
POV BIRU
Aku senyum senyum sendiri mengingat kejadian semalam. Entah dapat keberanian darimana, aku tiba tiba mencium Cal. Bibirnya begitu lembut dan manis. Sampai sekarangpun, aku masih bisa mengingat dengan jelas rasanya. Semalaman aku sampai tak bisa tidur gara gara itu.
Plakkk
"Aduh." Pekikku saat Gani tiba tiba memukul lenganku dengar keras. Karena melamun, aku tak sadar akan kehadirannya. Mungkin saja dia sudah menegurku sejak tadi. Tapi karena tak dengar, makanya dia memukul lenganku.
"Ngelamun?" tanyanya sambil duduk di bangku panjang disebelahku. Dijarinya, terselip rokok yang merupakan candunya. Kami berada disamping rumah saat ini. Aku sedang memperbaiki jala yang beberapa bagiannya koyak.
"Eh, beneran laki yang rumah kamu itu temannya Cal sebelum amnesia?" Tanyanya setelah menghembuskan asap rokok ke udara.
"Santi yang cerita?" Aku balik bertanya dan dia langsung mengangguk.
"Iya." Jawabku tak bersemangat. Hati yang mulanya berbunga bunga karena euforia ciuman semalam, mendadak galau kalau membahas Rama.
"Gila, mobilnya cakep banget, kayak orangnya. Santi aja sampai gak kedip ngeliatnya." Ujarnya sambil geleng geleng.
"Cemburu?" Tanyaku.
"Enggak. Itu tandanya normal. Aku juga sering gitu kok kalau lihat cewek cakep. Aku yakin Santi cinta mati sama aku. Dia hanya kagum aja kayak pas lihat oppa oppa korea di tv."
"Dih, pede banget. Secinta cintanya Santi sama kamu. Kalau kelakuan kamu gak berubah, lama lama hati Santi yang berubah."
Sepupuku ini memang mata keranjang. Berkali kali kepergok Santi saat godain cewek. Bahkan pernah sekali kegap saat jalan sama janda. Kalau saja bukan karena Galang, aku yakin Santi bakalan mikir dua kali untuk terus bertahan dengannya.
"Kok malah bahas aku sama Santi sih." Gerutunya.
"Gan, menurut kamu, wajar gak sih jika seorang teman membelikan barang untuk temannya hingga puluhan juta."
"Puluhan juta!" Pekiknya sambil membuang rokok yang terselib dibibirnya. "Jangan bilang kalau tuh cowok belanjain Cal sampai puluhan juta?"
Aku membuang nafas kasar lalu mengangguk pelan.
"Gila, ini sih gila. Berapa puluh juta emang?" Tanyanya penasaran.
"20 juta lebih."
Mata Gani seketika melotot dan mulutnya terbuka lebar mendengar kata 20 juta. Tapi sesaat kemudian, dia malah tertawa ngakak.
"Apanya yang lucu?" Tanyaku penasaran.
"Hadeh." Gani kembali geleng geleng. "Kamu inget gak, berapa mahar yang kamu kasih ke Cal? Lima ratus ribu." Ujarnya sambil ngakak. Dia yang bertanya, dia pula yang menjawab.
__ADS_1
"Kamu ngehargain dia cuma 500 ribu Ru. Sedangkan tuh laki, sekali ngajak belanja aja sampai ngeluarin 20 juta lebih. Ini sih udah pasti."
"Pasti apa?" Kebiasaan, kalau ngomong suka digantung. Seneng banget liat orang penasaran.
"Pasti dia suka sama Cal. Tapi kalau dipikir pikir_" Ujarnya sambil garuk garuk kepala. Tuh kan, digantung lagi kalau ngomong. Bikin aku yang galau makin galau aja.
"Kalau dipikir pikir_"
"Diomongin, jangan dipikir mulu." Seruku yang udah kepalang kesal dengan sikapnya.
"Yaelah sensi banget sih? Persis kayak Santi kalau lagi dapet."
Yaelah, kenapa malah makin ngelantur ngomongnya.
"Kalau dipikir pikir, mana ada laki yang gak naksir ama Cal. Secara cantik banget gitu. Bodinya juga, ckckck, aduhai." Ucapnya sambil menggerakkan tangan membentuk bodi wanita seksi.
"Kalau aja hari itu dia gak nikah sama kamu, udah pasti aku tukar tambah sama Santi."
"Kamu kira barang apa bisa ditukar tambah." Omelku.
"Kayaknya kamu mesti siap siap deh Ru."
"Siap siap apa?"
Jleb, ucapan Gani seperti pisau yang langsung menembus jantungku. Mendengar saja udah sakit banget, gimana kalau Cal benar benar ninggalin aku? Sampai kapanpun, aku gak bakalan siap ditinggal sama Cal.
"Wanita itu, paling suka sama laki yang tampan dan mapan. Lha kamu, cuma dapat tampannya aja, mapannya jangan ditanya lagi. Cal aja sampai ngutang ke Santi. Jauh Ru, jauh. Kamu sama tuh laki, jauh banget bedanya. Cewek butapun, bisa ngelihat kalau tuh laki lebih segalanya dibanding kamu."
