
POV CALLISTA
Mataku fokus pada wanita paling cantik yang ada digerombolan yang sedang berjalan kearahku. Karena disana ada Safa, aku yakin jika mereka teman temannya.
Kenapa harus Kania? Diantara ribuan orang didunia ini, kenapa harus Kania yang menjadi teman Safa dan datang kemari? Dia tak boleh tahu aku ada disini.
"Biru." Teriak Safa sambil melambaikan tangan. Mendengar namanya dipanggil, Biru langsung menoleh. Sedangkan aku terus menunduk dan mencoba menyembunyikan diri dibalik badan Biru.
Mereka semakin dekat, aku harus segera pergi.
"Aku pulang dulu." Baru sejengkal kaki ini melangkah, Biru sudah menarik pergelangan tanganku.
"Katanya mau kenalan dulu sama mereka?"
Tadinya memang seperti itu. Aku memang ingin memberitahu mereka jika Biru itu sudah beristri, dan aku istrinya. Jaga jaga agar tak ada celah buat pelakor masuk. Tapi sekarang tak mungkin lagi. Aku harus segera pergi, mau ngejelasin ke Biru juga terlama lama keburu Kania melihatku.
"Gak jadi, perutku mendadak sakit. Aku percaya sama kamu. Aku pulang dulu." Kulepaskan tangaku dari cekalan Biru dan langsung ngibrit. Aku berjalan cepat dan tak berani menoleh sama sekali.
Brukk
Saking tergesa gesanya aku tak sengaja menabrak seseorang. Ponsel yang kupegang terjatuh, membuatku langsung menunduk untuk mengambilnya.
"Mbak nya gak papa?"
Deg
Lagi lagi aku dibuat jantungan. Tanganku gemetar hingga ponsel yang baru saja kuraih kembali jatuh.
"Gak papa." Jawabku dengan suara sedikit bergetar. Aku kembali mengambil ponsel dan cepat cepat pergi.
"Tunggu!" Teriak pria itu tapi sama sekali tak kuhiraukan. Kutambah kecepatan jalanku dan tak menoleh sedikitpun. Ini gila, hari ini aku benar benar dibuat spot jantung.
Aku mendengar suara derap langkah yang kian dekat, semoga saja dia tak mengejarku. Begitu paniknya, aku sampai berlari.
"Tunggu!"
Astaga, jadi benar dia mengejarku. Kupercepat lariku seperti orang yang dikerjar setan. Padahal yang mengejarku adalah cowok tampan.
Srett
"Aww.." Pekikku saat pria itu berhasil menarik pergelangan tanganku. Sial, kaluar dari kandang macam malah masuk ke kandang singa.
"Cal!"
Aku masih menunduk, tak berani sedikitpun mengangkat wajah meski dia menyebut namaku.Tak kusangka jika dia mampu mengenaliku dari gestur tubuh tanpa melihat wajah.
Dia, pria yang sedang bersamaku sekarang, adalah kak Kenan, kakak kandung Kania. Jadi benar, simbol CK dipantai tadi adalah buatan Kak Ken. Meskipun dia dan Kania saudara kandung, tapi hubungan mereka tak terlalu dekat. Kak Ken cenderung lebih dekat denganku. Kadang hal itulah yang membuat Kania cemburu padaku.
"Callista."
__ADS_1
"Maaf, sepertinya anda salah orang." Ku buat suaraku sedikit berbeda agar dia tak mengenali. Dengan wajah yang terus menunduk, aku mencoba melepaskan tangan dari cekalannya. Tapi sayang seribu sayang, dia terlalu kuat.
Grep
Mataku melotot tatkala Kak Ken tiba tiba memelukku erat. Saking eratnya sampai membuatku kesusahan bergerak.
"Ini kamu Cal, kamu masih hidup." Suaranya terdengar bergetar.
"Lepas, tolong lepaskan saya." Aku berusaha berontak sekuat mungkin. Bukannya terlepas, yang ada pelukannya makin erat hingga aku kesusahan bernafas.
"Lepaskan istri saya."
Teriakan Biru membuatku langsung menoleh kesumber suara, begitupun Kak Ken. Biru mendorongnya sangat kuat hingga pelukannya terlepas lalu menarikku dalam pelukannya. Aku yang masih gemetar, langsung menyembunyikan wajah didada bidang suamiku.
"Siapa anda berani beraninya memeluk istri saya?" Hardik Biru.
Aku bisa merasakan degup jantung Biru yang sangat cepat. Mungkinkah dia emosi melihat kejadian barusan?
"I, istri?"
"Iya, dia istri saya."
"Cal, Callista. Dia Callistakan?"
"Maaf, sepertinya anda salah orang. Ayo kita pergi dari sini." Biru merangkul pundakku dan hendak membawaku pergi. Tapi Kak Ken menghadang jalan kami.
"Saya sangat yakin dia Cal, adik saya. Tolong ijinkan saya melihat wajahnya."
