
POV CALLISTA
Aku memasuki sebuah cafe yang lumayan ramai. Mengedarkan pandangan jikalau ada orang yang aku kenal disini. Jika memang mobil itu dijual, akan sangat sulit buatku untuk mengetahui siapa yang membelinya. Apakah aku harus menunggu ditempat parkir agar tahu siapa pemilik baru mobilku itu?
"Kamu lagi nyari apa sih Yang?" Tanya Biru yang bingung melihat gelagatku. "Disana kosong, kita duduk disana saja." Dia menunjuk salah satu meja yang kebetulan kosong.
"Aku se_"
"Abang udah lapar nih." Mendegar ucapannya, aku batal bilang kalau masuk cafe hanya untuk mencari pemilik baru mobilku, bukan untuk nyari makan.
"Ya udah ayo kesana." Lebih baik makan dulu. Biarlah urusan mobil nanti aku tanyain langsung ke Tante Sofi.
Biru menggandengku menuju tempat yang tadi dia tunjuk. Tiba tiba aku mendengar suara yang sangat familiar. Kuhentikan langkah dan menelisik mencari pemilik suara itu.
"Ada apa?"
"Bentar Bang."
"Udah percayakan sekarang, Kania itu bucin sama aku. Buktinya apapun yang aku minta dia berikan. Termasuk tuh mobil yang ada didepan." Ujarnya pongah sambil menunjuk kearah halaman cafe.
Jefri, pria yang barusan mengatakan itu adalah Jefri mantan pacarku. Pria itu ada disini bersama teman temanya. Meski posisinya membelakangiku, aku sangat hafal suara serta postur tubuhnya.
Kuajak Biru mendekat agar lebih jelas mendengar obrolan mereka.
"Mau kemana, disana penuh semua kursinya."
Kuletakkan telunjukku dibibir sebagai isyarat agar Biru diam. Aku tak mau bersuara agar Jefri tak menyadari kehadiranku.
"Gila kamu Jef, morotin cewek sampai segitunya. Sampai minta mobil segala." Ujar salah satu teman Jef sambil geleng geleng.
Jangan jangan mobil yang mereka bicarakan adalah mobilku yang ada diluar. Kalau benar Kania memberikan mobil itu pada Jef, aku tak akan memaafkannya. Keterlaluan kamu Kania.
"Kania itu cinta mati sama aku. Apapun yang aku minta pasti dikasihnya. Ya gimana lagi coba, dia itu udah naksir sama aku sejak aku masih pacaran sama Cal, adik sepupunya."
Aku syok mendengarnya. Sedangkan Biru, dia langsung menatapku mendengar Jef menyebut namaku.
"Gak dapet adiknya, dapet kakaknya." Sahut temammya yang seketika disambut tawa.
"Sebenarnya Cal lebih cantik, sayang umurnya gak panjang. Kasihan kalau inget dia. Apalagi kalau inget dulu dia aku tinggal selingkuh sama Kania."
Aku menutup mulutku yang menganga. Jadi dulu Jef selingkuh sama Kania? Tega sekali Kania melakukan ini padaku. Pantas saja dulu Rama benci banget sama Jef, selalu jelek jelekin Jef. Selalu minta aku putusin Jef karena katanya Jef selingkuh. Tapi sayangnya Rama tak bilang dengan siapa Jef selingkuh.
Rama selalu merecoki hubungan kami dulunya, selalu bikin aku dan Jef berantem hingga akhirnya Jef mutusin aku.
"Dasar berengsek kamu Jef. Adik sama kakak diembat semuanya." Ujar temennya sambil terkekeh. Apa mereka pikir hal seperti ini adalah lelucon. Apa mempermainkan perasaan wanita dianggap suatu kebanggaan hingga bisa diceritakan dengan bangganya pada teman?
"Resiko orang ganteng ya kayak gini. Cewek manapun bertekuk lutut, hahaha." Jefri tertawa bangga.
Tangaku mengepal kuat mendengarnya. Awas kamu Jef, akan kubuat kamu mendapatkan balasan yang setimpal.
__ADS_1
"Habis ini, kita bisa dong diajak jalan jalan pakai mobil kamu?" Tanya temannya.
"Itu mah gampang. Lihat nih." Dia menunjukkan kunci mobil pada teman temannya. "Kita bisa keliling kemanapun. Bensin abis, tinggal minta Kania buat ngisiin. Hahaha."
Aku yang sudah tak tahan, langsung maju dan merebut kunci mobil dari tangan Jef.
"Kembaliin mobil aku." Seruku sambil memelototinya.
Jef gemetaran dengan wajah pucat pasi. Dia berusaha untuk berdiri dan melangkah. Tapi sepertinya dia sangat ketakutan melihatku hingga tak bisa berlari.
Brakk
Jef terjatuh dan membuat kursi yang ada disebelahnya roboh.
"Han, han, han." Hanya itu yang bisa dia ucapkan sembil menatapku penuh ketakutan.
"Kamu kenapa Jef?" Tanya temannya sambil membantu Jef berdiri. "Siapa wanita ini, kenapa dia bilang itu mobilnya?"