Kampret emang si Gani. Bukannya mendukungku, dia malah bikin aku down. Apa tadi dia bilang, cewek butapun bisa ngelihat kalau dia lebih segalanya daripada aku? Halu kali, buta ya buta aja, mana bisa melihat.
Lama lama ngobrol dengan Gani, bisa bisa aku kena mental. Segera aku bereskan jalaku dan masuk kedalam rumah.
Tapi kalau lagi sial ya sial aja. Kabur dari Gani, malah ketemu Rama di dapur. Tahu gini aku diluar aja sama Gani. Males banget liat muka tuh orang.
"Kamu gak kerja?" Tanyanya.
Aku tak menghiraukan pertanyaannya. Segera aku menyimpan jala ditempat biasanya.
"Kalau kamu males malesan gini, gimana mau buat Cal bahagia."
"Maksud kamu apa ngomong gitu?"
Tanyaku sambil menghampirinya dan menatapnya tajam. Jelas aku tak terima dengan ucapannya yang menohok.
__ADS_1
"Bahagia itu gak melulu tentang uang." lanjutku.
Rama tersenyum sinis. Kelihatan sekali kalau dia sedang merendahkanku.
"Tapi uang yang bisa bikin orang bahagia. Lihat aja Cal. Dia bahagia banget setelah kemarin aku ajak shoping."
Dadaku sesak mendengarnya. Ingin kupungkiri ucapan Rama. Tapi nyatanya, Cal memang terlihat bahagia setelah pergi dengan Rama kemarin.
"Kau tak pantas untuk Cal." Tekannya sambil menunjuk mukaku. Segera aku tampik tangannya. Kalau saja tak menjaga perasaan Cal, sudah kuusir manusia tak tahu diri ini. Udah numpang tapi malah merendahkanku.
Aku menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Aku gak boleh emosi. Cal baru saja bahagia karena bertemu sahabatnya. Tak mau kuhancurkan hatinya dengan ado jotos dengan Rama. Kubuka pelan pelan kepalan tanganku sambil berusaha tersenyum.
"Lalu menurutmu, siapa yang pantas untuk Cal?"
Rama tak menjawab, dia malah memalingkan wajah kearah lain.
"Kamu?" Tanyaku sambil tersenyum sinis. Susah sekali pria ini mengakui perasaannya. Aku tahu dia menyukai Cal. Aku tak pernah percaya ada pria dan wanita yang bersahabat sangat dekat. Jikalau adapun, pasti salah satu menyimpan rasa. Terpaksa tak mengungkapkan dengan alasan klise, yaitu tak mau persahabatan rusak dan hubungan jadi renggang.
Kulihat kedua telapak tangan Rama mengepal. Rahangnya juga mengeras. Kusimpulkan, jika dia sedang menahan emosi.
"Kenapa diam? Siapa yang pantas untuk Cal, kamu?" Kuulang lagi pertanyaanku.
"Siapapun itu, yang jelas bukan kamu." Jawabnya sambil menatapku tajam. Dia lalu membalikkan badan dan melangkah pergi.
"Susah sekali ya mengakui perasaanmu? Kamu menyukai Cal kan?"
Langkah Rama terhenti mendengar ucapanku. Seketika dia membalikkan badan dan kembali menghampiriku.
"Gak usah sok tahu tentang perasaanku. Yang perlu kau lakukan, hanya ceraikan Cal dan biarkan dia kembali kekota bersamaku." Tekannya.
Aku tersenyum sinis mendengarnya. Siapa dia berhak mengatur hidupku. Apalagi sampai nyuruh aku menceraikan Cal.
"Kalau aku tak mau?"
Rama kian maju lalu mencengkeram kerah kaosku. Wajahnya yang putih sampai merah padam karena emosi.
"Kau pikir Cal bisa hidup seperti ini? Kalau kau pikir iya, salah besar. Dunia Cal jauh berbeda denganmu. Mungkin dia masih bisa bertahan sekarang, tapi minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Apa kau pikir Cal masih bisa bertahan? Lupakan Cal. Biarkan dia bahagia dan kembali ke kehidupannya."
Kutarik kerah kaosku dari cengkeramannya lalu kudorong dia hingga hampir terjungkal kebelakang.
Tak terima dengan perlakuanku, Rama maju dan hendak menonjok rahangku. Beruntung aku sigap menangkisnya. Tapi rupanya Rama makin geram, dia terus menyerangku membabi buta. Aku tak bisa hanya bertahan jika seperti ini, mau tak mau aku harus melawannya. Terjadilah adu jotos antara kami berdua. Karena dapur yang sempit, tubuh kami beberapa kali terbentur kursi dan meja hingga menimbulkan suara berisik. Suara gelas yang jatuh hingga pecah menambah situasi terasa makin tegang.
"Apa apaan kalian!" Teriak Cal yang tiba tiba muncul.
__ADS_1