
Sejak dulu, aku benci yang namanya perselingkuhan. Aku tak akan pernah memaafkan jika pasanganku berselingkuh apapun alasannya. Jika memang bosan denganku, katakan, kita pisah baik baik, bukan selingkuh. Karena apa, karena luka tak berdarah itu lebih menyakitkan ketimbang luka yang tampak berdarah darah.
Sepertinya, tante Sofi memang belum tahu sama sekali tentang perselingkuhan suaminya. Tangannya mengepal dan matanya menatap tajam seakan akan ingin menguliti Om Kamal.
"Benar itu Pah?"
Om Kamal berdecak, tak ada tampang takut diwajahnya.
"Kamu percaya sama bocah sialan itu." Serunya sambil menatap tante Sofi tapi telunjuk mengarah padaku.
Klontang, setelah tadi aku, sekarang ganti Biru yang membanting sendok dan garpunya.
"Istri saya punya nama, dan dia bukan bocah sialan seperti apa yang ada katakan." Geram Biru sambil berdiri. "Sepertinya sebutan itu lebih cocok untuk sampah masyarakat seperti anda."
"Apa kamu bilang, saya sampah masyarakat, saya ini direktur. Emang apa kerjaan kamu. Kamu itu cuma jongosnya Cal."
Aku seketika bangkit lalu mendekatinya Om Kamal, dan..
PLAAKK
Kulayangkan tamparan sekeras kerasnya karena tak terima dengan ucapannya.
"Ban*satt." Umpatnya sambil memegang pipinya yang merah. Diangkat tangannya dan hendak membalasku, sayangnya gagal karena Biru lebih dulu menonjok mukanya hingga dia tersungkur kelantai. Darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Bisa kupastikan jika Biru menonjoknya dengan sangat kuat.
"Berani sedikit saja menyentuh istri saya, akan saya buat anda menyesal seumur hidup." Ancam Biru sambil menatap Om Kamal nyalang. Biru merangkulku sebagai bentuk perlindungannya. Suamiku ini memang paling bisa diandalkan.
Karena keributan ini, Kania keluar dari kamar tamu. Dia terkejut melihat kondisi papanya.
Kulihat tante Sofi membantu Om Kamal bangun, begitu juga dengan Kania. Sepertinya tanteku itu lebih percaya pada suaminya ketimbang aku. Biru mengajakku kembali duduk. Karena ketegangan itu, para art sampai menghentikan makannya.
"Keterluan sekali kamu Cal. Setelah kedua orang tuaku merawatmu dengan baik, bagini caramu balas budi?" Seru Kania garang.
Aku hanya menghela nafas, sepertinya tak perlu kutanggapi omongannya. Seharusnya ucapan itu tertuju pada mereka, setelah hidup enak dengan uang papaku, seperti ini balasan mereka padaku?
"Lanjutkan makannya, anggap saja tadi lagi iklan." Titahku dan langsung dianggguki oleh para art.
Kuraih ponsel yang ada diatas meja lalu mengirimkan beberapa foto ke nomor tante Sofi. Wanita itu selalu bawa ponsel kemana mana, begitupun saat ini.
Dia melirikku saat melihat ada pesan masuk dariku. Aku hanya tersenyum sambil menunggu bom yang sebentar lagi meledak.
3, 2, 1,
__ADS_1
Mata tante Sofi membeliak dengan sebelah tangan yang menutup mulutnya yang menganga. Dia pasti syok melihat foto foto suaminya bersama Yuna. Foto itu memperlihatkan Om Kamal dan Yuna yang hendak memasuki hotel, di tempat clubbing dan saat mereka berenang disalah satu resort di Bali. Rama memang hebat, dia bisa mendapatkan foto foto sebagus ini.
PLAAKKK
Tangan kanan tante Sofi akhirnya mendarat di pipi Om Kamal. Kurasa pipi kanannya itu pasti kebas karena terkena dua kali tamparan.
"Mamah, mamah apa apaan sih?" Tanya Kania kebingungan.
"Sabahatku, selingkuhan papaku. Kayaknya pas banget dibuat judul ftv." Celetukku sambil mengangkat garpu yang diujungnya tertancap udang.
"Wuih wuih, bisa booming kalau dijadiin novel Non." Sahut Lastri, salah satu art.
Wajah Om Kamal merah padam. Aku yakin dia mati kutu saat ini.
Kania yang bingung, menarik ponsel mamanya dan seketika, matanya membulat sempurna.
"Papah, apa apaan ini Pah?" Ujar Kania sambil menatap papanya tak percaya. Aku yakin dia syok melihatnya. Sahabat baiknya sejak SMA, bahkan aku masih ingat jelas betapa sering Yuna menginap disini, ternyata mengkhianatinya. Baguslah, tanpa aku harus capek capek membalas perbuatannya dan Jef, Kania tahu rasanya dikhianati.
"Tega kamu melakukan ini Pah, tega." Tante Sofi menangis sambil memukuli Om Kamal. Sebagai sesama wanita, kasihan juga melihatnya seperti ini. Dia pasti sangat hancur karena aku tahu pasti kalau dia sangat mencintai suaminya.