"Han, han, han, hantu." Teriaknya sambil lari terbirit birit keluar dari cafe. Saking takutnya, dia sampai beberapa kali menabarak orang, terjungkal, bangkit, kemudian lari lagi.
Kedua orang teman Jef memandangiku. Lebih tepatnya menatap kakiku. Mungkin mereka hendak memastikan apakah kakiku menapak dilantai atau tidak. Tak hanya mereka berdua, aku mendadak jadi pusat perhatian dicafe. Semua orang menatapku bingung.
"Kamu....hantu apa manusia?" Tanya teman Jef ragu ragu.
"Kuntilanak." Jawabku sambil melotot. Tak pelak Biru yang berdiri disampingku terkekeh pelan. Sedang kedua teman Jef dengan gemetaran mengambil ponselnya yang ada diatas meja lalu kabur.
"Hoe Mas, bayar dulu." Seorang pelayan meneriaki sambil menyusulnya.
"Jadi makan disini gak?" Tanya Biru.
Melihat orang sekitar yang memperhatikanku, rasanya aku kurang nyaman makan disini.
"Kita cari tempat lain aja yuk Bang."
Biru mengangguk lalu menggandengku meninggalkan cafe. Kuberikan kunci mobil pada Biru agar dia yang menyetir. Baru saja memasuki mobil, rasanya sudah aneh. Entah pengharum murahan apa yang Jef pasang, aromanya sungguh merusak indra penciumanku.
"Mau kemana?"
"Terserah Abang aja." Jawabku sambil memasang sabuk pengaman.
Mobil yang kami naiki membelah jalanan yang padat. Vibesnya sangat berbeda dengan dikampung nelayan. Tapi apapun itu, asal ada Biru disampingku, aku tetap nyaman.
"Mau makan apa?" Tanya Biru sambil menoleh kearahku.
"Terserah." Gara gara Jefri, aku kehilangan selera makan. Memoriku kembali pada masa dimana kami masih pacaran. Saat itu aku masih SMA. Jef adalah pria paling populer disekolah. Pesonanya mampu membiusku dan mungkin hampir semua siswi disekolah. Aku dan Kania berbeda sekolah. Tapi Jef sering mengantar jemputku, mungkin darisitulah dia dan Kania berkenalan. Bodoh sekali aku sampai tak tahu kalau mereka ternyata selingkuh dibelakangku.
"Mikirin mantan?"
"Hah!" Aku terhenyak mendengar ucapan Biru. Apa dia bisa membaca pikiranku hingga tahu apa yang ada dikepalaku.
__ADS_1
"Masih ada rasa yang belum kelar?"
"Apaan sih Bang, enggaklah." Aku memang sedang memikirkannya, tapi bukan berarti aku masih ada rasa.
"Kalau enggak, kenapa masih dipikirin mulu."
"Cie...cemburu nih." Godaku sambil menepuk lengannya pelan.
"Gak boleh ya?"
"Boleh, boleh banget." Sahutku sambil terkikik geli.
"Aku bukannya mikirin dia Bang. Aku hanya masih gak habis pikir aja. Betapa bodohnya aku dulu sampai gak tahu kalau dia selingkuh sama Kania."
"Kamu sakit hati?"
Aku menggeleng sambil mengulum senyum. "Tidak sama sekali. Aku sudah tak rasa sedikitpun sama dia, jadi apapun yang dia lakukan, aku udah gak sakit hati lagi."
Biru tersenyum mendengar jawabanku. Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Dihatiku saat ini, hanya ada Biru.
"Abang lagi kangen makan ketoprak. Udah lama gak makan itu sejak gak kuliah lagi. Kamu mau gak?" Tanyanya sambil menoleh kearahku.
"Apapun asal makannya sama abang."
"Cie..bucin." Ledeknya sambil mengacak puncak kepalaku.
"Gak usah ge er, siapa juga yang bucin." Sangkalku sambil menyebikkan bibir.
"Apa semua cewek kayak gitu ya?"
"Kayak apa?" Aku mengernyit bingung.
"Jaim." Sahutnya sambil tertawa ringan. "Susah banget gitu ya mengakui kenyataan."
Aku jadi malu ketahuan. Tapi mungkin memang sudah dari sononya kalau cewek itu jaim, selalu ingin dimengerti dan selalu merasa benar.
"Kalau abang, cemburu ya bilang cemburu, cinta ya bilang cinta." Ujarnya bangga. Seolah olah itu adalah sesuatu hal luar biasa.
"Abang bucin gak sama aku?" Tanyaku sambil menatap kearahnya.
"Enggak."
Seketika aku melotot lalu mengalihkan pandangan kedepan. Kecewa dengan jawabannya. Kalau memang semua yang dia katakan sesuai hatinya, berarti dia memang gak bucin sama aku. Mungkin hanya sekedar sayang saja. Ish...bikin kesel aja. Harusnya tadi aku gak usah tanya kalau jawabannya bikin aku sakit hati.
"Tapi banget."
Seketika aku menoleh padanya. Biru meraih tanganku lalu menciumnya. "Abang gak bucin sama kamu, tapi bucin banget."
Hwaaa....pengen nangis aku....
__ADS_1
Meleleh hati adek Bang. Bisa banget sih dia bikin aku beper tingkat dewa gini.