...----------------...
POV BIRU
Aku segera membawa Cal pulang. Berjalan kaki akan memakan waktu yang lumayan lama, takutnya pria tadi mengerjar. Jadi kuputuskan meminjam motor temanku yang tinggal didekat sini.
Sepanjang perjalanan, Cal tak bicara apapun. Dia memelukku sangat erat. Aku bisa merasakan degup jantungnya yang cepat. Cal ketakutan, aku yakin itu. Kugenggam tangannya yang ada diperutku dengan sebelah tangan.
Siapa pria tadi? Kenapa dia bilang Cal adiknya? Bukankan Cal anak tunggal? Apakah masih ada yang Cal sembunyikan dariku?
Sesampainya dirumah, kududukan dia dikursi depan TV. Kuambilkan air putih dan langsung ditenggaknya sampai habis.
"Ini gawat Bang, gawat. Dia mengenaliku." Ujarnya dengan suara bergetar.
"Siapa dia?"
"Kakak sepupuku. Dia anak tante dan Om ku yang telah merebut hartaku. Dan diantara teman Safa tadi, ada adiknya yang bernama Kania."
Aku terkejut mendengarnya. Tadi aku sempat berkenalan sebentar dengan teman Safa sebelum aku mengejar Cal. Dan memang benar, ada yang bernama Kania. Kalau memang seperti itu, ini bisa bahaya. Bagaimana jika mereka tahu Cal masih hidup dan berusaha menyakiti atau bahkan melenyapkannya. Mereka sudah pernah melakukan itu, tak menutup kemungkinan akan terulang lagi.
"Jangan takut, ada abang." Kubawa Cal kedalam pelukanku dan kukecup keningnya beberapa kali. Saat aku masih berusaha menenangkan Cal, ponselku berdering, tertera nama Safa disana.
__ADS_1
"Siapa Bang?"
"Safa menelepon. Sepertinya mereka menungguku."
"Abang pergi saja. Aku tak mau mereka curiga. Aku takut Kak Ken mencari informasi tentangku pada Safa atau orang orang disana. Jadi lebih baik abang kesana dan mencegah mereka mendapatkan informasi tentangku."
"Tapi aku gak tenang ninggalin kamu sendirian Cal." Mana bisa aku pergi disaat Cal membutuhkanku seperti ini.
"Aku gak papa Bang. Sementara abang gak ada, aku dirumah Santi saja."
Itu ide yang bagus. Aku mengantar Cal kerumah Pak De lalu cepat cepat kembali ke pantai. Melihatku datang, Safa langsung menghampiriku.
"Kamu kemana barusan, kita kita udah nungguin loh."
"Maaf, aku kepentingan sabentar."
"Ya udah kalau gitu yuk berangkat, mereka udah gak sabar mau bikin konten."
Aku mengangguk dan langsung menuju kapal dan diikuti mereka. Mataku menyisir sekitaran sana untuk mencari pria bernama Ken tadi. Sayangnya aku tak menemukan dia dimanapun.
"Kak Ken gak ikut?" Tanya seorang cowok pada Kania. Tadi dia sudah kenalan denganku, tapi aku lupa namanya.
"Gak ikut dia. Mana suka dia yang kayak gini. Dia itu cuma kerja kerja dan kerja." Jawab Kania sambil sibuk mengambil gambar panorama laut. Jadi Ken tidak ikut. Perasaanku makin tak karuan, takutnya Ken mencari informasi tentang Cal dan mencari Cal dirumah.
"Yah kirain dia ikutan. Padahal aku pikir ini kesempatan emas buat deketin dia." Sahut cewek yang bernama Hani.
"Udahlah, nyerah aja. Tuh cowok es batu mana bisa dideketin. Yang ada kamu ikutan beku."
Aku berusaha fokus pada kemudi walau pikiranku tak tenang. Semoga saja Cal baik baik saja bersama Santi dan Gani.
...----------------...
POV CALLISTA
Tok tok tok
Jantungku mau copot saat pintu rumah Pak De diketuk. Semoga saja itu bukan Kak Ken atau Kania. Ini bukan rumahku, tak mungkin ada yang mencariku disini. Santi yang sedang menemaniku menonton TV langsung bangkit untuk membuka pintu.
"San, kalau ada yang nyariin aku, bilang gak ada. Atau kalau ada yang tanya tanya tentang aku, bilang kamu gak kenal yang namanya Callista." Aku berjaga jaga kalau saja beneran Kak Ken yang datang.
"Kok gitu?" Santi mengernyit bingung. Aku memang tak cerita apa apa tantangku pada Santi.
"Udah gak usah nanya."
Tok tok tok
Pintu kembali diketuk membuat Santi segera menuju pintu depan.
"Permisi, apa Callista ada disini?"
__ADS_1
Deg
Itu suara Kak Ken. Meski aku tak melihatnya, aku sangat hafal suaranya.