat kakak." Pintanya sambil membereskan meja kerja.


Aku seketika tergelak mendengar ajakan itu. Bagaimana mungkin aku kesana jika ada Kania.


"Kenapa malah ketawa. Apartemen kakak jelek ya?"


"Biar aku berantem kayak tadi lagi sama Kania?" Sahutku dengan tawa yang belum reda.


Kak Ken geleng geleng sambil tertawa ringan. "Kalian tak pernah berubah. Sejak kecil, tak pernah akur."


Disaat kami masih sibuk, tiba tiba Kania masuk dengan wajah juteknya.


"Aku udah selesai." Ucapnya ketus sambil bersandar didinding sebelah pintu. Kedua tangannya dilipat didada sambil menatapku sinis.


"Cal, mobil papa mau aku bawa, serahkan kuncinya padaku." Ucap Kania sambil menengadahkan telapak tangannya. Kelakuannya udah kayak orang nagih utang saja. Kalau gak ingat ada Kak Ken disini. Pasti aku lanjutin acara jambak jambakan plus cakar cakaran.


"Itu mobil perusahaan, bukan mobil papa kamu." Biar sekalian dia kena mental. Papanya itu punya apa memang? Kerja jadi direktur tapi gak punya apa apa. Entah kemana semua uang gajinya? Mungkin sudah dia habiskan untuk berfoya foya denngan selingkuhannya.


Kania mendecak sebal lalu keluar dari kamar. Biar kapok tuh anak. Kalau mau punya mobil, biar dia usaha. Biar tahu susahnya cari uang.


Selesai mengemas, Kak Ken pamitan pada semua orang yang ada dirumah, juga pada Biru.


"Jaga Cal baik baik ya." Pesannya pada Biru.


"Ngapain sih kakak masih perhatian sama Cal. Dia itu udah ngusir kita. Udah, biarin aja dia. Gak usah bantu dia ngurus perusahaan juga. Biar aja perusahaannya bangkrut sekalian."


"KANIA!" Bentak Kak Ken sambil menatapnya tajam.


"Aku pasti jaga Cal dengan baik, gak usah khawatir." Ujar Biru sambil merangkul bahuku.


Selesai pamitan, kami semua mengantarnya hingga teras. Perasaanku campur aduk, antara senang karena Kania sudah minggat dari sini, dan sedih karena harus pisah dengan Kak Ken.


"Kenapa ini?" Tanya Biru sambil menyentuh leherku yang terasa perih.


"Kena cakar Kania."


"Kok Bisa?"


"Emmmm tadi kami berantem."


"Astaga." Sahut Biru sambil geleng geleng. Dia lalu membawaku ke ruang tengah dan mengambil kotak P3K.

__ADS_1


__ADS_2