Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
NGAMBEK


__ADS_3

POV CALLISTA


Setiap hari, aku selalu dibuat jatuh cinta lagi dan lagi pada suamiku. Mungkin bagi orang lain, dia hanya pemuda biasa dan tak punya apa apa. Tapi bagiku, dia sangat luar biasa.


Tak peduli protesnya karena belum mandi. Aku tetap mendekapnya erat sambil menghujani wajahnya dengan ciuman. Bagiku, aroma keringat bercampur parfum, tidaklah buruk. Masih terasa nyaman diindra penciuman. Tapi, rasanya ada yang aneh. Iya benar, ada yang lain.


Aku menurunkan ciumaku kebahu Biru. Dan terus bergeser hingga bagian dada dan punggungnya. Bisa kucium aroma parfum lain dibaju belakangnya, tepatnya dipunggungnya. Aku seperti familiar dengan bau ini. Kenapa seperti bau parfum mahalku?


"Ada apa?" Tanya Biru yang menyadari gelagat anehku yang mengendus endus punggungnya.


"Abang..pakai parfum apa?"


"Pakai parfum biasanya. Emang kenapa?" Biru menarik sedikit kaos bagian bahu lalu mencium aromanya. Kulihat dia tiba tiba salah tingkah. Sepertinya memang ada yang tidak beres.


"Tadi.....Kania meluk aku."


"What!" Mataku melotot mendengarnya. Jadi aku gak salah tebak. Itu parfum mahalku, aku hafal baunya. Jadi Kania memakai barang barang milikku. Dasar tak tau malu. Tapi bukan itu yang jadi masalah utamanya, melainkan kenapa Kania meluk Biru?


"Jangan salah paham. Dia tadi live di sosmed, terus tiba tiba memperkenalkan aku sambil meluk aku yang sedang sibuk dikemudi dari belakang. Aku gak tahu apa apa."


Sialan, berani beraninya Kania meluk suamiku. Pakai ngajakin Biru live segala. Mentang mentang yang bawa kapal cakep, langsung diajak live, coba aja kalau bapak bapak keriput, gak jamin dia mau ngajakin live apalagi sampai meluk.


"Dia yang tiba tiba meluk, abang gak tahu apa apa." Biru merengkuhku, mungkin berniat ingin membujukku. Aku yang terlanjur bad mood, langsung mendorongnya menjauh.


"Mandi sana, bauk." Seruku sambil berlalu begitu saja meninggalkannya dan masuk kamar. Aku lampiaskan kekesalanku pada bantal guling. Aku tonjok, banting dan maki maki seolah olah itu Kania.


Kania, Kania, Kania, tak bisakah wanita itu membiarkan aku hidup tenang? Sejak dulu dia selalu iri padaku. Pada semua yang aku miliki bahkan pada pacar pacarku. Tapi kali ini, bukankah dia tak tahu kalau Biru suamiku, lalu kenapa dia meluk Biru?


Aku mengambil ponsel lalu melihat live Kania di IG. Aku sengaja membuat akun baru agar tak ketahuan. Karena akun Kania tidak dikunci, jadi sangat mudah buatku untuk melihatnya.


Kekesalanku naik berkali kali lipat melihat bagaimana dia memeluk suamiku dari belakang. Dan Biru, kenapa dia malah diam saja, tak menolak meski ekspresinya terlihat tak nyaman.


Mendengar pintu kamar dibuka, atensiku langsung tertuju pada Biru yang baru selesai mandi. Kalau biasanya aku terpesona melihat dada bidangnya yang masih basah dengan butiran air yang menetes, kali ini tidak sama sekali.


Dengan handuk yang terlilit dipinggang, dia berjalan mendekatiku.


"Laper." Ujarnya sambil duduk disebelahku. Kuabaikan saja ucapannya, pura pura sibuk dengan ponsel.


"Yang, ceplokin telur dong."


Bodo amat, kali ini gak mau ngeladenin dia.


"Yang...kok abang dicuekin sih." Dia merebut ponselku lalu meletakkannya diatas nakas. Aku mendengus kesal sambil memelototinya.


"Abang lapar."


"Ya udah makan sana kalau lapar. Aku mau tidur." Sinisku sambil merebahkan badan memunggunginya. Kurasakan pergerakan tubuhnya. Lalu sebuah lengan melingkar dipinggangku.


"Kamu makin cantik deh kalau ngambek. Laper abang langsung ilang. Sekarang jadi pengen makan kamu." Mataku melotot mendengar rayuan mautnya. Enak aja mau minta jatah setelah pelukan ma Kania. Jangan mimpi.

__ADS_1


Aku bisa merasakan hangat nafasnya disekitaran leher. Tak mau nanti terbawa suasana, segera aku beringsut menjauhinya lalu mengubah posisiku menjadi duduk.


"Gak usah ngarep ada jatah malam ini." Sewotku dengan bibir mengerucut. Melihat dia yang mulai bangun, segera kuraih bantal dan menaruh kasar dipangkuannya.


"Malam ini kamu tidur diluar." Sinisku sambil membuang pandangan kearah lain.


"Tega banget sih yang. Abang gak bisa tidur kalau gak meluk kamu." Ucapnya memelas.


"Bodo amat." Desisku sambil mendorongnya turun dari ranjang. Melihat dia tak segera keluar, gegas aku turun dari ranjang dan mendorongnya hingga keluar kamar lalu mengunci pintu.


Tok tok tok


"Yang, bukain dong. Abang gak bisa tidur kalau gak meluk kamu. Yang...."


Kuabaikan saja meski telinga ini mendengar.


"Yang, abang kedinginan kalau tidur diluar."


