Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
JUJUR


__ADS_3

POV CALLISTA


Mendengar ucapan Biru, semua orang langsung bisik bisik. Hatiku makin tak karuan, takut Biru tahu siapa aku yang sebenarnya. Dia pasti kecewa saat tahu aku membohonginya. Astaga, kenapa malah jadi runyam gini sih urusannya.


"Jadi nona amnesia ini anak orang kaya?"


"Iya, bahkan sangat kaya raya dikota." Jawab Biru sambil menoleh padaku. Sementara aku, hanya bisa tersenyum canggung sambil mengangguk angguk seolah membenarkan ucapan Biru.


"Heleh, jangan percaya dengan bualannya. Mungkin saja yang dipakai kakaknya kemarin hanya mobil pinjaman. Kalau memang dia kaya raya, gak mungkin memilih tetap disini sama Biru yang gak punya apa apa." Ucap Bu Lurah sambil menyebikkan bibir menyangsikan ucapan Biru. Menohok sekali ucapannya. Secara tidak langsung dia menunjukkan pada warga jika dia hanya memandang seseorang dari segi materi.


"Anda saja yang buta sehingga tak bisa melihat apa yang ada pada suami saya." Bantahku. "Suami saya punya segalanya. Hati yang bersih, tanggung jawab, dan otak yang cerdas. Hanya tinggal menunggu waktu saja dia akan menjadi orang yang sukses. Jadi tak alasan bagi saya untuk meninggalkannya." Ujarku yakin sambil mempererat genggaman tanganku dan menatap Biru. Aku bersumpah dalam hati, akan kujadikan Biru orang yang sukses. Dia calon pemimpin CALS.


"Udahlah Bu, lebih baik kita pulang saja." Safa berdiri dan memegang lengan ibunya. Sepertinya dia sudah tak tahan melihatku dan Biru yang kompak saling membela.


"Tidak bisa begitu, dia harus minta maaf dulu sama kamu Safa." Bu Lurah menyingkirkan tangan Safa yang ada dilengannya. Sepertinya dia masih belum puas sebelum mendengarku mengatakan maaf.


"Benar Safa, nona amnesia harus minta maaf dulu karena sudah menamparmu." Sahut seorang warga.


Aku ingin bicara tapi Biru menahanku. Dia memberi isyarat agar aku diam.


"Baiklah, istri saya akan minta maaf pada Safa."


Mataku seketika terbeliak mendengar ucapan Biru. Apa apan dia, kok malah ngalah gini sih. Kulihat, Bu Lurah menyunggingkan senyum meremehkan. Dia pasti merasa diatas awan sekarang.


"Tapi dengan syarat, Safa juga minta maaf pada istri saya. Bagaimanapun, Safa yang pertama memancing emosinya. Dan barusan, Bu Lurah juga sudah memfitnah istri saya, jadi Bu Lurah juga harus minta maaf pada istri saya."


Senyum Bu Lurah yang baru terbit, kembali tenggelam. Berganti aku yang tersenyum. Biru memang bisa diandalkan. Selain bertanggung jawab, dia juga cerdas. Calon sempurna pemimpin CALS.


"Ya gak bisa gitu dong." Protes Bu Lurah dengan rahang mengeras menahan emosi. "Enak saja saya disuruh minta maaf."


Pak Lurah terlihat menarik tangan istrinya untuk duduk. Entah dia beneran malu karena kelakuan istrinya, atau sekedar menjaga imej, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


"Tidak akan ada akibat tanpa sebab." Biru melanjutkan.


Safa tampak kecewa mendengar ucapan Biru. Mungkin dia pikir Biru ada dipihaknya. Sayangnya dia salah. Pria yang dia pikir masih belun move on darinya itu, sudah jatuh dalam pesonaku.


"Sudahlah Bu, Safa tak mau memperpanjang masalah ini. Permisi." Safa pergi begitu saja. Bu Lurah menatap cengo anaknya yang ngeloyor meninggalkannya. Dan akhirnya, satu persatu warga pulang begitu juga dengan Pak Lurah dan istrinya.


Setelah semuanya pergi, Biru mengunci pintu lalu mendudukan bokongnya dengan kasar diatas kursi. Terlihat dia membuang nafas berat sambil menyunggar rambutnya kebelakang. Suasana mendadak lengang. Apakah dia akan marah karena aku membuat masalah lagi?


"Maaf." Ucapku sambil mendekatinya dan berdiri tepat dihadapannya.


"Sekali lagi maaf karena telah membuatmu malu."

__ADS_1


Biru menepuk kursi disebalahnya. Aku yang paham maksudnya langsung duduk disana.


Kupikir, dia akan marah. Tak tahunya, dia malah memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya diceruk leherku.


"Kamu..gak marah sama aku?"


"Aku tahu kamu melakukan itu karena ada sebabnya. Kadang saat direndahkan, kesabaran kita dicabar habis habisan, kita sering kali tak bisa mengontrol emosi. Seperti kejadian saat aku memukul Rama waktu itu." Aku seperti mimpi mendengar ucapannya.


"Jadi beneran kamu gak marah?" Kudorong bahu Biru agar dia menegakkan kepalanya. Aku ingin melihat matanya.


Biru tersenyum sambil menggeleng. Hal itu membuatku benar benar terharu sampai tak kuasa menahan air mata.


