
POV CALLISTA
Semalaman, tidurku benar benar tak nyanyak. Bahkan dini hari aku sudah terbangun dan tak bisa tidur lagi. Aku terus kepikiran tentang hari ini. Ya, hari ini aku akan pulang kerumah untuk menemui Tante Sofi dan Om Kamal untuk menuntut keadilan.
Bukannya aku takut, hanya saja pasti nanti akan ada drama. Dan sedikit banyak, pasti menguras emosi. Bagaimanapun, aku pernah sangat menyayangi mereka berdua. Sampai akhirnya rasa itu terkikis habis karena pengkhianatan yang mereka lakukan.
Cup
Aku kaget saat sebuah kecupan lembut mendarat dikeningku. Entah sejak kapan Biru bangun, tau tau dia udah nyium aku.
"Tumben bangun lebih dulu daripada aku?" Tanyanya dengan tubuh miring menghadapku. Aku tersenyum sambil memindai wajahnya. Bangun tidur saja sudah setampan ini, bagaimana aku tak jatuh cinta lagi dan lagi padanya.
Kupeluk Biru dan membenamkan wajah diceruk lehernya. Kupejamkan mata sambil menghirup aroma tubuhnya dalam dalam karena aku begitu menyukainya. Rasanya begitu menenangkan.
"Kenapa?" Biru pasti tahu jika aku sedang tak baik baik saja.
"Perasaanku gak tenang Bang."
Biru mencium puncak kepalaku lama sambil mengusap punggungku. "Ada abang, kamu gak sendiri. Abang akan selalu ada disisi kamu. Sholat subuh berjamaah yuk, biar tenang."
Aku langsung mengiyakan ajakannya. Kami berdua membersihkan diri lalu sholat subuh berjamaah. Selesai berdoa bersama, dia tak kunjung berbalik padaku. Sepertinya masih ada doa khusus yang dia panjatkan. Kutatap punggungnya yang lebar, bener bener senderable, bikin aku pengen nyender mulu.
Lamunanku terhenti saat Biru membalikkan badan. Segera kuraih tangannya dan menciumnya takzim. Melepas mukena, lalu melipatnya.
"Mau abang masakin sesuatu?" Tanyanya.
"Emang ada bahannya?" Setahuku gak ada apa apa dikulkas semalam. Apartemen ini memang jarang ditempati, jadi tak ada stok makanan.
"Kan bisa belanja dulu."
Aku menggeleng. Selain tak mau merepotkannya, aku juga sedang tak ada selera makan.
"Nanti kita DO aja Bang."
"Terserah kamu."
"Wajah kamu kusut banget. Semalam pasti gak bisa tidur nyenyak?" Tebaknya sambil menyentuh pipiku dengan punggung tangannya.
"Tapi masih cantikkan Bang?" Godaku sambil mengedipkan sebelah mata.
Biru seketika terkekeh. Mungkin dia tak menyangka jika aku masih bisa becanda disaat galau seperti ini.
"Selalu, istri abang selalu cantik." Pujinya sambil menyentuh daguku lalu menciumku. Ciuman yang awalnya lembut itu makin lama makin dalam dan menuntut. Membuatku sampai kehabisan nafas dan terpaksa memukul punggungnya.
Aku mengambil nafas sebanyak banyaknya bagitu pagutan bibir kami terlepas.
"Abang ih...." Geramku sambil mencubit lengannya.
"Maaf sayang, khilaf." Ujarnya sambil nyengir. Kuakui Biru memang paling juara urusan menahan nafas. Mungkin karena dia adalah perenang yang handal. Gimana gak handal, sejak kecil mainnya udah dilaut.
"Kayaknya aku butuh olahraga rutin deh Bang biar bisa ngimbangin kamu."
"Ya udah kalau gitu gak udah dikasih bolong. Tiap malam kita olahraga." Sahutnya dengan sebelah alis ditarik keatas.
"Yeyy...bukan olahraga yang itu kali Bang."
"Sama aja, itu juga olahraga, bikin keringetan."
Aku menyebikan bibir mendengarnya. Apa semua laki laki seperti itu, ngomong apapun ngarahnya selalu kesana.