Baru aku ingat kalau dia belum pakai baju. Gegas aku menuju almari untuk mengambilkannya baju lalu membuka pintu.


"Alhamdulilah, akhirnya dibukain juga pintunya. Kamu pasti juga gak bisa tidurkan kalau gak dipeluk abang?"


Aku mencebikkan bibir mendengar ucapan sok pedenya itu.


"Siapa bilang, nih." Aku menarik tangannya lalu meletakkan baju disana. "Biar gak masuk angin."


Brakk


Sialnya, kantuk tak kunjung datang setelah hampir 2 jam rebahan. Masak iya aku gak bisa tidur tanpa Biru sih? Kutendang apapun yang ada disekitaranku. Bantal, guling dan selimut, semua benda itu jatuh bercecer dilantai. Kesal sekali karena meski badan lelah, mata tak mau terpejam.


Biru lagi apa ya?


Yaelah, aku kok malah mikirin dia sih. Tapi tak terdengar suaranya sama sekali, jangan jangan dia udah ngorok sambil pelukan sama Lisa. Kok jadi aku yang ngenes gini sih.


Aku keluar kamar untuk ketoilet sekalian melihat Biru. Penasaran juga dimana dia tidur malam ini.


Aku berdecak kesal melihat Biru udah tidur nyenyak didepan TV. Benar dugaanku, gak ada aku, masih ada Lisa yang bisa dipeluk. Kuhentakkan kaki ini kuat kuat sambil membuang nafas kasar. Lalu menuju toilet untuk buang air.


Kembalinya dari toilet, kupunguti bantal, guling dan selimut yang berserakan dilantai. Lalu menutup tubuhku dengan selimut sebatas dada dan berusaha tidur.


Disaat aku hampir tertidur, tubuhku tiba tiba terasa hangat. Seseorang memelukku dari belakang. Meski tak melihat, aku tahu itu Biru. Selepas dari toilet tadi, aku memang tak mengunci pintu karena kupikir dia udah tidur.


"Gak bisa tidur?" tanyanya.


Aku diam saja. Gengsi mau mengakui.


"Abang juga gak bisa tidur." lanjutnya.


Jadi dia hanya pura pura tidur saja tadi.

__ADS_1


"Abang kangen Cal, gak bisa tidur kalau gak meluk istri abang yang cantik ini." Ucapnya sambil mencium bahuku. Kalau udah begini, mana bisa aku marah lagi.


"Maafin abang ya. Maaf karena udah bikin kamu kesel. Kecewa ya sama abang? Maaf, gak akan diulangi lagi. Tapi kejadian tadi bener bener mendadak Cal. Kania sedang live, banyak banget yang lihat. Jika abang berontak dan terlihat banget nolaknya, entar dia malu. Abang cuma jaga perasaan dia."


Mendidih darahku mendengar dia bilang jaga perasaan Kania.


"Terus gimana dengan perasaanku?" Tanyaku sebal sambil melepaskan diri dari pelukannya. Aku yang istrinya, kenapa Kania yang dipikirin perasannya.


"Maaf."


Aku mendengus kesal. Tapi kalau dipikir pikir, tadi aku juga pelukan dengan Kak Ken. Biru cemburu tapi gak marah marah sama aku. Apa aku terlalu lebay ya?


"Masih belum mau maafin abang nih? Mau abang tidur diluar? Ya udah abang keluar kalau gitu."


Meski aku tak melihatnya, bisa kurasakan pergerakan tubuhnya.


"Gak usah." Ujarku sedikit jaim.


"Yakin abang boleh tidur sini?"


Dih, udah dikasih lampu hijau masih nanyak lagi.


"Terserah." Jawabku sebal.


Kurasakan tubuhnya kian mendekat kearahku lalu kembali memelukku dari belakang.


"Makasih." Bisiknya ditelingaku yang bikin bulu kudu meremang. Biru menarik bahuku pelan lalu membuatku menghadap kearahnya.


"Abang sayang Cal, sayang banget." Ujarnya sambil mencium keningku lama. Hatiku seketika menghangat. Beruntung sekali aku memiliki suami sebaik dia. Bisa menerima segala kekuranganku dan begitu sabar menghadapi sikapku yang seringkali egois.


"Cal juga sayang abang." Sahutku seraya membenamkan wajah diceruk lehernya. Setelah cukup lama berada diposisi itu, kutarik wajahku lalu mendongak menatapnya.


"Abang gak marah aku suruh tidur diluar kayak tadi?" Tanyaku penasaran.


"Enggaklah, ngapain marah." Jawabnya sambil menyentuhkan dahinya pada dahiku. "Abang tahu istri abang lagi merajuk, lagi cemburu. Jadi tugas abang adalah membujuk, bukan malah marah. Ribut kecil dalam rumah tangga itu wajar Cal. Asal jangan dibesar besarkan. Dan jangan sampai putus komunikasi. Karena komunikasi adalah kunci sebuah hubungan."


Makin kueratkan pelukanku padanya. "Abang sabar banget sih, gak pernah marah sama aku."


"Karena abang sayang sama kamu."


"Ohh...so sweet." Godaku sambil menatapnya dengan ekspresi seunyu mungkin. Biru terlihat gemas melihat ekspresiku. Diacak acaknya puncak rambutku lalu menyentuhkan hidungnya pada hidungku.


"Oh iya, abang penasaran. Apa aja yang kamu bicarakan dengan Kenan tadi?"


Mengingat obrolanku dengan kak Ken tadi, senyumnya seketika pudar.


"Bang."


"Hem."

__ADS_1


"Kalau aku kembali ke kota, abang mau ikutkan?"


Biru terdiam, membuatku sibuk menerka nerka isi kepalanya.


__ADS_2