"Heis..kok malah nangis?" Biru menyeka air mataku. Bukannya diam, aku makin sesenggukan. Kali ini, aku jatuh cinta pada pria yang sangat tepat. Dia ada untukku dan percaya padaku tanpa aku memintanya.


"Pak lik." Tiba tiba Galang datang, membuat aku dan Biru langsung menoleh padanya. Bocah kecil itu berjalan menghampiri kami.


"Jangan marah sama tante Cal. Tante Cal gak nakal, mereka yang nakal. Tante Cal baik." Dia makin mendekat lalu menyeka air mataku. Oh...so sweet banget.


"Jangan marahin tante Cal." Mohonnya sambil menatap Biru. Sepertinya dia pikir aku nangis karena dimarahin Biru.


Biru menarik tangan Galang agar mendekat padanya lalu disentuhnya pucuk kepala bocah itu.


"Pak lik gak marah kok sama bu lik."


"Beneran nih, bu eh tente Cal baik?" Tanyanya pada Galang.


"Iya, baik banget. Tante Cal beliin aku mainan mahal dan ngajak makan enak. Om tahu gak ayam goreng yang ada diiklan tv? Aku diajak makan itu sama tante. Ayam gorengnya enak banget om, lebih enak dari bikinan nenek. Tempatnya juga bagus, adem dan ada tempat bermainnya. Pas aku sisain sedikit buat nenek, eh...sama tante suruh habisin. Tante beli lagi dibungkus buat nenek, kakek dan ayah."


Oh my God Galang, kamu bikin tante terharu dan pengen nangis lagi. Hanya dibeliin mainan dan ayam goreng saja, kamu udah belain tante dah bilang tante baik. Sepolos itu hati kamu.


"Wahhh...tante Cal baik banget ya. Emmmm...gimana kalau dia kita cium sama sama. Yuk yuk yuk, Galang pipi kiri, pak lik kanan."


Galang mengangguk, dan keduanya bersamaan mencium pipi kiri dan kananku. Aku benar benar merasa disayang disini. Mereka adalah keluargaku. Yang selalu ada untukku disaat apapun.


Santi datang dan mengajak Galang pulang. Tinggalah aku dan Biru berdua sekarang.


Biru menarik tubuhku kepangkuannya lalu memelukku dari belakang.


"Apa aku juga dapat ayam goreng?"


"Hehehe.." Aku hanya nyengir mendengar pertanyaannya. Bukan lupa, tapi memang sengaja tak aku belikan. Aku tak mau Biru bertanya tentang asal usul uangku, makanya aku tak membelikannya.


"Ck, pasti gak ada buatku."

__ADS_1


"Maaf..." Aku menoleh padanya sambil memasang wajah bersalah.


"Cal, boleh aku tahu, dari mana kamu punya banyak uang?"


Jantungku seketika berdegup kencang. Ini artinya, dia tak tahu menahu tentangku yang kaya raya. Sepertinya dia tadi hanya bersandiwara untuk demi membelaku. Aku bingung antara jujur atau tidak. Tapi berbohong terus malah akan menyakiti hati Biru jika dia tahu dari orang lain.


"Dari Rama?" Dia kembali bertanya karena aku hanya diam aja. Dan kali ini, aku terpaksa mengangguk.


"Berapa Rama memberimu uang?"


Aku menggigit kuku jariku. Bingung harus menjawab apa. Biru akan syok jika dia tahu jumlahnya fantastis.


"Cal..kenapa diam saja? Apa aku gak boleh tahu?"


Aku turun dari pangkuan Biru lalu duduk disebelahnya. Kutatap matanya sambil mengatur detak jantung yang tak karuan.


"50 juta."


Biru ternganga mendengar nominal uang yang kuucapkan.


"Ka, kamu jangan becanda Cal?"


"Aku gak becanda." Sahutku sambil menggeleng pelan.


Biru berdiri sambil membuang nafas berrat. Dia menyunggar rambutnya kebelakang sambil menatapku tak percaya.


"Aku bingung Cal, aku bingung seperti apa hubungan kalian?" Seru Biru sambil terus menggeleng. "Tak wajar jika hanya teman memberimu uang sebanyak itu." Tekannya sambil memegang kedua bahuku.


"Se, sebenarnya dia tidak memberi, tapi aku hutang."


Biru melepaskan bahuku lalu mundur beberapa langkah. Mulutnya terbuka lebar dengan mata melotot. Dia pasti syok istrinya punya hutang sebanyak itu.


Aku bangkit dari duduk dan mendekatinya. Kuraih kedua tangannya tapi langsung dihempaskan olehnya.


"Ini gila Cal, gila. Kau pikir uang 50 juta itu sedikit? Kau ingin menghinaku atau apa? Bagaimana aku bisa membayar hutang sebanyak itu." Biru terlihat frustasi. Membuatku merasa makin bersalah.


"Jangan pikirkan itu. Aku yang akan membayarnya sendiri."


"Maksud kamu?" Biru menatapku nyalang. "Darimana kamu bisa dapat uang sebanyak itu untuk membayar hutang hah? Sebaiknya segera kembalikan uang itu sebelum terpakai lebih banyak."


Aku mengeluarkan ponsel lalu membuka akun ig yang menunjukkan foto fotoku. Kuberikan ponsel itu pada Biru. Mata Biru membulat sempurna melihat foto fotoku.


"Sebenarnya aku adalah pewaris tunggal CALS, perusahaan besar yang ada dikota."

__ADS_1


__ADS_2