"Ya udah, kamu tidur biar ntar kamu fresh lagi."
Aku mengangguk lalu naik keatas ranjang. Tapi baru saja aku membenahi posisi bantal, kudegar bel berbunyi.
...----------------...
POV BIRU
Melihat Cal yang lelah karena semalam tidurnya tak nyenyak, kusuruh dia tidur sementara aku membuka pintu.
__ADS_1
Aku pikir mungkin Kak Ken atau tetangga sebelah, tapi ternyata.
"Mana Cal?"
Aku menghela nafas melihat Rama yang langsung nyelonong masuk saat pintu baru kubuka. Aku hanya bisa geleng geleng melihat tingkah sahabat istriku itu.
"Cal, Cal."
Rama teriak teriak memanggil Cal. Dan ketika Cal muncul dari balik pintu kamar, dia langsung menubruk Cal.
"Aku kangen banget sama kamu."
Gak bisa dibiarin. Aku maju dan langsung menarik Rama hingga pelukannya terlepas.
"Jangan asal peluk istri orang," peringatku.
"Paan sih, orang cuma peluk doang. Dikota udah biasa ketemu temen peluk sambil cipika cipiki. Gaya hidup kampungan kamu gak usah dibawa kekota. Lagian aku dan Cal udah biasa hidup diluar negeri, udah biasa kayak gini." Ini nih yang namanya dikasih tahu, tapi malah nyolot.
"Silakan kalau kamu maunya gitu. Tapi sama temen kamu yang lain, jangan sama Cal."
"Hadeh Cal, nemu dimana sih kamu laki kolot kayak gini. Kamu itu mainnya sampai luar negeri, ketemu berbagai macam cowok. Bisa gitu kecantol laki model ginian." Ujarnya sambil geleng geleng.
Aku mendengkus kesal. Bisa gitu Cal punya temen kayak Rama. Sepanjang aku kenal dia, baiknya dikit banget, jengkelinnya yang banyak.
"Justru yang limited edition gini yang bikin aku kecantol." Sahut Cal seraya menghampiriku dan bergelayut manja dilenganku. Sekalian saja aku cium keningnya biar Rama makin kesel.
Rama memutar kedua bola matanya malas melihat kemesraan kami. Kesel kesel deh, emang aku pikirin.
"Bikinin aku kopi Cal." Titah Rama sambil berjalan kearah sofa. Gayanya udah macam juragan aja main suruh suruh. "Sama sekalian sarapan kalau ada."
Ngelunjak nih anak.
"Abang mau kopi juga?" Tawar Cal.
"Abang!" Seru Rama sambil melotot lalu sedetik kemudian tertawa terbahak bahak sambil menepuk nepuk sofa.
"Emang ada yang salah?" Sinisku.
"Gak, gak ada yang salah, tapi norak. Hahaha." Makin kenceng aja dia ketawa. Sayang tak ada sesuatu didekatku, kalau ada, udah aku lempar kemukanya yang songong itu.
"Halah, kamu ketawa gini karena iri kan? Iri karena gak ada yang manggil kamu abang. Nasib jones ya kayak gitu." Ledekku dan langsung disambut tawa oleh Cal.
Rama mendesis sebal lalu melemparkan bantal sofa kearahku. Tapi bukan Biru namanya kalau gak bisa menangkap. Bantal itu berhasil kutangkap sebelum mengenai mukaku lalu aku lempar balik padanya.
Bug
"Sialan." Pekik Rama saat bantal itu mendarat tepat dikepalanya.
Aku dan Cal tertawa terpingkal pingkal diatas penderitaannya.
"Udah udah." Ucap Cal setelah tawanya reda. "Aku bikinin kopi buat dua orang tersayangku."
"Enggak!" Pekikku dan Rama bebarengan. Sial, kenapa harus kompak gini sih. Sedangkan Cal, dia menatap bingung kearah kami bergantian.
"Gak mau kopi?" Tanya Cal.
"Bukan dua orang tersayang, tapi cuma aku aja." Ujarku sambil menatap Rama sinis. Apa apaan Rama juga kesayangan, cuma aku kesayangannya.