"Apa kurangku padamu Pah, apa? Aku setia, aku memberikan apapun yang kamu mau. Aku mengangkat derajatmu yang hanya karyawan biasa menjadi manager lalu direktur. Ini balasan yang kau berikan padaku?"
"Aku bodoh, aku memang bodoh. Bisa bisanya aku selalu menuruti apapun kata katamu. Bahkan kamu yang melarangku menolong Cal saat dia terjatuh dilaut."
Terkejut juga mendengarnya. Ternyata semua ini ide Om Kamal. Tapi apapun itu, tak membuat hatiku lunak pada tante Sofi. Harusnya dia mengabaikan perintah suaminya dan menolongku, bukannya setuju lalu tertawa terbahak bahak melihatku dari atas.
Om Kamal diam saja, sepertinya dia kehabisan kata kata untuk menyangkal.
Disaat drama didalam belum usai, Pak Parjo sekurity datang menghadap.
"Ada tamu Non." Ucapnya sopan. Lalu sesaat kemudian, tiga orang polisi datang.
"Selamat siang." Sapa salah satu polisi. Wajah tante sofi sekeluarga seketika pucat pasi. Beruntung polisi bekerja lebih cepat dari dugaanku. Padahal aku sudah was was kalau Om Kamal akan melarikan diri. Tapi kalau jadi DPO, yang ada hukumannya makin berat. Pasti dia juga tak mau menerima resiko itu.
"Kami membawa surat penangkapan untuk saudara Kamal dan Sofi."
"Silakan pak, itu orangnya." Ujar Pak Ringgo si tukang kebun sambil menunjuk dua orang tersebut.
"Jangan, jangan tangkap saya. Saya tidak bersalah, saya tidak membunuh siapapun." Teriak tante Sofi saat seorang polisi hendak memborgol tangannya.
"Ini kesalah pahaman Pak. Kami tidak membunuh, dia bunuh diri, saya punya rekaman vidionya." Om Kamal membela diri.
__ADS_1
Aku bahkan tidak tahu sama sekali jika mereka memvidiokan kejadian itu.
"Silakan jelaskan nanti dikantor." Polisi tersebut tetap memborgol tangannya dibelakang.
"Cal, tolong Cal, tolong cabut laporan kamu. Tante tidak bersalah, Om kamu yang salah." Teriak tante Sofi saat polisi hendak membawanya.
"Kenapa jadi aku, kamu yang punya ide awal menikahkan Cal." Sangkal Om Kamal.
"Tapi kamu yang menyuruhku membiarkannya tenggelam saat aku hendak menolongnya."
Aku hanya geleng geleng saat kedua orang itu saling menyalahkan. Secara tidak langsung, mereka sudah mengakui jika sengaja membiarkanku tenggelam.
"Mama, mama." Kania menangis sambil mengikuti polisi yang membawa mamanya. Kami semua juga ikutan kedepan, rasanya kurang afdol jika tak sampai tuntas lihat dramanya.
"Jangan bawa mama saya Pak, saya mohon."
"Maaf mbak, ini sudah sesuai prosedur. Kami harus membawa kedua orang ini kekantor polisi."
Kania terus mengikuti sampai teras. Setelah mobil polisi yang membawa kedua orang tuanya pergi, Kania langsung menghampiri Pak Agung.
"Antar saya ke kantor polisi." Titahnya pada sopir mamanya itu.
"Maaf mbak, saya hanya bekerja untuk Non Cal."
Kania sekatika menatapku nyalang. "Keterlaluan kamu Cal. Tega kamu melakukan ini pada orang yang sudah merawatmu saat orang tuamu tidak ada."
Muak juga mendengarnya terus terusan berkata seperti itu. Kesannya aku seperti orang yang tak tahu diri.
Kudekati Kania lalu ku cengkeram kedua lengannya kuat. Aku memang lebih tinggi darinya, jadi tak susah melakukan itu.
"Lebih tega mana sama orang yang membiarkan ponakannya tenggelem tanpa belas kasihan." Tekanku sambil lebih menguatkan lagi cengkeramanku.
"Lepas." Serunya sambil berontak.
Setelah cengkeramanku terlepas, dia masuk kedalam, kudengar sayup sayup dia menangis sambil menelepon Kak Ken.
Seketika rasa bersalah itu menggelayutiku. Bukan pada Kania, melainkan pada Kak Ken. Pria baik itu pasti terluka saat kedua orang tuanya dipenjara. Aku yakin Kak Ken tidak keluar kota untuk urusan pekerjaan saat ini, dia hanya tak mau ada dan menyaksikan langsung saat polisi memborgol kedua orang tuanya dan menggiringnya menuju kantor polisi. Aku telah menghancurkan hatinya.
Air mataku perlahan menetes, dan seketika ada jari jemari yang menyekanya.
"Kamu gak salah, kamu hanya menuntut keadilan." Ujar Biru sambil merengkuhku dalam pelukannya.
__ADS_1