Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
BELUM SIAP 2


__ADS_3

POV BIRU


Dari kejauhan, kulihat Cal duduk ditepi kolam dengan kaki terjuntai kebawah. Wajah sendunya membuat hatiku pedih. Kuhampiri dia, duduk berjarak sekitar dua meter darinya agar dia tak mual.


Dia menatapku sekilas, kemudian beralih menatap kedua kakinya yang berada didalam air.


"Nanti kita ke dokter."


Tak ada respon sama sekali. Padahal aku yakin jika dia mendengar ucapanku.


Aku menghela nafas. Apa yang sebenarnya dia inginkan?


"Kita sudah meresmikan pernikahan. Perekonomian juga bagus, kita tak kekurangan satu apapun. Usia kamu juga sudah tergolong matang untuk hamil. Lalu, apa yang membuatmu tak siap dengan kehamilan ini?" Aku butuh tahu alasan pastinya.


Lagi, dia hanya diam, tak merespon apa apa. Makin runyam pikiranku. Makin banyak prasangka yang muncul dibenarku.


"Kamu tidak ingin punya anak dariku?" Aku menoleh kearahnya. Tapi tetap, dia tak melihatku, matanya masih fokus pada kedua kakinya yang terendam diair.


"Aku masih kuliah, masih baru terjun dalam dunia bisnis. Melakoni kedua kesibukan itu saja aku sudah kalang kabut, tak ada waktu untuk diriku sendiri. Jika aku hamil, aku yakin semuanya akan makin berantakan. Kuliah, kerjaan, aku takut semua malah tak tergapai."


Aku mendecak pelan. Jadi itu alasannya. Mungkin memang lebih merepotkan jika hamil, tapi bukan berarti tak bisa. Harusnya berunding untuk mencari solusi, bukan malah menyalahkan keadaan seperti ini.


"Kamu wanita yang hebat Cal, kamu pasti bisa melakoni semua itu, bahkan saat kamu hamil."


Cal melirikku tajam. Dia seperti tak terima dengan apa yang barusan aku ucapkan.


"Aku yang punya badan, aku yang marasakan. Jadi jangan sok tahu." Cal menaikkan kakinya lalu pergi begitu saja.


"Cal tunggu." Aku berjalan cepat mengerjarnya. Dia sama sekali tak mempedulikan panggilanku, berlari menaiki tangga dengan cepat. Dia yang lari aku yang deg degan. Dia sedang hamil, jelas aku mengkhawatirkannya.


"Cal." Kembali aku memanggil tapi tak digubris.


"Jangan dikejar, biarkan dulu." Ucapan Bi Nuning menghentikan langkahku yang hendak menaiki tangga.


Wanita paruh baya itu mengajakku bicara berdua didapur yang kebetulan sedang kosog. Bi Nuning membuatkanku segelas jus jeruk lalu meletakkan dimeja yang berada didepanku.


"Diminum dulu biar adem." Dia menarik kursi lalu duduk disebelahku.


"Yang sabar ya. Bibi ngerti Aden pusing menghadapi Non Cal. Dia masih sangat muda. Masih ingin bersenang senang, wajar kalau dia belum ingin hamil. Hamil memang butuh kesiapan mental. Bukan hanya bentuk badan yang berubah selama kehamilan, tapi hormon kehamilan juga bikin mood ibu hamil naik turun. Jadi Aden harus nambahin stok sabarnya."


Aku menghela nafas. Kurang sabar gimana lagi sih aku ini. Aku selalu menekan egoku demi Cal. Aku berusaha terus mengalah selama ini.

__ADS_1


"Aku takut Cal bertindak nekat Bi."


Bi Nuning menggeleng sambil tersenyum.


"Gak mungkin. Saya kenal Non Cal sejak kecil. Dia memang egois, manja, tapi dia gak jahat. Gak mungkin dia akan mencelakai anaknya sendiri. Apalagi itu anak hasil pernikahan dengan pria yang sangat dia cintai. Non Cal hanya butuh waktu. Nanti dia juga bakal sayang kok sama anaknya. Aden percaya sama Bibi."


Aku mengangguk. Semoga saja apa yang dikatakan Bi Nuning benar, Cal hanya butuh waktu.


...----------------...


Aku membuat segelas susu ibu hamil dan sepotong roti bakar strawberri untuk Cal. Ini sudah dua minggu sejak Cal ketahuan hamil, tapi sampai sekarang, dia masih belum mau diajak periksa ke dokter.


Dia mengalami morning sickness yang hebat. Kasihan juga aku melihatnya. Sudah seminggu ini dia tidak kekantor maupun kekampus.


Aku hendak membawa roti dan susu kekamar, tapi kulihat, Cal sudah menuruni tangga dengan pakaian rapi.


"Mau kemana?" Tanyaku dengan tangan masih membawa nampan berisi sarapan untuk Cal.


"Kekampus." Jawabnya pelan. Wajahnya pucat, tubuhnya makin kurus. Aku kasihan sekali melihatnya.


"Emang badan kamu udah enakan?"


"Harus dipaksain. Sampai kapan aku harus rebahan diranjang doang? Hari ini aku ada kuis, jadi harus masuk kuliah."