"Enak aja. Sebelum ada kamu, aku yang lebih dulu disayang Cal." Protes Rama.
Cal geleng geleng lalu beranjak meninggalkan kami yang masih ribut. Tak lama kemudian, dia kembali dengan dua cangkir kopi diatas nampan. Biarpun malas, akhirnya aku ikutan nimbrung duduk disofa.
"Hari ini kamu jadi pulang Cal?" Rama sepertinya mulai pada mode serius.
"Iya Ram."
"Semoga semuanya berjalan sesuai rencana kamu."
"Aamiin." Sahutku dan Cal bebarengan.
__ADS_1
"Emmm...kamu udah tahu belum kalau Om kamu itu selingkuh?"
Cal tampak terkejut. Aku tak tahu seperti apa om Cal itu. Tapi dari ekspresinya, Cal seperti tak percaya.
"Aku sempat mergokin dia masuk hotel sama Yuna." lanjut Rama.
"Yu, Yuna?" Tanya Cal.
"Iya, Yuna teman baik Kania. Yuna kerja di CALS, dia jadi sekretarisnya Om Kamal."
Wajah Cal terlihat pucat. Sepertinya kabar ini membuatnya benar benar syok.
"Apa tante Sofi tahu?" Tanya Cal.
Rama menggeleng. "Kayaknya belum. Dan Jef..." Rama tampak ragu mengatakannya. "Dia mau tunangan dengan Kania."
"Kemarin aku ketemu Jef. Dia lari terbirit birit karena mengira aku hantu."
Tawa Rama langsung pecah.
"Jadi kamu udah tahu sejak dulu kalau Jef selingkuh sama Kania?" tanya Cal dan langsung diangguki oleh Rama.
"Pria jaman sekarang pada banyak yang tahu diri, tukang selingkuh. Kayaknya kamu juga perlu waspada Cal." Ujar Rama sambil melirik kearahku.
"Apanih maksudnya?" Tanyaku langsung.
"Ya siapa tahu aja. Laki jaman sekarang itu, meski bininya udah cakep, tapi pas lihat cewek bening, masih aja kecantol."
Cal seketika menatapku mendengar ucapan Rama.
"Jangan samain aku dengan mereka," protesku.
"Halah, sekarang masih baru, masih anget. Tapi lama lama?"
Kurang ajar juga nih cowok. Bikin Cal natap aku gak enak aja.
"Gak semua laki laki sama. Kalau memang semua sama, berarti kamu iya dong. Kamu kan laki juga." Sekalian aja aku balas dia.
"Enak aja, aku beda, aku setia." Sangkalnya.
Cal tiba tiba beranjak dari sofa lalu masuk kamar. Kupelototi Rama saking kesalnya lalu menyusul Cal. Semoga saja dia gak baper karena omongan Rama.
Kulihat Cal berdiri didepan jendela sambil menatap luar. Gara gara Rama dia galau kayak gini. Sial banget hari ini. Pagi pagi udah kedatangan tamu menyebalkan.
Kudekati dia dan langsung aku peluk dari belakang. Kuciumi puncak kepalanya beberapa kali dan makin kueratkan pelukanku.
"Kamu mikir abang kayak gitu juga?" Tanyaku.
"Ya siapa tahu."
"Jadi kamu gak percaya sama abang?"
"Aku gak nyangka Om Kamal selingkuh. Setahuku, dia sosok family man. Dia sangat menyayangi istri dan anak anaknya."
"Jangan hanya karena kesalahan satu orang pria, terus pria lainnya kena imbas juga. Gak semua orang itu sama Cal."
Cal membalikkan badan lalu menatapku.
"Abang gak kayak gitukan?"
Kutatap kedua manik matanya sambil tersenyum dan menautkan jari jari kami.
"Insyaallah abang akan selalu setia sama Cal. Abang cinta sama Cal, cinta banget." Kukecup keningnya lama lalu mendekapnya.
"Cal juga sayang banget sama abang."
"Ya udah yuk siap siap, kita sarapan diluar aja. Terus langsung kerumah kamu."
Cal menganngguk sambil tersenyum.
__ADS_1