Dia mengangguk lalu berjalan menuju meja makan. Kuserahkan nampan berisi susu dan roti pada Bi Nuning agar diletakkan didepan Cal. Sampai sekarang, dia masih mual kalau dekat aku. Tiap malampun, aku terpaksa tidur dilantai beralaskan kasur busa. Melihat perjuangan Cal yang tiap hari muntah, pusing dan lemas, rasanya perjuanganku ini tak ada apa apanya.


"Kok susunya gak diminum?" tanyaku.


"Mual, nyium baunya."


Kemarin aku berinisiatif membelikanya susu ibu hamil. Badan Cal makin kurus, takut dia dan anakku kekurangan nutrisi. Gimana gak kurus, dia selalu muntah habis makan apapun. Dan yang lebih membuatku sedih, aku tak bisa melakukan apa apa, karena Cal mual jika dekat denganku.


"Kata temanku, ada obat untuk mengatasi mual. Kita kedokter ya nanti." Setiap hari aku membujuknya meski hasilnya tetap sama, gagal.


"Hari ini aku sibuk. Habis ngampus, aku ada meeting dengan klien dari luar negeri. Kak Ken gak bisa mewakili, harus aku sendiri." Jelasnya sambil mengunyah roti sedikit demi sedikit.


Belum habis roti sepotong, Cal sudah berlari menuju wastafe.


Hoek hoek hoek.


Aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Bu Nuning yang memijit tengkuk dan punggunya. Beruntung ada dia, kalau tidak, aku tak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


Selesai muntah, Bi Nuning membawa Cal duduk dikursi yang ada didapur. Wajah Cal makin pucat. Dia hanya diam sambil memejamkan mata. Kalau saja dibisa digantikan, ingin aku menggantikannya.


Wentri datang sambil membawa secangkir teh hangat lalu meletakkan didepan Cal.


"Diminum dulu biar enakan." Ujar Bu Nuning.


Cal membuka matanya, menatap nanar teh yang ada dihadapannya. Beberapa saat kemudian.


Pyarr


Cal menyempar cangkir berisi teh itu hingga jatuh dan pecah.


Semua yang ada didapur kaget, tak terkecuali aku.


"Aku benci seperti ini." Teriaknya. "Aku benci hamil."


Aku syok mendengar ucapannya. Dia sungguh keterlaluan kali ini. Harusnya dia bersyukur karena diluar sana banyak orang yang ingin bisa hamil. Tapi dia, jangankan bersyukur, malah membenci keadaan ini.


"Jaga omongan kamu Cal." sentakku.


Cal menatapku tajam. Dari raut mukanya, terlihat dia tak terima aku bentak.


"Kenapa emangnya?" Dia berdiri sambil menatapku nyalang. Raut wajahnya sudah seperti sedang menantang musuh. "Gara gara hamil, aku gak bisa apa apa. Jangankan ke kampus atau kerja, berdiri saja kepalaku terasa pusing. Perutku mual terus, aku tak bisa makan apa apa. Badanku terasa meriang, lemas, gak enak mau ngapa ngapain. Emang Abang tahu apa yang aku rasakan hah? Aku yang merasakan, aku yang menderita, buka Abang." Makin lama suara makin meninggi.


Kedua tangaku mengepal. Cal benar benar udah mencabar kesabaranku. Aku tahu dia kepayahan akibat hamil, tapi tak bisakah dia berdamai dengan keadaan. Sudah kodrat wanita untuk hamil dan melahirkan. Jadi jangan menjadikan semua ini drama seolah olah hanya dia wanita hamil paling menderita didunia.


Aku menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Melakukan itu beberapa kali sambil membuka pelan pelan telapak tangan yang mengepal. Berusaha sekuat hati menekan ego demi Cal dan calon anak kami.


"Aku mau ke kampus." Cal bangun dari duduknya, berjalan beberapa langkah lalu memegangi kepala dan sedikit oleng. Beruntung Wentri yang ada didekatnya sigap memegangi badan Cal.


Aku bersyukur karena dia tak sampai jatuh.


"Non Cal gak papa?" tanya Wentri.


"Kepalaku pusing banget." Wentri dan Bi Nuning membantu Cal kembali duduk.


Aku tak bisa diam saja disaat seperti ini. Kutinggalkan dapur lalu pergi kekamar untuk mengambil sesuatu. Setelah mendapatkan apa yang aku butuhkan, segera kembali menghampiri Cal.


"Ayo, Abang antar kekampus."


Aku sudah siap dengan kursi roda. Tak lupa masker dan minyak angin aroma terapi. Kuberikan kedua benda itu pada Wentri yang kemudian dia berikan pada Cal.

__ADS_1


"Pakai masker dan cium minyak itu saat Abang dekat kamu. Jangan pernah berfikir tak bisa melakukan apapun karena hamil. Abang akan jadi kaki sekaligus tangan buat kamu."


Setelah dia memakai masker yang diolesi minyak angin, aku membopong tubuhnya keatas kursi roda. Mengambil tasnya yang ada dimeja makan, lalu mengantarnya kekampus.


__ADS_2